
Mata Reva berbinar-binar saat seporsi soto ayam yang ia pesan sudah ada di hadapannya. Ia bersiap menyantap makanan yang sedari tadi di tunggunya. Dengan lahap ia menikmati soto seolah tidak ingin berbagi dengan siapapun.
Belum selesai ia menikmati makan siang menjelang malamnya, sebuah ketukan di pintu terdengar jelas.
“Mba reva, maaf di tunggu di ruang rapat oleh pak Indra, bu alea dan tim.” Ujar Ira seolah tidak mau tau apa yang sedang dilakukan Reva.
“Oh iya, saya segera ke sana.” Sahut Reva yang bergegas.
Reva segera meneguk minumannya dan mengusap sisa-sisa makanan yang khawatir tersisa di mulutnya. Dengan langkah cepat ia menyusul Ira.
Di ruang rapat sudah tampak Alea, Indra dan tim proyek lainnya. Ia di persilakan masuk dan duduk untuk mendengarkan pemaparan dari tim arsiteknya.
“Kami sudah mendapat hasil review dari bu reva, tapi ada beberapa hal yang perlu kami konfirmasi karena hasil reviewnya tidak seperti biasa yang kami terima dari bu alea.” Ujar Bambang ketua tim Arsitek.
Peserta rapat saling lirik mendengar ucapan Bambang. Terdengar bisik-bisik tak enak yang di dengar Reva dengan memperbandingkan hasil pekerjaan Reva dan Alea. Air muka Alea tidak berubah sama sekali, tetap dingin seperti biasanya.
“Silakan di sampaikan yang kurang jelasnya pak, saya akan coba menjawab dan memperbaiki yang ingin bapak sampaikan.” Ujar Reva yang berusaha tenang.
“Putri saya masih belajar, kedepannya pasti ia lebih baik. Sekarang kita dengarkan dulu penjelasan yang menurut pak bambang kurang jelas.” Tutur Indra yang berusaha membela putrinya.
Dalam pikiran Indra, dengan apa yang Reva lakukan saat ini, sudah sangat jauh lebih baik dari ekspketasinya. Sementara bagi orang lain, ini hanya sebuah pembelaan seorang ayah pada putrinya.
Reva kembali mendengar bisikan-bisikan yang tidak menyenangkan yang membuat nyalinya nyaris menciut.
Dengan segenap keberanian Reva mulai menyampaikan maksud review dan deskrisinya. Beberapa orang mengangguk paham tapi tidak serta merta menghapus keraguannya pada kinerja Reva.
“Padahal kalo belum mampu , jangan dulu dilibatin dalam proyek besar yaaa…” ujar salah seorang yang bisa di dengar jelas oleh Reva.
“Iya kalo direksi sampe tau, bisa bahaya ini proyek.” Timpal seseorang lainnya.
****
Selesai rapat, perasan Reva masih tidak karuan. Indra tampak menghampiri Reva keruangannya dan mengajaknya untuk pulang. Ia tahu, hari ini menjadi hari yang berat bagi Reva.
“Sayang, kita pulang dulu… kerjaannya di lanjut besok.” Ujar Indra sambil mengetuk pintu ruangan Reva.
“Pih…” Reva segera berdiri dengan senyuman yang terlihat berat.
Indra mendekati sang putri yang tampak masih sangat sibuk. Ia duduk di hadapan Reva yang mulai memberekan mejanya.
“Kamu mau makan malam di rumah apa di luar? Kalo mau di luar biar papih minta sopir jemput mamih.” Tawar Indra yang ingin mengapresiasi pekerjaan Reva.
“Emm… pih, aku ada janji sama kak lea. Jadi kayaknya aku makan malem di luar sama kak lea.” Terang Reva dengan hati-hati.
“Hem… okey.. Jangan pulang terlalu malem tapi ya…” Indra mengusap pucuk kepala Reva penuh kasih.
Reva hanya terangguk.
Saat Indra hendak beranjak, Reva kembali berbicara.
“Pih, aku ingin bekerja secara profesional. Kalau aku memang kurang kompeten, mungkin aku bisa mengambil peran kecil dulu dalam proyek ini, supaya gag ngacauin semuanya.” Ujar Reva dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Indra hanya tersenyum. “Lana, kamu sudah menunjukkan progres yang membuat papih bangga. Papih yakin, kelak kamu akan lebih baik dari ini. Bersemangatlah.” Ujar Indra yang juga di dengar jelas oleh Alea dari luar ruangan Reva.
Alea menyandarkan tubuhnya di tembok ruangan Reva. Ia meremas dadanya yang terasa ngilu. Selalu ada permakluman bagi putri kesayangan, begitu pikir Alea.
Sementara Reva mulai merasa tenang. Ia meyakinkan dirinya sendiri untuk lebih baik lagi dan tidak mengecewakan kepercayaan Indra.
****
Reva turun bersamaan dengan Indra menuju basement. Di tempat parkir sudah menunggu Alea di balik kemudinya.
“Pih, pergi dulu yaaa…” ujar Reva seraya berlari menuju Alea.
Indra melambaikan tangannya. Alea tampak acuh saja. Ia sibuk dengan handphone di tangannya. Indra kembali teringat, saat di kantor tadi Alea tampak sangat formal. Saat ke ruangannya pun, Alea benar-benar bersikap sebagai seorang bawahan dengan atasannya. Dari tutur bahasanya ataupun gesturnya. Hal itu benar-benar membuat Indra tidak nyaman. Ia berusaha memaklumi, mungkin perkataannya terlalu keras pada Alea. Ia akan menunggu saat yang tepat untuk berbicara dengan putri sulungnya.
Alea mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di sela berkendara ia bertelpon dengan temannya membahas tempat mereka akan bertemu. Setelah mendapat tempat bertemu yang jelas, Alea mempercepat laju kendaraannya. Tidak sepatah katapun keluar dari mulut Alea.
Reva merasa, ia harus membicarakan setiap kesalah pahamannya dengan Alea.
“Kak…” Reva memberanikan diri untuk berbicara. Alea hanya menoleh saja dengan tatapan dingin. “Soal kemaren…”
“Telpon mamih, kita pulang malem.” Ujar Alea yang seolah tidak ingin membicarakan kejadian kemarin dengan Reva.
Reva hanya mengangguk. Ia menyimpan kembali kalimat yang sudah susah payah ia rangkai. Ia ingin menghargai Alea, untuk tidak membicarakan hal tersebut saat ini.
Reva kembali fokus pada jalanan yang mereka lalui. Ia merasa familiar dengan jalur yang di lewatinya, ya ia pernah melewati jalur ini. Ingatannya semakin terbuka saat Alea memarkir mobilnya di depan sebuah club malam yang cukup terkenal. Benar, ia pernah ke tempat ini bersama Jeremy.
“Kak ini?” Reva menatap tidak percaya.
Reva mengangguk saja. Mungkin lebih baik baginya untuk mengikuti kemauan Alea.
Reva segera turun dari mobil. Ia menulis beberapa pesan pada Raka dan bergegas mengikuti langkah kaki Alea.
Reva melihat Alea membuka blazernya saat masuk ke dalam club. Suara dentuman musik seolah menyambut mereka dalam hingar bingar malam bagi yang ingin merasakan kesenangan sesaat. Pandangan mata para laki-lakipun tertuju pada tubuh molek Alea dengan pakaian minimnya. Walau ragu Reva tetap mengikuti langkah Alea.
Reva celingukan sendiri membuat beberapa laki-laki iseng menggodanya. Reva masih berusaha menjaga sikap dan menjauh dari tangan-tangan yang ingin menjamahnya.
2 orang wanita melambaikan tangannya pada Alea. Alea segera menghampiri 2 wanita seksi dan mereka saling berpelukan. Sepertinya mereka adalah teman-teman Alea.
“Reva!” teriak Alea yang berpadu dengan suara dentuman musik disko.
Reva segera menghampiri Alea dengan langkah cepatnya.
“Oh jadi ini ade lo?” ujar salah satu wanita yang menatap sepele Reva dengan tatapan dari atas hingga bawah.
“Saya reva..” ujar Reva seraya mengulurkan tangannya.
“Indri..”
“Mila..”
Ujar kedua wanita tersebut bergantian. Setelah menjabat tangan Reva mereka melapkan tangannya pada baju seorang pelayan, seolah jijik telah berjabat tangan dengan Reva. Alea hanya tersenyum tipis dan seolah acuh dengan perlakuan 2 temannya.
__ADS_1
“Adek lo cakep, tapi gag keliatan selevel sama lo, lo yakin dia adek lo?”
Lagi-lagi kalimat menyakitkan itu di lontarkan Indri begitu saja.
“Hahahah bisa aja lo! Dimana minuman gue?” ujar Alea dengan tawa renyahnya.
Reva melihat dirinya sendiri. Penampilannya memang sangat jauh berbeda dengan penampilan Alea yang selalu berkelas. Ia merasa seperti pelayan yang mengantar tuan putrinya. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri, ia selalu berharap ada kesempatan untuknya berbicara dengan Alea apapun caranya.
“Minum!” ujar Alea seraya memberikan Reva segelas minuman keras yang entah apa jenisnya.
“Tapi kak, gue gag bisa minum.” Reva berusaha menolak dengan halus.
“Aduuuhhh itu minuman mahal adiikkk… Cuma orang berkelas yang bisa minum. Anggap aja lo lagi dapet rejeki nomplok, jangan norak deh.” Tutur Mila yang mendapat sahutan tawa dari Indri. Sementara Alea hanya mengerlingkan matanya dengan malas.
Dengan ragu Reva mulai meneguk minumannya. Rasa pahit adalah rasa yang pertama Reva rasakan dimulutnya. Saat sudah menelannya, ingin rasanya ia memuntahkan kembali minuman yang sudah di tengaknya. Indri dan Mila tertawa puas melihat ekspresi Reva. Ia kembali mengisi gelas Reva yang kosong.
“Kak , aku gag minum lagi…” ujar Reva yang sudah merasakan kepalanya pusing dan berat.
“Satu gelas lagi lah, hargain ini yang ngasih…” tutur Mila tanpa ampun.
Reva kembali meneguk minumannya, rasa pahit itu kembali ia rasakan. Seorang laki-laki yang tampak tertarik melihat Reva, segera mendekat.
“Hay girl, may I know your name?” ujar laki-laki dengan wajah khas eropa. Ia mengelus punggung Reva perlahan membentuk usapan sensual. Seolah ia sedang menikmati sebuah pahatan maha karya yang begitu indah.
Reva masih menopang kepalanya yang berat dengan kedua tangannya. Bayangan Mila dan Indri di depan matanya mulai kabur. Ia ingin melawan tapi kepalanya terlalu berat.
Di sampingnya, Alea mulai berdiri. “Lo gag asyik, katanya mau ngomong sama gue, baru segitu udah mabok.” Bisik Alea yang seolah acuh dengan perlakuan laki-laki tersebut pada adiknya. “Lo urus!” lanjut Alea seraya melemparkan amplop coklat cukup tebal pada Indri. Ia berlalu pergi begitu saja.
“Kak tunggu!” seru Reva yang berusaha menguatkan dirinya untuk berdiri.
Tapi sebuah tangan meraih tubuh hingga berbalik memeluk tubuh laki-laki eropa tersebut.
Reva menatap laki-laki yang tengah mendekat hendak menciumnya.
“Don’t touch me!!” gertak Reva seraya mendorong tubuh laki-laki tersebut.
Namun laki-laki itu tak lantas menyerah. Terlihat seringai buas di wajahnya dan kembali menarik tangan Reva. Dalam beberapa detik, Reva balik menarik tangan laki-laki itu dan menguncinya di atas meja. Ia bahkan menggunakan kakinya untuk menekan leher laki-laki tersebut.
“Aaaaaa…” Teriak Indri dan Mila yang tidak menyangka akan melihat kejadian itu. Semua perhatian kini tertuju pada Reva dengan laki-laki yang tengah terengah menahan sesak karena lehernya di tekan heels Reva.
“I said, don’t touch me!!!” teriak Reva yang nyaris mengakhiri nafas laki-laki tersebut.
“Re!” teriak Raka yang datang di waktu yang tepat. Ia segera menarik tangan Reva dan memeluknya dengan erat. “Sayang ini aku….” Lanjut Raka yang berusaha menyadarkan Reva.
Raka masih bisa merasakan tangan Reva yang mengepal kuat menahan amarah yang membuncah di dadanya.
Laki-laki yang menjadi rival Reva, terkulai begitu saja. Nyawanya nyaris melayang karena berani menyentuh Reva.
Dalam beberapa saat, Raka segera membawa Reva pergi.
****
__ADS_1