Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 179


__ADS_3

Rasa bahagia menyeruak di hati kedua insan yang kini tengah bergandengan tangan di koridor rumah sakit. Reva menyandarkan kepalanya dengan manja pada lengan kokoh Raka dan Raka semakin mengeratkan genggamannya. Sesekali ia mengecup pucuk kepala Reva dengan lembut.


Di ruang perawatan Indra yang sudah berpindah ke ruang perawatan biasa, ada Nida yang dengan telaten tengah menyuapi Indra. Sementara Alea masih sibuk dengan laptop yang menyala di hadapannya. Ia jadikan salah satu sofa tempat keluarga pasien sebagai tempat kerjanya.


“Pih…” sapa Reva yang berada di mulut pintu kamar Indra.


Mata indra membulat seketika. “Sayang…” seru Indra.


Reva segera berhambur memeluk Indra dengan erat. Nida dan Alea ikut mendekat sementara Raka berdiri di samping tempat tidur Indra.


“Sayang, kamu dari mana nak? Papih benar-benar khawatir. Maafkan papih, semuanya terjadi karena papih dan kamu terpaksa menanggungnya.” tutur Indra dengan penuh sesal.


Reva melepaskan pelukan Indra, ia menatap Indra seraya tersenyum.


“Rere baik-baik aja pih.” Reva meraih tangan Indra dan Nida lalu menggenggamnya dengar erat. “Rere juga sekarang sekuat kak lea, gag cengeng dan bisa mandiri….” Imbuhnya seraya tersenyum pada keduanya serta Alea.


Alea mendekat dan mengusap kepala Reva.


Rasa haru mengisi relung hati Indra. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia menatap kedua putrinya bergantian.


“Anak papih dua-duanya sangat istimewa. Papih sangat bersyukur punya kalian di hidup papih. Kalaupun kelak ada kehidupan lain, papih harap kalian akan tetap jadi anak-anak papih…” Indra menatap Reva dan Alea dengan penuh kehangatan.


Reva dan Alea terangguk bersamaan.


“Rere juga punya kabar baik buat papih dan mamih.” Reva menjeda kalimatnya dengan meraih tangan Raka. Raka berdiri di samping Reva dan tersenyum saat Reva menatapnya.


“Papih sama mamih akan jadi kakek dan nenek.” Ucap Reva dengan terbata-bata.

__ADS_1


Entah mengapa ia begitu emosional mengatakan kalimat tersebut.


Indra dan Nida hanya bisa ternganga dengan mata membulat menatap Reva dan Raka bergantian. Buliran air mata perlahan turun membasahi wajah keduanya. Mereka berangkulan dengan tangis haru yang tak bisa di bendungnya.


“Maksudnya, gue bakal punya ponakan?” suara Alea menyadarkan keduanya.


Raka dan Reva terangguk bersamaan.


“Ya ampuuunnnn…..” seru Alea yang segera memeluk Reva.


Indra dan Nida hanya bisa tersedu. 1 tahun lebih mereka menanti waktu ini tiba. Selama itu pula mereka selalu berharap. Nyatanya, hari ini do’a mereka terkabul. Mereka berangkulan melepas haru dan atmosfir ruangan pun menghangat seketika. Hanya ada bahagia dan syukur di antara mereka. Dalam beberapa saat, Wira, Niken dan Ratna tentu menjadi orang berikutnya yang mendengar kabar bahagia ini.


Nyatanya, Tuhan memang maha baik. Ia memberikan anugrahnya di saat hambanya memang membutuhkannya bukan sekedar menginginkannya. Siap menurut Raka dan Reva, ternyata  tidak sama dengan siap menurut-Nya. Justru Ia hadir, di saat Reva dan Raka harus siap dalam kondisi apapun.


Ia bukan menjadi pelengkap keluarga kecil mereka, tapi pemberi kebahagiaan dan perekat hubungan keduanya. Dengan alasan ini, rasanya mereka tidak akan pernah menyia-nyiakan amanah yang begitu besar ini. Mereka akan menjaga dan menyayanginya dengan jiwa dan raga.


Di tempat lain, Arya tengah bersimpuh di hadapan Theo yang masih duduk bersandar di tempat tidurnya. Ia tertunduk bahkan tak berani menatap Theo sedikit pun.


Saat itu, setelah kepergian Raka dalam keadaan kalut, Theo merasa keselamatan Reva mungkin memang sedang terancam. Ia segera menyadarkan diri dari pengaruh minumannya, walau tidak hilang seluruhnya. Berkali-kali ia menghubungi Arya namun Arya tidak pernah menjawabnya.


Theo sadar, ada yang tidak beres dengan Arya. Ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Arya. Hingga akhirnya ia tahu, bahwa Arya lah yang diperintahkan oleh Richard untuk menculik Reva. Theo tak habis pikir dan ia pun tak menyangka, seseorang yang begitu loyal kepadanya bisa begitu saja berkhianat.


Petunjuk untuk menemukan Arya, membawa Theo pada kenyataan bahwa mungkin esok ia sudah tidak akan bisa melihat Reva lagi. Dengan segera ia mencari Reva ke tempat yang dicurigai sebagai tempat penyekapan Reva. Dan benar saja, Arya menjadi pimpinan dari penculikan tersebut.


“Saya bersedia mendapat hukuman apapun dari anda pak, saya bersedia.” Ujar Arya yang hanya bisa tertunduk dengan sesal yang tidak bisa ia sembunyikan.


“Shit!” dengus Theo seraya melempar ponselnya pada Arya hingga membentur kepala Arya dan memberi lebam yang cukup terlihat. Arya tidak bergeming sedikitpun, rasanya kemarahan Theo memang sangat pantas ia terima.

__ADS_1


Theo bangkit dari tempat tidurnya sambil berpegangan pada pinggiran tempat tidur. Arya berusaha membantu namun dengan cepat Theo menendang tubuh Arya hingga jatuh tersungkur. Theo mendengus kesal rasanya ia ingin sekali menghabisi Arya saat itu juga. Tapi melihatnya datang sendiri dan memohon ampunan membuat sudut hati Theo tergerak.


“Kau tahu, sepenting apa reva untuk saya bukan?!” gertak Theo seraya meringis menahan sakit di pinggangnya. Arya hanya terangguk. “Apa jadinya kalau orang yang penting buatmu terancam dan nyaris mati di tangan orang kepercayaanmu?!” teriak Theo seraya menatap tajam Arya.


“Saya layak mati pak, saya layak mati. Tapi tolong, jangan sentuh keluarga saya.” Arya meraih kaki Theo, memohon ampunan dengan wajah dipenuhi ketakutan.


Theo sangat kecewa pada Arya. Satu-satunya orang yang ia percaya malah berada di pihak Richard dan hampir merengut orang yang ia sayangi. Rasanya memaki pun tidak akan membuat perasaannya lega.


Selintas Theo teringat pada sosok Reva. Kalimat terakhir Reva sebelum ia pergi terus terngiang di telinga Theo.


“Aku memaafkan ayahmu, tapi ku mohon, jangan biarkan dia melukai siapapun lagi.” Ujar Reva dengan penuh kesungguhan.


Maaf, begitu mudah kalimat itu keluar dari mulut Reva untuk seseorang yang bahkan mungkin tidak layak untuk memintanya. Theo terpekur, bahkan ia masih belum bisa menebak seluas apa lautan maaf di hati Reva. Tak bisakah Theo meminta sedikit saja? Ia ingin memaafkan Richard, ia ingin memaafkan semua masa lalunya terlebih ia ingin memaafkan dirinya sendiri. Bisakah hal itu ia lakukan?


Theo kembali menatap Arya yang begitu pucat karena ketakutan. Ia bisa merasakan kecemasan Arya saat Theo menyinggung keluarganya. Theo menghela nafasnya panjang.


“Serahkan dirimu pada pihak berwenang. Akan kupastikan keluargamu baik-baik saja.” Theo menjeda kalimatnya, membuat Arya menatap lekat laki-laki di hadapannya. “Setelah semuanya selesai, datanglah padaku dan bayar semua kesalahanmu.” Theo menggenapkan kalimatnya.


Arya hanya mampu tertunduk dengan tangis yang ia coba tahan. Ia tidak pernah mengira akan mendapatkan maaf dari Theo setelah apa yang ia lakukan. “Terima kasih pak, terima kasih…” ucap Arya seraya tersedu di hadapan Theo.


Theo tak merespon apapun. Ia berbalik membelakangi Arya. Dengan isyarat tangan, Theo meminta Arya untuk pergi. Tak ada pilihan, Arya hanya bisa patuh.


“Saya akan membayar semua kesalahan saya pada anda pak…” batin Arya seraya memandangi bahu tegap Theo.


Sepeninggal Arya, Theo kembali membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Seperti ini kah ketenangan yang dirasakan Reva? Tanpa mendendam ternyata membuat hatinya lapang. Ia tidak lagi fokus pada kesakitannya, ia hanya ingin memperbaiki semuanya agar hidupnya semakin tenang.


"Reva, how can i'm not love you?" batin Theo seraya memejamkan matanya.

__ADS_1


****


__ADS_2