Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 56


__ADS_3

Group Virtual para kumbang ramai tiba-tiba saat beberapa foto tersebar di group tersebut. Seseorang mengirim foto Reva yang tengah bersama seorang laki-laki di taman bahkan mereka bergandengan tangan.  Beragam komentar muncul yang didominasi dengan komentar umpatan dari para kumbang yang tidak terima Reva memilih seorang laki-laki untuk menjadi kekasihnya.


Saat Reva dan Raka melewati para mahasiswa yang sedang berkerumunpun, terdengar sorakan bahkan decikan kesal karena pasangan yang lewat didepan mereka terlalu sempurna satu sama lain. banyak laki-laki yang kecewa namun tidak sedikit juga hati para gadis yang patah.


Selesai dengan urusan skripsi dan tesis, Raka mengajak Reva untuk pergi ke kantin. Tempat kedua mereka bertemu. Pertemuan yang sangat berkesan dan membuat Raka yang cuek tiba-tiba memutuskan untuk menguntit seorang gadis. Raka ingin tertawa saat mengingat kebodohannya kala itu.


“Mau makan apa?” tanya Raka saat mereka tiba di salah satu meja.


“Soto ayam, aku laper.” Sahut Reva seraya mengusap perutnya yang rata.


“Okey, tunggu bentar ya..”


Raka mengusap kepala Reva dengan sayang, membuat yang melihat berdecak sebal. Sang bunga sudah ada pemiliknya, membuat para kumbang belingsatan dan kesal menerima kenyataannya.


Reva masih memandangi bahu bidang Raka yang berjalan menjauh darinya. Dikejauhan ia memperhatikan Raka yang tengah memesan beberapa menu untuk mereka. Wajahnya yang dingin dan serius sangat jauh berbeda dengan yang biasa ia lihat di depan matanya.


Reva tersenyum sendiri, bagaimana bisa laki-laki yang sangat tidak romantis ini membuatnya merasakan kembali debaran yang lebih hebat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.


“Hay re…” sapa Riana sambil menepuk bahu Reva.


“Oh hay!” Reva gelagapan karena baru tersadar dari lamunannya.


“Boleh kita duduk di sini?”


Riana menunjuk kursi kosong di hadapan Reva. Ia datang bersama Jeremy yang tersenyum tipis padanya.


“Boleh dong.. “ sahut Reva dengan semangat. “Adududu.. Gimana kabar ponakan ateu?” Kehamilan Riana yang semakin membuncit membuat Reva gemas ingin mengusap perutnya.


“Baik dong ateu…” sahut Riana dengan suara mirip anak-anak. Ia tersenyum senang memandangi perutnya yang semakin membulat.


“Kapan taksiran kelahiran anak lo ri? Gue gag sabar pengen ketemu jagoan kecil ini.” Reva menatap antusias pada wanita bermata sipit di hadapannya.


“2 bulanan lagi re…” Riana menjeda kalimatnya sejenak sambil mengusap perutnya. “O iya, sabtu ini, gue ada acara kecil-kecilan di rumah. Lo bisa dateng kan?”


“Acara apa nih?” Reva menatap Riana dan Jeremy bergantian.


Terlihat Jeremy yang meraih tangan Riana dan menautkan jemarinya di antara jari-jari tangannya. Mereka saling tersenyum satu sama lain.


“Sebelum anak gue lahir, gue sama riana mau akad. Pun nanti setelah lahir, kami bakal akad lagi dan ngadain resepsi. Lo bisa dateng kan re?”


Kali ini, kabar bahagia itu terlontar dengan jelas dari Jeremy membuat senyum bahagia terkembang di bibir keduanya.

__ADS_1


Reva tidak bisa menahan ekspresi bahagianya. Bagaimana tidak, setelah drama petak umpen dan kejar-kejaran akhirnya Riana dan Jeremy bisa menemukan jalan keluar untuk hidupnya dan itu membuat siapapun yang mendengarnya ikut menghela nafas lega.


“Pasti! Gue pasti datang.” Sahut Reva dengan yakin.


Pembicaraan ketiganya terhenti saat sosok tampan datang dan duduk di samping Reva. Ketiganya mengalihkan pandangan pada pemilik hidung mancung dengan ekspresi wajah dingin.


“Oh kenalin, ini mas raka. Mas ini sahabatku, Riana sama Jeremy.” Reva memperkenalkan dengan canggung.


“Mas?” Riana menatap tak percaya pada Reva.


Setelah sekian lama, baru kali ini ia mendengar Reva memanggil nama laki-laki dengan awalan. Reva hanya terangguk sambil tersenyum tipis.


Ketiganya saling berjabat tangan. Jeremy yang sudah mendengar banyak tentang hubungan Reva dan Raka, tampak gusar melihat sosok yang ada di hadapannya.


Untuk beberapa saat, hening mengambil alih suasana mereka. Riana menatap Reva penuh tanya, sementara Raka hanya terdiam dengan benda pipih di tangannya, ia tau banyak pertanyaan yang ingin disampaikan oleh kedua sahabat Reva.


****


“Pah….”


Berkali-kali Niken mengetuk pintu ruang kerja Wira, namun Wira tidak juga menjawab. Dengan segenap keberanian, Niken memutar handle pintu dan membuat pintu terbuka lebar.


Niken bisa melihat sosok Wira yang sedang berdiri di depan jendela ruang kerja yang menghadap ke taman rumahnya. Sejak Wira terkena serangan jantung, ia menghabiskan waktunya untuk bekerja dari rumah. Ia memonitor setiap pekerjaan di kantornya yang memang tidak berjalan baik-baik saja. Untuk alasan inilah ia meminta Raka untuk pulang dan membantunya namun anak lelakinya ini selalu mengatakan ia belum siap di perkenalkan sebagai penerus Adiyaksa group karena belum layak dan belum melakukan apapun.


“Pah, kita gag bisa maksa raka untuk menikah dengan gadis pilihan kita. Karena kedepannya, dia yang akan menjalani pernikahan itu.” Tutur Niken yang berjalan mendekati Wira kemudian mengalungkan tangannya di lengan kanan Wira.


Terdengar tarikan nafas kasar dari mulut Wira. “Kalo dia gag bisa menikah dengan pilihan papah, paling tidak cari gadis yang sederajat dengan gadis pilihan papah atau bahkan yang lebih baik dari pilihan papah.” Ujar Wira dengan penuh ketegasan. “Putri keluarga wijaya udah kita kenal dari kecil. Selain baik, pintar dia juga dari keluarga baik-baik. Apa susahnya…”


“Pah… udah, stop..” Niken merasa miris sendiri mendengar ucapan Wira. Ia menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya. Sambil mengusap lengan sang suami, Niken meneruskan kalimatnya dengan berat hati. “Dia udah gag bisa papah harapin lagi, bahkan kita gag berhak mimpiin dia. Lagipula, hubungan kita dengan keluarga Wijaya gag sebaik dulu. Di banding sebagai rekan, kita adalah lawan bisnisnya.” Suara Niken terdengar bergetar di akhir kalimatnya.


Wira mengepalkan tangannya. Ia merasa kesal namun ia pun tak tau pada siapa ia harus melampiaskan kekesalannya. Selalu, saat mengingat kejadian tidak menyenangkan yang keluarga mereka alami, dada kirinya terasa ngilu. Ia mengusap dadanya dengan perlahan dan menghembuskan nafasnya lebih.


“Apa ada yang sakit pah?”


Wira hanya menggeleng. Ia berusaha tersenyum pada Niken, untuk mengurangi kecemasan istrinya. Niken mengerti benar yang saat ini dirasakan Wira. Sampai pada detik ini, harapan mereka hanya akan menjadi angan.


****


“Silakan , ini soto ayamnya… “ wanita yang tak asing bagi seluruh mahasiswa itu menaruh  makanan yang tadi dipesan Raka. “Neng reva apa kabar?” sapa bu Tini  dengan senyuman ramah pada Reva.


“Makasih bu… Alhamdulillah kabar baik.” Sahutnya seraya tersenyum.

__ADS_1


Setelah meletakkan semua makanannya di meja, wanita itupun segera pergi. Sesekali ia menoleh ke belakang, merasa penasaran dengan laki-laki tampan yang duduk di samping Reva.


“Itu pacarnya neng Reva?” tanya bu Tini pada putranya yang ikut memperhatikan Reva.


“Iya bu, kata anak-anak namanya Raka.” Sahut sang putra yang ikut menatap sinis pada Raka. Hatinya ikut kesal melihat Reva bisa bersikap begitu manis pada laki-laki yang telah membuat para kumbang patah hati.


“Waahh lebih ganteng dari pak adrian yaa… Pada patah hati dong ya, para mahasiswa disini.” Ledek Bu Tini yang melihat kecemburuan di mata putranya.


Sang anak tidak menyahuti, ia segera pergi ke meja yang memanggilnya masih dengan wajah kesal.


Terdengar gerutuan dari beberapa laki-laki yang melihat interaksi Reva dengan seseorang yang mereka sebut ”Pacar”. Sementara yang dibicarakan tampak asyik menikmati makanan di depannya dan sesekali berbincang hangat dengan Reva.


Riana sendiri merasa iri dengan Reva yang mendapat perhatian manis dari Raka.


“Emm.. Enak banget sotonya. Lama gue gag makan ini.” Seru Reva dengan wajah cerianya. “Lo mau bumil?” tawar Reva yang sejak tadi melihat Riana memandanginya dengan mulut menganga. Sepertinya sebentar lagi air liur akan menetes di bibirnya.


“Enak banget sih lo makan re…” Riana menelan ludahnya kasar.


“Silakan buka mulut anda Yang mulia, biar hamba suapi.” Celoteh Reva seraya merunduk hormat.


“Terima kasih nona, tolong beri sedikit perasan jeruk nipis agar terasa segar.” Sahut Riana dengan gaya elegan bangsawan inggris yang diikuti mulutnya yang terbuka lebar.


Reva menyuapinya dengan semangat sambil tertawa melihat tingkah manja calon ibu ini. Sementara Raka dan Jeremy ikut terkekeh melihat tingkah konyol keduanya.


Raka mengeluarkan benda persegi yang berbunyi nyaring dari dalam saku celananya. Ia pamit untuk mengangkat telpon sebentar yang katanya panggilan dari Pak rudy. Sementara Jeremy pergi untuk memesankan makanan Riana yang ingin makan serupa dengan Reva.


“Re, lo beneran pacaran sama raka?” Rasa penasaran di dada Riana sudah tidak tertahan lagi. Ia benar-benar ingin mengetahui status hubungan sahabatnya yang selama ini sering berganti teman laki-laki tanpa pernah ada yang ia anggap sebagai pacar.


Reva hanya terangguk dengan senyum tipis di bibirnya. “Pertahanan gue runtuh ri, gag tau kenapa gue nyaman deket sama dia.” Ujar Reva seraya memandangi bahu bidang yang sedang membelakanginya. Ada rasa yang tidak bisa di jelaskan saat ia menatap laki-laki yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar kencang.


“Lo udah kenali dia baik-baik kan?” pertanyaan Riana kali ini terasa menyentil sudut hatinya. Reva terpaku beberapa saat. Ia memikirkan apa saja yang sudah ia ketahui dari Raka dan nyaris tidak ada selain tanggal lahirnya dan sikap pedulinya pada Reva.


Sementara Raka, ia sudah mengetahui banyak hal tentang Reva. Hal paling menyakitkan tentang Adrianpun sudah ia ceritakan.


Melihat Reva yang hanya terpaku, Riana mengerti betul isi pikiran sahabatnya.


“Re, lo selalu menunggu orang untuk membuka siapa dia sebenarnya. Tapi kalo lo peduli sama diri lo dan orang yang lo sayang, lo berhak bertanya kalo ada yang bikin lo ragu. Kenali dia sebanyak yang lo bisa, gue gag mau liat lo terpuruk lagi.” Tutur Riana seraya menggenggam tangan sang sahabat dengan erat.


Reva menatap Riana dengan sendu. Ia mengerti benar kecemasan sahabatnya. Dulu, walaupun hubungannya Riana merenggang saat Adrian meninggalkannya, ia tau Riana tetap peduli dan memperhatikannya diam-diam.


Ia sadar kesalahan terbesarnya dulu adalah, ia hanya berfokus mengenali perasaan pasangannya tanpa menyadari banyak hal di luar itu yang tidak bisa ia kendalikan dan bisa dengan mudah membolak-balik hati seseorang termasuk mungkin Adrian yang katanya hanya mencintainya. Ah, mengingat Adrian, sudut hatinya selalu berdenyut nyeri. Entah apa ini namanya tapi ia yakin, bukan sebuah perasaan yang ia sebut cinta. Mungkin hanya semacam rasa ngilu, karena sisa luka yang belum sembuh benar.

__ADS_1


“Iya, gue harus kenalin dia lebih dekat.” Ujar Reva yang kembali memandangi bahu tegap yang masih membelakanginya.


****


__ADS_2