Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 35


__ADS_3

Intan terlihat keteteran, merawat Reva dan Riana bergantian. Dosen lainnya hanya bisa melihat dari kaca ruang kesehatan.


“Bu, saya bisa melakukannya sendiri. Ibu tolong bantu Riana dulu.” Ujar Reva sambil merebut obat luka dari tangan Intan.


“Ya sudah, ibu periksa Riana dulu.”  Intan segera memeriksa Riana. Ia membantu Riana untuk minum  minuman hangat yang tadi di buatnya. “Apa perut kamu masih sakit?” Intan mengusap perut Riana dengan lembut.


“Sudah baikan bu, nggak tegang lagi.” Sahut Riana yang berusaha untuk duduk di atas tempat tidurnya.


Reva mulai mengolesi lukanya dengan obat luka. Lengan, sikut dan lututnya adalah beberapa bagian tubuhnya yang terluka.


“Perih re?” tanya Riana yang sedari tadi memperhatikan Reva.


“Gag lebih perih dari hidup gue.” Timpal Reva seraya tersenyum.


Riana ikut tersenyum, betapa ia bersyukur masih bisa melihat senyuman di wajah Reva.


“Kamu ya, hampir mati aja masih bisa becanda!” Intan mencubit pipi Reva dengan gemas.


“Kalo skripsi saya gag dapet A, saya bisa benar-benar mati bu. Jadi mohon bimbingannya.” Tukas Reva dengan senyuman jenakanya.


Intan ikut tertawa mendengar celoteh Reva.


Terdengar ketukan di pintu yang mengalihkan pandangan ketiga wanita tersebut. Jeremy datang dengan handphone Reva di tangannya. Langkahnya terlihat ragu namun tetap mendekat. Reva berusaha mengabaikannya dan kembali fokus pada luka-lukanya.


“Handphone lo re..”


Jeremy menyodorkan handphone Reva yang sudah hancur berantakan.


“Hem…” hanya itu jawaban Reva.


Jeremy tidak berani berkata-kata lagi. Ia mendekat pada Riana dan duduk di sampingnya.


“Gimana perut lo, apa sakit?” pandangan Jeremy tertuju pada perut Riana yang sudah mulai membuncit.


“Apa yang lo harepin? Kami baik-baik walau lo gag ada di samping kami.” Tegas Riana dengan tatapan penuh amarah.


Reva melirik Jeremy yang tertunduk lesu. Di wajahnya terlihat guratan penuh sesal. Dan Riana, masih enggan memandang Jeremy. Sepertinya mereka perlu waktu berdua.


“Bu, bisa temenin saya ke kantin? Saya haus.” Ujar Reva sambil meraih tangan Intan.


Intan yang sedari tadi merasa canggung, kali ini merasa terselamatkan.


“Ayo!” sahutnya dengan semangat.


“Ri, gue ke kantin dulu terus nanti ke kantor.” Pamit Reva tanpa menoleh Jeremy sedikitpun.


“Iya re, nanti gue ke kost lo sama bang adam.” Sahut Riana yang seolah paham maksud Reva.


“Hem.. Dan lo Jer, tolong jaga Riana sebentar. Kalo lo gag bisa nganter dia pulang, tolong panggilin taksi online.” Lanjut Reva dengan wajah dinginnya.


Jeremy hanya mengangguk mengiyakan.


Reva pun pergi seraya melambaikan tangannya pada Riana.

__ADS_1


****


 


Raka baru selesai dengan meeting-nya bersama perusahaan asing. Setelah berjabat tangan ia segera pamit untuk pulang. Raka duduk di belakang sementara Fery yang mengemudikan mobil mewahnya. Ia begitu sibuk dengan nomor yang ia hubungi tapi terus-menerus tidak aktif. Wajahnya terlihat frustasi dan dingin.


“Lo kenapa sih bro, kayaknya dari tadi nelponin orang mulu.” Cetus Fery yang menatap Raka dari kaca spionnya.


“Minta nomor kepala pemasaran, Lena” tutur Raka tanpa peduli dengan pertanyaan Fery.


Fery memberikan handphonenya pada Raka.


“Apa passcodenya?”


“Tanggal lahir Lana.” Sahut Fery tanpa menoleh. Raka menatap Fery dengan penuh tanda tanya. “Lo tau, sejak kecil, perasaan gue sama Lana itu beda. Kalo sekarang lo ada Reva, Lana boleh dong buat gue?” ujar Fery yang seolah ingin menjawab pertanyaan sahabatnya.


Raka mengabaikan ucapan Fery. Walau ia terlihat kesal, tidak ada kabar dari Reva nyatanya membuat Raka lebih kesal. Ia mulai mencari nomor Lenna di handphone Fery.


“Reva nomor handphonenya tidak aktif, kamu tau dia izin mau kemana?” tanya Raka tiba-tiba.


“Maaf pak, dia sih cuma izin mau ke kampus dan ada keperluan katanya jadi gag bisa kembali ke kantor.” Sahut Lenna dengan suara bergetar.


“Kalau bawahan kamu izin, suruh handphonenya untuk tetap aktif.” Gertak Raka sambil mengakhiri panggilannya.


Bibir Fery gatal untuk tidak tersenyum melihat ekspresi kesal Raka. Raka melempar handphone Fery begitu saja kemudian menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


“Mau gue anter ke kost-an atau ke kampus?” tawar Fery dengan senyum gelinya.


“Jam 3 gue berangkat ke luar kota.” Sahut Raka tanpa membuka matanya.


“Handphone gue…”


Fery mengulurkan tangannya meminta handphonenya yang dilempar sembarang oleh Raka.


Raka memberikannya dengan malas. Fery mulai memijit salah satu nomor di handphonenya. Ketua genk kumbang yang ia pilih untuk mencari kabar Reva.


“Jer, lo liat Reva di kampus?” tanya Fery melalui speaker mobilnya.


“Udah pulang. Katanya ada urusan.” Sahut Jeremy dengan tidak semangat.


Fery menoleh Raka yang juga mendengarkan perbincangannya.


“Okey, thanks!” Fery mengakhiri panggilanya.


Terdengar Raka mendenguskan nafasnya dengan kasar.


“Berapa lama dia diemin lo?” tanya Fery tiba-tiba.


“Lebih dari 36 jam.” Sahut Raka sambil menolehkan pandangannya ke luar jendela. “Dia juga pergi sama Edo kemaren.” Lanjutnya dengan kesal.


Lagi-lagi Fery hanya tersenyum. “Dasar lo, bucin!” teriak Fery dalam hatinya.


****

__ADS_1


 


Reva tiba di halaman sekolah Rio tepat pukul 1 siang. Sebagian anak sudah pulang, sementara Rio masih duduk di depan kelasnya menunggu jemputan. Reva melambaikan tangannya pada Rio, dan Rio yang melihatnya tersenyum dengan sumeringah.


“Tante Rere!!!” teriak Rio sambil meloncat-loncat.


“Riooo!!” teriak Reva yang berjalan dengan santai menuju Rio.


“Alana!!!!” teriak seorang wanita.


Langkah Reva terhenti tiba-tiba. Entah mengapa jantungnya terasa berhenti berdetak mendengar panggilan tersebut. Reva mengusap dadanya dengan perlahan. Air matanya tiba-tiba saja menetes tanpa diminta. Ia merasakan kesedihan yang tiba-tiba menyergap hatinya.


“Gue kenapa?” gumam Reva yang tidak bisa menahan laju air matanya.


Ia melihat kesekelilingnya. Seorang anak perempuan berlari menghampiri ibunya lalu memeluknya dengan erat. Hati Reva terasa semakin perih tanpa alasan. Kepalanya kembali terasa sakit melihat interaksi ibu dan anak tersebut. Seperti ada tali ketat yang mengikat kepalanya.


“Tante Rere, tante rere kenapa?” tanya Rio yang sudah berdiri di hadapan Reva.


Ia mengayun-ayunkan tangan Reva yang terasa dingin.


“Rio…” Reva berjongkok di hadapan Rio lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


“Tante Rere kenapa nangis?”


Rio mengusap air mata Reva dan menatapnya dengan penuh tanya.


“Ah nggak sayang, ini tadi tante rere kelilipan.”


Reva segera mengusap air matanya dan mengipas-ngipasi wajahnya. Saat ia kembali menoleh ibu dan anak tadi, mereka sudah pergi entah kemana.


“Rio bawa handphone gag sayang?” Reva kembali memfokuskan dirinya pada Rio.


“Ada tante rere. Nih…” Rio menyerahkan handphonenya pada Reva.


“Rio telpon ibu ya, bilang tante rere yang jemput.”


“Iya tante Rere…” sahut Rio dengan patuh.


Rio mulai menghubungi Mela, sementara Reva masih mencari keberadaan wanita dan anak kecil tersebut. Ia berfikir apa mungkin ia mengenal mereka.


“Mba Rere…” sapa seorang wanita paruh baya yang ia kenal sebagai Bi asri.


“Oh bi, apa kabar?” sapa Reva.


“Baik mba rere…” sahut bi asri.


“Bi asri lagi jemput Kean?”


“Iya mba Rere, sebentar lagi pulang.” Terang Bi asri dengan logat sundanya. “O iya, tuan saya mau minta ketemu dengan mba rere… dia mau mengucapkan terima kasih. Mba rere ada waktu?”


“Kalo hari ini saya gag bisa bi. Gimana kalo bibi nyimpen nomor di saya, nanti saya hubungi bi asri, karena  Kebetulan handphone saya rusak.”


“Oh boleh… “

__ADS_1


Bi asri mulai menyebutkan nomornya dan Reva mencatatnya. Setelah selesai dengan urusannya Reva pun berpamitan.


*****


__ADS_2