
Laras masih memandangi Raka yang tampak kalang kabut. Ia membawa barang pribadinya, benar-benar hanya barang pribadinya. Ia meninggalkan kopernya begitu saja. Persetan dengan kemeja yang masih di pakai Laras, demi apa pun ia tidak peduli. Yang ia pikirkan saat ini hanya Reva. Ya, hanya Reva saja.
“Raka, rapatnya masih satu hari lagi loh.” Ujar Laras yang terduduk di pinggiran tempat tidur seraya memainkan ujung rambut ikalnya.
Raka tidak memperdulikannya, seolah Laras tidak ada di sana dan hanya ada dirinya dengan perasaan yang bercampur aduk.
“Raka, kalau kamu pergi, saya bisa membatalkan semua investasi dari perusahaan kami.” Ujar Laras seraya beranjak menghampiri Raka yang tengah memakai kemejanya. “Tinggalkan reva, maka kamu akan memiliki segalanya, hem…” bisik Laras yang memainkan jemarinya di atas dada bidang Raka.
Raka sudah benar-benar jengah dengan perempuan tidak tahu malu di hadapannya. Ia segera mengibaskan tangan Laras dengan kasar, namun Laras hanya terkekeh.
“Jangan bodoh raka, menolakku berarti semua usahamu hanya akan sia-sia.” Sepertinya Laras memang tidak peduli dengan penolakan Raka.
“Kamu pikir saya takut kehilangan semuanya? Saya tidak sedangkal itu!” tegas Raka yang berlalu pergi meninggalkan Laras yang terpaku.
“Raka, kamu akan menyesal raka, pasti menyesal!!” teriak Laras.
Di tempat lain, Reva kini tengah menunggu jam keberangkatannya untuk pulang ke Jakarta. Ia terduduk sendirian di salah satu sudut ruang tunggu keberangkatan. Pikirannya jauh melayang. Air matanya sudah mengering, rasanya tenaganya sudah sangat habis bahkan hanya sekedar untuk terisak.
Ia memandangi perutnya yang sesekali terasa berdesir ngilu. Ia tersenyum dalam kesakitannya. Tidakkah ia sedang menyiksa mahluk tidak berdosa yang berada di dalam rahimnya?
“Sayang, kita akan pulang. Bunda berjanji akan kuat dan kita harus sama-sama kuat ya nak..” lirih Reva, parau.
Suara panggilan untuk masuk ke pesawat pun mulai terdengar. Reva melangkah kecil-kecil bersamaan dengan penumpang lainnya. Ia memilih menyembunyikan wajahnya dengan penggunakan hoodie dari jaketnya. Ia mengabaikan semua tatapan penuh tanya yang terarah padanya.
Sementara Raka, ia masih berdebat sengit dengan salah satu maskapai penerbangan. Beberapa kali ia mencoba membeli tiket, namun di jam saat ini pesawat telah lepas landas. Ia harus menunggu beberapa jam kemudian untuk dapat pulang ke jakarta dan paling cepat adalah 3 jam di jadwal keberangkatan berikutnya.
“Aarrgghhh!!!!” Raka mengacak rambutnya frustasi. Entah mengapa keadaan sepertinya benar-benar tengah memojokkannya. Semua seolah balik tidak berpihak padanya dan malangnya, ia tidak bisa melakukan apa pun.
Raka menghela nafasnya kasar. Mengingat Reva membuat jantungnya terasa berhenti berdetak. Bahkan ia tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskannya.
__ADS_1
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Raka merutuki dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan kesakitan seperti apa yang tengah Reva tanggung. Raka terpekur dalam tangisnya yang dalam dan rasa ketakutan yang menyergap hatinya, jika kemudian Reva pergi meninggalkannya.
****
Tiba di Jakarta, Reva memilih untuk tidak langsung pulang. Ia meminta supir taksi yang membawanya untuk mengantarnya ke salah satu rumah sakit terdekat. Ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit dan ngilu di daerah perutnya.
“Non, mari saya bantu.” Ujar laki-laki paruh baya tersebut seraya memapah Reva.
Reva menurut saja, karena tubuhnya memang sudah tidak sanggup berjalan sendiri.
Di depan UGD, beberapa petugas medis menyambutnya dan segera membaringkan Reva di atas blankar. Mereka berlari membawa Reva yang terus meringis kesakitan. Hingga tanpa terasa Reva mulai kehilangan kesadarannya.
“Tak-tuk-tak…” terdengar suara konstan yang Reva dengar di setengah kesadarannya. Suara seperti suara sepatu kuda yang lebih lembut. Ia pun merasakan sensasi dingin di perutnya.
Reva mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya. Terlihat seseorang berpakaian perawat tengah tersenyum kepadanya.
Reva kembali terangguk pelan. Rasanya kepalanya masih sangat pusing. Perawat itu pun membersihkan sisa gel di perut Reva namun seketika Reva memegangi tangannya.
“Sus, tadi itu suara apa?” tanya Reva dengan serak.
Sang perawat tersenyum sebelum manjawab pertanyaan Reva. “Yang barusan ibu dengar, itu suara detak jantung janin ibu. Detakannya memang lemah, tapi masih dalam batas normal.” Terang wanita tersebut.
Reva terpaku, ia teringat perkataan dokter Anna, bahwa dalam beberapa hari detak jantung janin Reva akan mulai terdengar. Dan benar saja, hari ini ia bisa mendengarkan detak jantung tersebut.
Reva menghela nafas dalam, bibirnya bergetar menahan tangis. “Apa dia baik-baik saja?” tanya Reva, parau.
Perawat terangguk. Ia menyentuh tangan Reva dan berusaha menenangkannya. “Ibu istirahat dulu, saya akan panggilkan dokter.” Terangnya yang kemudian berlalu.
Reva kembali sendirian dalam ruangan perawatannya. Ia melihat ke sekelilingnya, memang terlihat asing dan sepertinya ia masih berada di rumah sakit yang sama. Reva terisak saat mengingat suara detakan jantung sang bayi. Rasanya membuat hatinya semakin ketir. Mungkin seperti ini lah perasaan yang di rasakan Arini kala itu. Berjuang dan menerima di antara sela kesakitan yang ia rasakan. Apakah ini karma yang harus ia terima atas perbuatannya di masa silam?
__ADS_1
“Selamat siang bu reva… gimana perasaannya sekarang?” tanya dokter yang bernama Lita di name tag nya.
Reva segera menyeka air matanya. Ia berusaha tersenyum pada dokter cantik berkerudung tersebut. Di sampingnya ada perawat yang tadi memeriksa Reva.
“Masih sakit dok.” Sahut Reva perlahan.
“Saya izin periksa ya.. Bagian mana yang sakit bu?” dokter Lita menempatkan stetoscopenya di jantung Reva kemudian berpindah pada perutnya.
“Perut bawah saya. Terasa ngilu dan nyeri.” Terang Reva menunjuk area perut yang ia keluhkan.
“Baik bu. Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Apa ibu ada keluarga yang mendampingi?” Tanya dokter Lita dengan hati-hati. Reva hanya menggeleng. “Baik ibu,kondisi ibu dan janin ibu memang sekarang sudah membaik. Dan beruntungnya kita sudah bisa mendengarkan detak jantungnya sehingga bisa termonitor dengan baik. Hanya saja…” Dokter Lita menjeda kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas panjang. “Dia sangat lemah. Ibu harus bedrest dulu minimal 3 hari. Selain itu, ibu juga diharuskan untuk transfusi darah. Boleh kami minta kontak keluarga ibu agar dapat kami hubungi?” tanya dokter Lita kemudian.
Mendengar pertanyaan dokter Lita, sudut hati Reva terasa semakin pedih. Keluarga? Siapa? Bukankah lebih baik kalau saat ini ia hanya berdua saja bersama bayi dalam kandungannya? Paling tidak, ia tidak perlu menghindari Raka. Ah, mengingat Raka, hatinya kembali mencelos. Semuanya terlalu menyakitkan. Untuk saat ini, ia tidak ingin memikirkan apa pun terlebih itu Raka. Menghubungi keluarganya, berarti membuat pintu untuk Raka terbuka lebar. Dan Reva masih belum siap.
“Bu,, bu reva…” suara dokter Lita kembali menyadarkan Reva dari lamunannya.
Reva mengalihkan pandangannya pada wajah tenang tersebut. “Saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Dan kami hanya berdua.” Tukas Reva yang membuat dokter Lita berusaha mengangguk paham.
Tanpa Reva duga, ternyata keputusannya untuk mengambil uang saat di bandara dalam jumlah besar, benar-benar menolongnya. Paling tidak, ia bisa fokus pada dirinya dan bayinya. Dan sudah pasti pula, siapapun tidak akan menemukan keberadaannya. Sekali ini saja, ia ingin sendiri. Menikmati masa berdua bersama sang bayi untuk saling menguatkan. Semua ini terlalu menyakitkan, ia hanya ingin membuat hatinya kuat dengan sendirinya.
****
Reva, whats going on? Kamu tidak sendirian.. Ada para reader di sini...
Kok aku yang baper ya?
Huft, keep strong reva...
__ADS_1