
Di ruangan kerjanya, Reva melihat Dimas dan Tita yang sedang memandangi layar persegi di hadapannya. Saat melihat kedatangan Reva, mereka segera mendekat dengan penuh penasaran.
“Re, ada apa tadi di taman? Raka berantem sama bang Edho yang rekanan bisnis perusahaan?” tanya dengan cepat.
Reva hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Amarah masih meletup-letup di dadanya.
“Rekanan bisnis itu juga suka sama lo re?” lagi-lagi Tita melontarkan pertanyaannya.
“Lo dapet gosip dari mana sih?” Reva mendengus kesal.
“Bukan gosip re, video lo tersebar di semua group virtual perusahaan. Gila, lo tadi keren banget. Lo meluk Raka tapi tangan lo nahan tangan tu cowok biar gag mukul lo. Lo punya mata di depan sama belakang ya?” seru Tita sambil memperhatikan rambut Reva yang masih terurai rapi.
Reva mulai bisa menenangkan dirinya. Ia berbalik menatap Tita. Dimaspun mulai mendekat.
“Sebaiknya lo jangan komen kalo gag mau kebawa urusan gue sama pihak HRD.” Ujar Reva dengan tenang.
“Loh emang kenapa?” Dimas ikut penasaran.
“Ya itu menyangkut nama baik kantor. Kalo sampe tersebar, perusahaan pasti di rugiin. Jadi gue pesen jangan lo terusin itu video. Mending lo hapus dari group chatingan lo.”
Tita dan Dimas hanya saling lirik. Mereka membuka handphonenya dan benar saja sebuah pesan berantai dengan pengirim HRD mulai memasuki kolom chat mereka.
“Bagi karyawan tetap, tidak tetap yang bekerja di Adiyaksa group, apabila terbukti mengunggah atau meneruskan video yang saat ini beredar, maka yang bersangkutan akan dikenakan sangsi tegas berupa pemecatan atau pemberhentian tidak hormat.” Begitu isi pesan tersebut tertulis.
“Astaga, beneran omongan lo re. gue harus cepetan hapus komen gue.” Ujar Tita yang kalang kabut sendiri membaca isi pesan tersebut. Reva hanya tersenyum tipis, saat dugaannya ternyata benar.
Tak lama berselang, terlihat Fery datang menghampiri Reva dengan senyuman tipis di bibirnya. Lebih tepatnya mungkin meledek.
“Re, ke ruangan raka dulu gih. Dia habis di sidang. Katanya dia harus nyelesein masalah sama lo kalo gag mau nilainya jelek.” Ujar Fery setengah berbisik.
Tanpa menunggu lebih lama, Reva segera mengikuti permintaan Fery. Fery hanya tersenyum puas melihat wajah kesal Reva yang pasti ia tujukan untuk Raka.
“Berantem, berantem deh lo berdua. Biar gue yang siapin ringnya.” Batin Fery dengan tawa jahat di hatinya.
****
Fery berjalan dengan cepat di depan Reva, beberapa orang yang mereka temui tampak mengangguk pada Fery memberi hormat namun menatap Reva dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Dalam hati mereka mungkin berdecik sebal melihat Reva yang membuat keributan di area kantor. Reva hanya tertunduk, ia berharap bisa berlari ke ruangan tempat Raka di sidang, agar masalahnya segera selesai.
“Masuk aja re…” Fery membukakan pintu untuk Reva. “O iya,jangan galak-galak ya… Lusa raka ulang tahun, kasih dia dikit kelonggaran sebagai kado.” Lanjut fery yang kemudian berlalu.
__ADS_1
Reva hanya berdecik. Fery masih sama tengilnya seperti dulu. Reva membuka pintu lebih lebar. Tampak Raka yang sedang duduk bersandar pada sofa, ia terlihat kusut dan kesal. Reva melihat ke sekeliling tapi tidak ada orang lain di sama selain Raka.
“Duduk re..” ujar Raka dengan perlahan. Ia mengguyar rambutnya yang berantakan ke belakang.
Reva duduk di hadapan Raka. Ia memalingkan wajahnya agar tidak bersi tatap dengan Raka.
“Kamu masih marah?” tanya Raka lebih dulu. Ia tau, emosi gadisnya belum benar-benar reda seperti halnya perasaannya yang masih tidak karuan.
“Kamu mau ngomong apalagi? Kamu di sidang kan? Tinggal bilang aja kita udah baikan dan masalahnya udah selesai. Bilang juga aku yang salah karena udah godain Edho.” Cerocos Reva dengan ketus tanpa menatap Raka sedikitpun.
Raka hanya tersenyum, gadis di hadapannya benar-benar sulit di tebak.
“Kamu godain Edho?” Raka berusaha memancing Reva yang sudah membuatnya terlalu gemas.
“Ya kalo enggak juga kamu bilang gitu aja, biar kamu gag di salahin.” Jawab Reva sekenanya.
“Terus kalo mereka nanya alasan aku mukul edho?”
“Ya kamu bilang kamu cemburu sama edho.”
“Aku yang cemburu? Bukannya kamu yang pergi gitu aja pas alea datang? Kalo kamu gag pergi, edho gag ada kesempatan buat ngerayu kamu.”
“Ya terus kamu pikir aku harus nonton kalian ngelakuin adegan-adegan menjijikan itu gitu? Rajin banget gue!” gaya preman Reva mulai keluar, Raka sekuat tenaga menahan agar tawanya tidak pecah.
“Gag!” sengit Reva.
“Mau pindah sendiri atau aku gendong?!” tantang Raka yang sudah benar-benar tidak tahan melihat Reva. Ia ingin sekali mengigitnya.
Dengan malas Reva beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke samping Raka, namun saat hendak duduk , Raka menarik tangan Reva membuatnya terduduk di pangkuan Raka.
“Astaga Raka, jangan macem-macem ya. Aku sabuk hitam di taekwondo, aku juga bisa teriak biar orang-orang liat mesumnya kamu. Lepasin gag?” ancam Reva yang berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Raka.
“Teriak aja kalo berani. Paling kita di suruh nikah.” Sahut Raka yang membenamkan wajahnya di punggung Reva.
Reva benar-benar tidak berkutik. Ia tidak menyangka akan mati gaya di hadapan Raka.
Perlahan Raka mengangkat wajahnya dan menempatkan dagunya di bahu Reva. Ia memiringkan kepalanya dan bisa mencium wangi Reva yang selalu ia rindukan. Jantung Reva berdebar sangat kencang, terlebih saat hembusan nafas Raka menerpa lehernya yang jenjang. Bulu kuduknya ikut meremang dan darahnya berdesir sangat cepat.
“Dia bilang apa aja sama kamu? Dia bilang cinta sama kamu dan mau ngejar kamu?” bisik Raka membuat Reva hampir terhanyut.
__ADS_1
“Raka, tolong jangan kayak gini, aku gag suka kamu kayak gini sama aku.” Lirih Reva yang menggelinjang berusaha melepaskan diri dari Raka.
“Terus apa kalo edho yang kayak gini, kamu bakal nerima aja re?” Raka menjeda kalimatnya dengan menatap wajah cantik Reva dari samping. Iapun mengusap lembut rambut Reva dan menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Reva. “Kamu harus inget, kamu cuma milik aku. Gag ada orang lain yang bisa mengharapkan kamu selain aku. Sekali ini aja aku egois, aku gag bisa membiarkan laki-laki lain mimpiin apa lagi berusaha ngejar kamu, siapapun itu.” Terang Raka setengah berbisik membuat Reva bergidik.
Reva nyaris terhayut, tak bisa dipungkiri kata-kata ungkapan Raka yang tidak pernah ia dengar sebelumnya membuatnya ikut terbawa perasaan hingga rasanya jantungnya akan segera lepas dari sarangnya.
“Raka udah cukup ya, aku gag ada perasaan apa-apa sama edho , jadi kamu gag usah aneh-aneh. Lagian aku juga udah nolak dia kok. Aku bilang kalo aku cintanya sama orang lain. aku juga udah nyuruh dia supaya nyari wanita lain.” tutur Reva yang baru kali ini merasa takut pada Raka.
Raka terkekeh, ia mengusap lembut pucuk kepala Reva. “Gadis pinter, inget untuk laki-laki manapun, kamu gag boleh ngasih celah sedikitpun. Atau aku bisa lebih gila dari tadi.” Tukasnya dengan penuh keyakinan.
Entah Reva harus senang atau sedih, mendapati kenyataan Raka yang tidak ingin melihat Reva dengan laki-laki manapun. Namun sejak hari ini, dalam hatinya ia berjanji, jika Raka ingin berjuang untuknya, maka tidak ada alasan bagi Reva untuk melepaskan Raka untuk siapapun tak terkecuali Alea.
****
“Awww!! Sakit lea!” seru Edho sambil memegangi pipi kirinya yang masih kebiruan karena pukulan telak Raka.
“Ya tahan dikit dong kak, masa kayak gini aja lo cengeng!” sengit Alea yang masih memberikan beberapa tetes antiseptik di luka Edho.
“Si raka tuh ya, kalo gag ada reva, udah habis dia!” dengus Edho dengan kesal.
“Enak aja!” Alea menekan kuat luka Edho dengan kesal.
“Pelan-pelan lea!” gertak Edho yang sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan kasar Alea. “Lo jadi cewek gag ada lembut-lembutnya. Kaya reva dong, anggun, cantik, lembut gag kasar kayak lo!” Edho merebut kapas dari tangan Alea dan mengobati lukanya sendiri yang bisa ia lihat dengan jelas dari spion tengah mobilnya.
Alea hanya berdecik kesal. Ia melipatkan tangannya di dada dan memalingkan wajahnya dari Edho.
“Kalo lo berani mukul raka. Gue juga gag bakal tinggal diem kak!” ancam Alea dengan sungguh-sungguh.
“Bodo amat! Sampe kapan juga gue bakal cari celah buat ngambil reva dari si raka.”
“Ya tapi gag usah pake berantem juga kali kak!”
“Ya lo pikir, muka ganteng gue di tabok gue mesti diem aja gitu?! Enak aja! Ini salah satu modal gue tau!”
Edho benar-benar tidak terima dengan pembelaan Alea. Bagaimanapun rasanya sebagian harga dirinya hancur di hadapan Reva karena Raka.
“Ya udah, lo pikirin lah gimana caranya lo bisa deketin reva dengan cara halus, jadi gue bisa deketin raka juga.” Akhirnya Alea menurunkan gengsinya, sesuatu hal yang sangat ia pantang sebagai tuan putri dari keluarga wijaya.
“Iya lah pasti gue pikirin. Tapi mesti lo inget, raka tuh gag suka cewek gatel kayak lo tadi. Boro-boro si raka, gue aja jijik liatnya.” Tukas Edho memperingatkan.
__ADS_1
Alea hanya memutar bola matanya dengan angkuh. Ia sangat kesal dengan ucapan Edho. Tapi memang benar, ia harus terlihat lebih elegan untuk meraih hati Raka. Dikepalanya ia mulai merancang berbagai rencana untuk mendekati Raka. Beberapa ia sampaikan pada Edho dan Edho hanya menyimak tanpa komentar.
****