
Saat istirahat tiba, Tita buru-buru menarik Reva menuju kantin. Langkahnya lebar dan cepat.
“Ta, bentar gue belum bawa dompet.” Reva berusaha melepaskan tarikan tangan Tita.
“Gue traktir! Udah lo buruan sebelum terjadi pembantaian!” seru Tita yang benar-benar sudah tidak bisa menahan laparnya.
“Pembantaian? Siapa?”
“Cacing di perut gue!” seru Tita sambil memijit tombol lift. Reva hanya terkekeh.
“Ding!”
Pintu lift terbuka. Tampak wajah yang tidak asing bagi Reva. Ia tersenyum dengan senangnya melihat Reva yang ada di hadapannya.
“Hay re...” sapa Edho dengan hangat.
“Hay dho.” Sahut Reva yang terpaksa masuk lift karena di tarik Tita.
Disampingnya ada Raka dan Fery yang juga memandangi Reva. Reva berdiri membelakangi Raka dan Fery sementara Edho maju ke depan dan berdiri persis di samping Reva. Dari dinding lift, Reva bisa melihat Raka yang terus melihat ke arahnya, sementara Fery sibuk dengan handphonenya. Suasana benar-benar canggung.
“Gue kira lo udah gag magang di sini re. Soalnya beberapa kali gue ke pameran, lo gag ada di sana.” Tutur Edho memecah kesunyian.
“Oh , iya, gue sekarang di tempatin di sini.” Sahut Reva seraya tersenyum.
Di sebelah kirinya, ada tangan yang terus menarik-narik lengannya. Reva melirik, Tita menatapnya dengan penuh penasaran.
“Siapa?’ bisik Tita.
“Oh dho, kenalin, ini temen gue, tita.” Ujar Reva sambil menunjuk Tita dengan ibu jari kanannya.
“Oh hay, gue Edho, temen deketnya Reva.” Sahut Edho sambil mengedipkan matanya.
“Ada-ada aja lo!” Reva mengikut lengan Edho dengan sengaja. Edho hanya terkekeh. Tita dan Edho pun saling berkenalan. Terlihat Tita yang sangat tertarik dengan Edho. “Lo sengaja ke sini dho?” lanjut Reva.
“Ya, gue tanda tangan kontrak kerjasama pembangunan Mall yang lo tawarin tempo hari.”
“Wah selamat yaaa, semoga pembangunannya lancar.”
__ADS_1
“Thanks Reva cantiiikkk...” sahut Edho sambil mendekatkan wajahnya ke Reva.
“Ehm!” Raka berdehem sambil memegang lehernya yang terasa kering. Wajah kesalnya terlihat dengan jelas oleh Reva, namun Edho hanya menoleh dan tersenyum dengan santai.
Pintu lift kembali terbuka. Reva dan Tita turun lebih dulu, sementara ketiga laki-laki itu masih meneruskan laju liftnya ke basement.
****
“Re, gila ya, di sini tuh tambah banyak banget cowok-cowok ganteng. 3 sekaligus loh tadi kita ketemu.” Ujar Tita dengan menggebu-gebu.
“3? Siapa aja?” Reva mengernyitkan dahinya.
“Ya elah, ya itu Mas Fery, badannya keren gitu, mukanya laki banget. Terus Mas Edho, muka bulenya, jambangnya, deeuuhh bikin jantung gue dagdigdug dan Raka, tuh cowok gag ada kurangnya dikitpun. Matanya, bibirnya, hidungnya, rambutnya, aaahhh semuanya gue sukaaaaa.” Seru Tita sambil memejamkan matanya membayangkan ketiga laki-laki dalam pikirannya itu.
Reva hanya terkekeh mendengar ocehan Tita. “Kalah dong ya oppa korea idola lo?” cetus Reva sambil terkekeh.
“Ya kalo itu kan suami halu, kalo ini nyata di depan mata. Bikin gue semangat ngantor!” Tita menghentak-hentakan kakinya dengan girang. “Menurut lo, siapa yang paling ganteng?” lanjut Tita seraya menyeruput minuman di hadapannya.
“Emmm... Gue gag merhatiin.” Sahut Reva sambil menyuap sepotong kentang ke mulutnya.
“Gue lebih suka yang kalo di ajak ngobrol nyambung, kalo ada di samping dia, gue tenang dan jantung gue berdebar kencang kalo liat matanya.” Terang Reva sambil mengaduk makanan di hadapannya.
Entah mengapa, bayangan Raka muncul begitu saja di pikirannya. Reva menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan Raka yang selalu ia hindari.
“Susah banget re, nyari yang kayak gitu. Mesti pacaran bertahun-tahun dulu baru bisa ngerasa cocok. Kalo yang pertama liat langsung berdebar, gue sering. Tiap liat lampu merah dan ada pak polisi, jantung gue kayak mau copot. Deg-degan banget.” Tutur Tita sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat sangat lesu.
“Hahahaha itu sih gara-gara lo punya dosa ta...”
Reva tergelak, ia menyuapkan potongan steak ke mulut Tita, dengan sukarela Tita mengunyahnya dengan tatapan polos.
****
Jam kerja sudah berakhir, sebelum pulang Reva menyempatkan untuk ke toilet dan menaruh berkas kerjaannya di meja Lenna. Hari ini adalah penutupan pameran dan Lenna bertugas di sana.
Di ruangan Lenna, Reva melihat sebuah foto laki-laki yang di pajang dengan ukuran cukup besar. Reva merasa familiar dengan wajah tersebut dan berusaha mengingatnya. Namun lagi, kepalanya terasa pusing setiap kali ia berusaha mengingat sesuatu.
Reva berpegangan pada pinggiran meja, sementara satu tangan yang lainnya memegangi kepalanya yang saat ini tidak hanya pening tapi juga terasa sakit.
__ADS_1
“Astagfirullah… ini gue kenapa?” gumam Reva sambil tetap berusaha seimbang pada posisinya.
Tubuhnya terasa akan rubuh namun sekuat tenaga ia menahannya. Reva mengerjapkan matanya, berharap penglihatannya sedikit jelas. Setelah cukup bisa mengendalikan dirinya ia pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya agar lebih segar.
2 wanita tampak sedang berbincang di sana, Reva hanya mengangguk sopan dan tersenyum seramah mungkin. Mereka membalasnya dengan kerlingan. Reva segera masuk ke dalam toilet dan menyelesaikan keinginanya di sana.
“Lo tau, anak magang yang sama Pak Rudy?” tanya salah satu gadis pada temannya.
“Tau dong, si Raka. Yang ganteng kan?” sahut gadis satunya.
“Iya yang itu. Tadi gue liat dia serius banget kerja di ruangan pak Rudy. Pak Rudy kayaknya suka banget sama hasil kerjanya, semua telaahan dia di pake sama pak rudy. Gila, keren banget.”
“Keliatan sih, dia emang pinter dan lagi dia kan lulusan luar negri. Tapi sayangnya dingin banget. Gue ajak senyum diem aja tuh anak magang, berasa gede kepala kali ya gara-gara jadi kebanggan wakil direktur.”
“Lagian kapan sih pergantian Direktur yang baru? Gue denger anaknya big bos yang gantiin dan gag kalah ganteng juga.”
“Bulan depan, pas habis kontrak sama manajer profesional.”
Obrolan demi obrolan terus mengalir. Reva yang sudah selesai dengan urusannya, segera kembali ke ruang kerjanya. Setelah membasuh wajahnya, ia merasa lebih segar. Semua barang pribadinya sudah masuk ke dalam tas dan ia bersiap untuk pulang.
Di loby kantor, Reva melihat Raka tengah berbincang dengan beberapa laki-laki berpakaian rapi. Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa inggris. Reva mempercepat langkahnya dan berusaha menghindar agar tidak bertemu Raka. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan tas dan berjalan dengan cepat.
Di tempat parkir tampak sebuah mobil yang tidak asing bagi Reva dengan seorang laki-laki yang sedang memainkan kunci di tangannya. Ia tersenyum saat melihat Reva keluar dari kantornya.
“Pulang re?” sapa Edho dengan senyum lebarnya.
“Iya, lo belum pulang?”
Edo hanya menggeleng. “Nungguin lo!” sahutnya seraya tersenyum. Ia membukakan pintu mobil untuk Reva dan mempersilakannya masuk.
Reva hanya membalasnya dengan senyuman lalu duduk di samping kemudi. Dari kejauhan Raka memandangi Reva yang pergi dengan Edho. Pikirannya mulai tak tentu, tapi ia tetap berusaha kembali fokus karena ia tidak bisa meninggalkan calon klien yang akan membantu perusahaannya.
****
__ADS_1