
Disinilah mereka saat ini, di halaman sebuah galeri seni yang terlihat sangat indah dengan design minimalis. Di sampingnya ada sebuah taman dengan lampu-lampu kecil yang pasti akan terlihat sangat romantis pada malam hari.
Raka menggandeng tangan Reva dan memasuki galeri tersebut. Sejak dari pintu masuk tampak lukisan-lukisan indah terpajang di dinding. Mata Reva benar-benar di manjakan dengan hasil karya tangan yang membuatnya berdecak kagum. Melihat dari inisial namanya ia yakin itu hasil karya Raka.
“Mas, lukisannya indah-indah banget….” Puji Reva yang masih terbelalak menikmati satu per satu mahakarya di hadapannya.
Raka hanya tersenyum. Ia pun tidak pernah menyangka lukisan yang dibuatnya sebanyak ini.
“Aku sama mamah sama-sama suka seni. Kalo aku sukanya ngelukis, mamah sukanya musik.” Tutur Raka yang ikut menatap sebuah lukisan seorang gadis yang dominan wajah sebelah kiri dengan mata penuh binar.
“Apa tante niken juga ada di sini mas?”
“Hem…” Raka terangguk. “Ayo ikut…” ajak Raka sambil meraih tangan Reva dan mengajaknya untuk masuk.
Di bagian dalam galeri, selain lukisan, ada sebuah piano klasik berwarna coklat yang terlihat sangat elegan di banding alat musik lainnya.
“Mas ini masih bisa dimainin?” Reva menyentuh permukaan piano dengan lembut ia terlihat sangat tertarik pada benda bertuts hitam puth tersebut.
“Semuanya masih berfungsi baik kok. Mamah merawatnya dengan penuh kasih sayang, lebih-lebih sayangnya dia sama aku.” Cetus Raka sambil terkekeh.
“Haish mana ada kayak gitu sih.” Timpal Reva sambil duduk di kursi depan piano tersebut.
Tak lama terdengar handphone Raka berdering, sebuah nama tertulis dengan jelas di layar ponselnya.
“Aku terima telpon bentar ya…” Ujar Raka seraya mengacungkan telponnya pada Reva.
Reva hanya terangguk. Ia kembali menyentuh setiap bagian piano. Sesuatu yang sangat familiar muncul di benaknya. Ia membuka penutup keyboard dan menekan salah satu tuts. Ia tersenyum riang saat bunyinya terdengar begitu lembut.
Tanpa Reva sadari, ia menempatkan tangannya di atas jejeran tuts. Entahlah, ia merasa ingin mencoba memainkannya. Jemari lentiknya mulai bergerak ke kanan dan kiri menekan satu per satu tuts dengan penuh perasaan. Hatinya ikut bernyanyi mengikuti alunan lagu Love of my life yang tiba-tiba saja muncul di benaknya.
Beberapa orang yang mendengarkan dentingan piano tampak mengalihkan perhatiannya pada sosok cantik yang tengah memejamkan mata menikmati setiap rangkaian bunyi tuts yang mengalun merdu. Tak terkecuali Niken. Ia yang sedang menemani tamunya, segera berlari menghampiri sumber suara yang tidak asing baginya.
Saat melihat Reva, langkahnya mulai melambat, ia menyentuh dadanya yang terasa berdenyut lembut. Matanya berkaca-kaca mengingat kenangan saat ia memainkan lagu ini bersama seorang gadis kecil, 17 tahun ia tidak berani memainkan lagu ini dan hari ini ia mendengar kembali dentingan suara yang sama.
Niken berdiri di samping Reva tanpa Reva sadari. Rakapun ikut mendekat dan menatap kagum gadis yang tidak pernah ia duga bisa memainkan piano dengan sangat indah.
Pikiran Niken tertaut pada kenangan saat ia bercengkrama di halaman belakang bersama Lana yang sangat suka memainkan lagu ini. Gadis ini mendengus beberapa kali saat ia salah menekan tuts dan menghasilkan bunyi yang sumbang pada bagian tertentu.
__ADS_1
Tepat di nada yang sama, Reva melakukan kesalahan yang sama. Mata Niken yang semula terpejam kini terbuka. Reva kembali mencoba menekan tutsnya tapi masih menghasilkan nada yang salah.
“D minor sayang…” lirih Niken dengan tangis tertahan.
“Maaf mamah, nada ini emang selalu sulit buat aku.” Tutur Reva tanpa sadar. Penuturan yang sama persis seperti penuturan Lana 17 tahun lalu.
Niken tercekat. Matanya yang tadi berkaca-kaca kini melelehkan butiran air mata. Seperti ada gada besar yang menghantam dadanya secara tiba-tiba. Mengapa semuanya bisa begitu sama. Raut wajah itu, cara memanggil itu dan rengekan manja itu.
“Lanaaa…..” lirih Niken yang membuat Reva mematung tidak mengerti.
Sejenak keduanya bertatapan. Bibir Niken bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu. Tangannya terangkat menyentuh wajah Reva yang masih tampak kebingungan melihat ekspresi Niken.
“Kriing….” Terdengar bunyi ponsel Niken yang memecah kesunyian.
Niken mengusap air matanya dan menerima panggilan tersebut.
“Nyonya, saya menemukan petunjuk keberadaan non lana….” Tutur Rudy dari sebrang sana.
Hampir saja Niken terjatuh saat mendengar penuturan Rudy. Kakinya terasa lemas tiba-tiba seperti tulang belulangnya melentur dengan sendirinya. Tangannya bergetar tidak terkendali dengan air mata yang semakin deras. Untungnya, dengan cepat Raka meraih tubuh Niken yang terhuyung. Sedikit kesimpulan yang bisa Raka tarik, Niken kembali teringat pada Lana.
****
Dulu Reva memang sangat menyukai musik, entah untuk alasan apa. Yang jelas, setiap ia mendengar sebuah lagu, ia akan memejamkan mata dan tangannya bergerak seirama alunan lagu walau dia tidak hafal lagu tersebut.
Saat menjelang dewasa, ia mulai tidak suka mendengarkan musik. Baginya, saat ia kesepian dan mendengarkan musik, itu hanya akan membuatnya semakin merasa terpuruk. Seperti seorang gadis kecil yang duduk di pojokan dan mendengarkan baitan syair yang menambah kesedihannya. Untuk alasan itu lah ia lebih suka mendengarkan stand up komedi Raditya Dika yang bisa membuatnya tersenyum dalam kondisi apapun.
Di sisi lain, iapun masih belum mengerti alasan Niken yang tiba-tiba menangis dan menatapnya dengan lekat. Sejak pertemuannya dengan Niken, Reva memang tidak merasa asing. Ia seperti menemukan kembali sebuah tatapan dan kehangatan yang pernah hilang. Hatinya begitu senang tapi kini ia menyesal karena telah membuat wanita itu bersedih tanpa ia sadari.
Dan Niken, ia masih terdiam sambil menatap layar ponselnya. Raka dengan setia menemani, mengusap punggung wanita yang telah melahirkannya, dengan sangat lembut.
“Mah…” panggil Raka yang merasa cemas karena Niken sejak tadi hanya terdiam dengan air mata menetes tanpa isakan.
Niken mengalihkan pandangannya pada wajah tampan yang tengah menatapnya dengan cemas. Bibirnya bergetar hendak berbicara.
“Raka, om rudy.. menemukan petunjuk tentang lana….” Ujar Niken dengan terbata-bata.
Raka hanya tertunduk. Rupanya kabar yang ia terima dari Fery pun sudah di dengar oleh Niken. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Awalnya ia ingin mencari sendiri petunjuk itu tanpa memberi tahu Niken terlebih dahulu. Ia tidak ingin Niken berharap terlalu jauh dan kembali kecewa seperti dulu.
__ADS_1
“Kamu udah tau nak?” terka Niken.
Raka hanya terangguk pelan. Niken menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tangisan lirih itu kembali terdengar. Raka segera meraih tubuh yang bergetar tersebut dan memeluknya dengan erat.
“Raka akan cari lana… Sampai ke ujung dunia sekalipun.” Tutur Raka dengan yakin.
“Mamah ikut nak… Mamah gag bisa hanya menunggu kabar. Mamah juga harus memastikan sendiri.”
“Tapi mah…”
Niken melepaskan pelukannya dan menatap Raka dengan sendu. “Mamah mohon, mamah mau ikut cari lana…” lirih Niken. Melihat Niken yang begitu memohon, mana bisa Raka menolaknya. Akhirnya ia hanya bisa menyetujui permintaan Niken.
****
Dalam perjalanan pulang, hening mengambil alih suasana dalam mobil tersebut. Sesekali Reva menoleh Raka yang tampak fokus dengan jalanan. Ia tidak berbicara sepatah katapun setelah mengajaknya pulang. Lebih dari sekedar fokus pada jalanan, Raka sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Wajahnya terlihat dingin dengan dahi yang berkerut.
“Mas…” Reva memberanikan diri untuk berbicara terlebih dahulu.
“Hem…” hanya itu jawaban Raka.
“Aku minta maaf soal kejadian hari ini. Maaf kalo aku lancang dan…”
“Kejadian hari ini gag ada hubungannya sama kamu re.” timpal Raka tiba-tiba seolah tidak ingin membicarakan masalah ini lebih jauh.
Reva hanya terangguk, untuk alasan apapun ia berusaha paham.
“Emm.. Aku mau pulang dulu ketemu ibu.” Lanjutnya yang membuat Raka mulai menoleh ke arahnya.
“Iya, maaf kali ini aku gag bisa nemenin.” Raka berusaha tersenyum di akhir kalimatnya dan Reva hanya membalasnya dengan anggukan.
Ia tidak melihat Raka yang begitu antusias ingin menemui ibu dan keluarganya. Sepertinya ada masalah yang lebih besar yang tidak bisa ia duga.
Tiba di gang depan kostan nya, Reva turun dari mobil Raka. Raka tidak mengatakan sepatah katapun selain “Nanti aku yang hubungin kamu.”
Terdengar miris memang, untuk beberapa saat artinya Raka tidak ingin di ganggu. Sangat berbeda dengan Raka yang biasanya meminta Reva untuk selalu menghubunginya saat dimanapun. Kali ini pun ia tidak turun untuk mengantar Reva sampai ke pintu kamarnya. Perasaan Reva mulai tidak nyaman. Rasanya tidak terlalu salah jika ia menebak yang tidak-tidak.
Melihat bahu Reva yang semakin menjauh, perasaan Raka semakin tidak nyaman. Harusnya ia tidak melakukan hal itu pada Reva tapi semua yang terjadi bersamaan membuat sikapnya pada Reva benar-benar tidak terkontrol.
__ADS_1
“Maafin aku re, aku hanya harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.” Gumamnya dengan frustasi.
****