Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 168


__ADS_3

Di salah satu ruangan Reva mengobati luka-luka Theo. Ia mengompres wajah Theo dan memberinya beberapa obat. Theo hanya terpaku, mendapat perlakuan lembut dari Reva. Ia bahkan tak meringis sedikitpun. Ia sangat menikmati saat mata damai itu menatap luka-luka di wajahnya  dengan penuh perhatian dan mengobatinya.


Dada Theo menghangat. Apakah ia harus terluka terlebih dahulu hanya untuk mendapatkan perhatian Reva? Jika ya, ia bersedia terluka berkali-kali hanya untuk membuat Reva berada di sisinya.


Sementara itu, perasaan berkecambuk di rasakan Reva. Tangannya mengobati Theo namun pikirannya tertaut pada Raka. Ia masih sangat peduli pada laki-laki yang nyata telah melukainya. Ia masih sangat mencintainya bahkan membayangkan Raka terluka saja membuat sudut hatinya meringis. Ia merasakan sakit yang sama, ia merasakan kemarahan yang sama. Apa ini benar-benar perasaannya atau hanya sebuah sisa-sisa yang kelak harus ia tinggalkan dan hanya cukup menjadikannya kenangan?


Reva segera menutup kotak obatnya. Wajah Theo telah selesai di obati.


“Apakah selesai? Sebelah sini masih sakit.” Celoteh Theo seraya menunjuk bawah matanya yang memang sedikit kebiruan.


“Kalau kamu bisa memicu pertengkaran, harusnya sudah siap dengan rasa sakitnya.” Ujar Reva yang sebenarnya di tujukan pada dirinya sendiri.


Theo hanya tersenyum sambil meringis menahan perih di sudut bibirnya.


“You held my hand, my heart feels warm.” Ujar Theo seraya memandangi tangan kanannya yang tadi di genggam Reva.


“Istirahatlah, jangan terlalu banyak berfikir.” Timpal Reva seraya berlalu meninggalkan Theo di salah satu kamar hotel miliknya.


Theo hanya terangguk. Entah mengapa kali ini ia begitu patuh pada wanita yang memerintahnya. Padahal, tidak ada satu pun wanita yang bisa membuatnya patuh kecuali ibunya.


“Kamu berbicara seraya menatapku tapi aku tau pikiranmu tidak di sini. Bahkan mungkin hatimu tidak terbuka sedikitpun. Tapi tunggulah, aku akan membuatmu merasakan cinta yang lebih besar di banding cinta yang bisa dia berikan.” Batin Theo seraya menatap bayangan Reva yang menghilang di balik pintu.


*****


Di hadapan kaca besar kini Reva berdiri. Ia memandangi wajahnya dengan penuh kebencian. Pikirannya terus tertaut pada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh kekecewaan dan kemarahan. Raka, ya sepasang mata milik Raka yang masih selalu membuat darahnya berdesir lembut.


Sungguh sulit bagi Reva untuk melupakan semua tentang Raka. Semakin ia mengingat kesakitannya, ia semakin sadar perasaannya jauh lebih besar pada Raka. Reva memukuli dadanya sendiri yang masih selalu berdebar kencang hanya karena ia memikirkan Raka. Sebesar apa perasaannya pada Raka, ia sendiri pun tak pernah tau. Yang jelas, Raka masih menjadi poros hatinya.

__ADS_1


Reva keluar dari toilet wanita. Dalam beberapa langkah ada sebuah tangan yang menariknya dan membawanya pada salah satu sudut ruangan. Ia mengunci tubuh Reva dengan kedua tangan kekarnya, membuat tubuh Reva terjebak di salah satu sudut tembokan.


Adalah Raka yang kini menatapnya dengan tajam. Matanya merah dan berair. Reva bisa mencium bau minuman beralkohol dari mulut Raka.


“Secepat itu kamu bisa berpaling ke laki-laki lain re?” tanya Raka yang membuat Reva terpaku. “Kenapa harus laki-laki itu yang kamu pilih? Apa karena dia lebih memiliki banyak uang di banding aku?” lanjut Raka seraya mencengkram dagu Reva.


Reva kesakitan, namun ia membiarkannya. Ingin sekali Reva berteriak “Tidak” namun jika pertahanannya runtuh, akan semakin banyak yang harus ia korbankan. Dan perkataan Raka, lagi-lagi sama. Sepertinya label dirinya di pikiran Raka tidak pernah berubah. Ia bahkan lebih cepat menilai Reva dari sebelumnya, membuat Reva semakin meyakini bahwa ia akan kembali terluka jika tidak bertahan dengan pilihannya.


“Ya, dia lebih memiliki segalanya di banding kamu.” Lirih Reva akhirnya.


Raka tersenyum tipis. Harga dirinya terluka. Dimana wanita yang dulu ia kenal, yang menemaninya memulai semua dari nol? Apa Reva yang ada di hadapannya masih Reva yang sama? Reva yang selalu menjadi poros dan pondasi hidupnya. Mungkin kali ini semuanya memang telah berubah.


“Bencilah aku sebanyak kamu bisa membenciku. Itu akan lebih baik dan kamu tidak akan terluka lebih dalam.” Batin Reva.


“Berapa sekarang hargamu semalam?” tanya Raka dengan penuh penekanan.


“Apa kamu yakin kamu bisa membayarku untuk satu malam?” tanya Reva dengan suara bergetar. Lelehan air mata menetes begitu saja. Sangat menyakitkan.


“Tentu! Apa 1 adiyaksa tidak cukup untuk membayarmu satu malam?” Lanjut Raka dengan tatapan lamannya pada Reva.


“Satu dunia kamu berikan tidak akan mampu membeli perasaanku. Kamu hanya perlu merubah pemikiranmu tentang aku. Walau kamu tidak memberikan apapun, aku akan rela berlari ke arahmu. Sesederhana itu perasaanku saat ini mas.” Batin Reva.


Raka meraih tengkuk Reva dan ******* bibirnya dengan kasar. Sangat jauh berbeda dengan Raka yang selama ini di kenalnya. Raka yang lembut dan berhati-hati, seolah Reva adalah barang pecah belah yang khawatir akan pecah jika ia tak berhati-hati. Namun kali ini Raka sangat beringas.


Raka melepas pagutannya saat ia sadar Reva tak membalasnya. Ia menarik tangan Reva dan membawanya ke salah satu kamar hotel. Ia menghempaskan tubuh Reva ke tempat tidur lalu melepas jas nya dan melemparnya ke sembarang arah. Ia kembali menghampiri Reva dengan seringai buasnya.


Raka mencengkram dagu Reva, mencium bibir Reva dengan ganas seakan tidak ada hari esok untuk melakukanya lagi. Ia terus *******, mengecap bahkan sesekali menggigit bibir reva dengan gemas. Reva hanya bisa mengeram tertahan seraya memejamkan matanya dengan lelehan air mata yang tak henti menetes. Andai saja ia orang lain, mungkin Reva akan memukulnya dan menendangnya hingga kesakitan. Sayangnya ia suaminya, laki-laki yang begitu di cintainya. Ia luluh, pertahanannya hancur.

__ADS_1


Raka beralih ke leher jejang Reva. Ia mengecup leher putih tersebut seraya meninggalkan beberapa tanda merah di sana. Yang membuat Reva melenguh antara sakit dan nikmat. Raka menatap wajah Reva dengan mata yang berisikan kilatan nafsu yang memuncak. Reva membalas tatapannya. Bibirnya bergetar seraya tersenyum.


“Aku merindukanmu…” batinnya. Sekali ini saja ia menjadi gila dan mengikuti keinginan suaminya. Ia benar-benar merindukan setiap sentuhan Raka bahkan walau terasa sedikit kasar.


Raka meneguk salivanya kasar dan kembali ******* bibir Reva yang terasa manis. Sisi liar Raka benar-benar sudah bangkit di tambah rasa panas dari minuman yang di teguknya. Rasanya atmosfir ruangan sudah memanas dan dipenuhi gairah.


Reva membalas ******* Raka dengan tidak kalah liar. Ia meremas kemeja Raka dan sesekali melenguh saat tangan Raka mulai mengusap punggung dan perut Reva memberikan sensasi sentuhan yang menambah gairah.


Raka bisa melihat Reva memejamkan matanya tapi buliran air mata itu turut serta menetes. Dalam keadaan setengah sadar berselimut gairah, Raka melepaskan cengkramannya. Ia menatap wajah sendu yang begitu dirindukannya.


Tidak, ia harus berhenti.


“Aku tau, ini akan melukai harga dirimu re…” lirih Raka yang kemudian terjatuh di samping Reva. Ia tak melanjutkannya.


Ia benar-benar terjatuh tanpa sisa kesadaran. Reva terisak di samping Raka. Pikirannnya tentang Raka yang merendahkannya sirna sudah. Segila apapun Raka, rasa cintanya terlampau besar untuk Reva. Ia tak ingin memaksa Reva untuk melakukan sesuatu yang tidak Reva inginkan terlebih itu menyakiti harga dirinya.


Salahkah anggapan Reva selama ini? Salahkah anggapan Raka selama ini?


Reva segera bangkit dan merapikan kembali bajunya. Ia menatap wajah Raka yang terlelap di sampingnya. Ia kembali terisak. Tangannya terangkat mengusap perlahan wajah Raka. Luka di sudut bibir dan lebam di wajahnya tentu sangat sakit tapi pasti tidak sesakit hati mereka berdua. Apa yang salah, kenapa semuanya terasa begitu pelik?


Reva mengambil handuk yang berada di toilet. Ia menaruh air hangat di gelas untuk mengompres luka di wajah dan bibir Raka. Ia mengompresnya dengan lembut. Sesekali Raka meringis namun tak lantas membuka matanya.


“Kita saling mencintai, kenapa keadaan membuat kita saling membenci dan menyakiti?” batin Reva.


Selesai mencuci luka di bibir Raka dan mengompres lebamnya, Reva menatap sejenak wajah laki-laki yang dicintainya.


"Masih adakah kesempatan untuk kita mas?" Lirih Reva. Ia mengecup bibir Raka dan berlalu meninggalkan Raka sendirian di kamar hotel.

__ADS_1


****


__ADS_2