
Menjelang malam, Adrian mengantar Reva pulang. Di kejauhan sudah ada sebuah mobil mewah berwarna putih yang menunggunya. Terlihat seseorang turun dari mobil tersebut saat mobil Adrian berhenti di depan gang kost-an Reva.
Adrian turun bersamaan dengan Reva sementara Kean sudah tertidur pulas. Laki-laki yang menunggu Revapun tampak mendekat. Ia tersenyum sarkas menatap Adrian yang berdiri di samping gadisnya. Ia menarik tangan Reva dengan cukup keras hingga membuat Reva beralih ke samping dirinya.
“Terima kasih sudah mengantar calon istri saya pulang.” Tutur Raka dengan penuh penekanan.
Reva menatap Adrian dan Raka bergantian. Sepertinya kilatan petir sudah terpancar dari mata masing-masing. Reva bisa merasakan tangan Raka yang mengepal dan menggenggam tangannya erat. Dalam beberapa saat mungkin akan mendaratkan sebuah pukulan di wajah Adrian yang tengah tersenyum.
“Tentu saja suatu kehormatan bisa mengantar reva pulang dengan selamat. Dan re, makasih udah mau nemenin kean main. Dia pasti seneng banget.” Sahut Adrian tak kalah gentar.
Reva mengerlingkan matanya kesal. Adrian benar-benar memancing terjadinya perang Baratayudha.
“Anak lo apa lo yang seneng di temenin reva seharian?! Lo jangan ngarep ya, reva gag akan pernah mau mikirin lo lagi. Dan lo, jangan jadiin anak lo sebagai alesan buat deketin reva!” ancam Raka dengan geram.
Tanpa menimpali, Adrian malah tersenyum geli membuat Raka semakin geram saja.
“Udah mas, kamu jangan aneh-aneh. Adrian juga gag aneh-aneh kok..” bisik Reva, ia berusaha menahan tangan Raka yang semakin mengepal kuat. “Kalo gitu pak adrian pulang dulu aja. Hati-hati di jalan.” Lanjut Reva setengah mengusir agar perang itu tidak benar-benar terjadi.
“Okey. Selamat malam ya.. selamat beristirahat.” Tukas Adrian yang kemudian berlalu pergi sambil melambaikan tangannya.
Melihat Adrian pergi, Reva segera berbalik menuju kost-an nya. Ia tidak memperdulikan Raka yang masih mematung dengan amarah yang membuncah di dadanya. Dalam beberapa saat, ia baru tersadar kalau Reva sudah tidak ada di sampingnya.
Dengan langkah cepat, Raka mengikuti Reva yang sudah berjalan jauh di depannya.
“Re tunggu..” seru Raka namun tidak mendapat respon apapun dari Reva. Reva malah terus berjalan dan membuka pintu kamarnya kemudian masuk. “Re, kok aku panggil kamu malah pergi sih?!” Raka menarik tangan Reva agar menghadapnya.
“Aku capek mas, kamu sebaiknya pulang aja.” Sahut Reva tanpa menatap Raka sedikitpun.
__ADS_1
“Capek kenapa? Capek karena seharian main sama adrian? Kalian mengenang apa aja? Apa sebegitu menyenangkannya sampe kamu matiin hp kamu biar gag aku ganggu?” cerca Raka tanpa henti.
Alih –alih menjawab, Reva malah berlalu meninggalkan Raka dan pergi ke kamar mandi.
“Kenapa, kamu mau ngehindar? Kamu masih ada perasaan sama adrian , makanya kamu lebih milih pergi sama adrian di banding nemenin aku di kantor?”
Kali ini, ucapan Raka membuat langkah Reva terhenti. Ia berbalik menatap Raka yang tengah melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya.
“Cukup ya mas. Masalahnya bukan antara aku sama adrian tapi antara kamu sama aku.” Reva menjeda kalimatnya dan berjalan menghampiri Raka yang menatapnya dengan tajam. “Kamu pikir, aku harus seharian di sana sama kamu seperti orang **** yang gag tau apa-apa, ngeliat kamu tersenyum menyapa kiri dan kanan terus orang-orang ngetawain aku. Itu yang kamu mau mas?!” timpal Reva dengan mata berkaca-kaca. Rasanya amarahnya akan tumpah saat ini juga.
Raka terpaku, ia tidak pernah menyangka sebuah kejutan yang ia persiapkan ternyata tidak berbuah manis untuk Reva.
“Bukan itu maksud aku re, aku cuma…” Raka berusaha meraih tangan Reva tapi dengan segera Reva mengibaskannya.
“Cukup mas, bahkan untuk hal seperti ini saja kita tidak cukup saling mengenal dan malah saling bersembunyi. Lalu untuk alasan apa kita masih bersama?” air mata menetes begitu saja di pelupuk mata Reva. Tangis yang ia coba tahan sejak melihat Raka berdiri dengan gagah di antara orang-orang. Jarak tubuhnya hanya beberapa meter saja, tapi rasanya keadaan membuat mereka berjarak lebih jauh dari itu.
“Nggak re, kamu gag boleh ngomong gitu.” Raka segera meraih tubuh Reva dan memeluknya. “Aku gag pernah bermaksud membohongi apalagi menipu kamu. Aku hanya perlu waktu unuk mengatakan semuanya. Kali ini aku mohon, kamu dengerin aku dulu…” Raka semakin mengeratkan pelukannya, ia benar-benar tidak siap kalau ia harus kehilangan Reva yang sudah menemaninya dari nol.
Raka melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah sendu Reva dan menatapnya dengan lekat. Perlahan ia membawa Reva untuk duduk di hadapannya. Ia menggenggam tangan Reva dengan erat seolah tidak mau berpisah.
“Re, sejak kecil aku gag pernah mau untuk meneruskan perusahaan papah. Aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Bepergian, melukis dan menikmati hari tanpa beban. Tapi kenyataan berkata lain. sejak keluarga kami mengalami musibah semuanya berubah. Papah sering sakit-sakitan dan tahun lalu papah terkena serangan jantung hingga akhirnya harus menyerahkan perusahaan ke manajemen profesional. Beberapa bulan lalu, mamah minta aku pulang karena kondisi perusahaan yang semakin memburuk. Direksi memutuskan untuk mempailitkan perusahaan karena hutang kami yang semakin besar. Aset-aset udah banyak yang dijual. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang.” Sampai pada titik ini, Raka terdengar menarik nafasnya dalam-dalam.
“Melihat kondisi perusahaan, aku merasa gag akan sanggup. Apa artinya aku di tunjuk sebagai penerus perusahaan kalau aku gag bisa ngelakuin apa-apa untuk perusahaan. Tapi, saat aku melihat kerja keras kamu yang hanya sebagai mahasiswi magang, aku mulai berfikir, Kamu mati-matian mengerjakan pekerjaan kamu, tanpa pernah mengeluh, selalu bahagia setiap dapat tantangan dan tugas baru, padahal kamu gag dapet apa-apa dari sini selain nilai. Sementara aku, aku hanya berpangku tangan menunggu perusahaan yang didirikan mending kakek hancur begitu saja. Sejak saat itu aku bertekad, aku bersedia meneruskan perusahaan papah saat aku udah bisa memberi kontribusi untuk perusahaan. Dan kamu…” Raka menyentuh wajah Reva dengan tangannya. Sebuah senyuman tergambar jelas di bibirnya.
“Kamu nemenin aku dari nol. Kamu nemenin aku di pameran hingga banyak cluster yang bisa di bangun. Kamu ikut workshop hingga bisa mempromosikan Adiyaksa corp. dan kamu yang membuat aku ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk keluargaku. Jika selama ini kamu merasa dibohongi, aku minta maaf. Aku hanya merasa belum layak memperkenalkan diri sebagai penerus Adiyaksa maka sementara aku bersembunyi. Aku cinta sama kamu re, jangan pernah berfikir untuk pergi dari sisiku.” Raka terpekik dalam tangisnya.
Kelemahan yang selama ini ia coba sembunyikan saat ini terang-terangan ia perlihatkan di depan Reva. Tak ada lagi yang perlu ia tutupi, ia hanya ingin Reva menerimanya apa adanya. Dengan segala kekurangan dan kebodohannya.
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang, Reva memeluk Raka dengan erat. Laki-laki yang selalu terlihat tanpa beban, yang selalu menemaninya melewati masa sulit kini tersedu di hadapannya. Bodohnya ia berfikir sedangkal itu. Padahal ada beban yang disembunyikan Raka yang jauh lebih besar dan tidak pernah ia duga.
“Mas, kamu gag perlu bersembunyi dari apapun. Tidak ada anak yang bisa menentukan ia dilahirkan dikeluarga seperti apa, tapi memiliki keluarga yang lengkap dan menyayangi kita, itu sudah merupakan suatu anugrah. Kewajiban kita adalah menjaganya, sebelum suatu hari kita menyesal karena gag bisa ngelakuin apa-apa buat mereka. Sampai sejauh ini, kamu hebat, kamu kuat. Aku bangga sama kamu mas.” Lirih Reva seraya mengusap lembut punggung lelakinya.
"Terima kasih, terima kasih karena kamu selalu nemenin aku, nguatin aku dan berani mengambil langkah untuk keluargaku." Raka tersedu, Kehadiran Reva benar-benar berarti untuknya. Reva terangguk, ia paham dengan kondisinya saat ini.
Untuk beberapa saat , hening mengambil alih suasana. Hanya pelukan hangat yang mengalirkan energi luar biasa menguatkan untuk satu sama lain. perlahan Raka melepaskan pelukannya. Ia teringat akan kado yang tergeletak di atas mejanya. Ia merogoh saku celananya, mencari benda yang tadi di simpannya.
“Re, tadi aku nemuin ini di atas meja.” Raka menunjukkan kotak kecil yang sejak tadi berada di saku jasnya.
Reva terkekeh saat mengenali benda yang dipegang Raka.
“Kalau aku tau kamu penerus Adiyaksa, mungkin aku akan beli kado yang sedikit lebih mahal dari ini.” Ujar Reva seraya tersenyum.
“Hemm kamu yaaa… “ Raka mengacak rambut Reva dengan gemas. “Hadiah apapun dari kamu, itu sangat berarti buat aku. Aku gag pernah ngeliat dari harganya.”
“Kalo gitu buka dong…”
Raka mulai membuka kadonya. Kotak kecil itu berisi tie clip berwarna silver.
“Kamu kok kepikiran ngasih ini sama aku sih re?” Raka terlihat terharu dengan benda kecil yang ada digenggamannya.
“Jadi akhir-akhir ini kamu sering banget lembur. Aku pikir kamu udah kayak anak magang rasa direktur. Makanya aku beliin kamu ini soalnya aku yakin suatu hari kamu akan duduk di posisi tertinggi suatu perusahaan dengan memakai dasi dan jas seperti yang kamu pake sekarang. Siapa sangka tuhan baik banget sama aku, ngabulin do’a aku secepat ini.” Tutur Reva seraya merapikan kembali dasi Raka yang mulai tidak karuan dan menyematkan tie clip itu untuk menyempurnakan penampilannya.
Raka hanya terdiam. Hanya senyuman dan tatapan penuh kasih yang bisa ia tunjukkan pada Reva. Rasanya kata-kata cinta semanis apapun tidak akan bisa mewakili perasaannya pada Reva saat ini.
“Selamat ulang tahun mas, semoga kamu selalu dalam lindungannya. Hidup dikelilingi orang yang kamu sayangi dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang satu apapun. Love you…” imbuh Reva seraya mengecup pipi Raka dengan hangat.
__ADS_1
Raka melingkarkan lengannya di tubuh Reva dan memeluknya dengan erat. Ia sangat beruntung ya, sangat-sangat beruntung.
****