Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 92


__ADS_3

Adalah Indra yang kini sedang menunggu Wira di ruangannya. Ia duduk santai di salah satu sudut sofa dengan segelas kopi hitam di hadapannya. Ia berdiri saat melihat kedatangan sahabat lamanya ini.


Kepulangan Reva nyatanya telah mengubah banyak hal. Mulai dari perasaan bahagia setiap orang hingga hubungan Indra dan Wira yang kembali membaik. Indra merangkul Wira saat mereka berhadapan.


“Gimana kabarmu wir?” pertanyaan itulah yang sudah lama sekali tidak Wira dengar dari mulut Indra.


“Baik. Kamu sendiri gimana?”


“Tentu sangat baik.”


Keduanya duduk dengan santai di sofa tersebut. Membahas masalah pekerjaan menjadi pembuka keakraban mereka.


“Saya dengar raka berhasil dalam beberapa proyek, kamu pasti sangat bangga.” Puji Indra dengan penuh kesungguhan.


“Iya, saya tidak pernah menyangka kalau anak acuh itu bisa berkembang dengan sangat pesat. Bahkan kerjasama dengan salah satu anak perusahaan wijaya mencapai keuntungan di atas 132%, angka pencapaian tertinggi untuk proyek yang kami jalankan.”


“Wah kamu benar-benar berhasil mendidik putramu. Andai saya pun memiliki seorang putra, mungkin mereka akan bersahabat seperti kita.” Timpal Indra sambil meneguk kembali kopinya.


“Kamupun akan memiliki seorang putra.”


“Maksudmu? Apa putriku dan putramu?”


Gestur  di antara keduanya terbaca jelas. Indra bisa memahami maksud pembicaraan Wira. Keduanya tertawa bersamaan saat bisa saling membaca pikiran masing-masing.


“Mengenai lana, saya berencana memperkenalkan dia ke rekan bisnis. Selama ini mereka hanya tau lea saja, padahal saya juga punya lana.” Indra terlihat sangat besemangat dengan rencananya.


“Ini yang sempat saya pikirkan saat pertama bertemu lana.” Pembicaraan keduanya kini terlihat lebih serius. “Sebenarnya, saya sedikit merasa cemas kalau kamu memperkenalkan lana ke orang banyak. Karena sampai saat ini kita belum menemukan penculiknya. Saya khawatir keselamatan putrimu mungkin kembali terancam.” Ucapan Wira kali ini membuat Indra terdiam.


Benar yang di utarakan Wira, saat Alana hilang, Indra sudah mengerahkan semua kemampuannya bahkan menyewa detektif untuk menyelidiki hilangnya sang putri. Namun semua pencariannya buntu. Bahkan tidak ada jejak penculiknya sama sekali. Mobil yang menculik Alana saat itupun hangus terbakar. Indra harus memikirkan cara yang tepat agar putrinya tidak kembali terancam.


*****


 


Hari ini begitu menyenangkan untuk bagi Raka. Orang pertama yang ia ingat saat berada di puncak kesuksesannya saat ini adalah Reva. Ia mencoba menghubungi gadis yang selalu ia rindukan.


“Iya mas..” Suara Reva terdengar empuk di telinga Raka.


“Kamu lagi dimana re…”


“Oh, aku lagi di rumah riana. Dia ngeluh mules kayak mau lahiran padahal masih 2 minggu lagi taksirannya.” Terang Reva yang tengah mengusap-usap perut buncit sahabatnya.


“Gag di bawa ke rumah sakit aja?”

__ADS_1


“Iya mau di bawa ke rumah sakit, lagi nunggu jeremy dulu, dia dalam perjalanan pulang dari luar kota.”


“Kamu mau ke rumah sakit juga?”


“Aku pulang dulu kayaknya, soalnya belum siap-siap juga.”


“Okey, aku jemput yaaa…”


“Boleh, aku kirim alamatnya yaa…”


“Hem..”


Raka melonjak kegirangan, akhirnya ia bisa segera bertemu kembali dengan kekasihnya. Ia segera bersiap untuk pulang. Dari bibirnya terdengar alunan lagu yang samar-samar terdengar seperti lagu cinta. Ya terang saja, ia benar-benar sedang di mabuk cinta.


Di tempat Riana,Reva terlihat senyum-senyum sendiri. Hatinya berbunga-bunga saat membayangkan wajah Raka yang muncul begitu saja di pelupuk matanya.


“Jatuh cinta, berjuta rasanya…” ledek Riana yang melantunkan lagu karangan Titiek Puspa tersebut.


“Ish apaan sih bumil.. Lagi mules masih bisa nyanyi aja.” Reva mencubit gemas pipi Riana yang semakin tembem.


“Ya lagi lo udah kayak abg aja sih…” Riana tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya yang tidak biasa. “Tapi ya kalo gue pikir-pikir, waktu lo sama adrian gag sampe gila kayak gini deh re, kenapa sekarang lo kayak orang gesrek gitu?”


“Enak aja bilang gue gesrek, jangan ngomong kasar lo bumil.” Timpal Reva


“Eh iya lupa gue.. “ Riana segera mengusap perutnya. Berharap setiap ucapan kasarnya tidak menurun pada sang buah hati.


Walau jarang bertemu, Riana dan Reva tidak pernah melupakan satu sama lain. dari jauh mereka saling mengirimi do’a, cara paling ampuh mengharapkan yang terbaik untuk masing-masing sahabatnya.


“Iya ri, gue juga seneng banget, bentar lagi lo bakal jadi seorang ibu. Punya jagoan kecil dan punya suami yang sayang banget sama lo. Lo harus selalu bahagia ya ri….”


“Ah revaaaa, lo bikin gue mewek sih…”


Entah mengapa Riana merasa sangat terharu oleh ucapan sahabatnya. Reva hanya tersenyum, iapun merasakan haru yang seperti Riana Rasakan. Ia melepaskan dekapan Riana lalu mengusap air mata di wajah wanita yang menjadi lebih sesnsitif karena hormon kehamilannya ini.


“Yang mulia tidak boleh bersedih, nanti pangeran ikut bersedih.” Tutur Reva dengan gaya ningrat koreanya.


“Tentu nona muda, saya tidak akan bersedih lagi.” Timpal Riana dengan gaya yang sama. Keduanya saling tertawa dengan renyah, betapa perasaan mereka sangat sederhana, dengan celotehan ringan ini saja bisa mengubah air mukanya dalam sekejap.


****


 


Sesuai janjinya, Raka menjemput Reva di rumah Riana. Sepanjang perjalanan Raka terus menggenggam tangan Reva dan sesekali mengecupnya dengan lembut.

__ADS_1


“Mas, fokus nyetir deh… ini jalanan rame banget loh.” Reva memperingatkan. Pasalnya sejak tadi Raka seperti tidak fokus pada jalanan dan hanya fokus pada dirinya.


“Aku fokus lah re, masa aku gag fokus. Kalo sampe ada apa-apa, bakal nyesel aku belum nikah belum punya anak.” Timpal Raka seraya terkekeh.


“Ish kamu pikirannya kejauhan deh…”


“Loh gag pa-pa, kan ini judulnya ngobrolin masa depan.” Sahut Raka yang membuat Reva kembali tersipu.


Berbicara hal seperti ini dengan Raka, entah mengapa selalu membuat Reva merasa gugup. Sementara Raka selalu berbicara dengan santai. Tapi itu yang Reva lihat, ia tidak pernah tau segugup apa sang kekasih saat membicarakan hal seperti ini dengan dirinya.


“Oh iya, gimana yudisiumnya?” Raka melirik Reva yang tengah menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Ia menoleh Raka dengan mata penuh binar.


“3,92 mas..” serunya dengan riang.


“Waaahh kereeennn…. Pacar aku emang pinter… Cocok banget buat jadi ibu dari anak-anakku, tinggal minta izin buat bikinnya.” Goda Raka


“Ihhhh mas raka mesuuummm…” Reva segera memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.


“Hahahahhaha kayak gitu aja kamu bilang mesum. Tapi , selamat yaaa.. Kamu emang keren!” sahut Raka seraya mengacak rambut Reva dengan gemas.


“Heheheh.. makasih mas…” kali ini boleh dong Reva bangga.


Beberapa menit kemudian mobil Raka menuju kawasan apartemennya. Ia memarkir mobilnya di tempat biasanya. Mereka berjalan menuju lift yang akan membawa mereka menuju apartemen Raka. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan sesekali terdengar tawa dari keduanya saat membahas hal-hal receh.


Sepasang kekasih ini kini sudah berdiri di depan apartemen Raka. Ia menekan passcodenya dan pintupun terbuka.


“Ladies first…” ujar Raka seraya membukakan pintu untuk Reva. Ia tersenyum sambil sedikit merunduk.


Reva ikut tersenyum, betapa ia mudah sekali terrenyuh dengan hal-hal kecil yang dilakukan sang kekasihnya.


Saat pintu terbuka, Reva merasa mengenali wangi lembut yang menusuk hidungnya. Matanya membulat sempurna tatkala melihat bunga yang berderet rapi di hadapannya.


“Mas ini?” Reva menutup mulutnya tak percaya.


Raka tersenyum seraya mendekat. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Reva lalu memeluknya dengan erat.


“Kamu suka sayang?” bisik Raka seraya menempatkan dagunya di bahu kanan Reva. Dari sudut matanya ia bisa melihat wajah sang kekasih dengan senyum cantiknya. Reva tak mampu berkata-kata, jika di hitung entah ada berapa tangkai bunga mawar merah yang ada di hadapannya.


“Aku gag pernah tau cara romantis seperti apa buat nunjukin perasaan aku sama kamu yang jelas, aku selalu menunggu setiap kamu tersenyum seperti ini.” Lanjut Raka dengan lirih.


Reva menoleh wajah tampan yang tengah menatapnya. Selalu, jantungnya berdebar lebih kencang setiap Raka ada di dekatnya. Netra hitam pekat itu, tampak hangat menatapi sepasang mata indah yang selalu membuat Raka merasa damai.


“Makasih mas….” Sahut Reva seraya mengecup lembut pipi Raka. Ia selalu melemah dengan setiap kejutan manis dari Raka. Lelakinya ini memang jarang bersikap romantis tapi semua kejutannya selalu membuat Reva tidak bisa melupakan moment tersebut.

__ADS_1


Raka semakin mengeratkan pelukannya, matanya pun mulai terpejam, ia begitu menikmati setiap saat bersama Reva. Ada banyak kata-kata cinta yang sudah ia pelajari dari Fery tapi saat di samping Reva, ia hanya bisa terdiam, menikmati setiap kehangatan yang mengisi rongga dadanya. Rasanya tidak ada kata cinta apapun yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Sejenak, biarkan mereka menikmati setiap debaran di dadanya.


****


__ADS_2