
Pagi menjelang dan cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar yang ditingali Raka. Raka tampak mengerjapkan matanya dan kepalanya terasa berdenyut nyeri.
“Reva!” serunya saat ia sadar ia sendirian di kamar yang luas ini.
Seingat Raka, semalam ia masuk ke kamar ini bersama Reva. Tapi melihat bajunya yang masih rapi, ia berfikir mungkin semalam ia hanya bermimpi. Melihat Reva berada di samping laki-laki lain ternyata begitu menyakitkan. Ia tidak akan siap jika kemudian ia harus benar-benar melepaskan Reva.
Raka terduduk di atas tempat tidurnya. Ia memandangi wajah Reva yang ada di album foto handphonenya. Segila ini ia merindukan Reva. Ia kerap membayangkan Reva ada di sisinya, menemani harinya dan memeluknya untuk menguatkan hatinya.
“Re, apa kamu tahu keadaanku sekarang?” tanya Raka pada foto Reva yang ia pandangi. Tangannya mengusap lembut foto tersebut.
“Aku bahkan tak dapat tertidur tanpa memimpikan kamu. Tak ada makanan yang bisa aku telan saat kamu tak di sampingku. Apa kamu tau kalau aku semakin hancur? Apa kamu tau kalau aku semakin gila? Saat aku melihatmu, aku merasa semakin tak sanggup. Aku merasa aku seperti akan mati. Meski terlalu sulit bahkan mungkin tak ada cara untuk membuatmu kembali padaku, meski aku tau kamu kini melihat ke arah lain, aku merasa aku tak akan bisa melepaskanmu. Kembalilah untuk alasan apapun, sekalipun hanya karena berpura-pura masih mencintaiku.” Lirih Raka
Raka kembali terisak dalam tangisnya yang dalam. Ia memeluk kedua kakinya yang terlipat di depan dada. Ia membenamkan wajahnya di sana. Hanya isakan yang terdengar jelas dari mulutnya. Sesakit dan semenyedihkan ini. Jika saja waktu bisa diputar kembali, ia tak akan membiarkan kata-kata itu keluar dari mulutnya hingga melukai Reva. Demi apapun, ia menyesal.
****
Reva kembali dengan aktivitasnya di kantor. Ia baru menerima tugas dari Alea yang dalam perjalanan pulang seusai menemui salah satu investor di negara tetangga. Ia menekan salah satu tombol telponnya yang tersambung langsung pada Ira.
“Iya bu, ada yang bisa saya bantu?” sahut Ira dari sebrang sana.
“Tolong bawakan saya laporan proyeksi proyek yang di bandung. Juga laporan pelelangan termin pertama.” Pintanya.
“Baik bu..”
Reva kembali fokus dengan pekerjaannya. Jemarinya lincah menari di atas keyboard laptopnya. Bibirnya bergumam mengikuti tulisan yang di ketiknya.
“Ini laporannya bu.” Ira menaruh beberapa berkas di meja.
“Makasih ira.” Sahutnya tanpa memalingkan wajahnya dari layar komputer.
Ira hanya terangguk seraya terus memandangi wajah Reva yang terlihat pucat.
“Bu, ini sudah waktunya makan siang. Ibu gag makan dulu?” tawar Ira yang merasa cemas dengan Reva yang terus bekerja di mejanya tanpa beranjak sedikitpun.
__ADS_1
“Sebentar lagi ra.” Sahutnya.
Ira kembali terangguk. Ia pergi meninggalkan Reva di ruangannya. Ia yakin, Reva akan kembali melewatkan makan siangnya. Untuk alasan itulah ia inisiatif memesankan makanan kesukaan Reva.
Di tempat lain, Fery tengah menjemput Alea di bandara. Ia membawakan tas milik Alea dan berjalan menuju mobil yang ia parkir.
“Gimana meeting nya lea?” tanya Fery sesaat setelah melajukan mobilnya menuju jalanan.
“Semuanya berjalan lancar. Untungnya dia gag denger desas desus apapun tentang perusahaan jadi kami masih bisa dapetin kepercayaan dia.” Terang Alea dengan gembira.
“Syukurlah, satu per satu ada yang menolong kita.” Ungkap Fery. Alea terangguk senang.
“Gimana acara semalam? Apa reva bisa berbaur sama yang lain?” tanya Alea kemudian
Fery tampak mengernyitkan dahinya. Ia masih belum paham maksud pertanyaan Alea.
“Maksud kamu berbaur sama siapa?” Fery ingin memperjelas maksud Alea.
“Semalam dia dateng kan ke pertemuan?” kali ini Alea yang balik bertanya.
“Ah syukurlah… semalem susah banget yakinin dia buat dateng. Alesannya pasti mau jagain papih. Padahal penting banget kan kalo dia hadir, minimalnya dia bisa kenal sama relasi bisnis.” terang Alea.
Fery terpaku sejenak. Ia mencoba menarik benang merah dari kejadian semalam.
“Jadi, dia bukan dateng gara-gara nemenin theo?” tanya Fery yang sepertinya mulai penasaran.
“Hah theo? Emang tuh orang ngapain lagi?” Alea balik bertanya.
Namun Fery hanya terdiam. “Ah sial! Semalem salah paham lagi.” Gerutu Fery dalam hatinya.
Melihat Fery yang hanya terdiam, Alea semakin penasaran. Tak ada pilihan lain, akhirnya Fery menceritakan semua kejadian yang selama ini di sembunyikan Reva.
****
__ADS_1
Handphone Reva berdering nyaring. Nama rumah sakit tempat Indra di rawat tampil di layar ponselnya. Perasaan Reva sungguh tak karuan. Over thinking-nya tentang kondisi Indra muncul begitu saja dipikiran Reva.
“Hallo, dengan nona reva anasya?”
“Iya saya sendiri…”
“…………………..”
Tak sampai selesai ia mendengarkan ujaran petugas rumah sakit. Ia segera meminta sopir perusahaan untuk membawanya pergi ke rumah sakit. Jantungnya berdebar kencang terlebih saat Nida meminta Reva untuk segera datang.
Selama perjalanan Reva tak henti-henti in hale dan ex hale. Ia meminta sopir untuk melajukan mobilnya lebih cepat, mencari jalan pintas untuk mempercepatnya sampai di rumah sakit. Hingga tiba di rumah sakit, Reva segera berlari menuju ruangan tempat Indra di rawat.
Rasanya tubuhnya hampir tumbang saat melihat sosok Indra yang kini tengah duduk di tempat tidurnya. Ia tersenyum melihat kedatangan Reva.
“Papih…” seru Reva yang berhambur memeluk Indra. Ia menangis sesegukan di dada Indra. Hampir 3 minggu ia menantikan Indra bangun dan hari ini ia bisa kembali melihat matanya terbuka lebar.
“Sayang… papih baik-baik aja nak….” Lirih indra yang masih lemah.
Reva masih menangis sesegukan di pelukan Indra. Ia ingin menumpahkan kerinduan pada laki-laki yang siang malam ia jaga.
Tadi saat menerima telpon, perawat mengatakan kalau Indra siuman dan terdengar suara Nida yang memintanya untuk segera datang ke rumah sakit karena Indra terus menanyakannya. Perasaan bahagia membuncah di dada Reva hingga ia tak ingin menunggu lebih lama lagi.
“Anak papih ko kurusan.. Kamu pasti kecapean ya sayang jagain papih…” lirih Indra seraya mengusap kepala Reva.
Reva menggeleng. Ia mengusap air mata di pipinya. “Rere gag pernah cape jagain papih. Rere kan sama mamih.” Terangnya seraya mengecup tangan kanan sang ayah. Indra tersenyum hangat, ia bisa merasakan kasih sayang yang besar dari putrinya.
“Apa masih ada yang sakit pih?” tanya Reva kemudian seraya memijit tangan Indra.
“Nggak sayang… papih baik-baik aja. Ngomong-ngomong mana raka? Papih kok belum liat.” Tanya Indra yang memperhatikan sekelilingnya.
Reva menatap Indra sejenak. Terlihat jelas kegusaran di matanya. Ia tidak ingin menambah beban apapun untuk sang ayah.
“Mas Raka lagi sibuk di kantor. Nanti rere kabarin kalo papih udah siuman.” Terang Reva yang kemudian diangguki Indra.
__ADS_1
“Maafin rere pih… Maaf…” batinnya.
****