Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 112


__ADS_3

Nida masih memandangi wajah sendu yang ada di hadapannya. Alea hanya menunduk saat Indra dan Nida berada di hadapannya. Matanya tampak berkaca-kaca dengan tangan saling menggenggam erat. Ia sadar, dua orang di hadapannya benar-benar sedang merasakan kekecewaan.


“Apa kamu sudah makan nak?” tanya Nida dengan suara bergetar.


Hati ibu mana yang tak ikut merasakan sakit saat putri kesayangannya berada dalam kondisi seperti ini.


Alea hanya menangguk. Jiwa angkuh dan percaya dirinya luruh begitu saja. Betapa pertanyaan Nida begitu terasa menyesakkan bagi Alea.


“Mamih dan papih, akan berusaha sekuat tenaga untuk membawamu kembali pulang…” lanjut Nida dengan penuh kesungguhan. Air mata itu kembali berderai.


Alea menggeleng. Ia merasa tak pantas mendapatkan pembelaan dari siapapun. Hanya saat berada di titik ini ia bisa menyadari setiap kesalahan yang telah di buatnya.


“Apa lana sudah membaik?” akhirnya Alea berani berbicara, itupun tanpa beradu pandangan dengan kedua orang tuanya.


Nida hanya terangguk. Mengingat Lana membuat rasa bersalahnya semakin besar.


“Maafkan mamih, karena tidak pernah menyadari bahwa semua yang kami lakukan hanya membuatmu merasa terbebani dan tidak bahagia. Maafkan mamih, kalau mamih belum bisa menjadi ibu yang baik untuk lea dan lana.” Nida terisak di ujung kalimatnya. Hingga saat ini bahkan ia belum bisa menyelami hati putrinya yang tentu sedang merasakan kegetiran.


Alea memberanikan diri untuk menegakkan wajahnya. Ia menatap kedua wajah sendu yang tengah memandanginya. Dua wajah di hadapannya sudah tak lagi muda dan bertambah sendu dengan kenyataan pahit yang harus mereka hadapi.


“Pih, mih, lea baik-baik saja di sini. Pulanglah, mungkin lana membutuhkan kalian saat ini.” Tutur Alea dengan suara bergetar.


“Alea! kamu pikir kami apa? Sesempit itu pikiranmu hingga menganggap kami tidak pernah memikirkan perasaan kamu?” gertak Indra yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Semua hal yang ia pikir akan membawa kebaikan dan kebahagiaan putrinya, diartikan berbeda oleh Alea. Dan hingga saat ini Alea masih berfikir bahwa kondisinya tidak berarti apa-apa bagi Indra dan Nida.


Alea terperanjat. Ia kembali menundukkan kepalanya dalam diam. Linangan air mata itu kembali terlihat. Andai saja tidak ada kaca pemisah di antara mereka, ingin sekali Alea memeluk kedua orang tuanya dan menumpahkan kesedihannya. Nyatanya, saat ini ia hanya sendirian melewati semuanya. Bahkan ia hanya bisa berandai mendapatkan pelukan yang menenangkan dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Indra menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia benar-benar kehabisan kata-kata.


****


Malam terasa begitu dingin bagi Alea yang terbaring di lantai dengan selembar tikar yang mengalasinya. Matanya masih terlihat sembab, ia merasa tenaganya terkuras habis walau hanya untuk menangisi keadaannya. Tidak ada lagi rasa damai dan kemewahan yang biasa ia nikmati. Yang tersisa saat ini hanya sebuah sesal yang entah seperti apa ia harus membayarnya.


Ingatan Alea berputar mengingat kejadian-kejadian di masa kecilnya. Ia selalu menganggap Lana adalah saingannya tapi saat ini ia sadar bahwa ia telah salah menilai sang adik.


Alea kembali mengingat kejadian saat Reva berlari ke arahnya dan menghadang kayu yang pasti akan menimpa kepalanya. Tatapan mata Reva seolah membuktikan bahwa Alea sangat penting untuk ia lindungi meski harus mengorbankan dirinya sendiri.


Alea terbangun dan terduduk menyandar pada dinginnya tembokan ruang tahanan. Ia tak bisa memejamkan matanya karena saat matanya tertutup, bayangan Reva bersimbah darah kembali tergambar jelas di ingatannya. Andai saja ia tidak mengikuti perkataan kedua sahabatnya, mungkin ia masih punya kekuatan untuk menghadapi Reva. Dan kali ini, ia hanya bisa menjadi seorang pecundang.


“Gila lea, adek lo cakep juga. Gue juga pasti ngerasa punya saingan kalo jadi lo.” Ujar Mila dengan senyum sarkasnya.


Alea merasa kini semua orang memang sedang memperbandingkan dirinya dengan Reva. Tidak hanya kedua orang tuanya, Raka juga kedua sahabatnya seolah lebih memperhatikan Reva dari pada dirinya.


Alea hanya terdiam, ia menatap mata kedua sahabatnya penuh tanya.


“Gue gag sejahat itu buat nyingkirin seperti yang lo pikir.” Kilah Alea yang merasa merinding mendengar ucapan Indri.


“Hahahhaha… Leaa…. Lea… lo emang polos, bahkan mendekati bodoh.” Ujar Indri yang tertawa lepas mendengar ucapan Alea. “Gue gag nyaranin lo buat bunuh adek lo, gimanapun tangan seorang tuan putri harus bersih. Tapi, lo bisa kan kalo cuma sekedar  nakut-nakutin dia?” lanjut Indri yang berbisik di akhir kalimatnya.


Alea semakin tak habis pikir dengan maksud Indri yang seolah diamini oleh Mila.


Melihat Alea yang bingung dengan maksudnya, Indri segera mendekat dan membicarakan rencananya pada Alea. semua sudah Indri pikirkan matang-matang rencananya untuk mengerjain Reva. Ia yakin, Reva akan dengan sukarela pergi dari kehidupan Alea.


Alea mencoba menimbang saran dari kedua sahabatnya. Pikiran dan hatinya seolah mulai menemukan celah untuk membuat Reva menjauh. Sebuah anggukan menjadi awal rencana mereka di mulai.

__ADS_1


*****


Pagi menjelang, perawat mulai mengganti perban yang menutupi luka di tubuh Reva. Ia pun sudah diperbolehkan untuk sekedar menikmati udara bebas dilingkungan rumah sakit. Reva berjalan-jalan di taman rumah sakit dengan di temani Ratna, ia merasa paru-parunya bisa mengembang sempurna menghirup udara tanpa bau alkohol dan disinfektan ruangan rawatnya.


Dikejauhan terlihat Nida yang tengah memandangi Reva. Ia sangat merindukan saat bisa berbicara dan melihat senyuman putrinya. Nida memberanikan diri untuk mendekati Reva, mungkin ia akan mendapatkan kembali sebuah penolakan tapi hal itu tidak akan pernah menyurutkan langkah kakinya.


Nida duduk di samping Reva yang tengah menikmati cahaya matahari pagi yang menerpa tubuhnya. Ia memejamkan mata dan menikmati setiap titik cahaya yang menghangatkan tubuhnya.


“Gimana perasaan lana hari ini nak?” tanya Nida tanpa ragu.


Reva hanya terdiam dan menoleh Nida. Setelah sekian lama, akhirnya Nida bisa kembali melihat tatapan Reva yang beberapa hari ini ia rindukan. Terdengar helaan nafas dalam dari Reva saat hendak memulai kalimatnya.


“Kalau saya boleh meminta, bisakah saya menyimpan nama itu hanya sebagai kenangan tanpa perlu saya ingat lagi?” ujar Reva dengan tatapan sendunya. Ia juga berbicara dengan formal, membuat sudut hati Nida terasa ngilu. Ia merasakan jarak yang jauh untuk hati mereka.


Nida terpaku, ia berusaha memahami apa yang Reva inginkan. Mungkin terlalu dalam luka yang ia rasakan saat nama tersebut di dengarnya.


Nida terangguk. “Mungkin mamih gag punya hak untuk mendapat sebuah maaf dari kamu sayang, tapi tolong beri mamih kesempatan untuk menebus semuanya.” Lirih Nida. Ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. “Ada kalanya, orang tua membuat kesalahan yang membekas di hati dan ingatan anak-anaknya. Izinkan kami memperbaiki semuanya, agar kami tidak terus menerus hidup dalam penyesalan.” Lanjut Nida yang tertunduk lesu di hadapan Reva.


“Apa rere masih punya kesempatan untuk mendapat kasih sayang yang tulus bukan hanya karena sebuah penyesalan dan rasa bersalah?”


Nida hanya terdiam mendengar kalimat Reva. Sebuah kalimat yang membuat dadanya terasa sesak.


Benar, yang ia lakukan selama ini untuk Reva adalah sebuah bentuk penyesalan dan rasa bersalah hingga membuat Alea ikut merasakan sebuah ketidakadilan dan membuatnya melangkah di jalan yang salah.


Nida terisak di hadapan Reva. Ia memeluk Reva dengan erat dan menumpahkan semua kesedihannya. Sesal, hanya itu yang ia rasakan saat ini.


****

__ADS_1


__ADS_2