
Saat ini, Alea terduduk di hadapan penyidik dengan seorang pengacara yang menemaninya. Setelah bertemu Reva siang tadi, keputusannya sudah bulat untuk menyampaikan semuanya pada pihak berwajib. Ia tidak peduli seberapa lama ia harus membayar atas kesalahannya tapi setidaknya ada seseorang yang meyakinkannya, seperti apapun ia kelak, Reva akan menunggunya untuk pulang.
Lagi, hati Alea berdenyut lembut. Ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selalu, sesal menunggu seseorang yang salah melangkah di belakang mereka. Kali ini tidak ada pengandaian bagi Alea, semua kesalahannya harus ia hadapi. Jika ia kembali menghindar, maka selamanya ia akan terus menyesal dan pintu kedewasaan tidak akan pernah ia raih.
Semua pertanyaan penyidik telah Alea jawab dengan tegas tanpa ada yang di tutupi satupun. Entah berapa point pertanyaan yang ia terima namun semangatnya untuk menyelesaikan semua masalahnya seolah tidak pernah padam.
Dan pada akhirnya, kini ia termenung sendirian di ruang tahanannya dengan perasaan lega. Ia kembali teringat sepasang mata yang menatapnya penuh kasih. 1 orang Reva telah cukup untuk memantik keberaniannya menghadapi hidup.
“Tunggu kakak pulang lana…” gumamnya dengan sunggingan senyum tipis di bibirnya.
Tidak ada lagi beban yang ia rasakan. Kini ia bisa terlelap walau hanya beralaskan tikar tipis.
Di tempat lain, Raka masih enggan mengalihkan pandangannya dari wajah yang kini terlelap di sampingnya. Ya setelah bercerita banyak berbagai macam perasaan yang Reva rasakan, akhirnya ia tertidur. Wajahnya begitu polos hingga ia tidak tega untuk membangunkannya.
Hari sudah berada di pertengahan malam menjelang hari baru. Raka memutuskan untuk mengabari Indra lewat pesan bahwa Reva menginap di rumahnya. Untuk alasan ini lah kini mereka berada di depan rumah kediaman Adiyaksa.
Raka menggendong Reva hingga ke kamarnya. ia membaringkan Reva dengan hati-hati agar tidak mengusik mimpinya. Reva menggeliat kecil dan membuat Raka gemas. Raka hanya bisa tersenyum seraya mengusap lembut pipi Reva yang kemerahan. Ia menarikkan selimut untuk Reva dan di akhiri dengan sebuah kecupan di keningnya.
“Mimpi indah sayang…” tutur Raka dengan tatapan penuh perasaan.
Raka merasa tubuhnya pun perlu istirahat. Ia segera keluar kamar Reva dan masuk kekamarnya yang hanya terhalang ruang baca. Ia sangat bahagia, ya teramat bahagia.
****
Pagi menjelang, Reva sudah selesai dengan kewajiban muslimnya. Ia berganti pakaian olah raga dan pergi ke taman belakang rumah. Ia melakukan pemanasan dan menggunakan Tread mill untuk sekedar melatih otot-otot tubuhnya.
30 puluh menit ia habiskan untuk tread mill dan di sambung dengan skiping selama beberapa menit. Keringatnya bercucuran dan tubuhnya terasa kembali segar. Setelah di rasa cukup berolah raga, Reva pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
“Pagi bi…” sapa Reva pada bi Lastri yang sedang sibuk membersihkan dapur dan menyiapkan sarapan.
“Eh non rere, selamat pagi non…” sahutnya dengan wajah cerah. Sepertinya Bi Lastri tidur nyenyak semalam.
Reva meneguk 1 gelas air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
“Bibi bikin sarapan apa?” Reva mengintip sedikit masakan yang di buat Bi Lastri. Rupanya menu yang tidak terlalu berat, siap tersaji di meja makan. “Aku bantu yaaa…” sambung Reva seraya membawa beberapa menu makanan yang sudah jadi ke atas meja.
__ADS_1
Bi Lastri terangguk seraya tersenyum. mereka bersama-sama menyiapkan sarapan dengan di selingi obrolan hangat pagi itu.
Reva menata meja makan, menempatkan menu makanan favorit penghuni rumah di hadapan kursi yang biasa mereka tempati. Ia pun mengupas beberapa buah kesukaan Niken yang biasa ia nikmati saat sarapan. Reva mengingat persis makanan favorit orang-orang terkasihnya.
“Pagi pah, mah…” sapa Reva saat melihat Wira dan Niken yang sudah terlihat rapi dan bersiap sarapan.
“Rere.. sayangg…” teriak Niken yang segera berhambur memeluk Reva.
Ia tidak pernah menyangka bisa melihat wajah ceria itu kembali di hadapannya. Mereka berpelukan melepas kerinduan.
“Kamu udah sehat sayang?” tanya Niken yang memperhatikan Reva dari atas ke bawah.
“Alhamdulillah udah baikan mah…” sahut Reva dengan senyum cantiknya.
“Ini pasti kamu yang siapin ya sayang?” Wira memandangi menu sarapan yang di tata dengan indah.
Di hadapannya ada secangkir teh yang di sajikan di cangkir yang sudah lama tidak di lihat Wira. Ya , cangkir buatan Raka yang mereka simpan baik-baik dan tidak pernah di pakai saat Lana tidak ada. Masing-masing bergambar wajah Wira, Niken, Raka dan Reva kecil.
“Iyaa, ini teh putih spesial buat papah.” tunjuk Reva pada segelas teh yang masih mengepulkan asapnya.
Reva tersenyum senang. Untuk pertama kalinya, setelah ingatannya kembali, ia menyajikan sarapan seperti yang dulu Niken ajarkan. Ia bisa merasakan kembali kehangatan keluarga yang lama di tinggalkannya.
“Mamah sangat seneng kamu kembali sayang.” Tutur Niken dengan penuh haru.
“Iya mah, pah… Rere minta maaf atas sikap rere beberapa hari kemarin. Rere sadar, sepatutnya rere bersyukur karena mendapat limpahan kasih sayang dari mamah dan papah.” Nafas Reva rasanya tercekat dengan tangis yang ia coba tahan. Niken kembali merangkul Reva dengan diiringi deraian air mata bahagia di pipinya.
“Setelah ini, bahagialah selalu nak. Dan tetaplah bersama kami sampai kapan pun.” Tukas Niken.
Reva mengangguki dengan penuh kesungguhan. Sejak dulu hingga sekarang, pelukan Niken selalu sama, hangat dan menenangkan.
Wira memandangi kedua wanita di hadapannya dengan penuh kebahagiaan. Ia mengecup kening Niken dan mengusap kepala Reva dengan sayang.
“Okey, sekarang kita sarapan dulu yuk… Papah udah gag sabar nih mau nyobain teh spesial buatan rere.” Wira menyadarkan mereka dari keterpakuannya.
“Iya ayo pah…” Niken melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air mata di wajahnya. “O iya sayang, coba tolong liatin Raka, jangan-jangan kesiangan jam segini belum turun.” Sambung Niken.
__ADS_1
“Oh iya mah, rere liat dulu ya…” sahut Reva yang bergegas pergi menuju kamar Raka.
****
“Mas raka… sarapan yuk…” ujar Reva sambil mengetuk pintu kamar Raka perlahan.
“Masuk re, gag di kunci.” Sahut Raka dari balik pintu.
Reva memutar handle pintu kamar Raka dan perlahan membuka daun pintunya. Tampak Raka yang sedang berdiri di depan kaca tengah mematut dirinya dan dalam beberapa saat wajahnya ikut terpantul dari cermin.
“Re, bantu pakein dasi dong…” rengek Raka dengan manja.
Reva segera mendekat. Ia mengambil beberapa dasi dan mencocokannya dengan kemeja Raka. Setelah yakin dengan pilihannya, ia berdiri di depan Raka dan sedikit berjinjit untuk menyesuaikan tingginya dengan tubuh jangkung Raka. Ia melingkarkan dasi di leher Raka dan tampak serius dengan simpul yang di buatnya.
Sebenarnya Raka bisa melakukannya sendiri seperti biasanya, namun tidak lengkap rasanya jika pagi ini ia tidak menggoda Reva. Di hadapannya, Raka bisa melihat wajah Reva dengan jarak yang sangat dekat. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah Reva yang terlihat cantik dengan kemerahan alami di pipinya. Hatinya selalu berdesir tatkala memandangi wajah cantik itu dengan berbagai ekspresi.
“Okey, udah rapi.” Ujar Reva seraya mengusap dada bidang Raka. Ia tersenyum puas saat melihat simpul itu begitu rapi terjalin di sela kerah baju Raka.
Tanpa di sangka Raka memegangi tangan Reva dengan erat. Ia selalu menyukai setiap sentuhan Reva padanya.
“Kalau ini, udah rapi belum?” Raka membawa tangan Reva ke pipinya dengan menyentuhkan garis halus jambang di rahangnya yang terlihat maskulin.
“Hemm.. you look amazing as always.” Puji Reva tanpa sungkan. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Raka, namun Raka seolah tidak ingin melepaskannya. Mereka saling bertatapan, membuat wajah Reva merona seketika. “Mas, kamu harus sarapan…” lirihnya yang segera memalingkan wajahnya dari Raka. Ia tidak kuat kalau harus berlama-lama menatap sepasang mata yang membuat jantungnya bertalu-talu.
“Aku baru tau, kalau panggilan mas bisa terdengar begitu menggoda kalau kamu yang bilang.” Bisik Raka yang kemudian mengecup lembut telinga Reva, membuatnya bergidik geli.
“Kamu bisa kesiangan.” Tukas Reva yang segera melepaskan tangan raka dan menjauh darinya. Ia tidak ingin perasaannya semakin tidak terkendali. Ia berjalan keluar kamar Raka dengan langkah cepatnya.
Raka hanya terkekeh geli melihat tingkah kekasihnya yang menurutnya sangat menggemaskan. Ia berjalan mengikuti Reva dengan jas yang tersampir di lengan kirinya dan tas kerja yang telah ia bawa di tangan kanannya. Pagi ini terasa begitu indah bagi Raka.
****
Astaga, kenapa harus d tutup dengan adegan ini? Gag bener nih mikirnya. Dasar aku ;D
__ADS_1
Jangan lupa likenya yaaa, makasih yang masih baca... Happy reading.