
“Mih… Lea boleh yaaa keluar bentar…. Ada yang harus lea urus nih…” rengek Alea pada Nida yang sudah 2 hari mengurungnya di rumah. Maksudnya sih pingitan, seperti yang ia lakukan pada Reva.
Ia mengalungkan tangannya di lengan kanan Nida dengan “puppy eyes” yang hampir membuat Nida luluh.
“Gag boleh sayang… 2 hari ini lagi, tahan lah…” ternyata Nida tidak bisa semudah itu untuk luluh.
“Mamih mah… Lea kan bosen di rumah terus. Lagian cuma pengen ketemu temen doang kok bukan ketemu fery.” Keluhnya sambil menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
“No!” tolak Nida.
“Aaahhh mamih lea beteeee, lea gabut…….” Alea berguling-guling di kasurnya, layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
Nida hanya terkekeh. Ternyata usia matang putrinya tidak menjamin ia akan kehilangan tingkah kekanak-kanakannya.
“Kalo sama temen, kamu boleh video call kalo sama fery, pesan singkat aja.” Tegas Nida, no debat.
Alea berdecik kesal. Apalah daya, akhirnya ia hanya bisa menuruti perintah sang ibu walau dengan kesal.
Meninggalkan Alea yang masih dalam kegabutannya, Nida kembali mengecek kebutuhan pernikahan putri sulungnya. Rasanya ia sudah semakin handal saja menjadi Wedding organizer yang selalu memastikan sendiri detail kesiapan pernikahan putrinya tanpa kurang satu apapun.
Indra berjalan menghampiri Nida dengan tongkat di tangan kanannya.
“Lea, mana mih?” tanya indra seraya duduk di salah satu sudut sofa.
“Di kamarnya pih, lagi guling-guling.” Sahut Nida seraya terkekeh. Indra mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti. Nida segera duduk di samping sang suami. “Putri kita umurnya udah matang tapi kelakuannya masih ajaib pih.” Aku Nida yang kembali terkekeh.
Sepertinya Indra paham dengan kalimat Nida kali ini.
__ADS_1
“Iya… sampai kapanpun mereka akan tetap jadi gadis kecil kita, iya kan?" Indra menarik Nida ke dalam pelukannya, seraya tersenyum mengingat kedua putrinya.
“Satu per satu, anak kita pergi dengan suaminya. Sebentar lagi, kita bakalan cuma berdua di rumah yang kita bangun untuk mereka. Kadang mamih nyesel, kenapa kita gag punya 4 atau 5 anak aja sekalian supaya kita gag ngerasa kesepian saat menjelang tua.” Ungkap Nida dengan mata berkaca-kaca.
Indra mengangguk sepakat. Dengan usianya yang sudah tidak muda lagi, tentu mereka akan merasakan kesepian jika mereka memang hanya tinggal berdua. Tidak terbayangkan mereka harus kembali melewati semuanya berdua. Tapi di balik itu semua, bukannya ini salah satu cara untuk semakin mendekatkan hati mereka?
“Sayang, sebentar lagi kita akan punya cucu dari reva dan raka. Kita akan sering-sering meminta mereka untuk berkunjung ke sini… “ hibur Indra. Ia mengusap bahu Nida dengan lembut dan Nida terangguk seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Indra.
“Mamih sayang sama mereka, mamih berharap semoga kita bisa berumur panjang dan melihat mereka selalu bahagia.” Ungkap Nida yang diangguki setuju oleh Indra.
Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam bayangan kebersamaan bersama kedua putrinya. Saat Reva yang begitu energik berlarian di dalam rumah dan Alea yang kalem menemani sang adik bermain. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Masa indah itu perlahan menjauh dan tidak bisa di ulang.
****
Dini hari, Raka terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka lebar saat merasakan Reva yang menghilang dari pelukannya. Biasanya ia akan melihat sang istri yang sedang duduk bersimpuh di atas sajadahnya tapi kali ini tidak ada di tempatnya.
Raka beranjak dari tempat tidurnya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia mencari Reva di kamar mandi, tempat paling sering di datangi Reva akhir-akhir ini tapi sepertinya ia pun tidak berada di sana. Raka keluar kamar dengan langkah cepatnya, menuruni anak tangga satu per satu dan ia bisa menghela nafas lega saat melihat sang istri yang ternyata tengah berada di meja makan.
“Hihihi aku laper ayah… Jadi kebangun deh. Di tambah dia nendang-nendang terus, jadi isi perut dulu deh.” Aku Reva dengan senyum tipisnya.
Raka tersenyum gemas, kebiasaan baru sang istri yang mulai membuatnya terbiasa.
“Anak ayah lapar yang sayang?” Raka mengusap perut buncit Reva dan mengecupnya dengan lembut. Ia menempelkan kupingnya di perut Reva, berharap sang anak akan memberi respon tendangan. Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi.
“Dia udah kenyang ayah, makanya tidur lagi.” Tutur Reva seraya mengusap kepala Raka. Raka kembali menegakkan tubuhnya. Air liurnya terpancing melihat makanan di piring Reva yang hampir tandas.
“Ayah boleh nyicip gag bun?” tanya Raka sambil menatap Reva yang masih mengunyah sisa makanan di mulutnya.
__ADS_1
“Boleh dong. Aaaa….” Reva menyuapkan makanan di tangannya pada Raka. Memang akhir-akhir ini Raka tidak kalah naik nafsu makannya. Sepertiya ia sudah tidak peduli dengan kenaikan bobot tubuhnya yang penting barisan roti sobek favorit istrinya masih berjejer rapi.
Raka begitu menikmati suapan demi suapan yang Reva berikan. Makan malam dengan banyak menu keinginan Reva, nyatanya tidak menyisakan kenyang sedikitpun bagi Raka. Raka masih ingat ketika ia harus menghabiskan mie ayam yang Reva minta sebelum tidur atau kudapan wajib untuk mengundang rasa ngantuknya, semua tandas beralih ke perut Raka.
Selesai makan hingga bersendawa, Raka dan Reva kembali ke kamarnya. Ia dengan setia melingkarkan lengannya di pundak Reva. Tiba di kamar, Raka membaringkan tubuhnya dengan kepala menyandar pada sandaran tempat tidur. Sementara Reva berdiri di depan cermin yang memantulkan sekujur tubuhnya.
“Ayah, aku gemuk banget ya?” tanya Reva seraya menatap pantulan wajah Raka dari cermin.
Wah sepertinya Raka mendapat pertanyaan jebakan yang kalau salah jawab bisa kena murka sang istri.
Raka beranjak dari tempat tidurnya. Ia menghampiri Reva dan berdiri dibelakangnya seraya melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang Reva. Dagunya ia tempatkan di bahu Reva dan menatap wajah sang istri dengan hangat.
“Istriku berisi dan seksi.” Bisik Raka seraya mengecup daun telinga Reva membuat sang empunya bergidik geli.
“Cari aman yaaa ayah jawabnya.” Reva mencubit gemas tangan Raka.
Raka hanya terkekeh. Ia memutar tubuh Reva menghadapnya dan menatap kedua matanya, laman.
“Aku tau, itu pertanyaan jebakan para istri.” Ucap Raka seraya mencubit gemas hidung Reva. Reva ikut terkekeh, sepertinya sang suami sudah belajar banyak mengenai pertanyaan para istri. Raka menangkup wajah Reva dengan kedua tangannya. “Kamu tau, seperti apapun kamu, kamu tetap gadisku, bun.” Tegas Raka.
“Bibir kamu kok tambah lama tambah manis sih yah.. Gombalannya tambah banyak aja.” Reva menyapu bibir Raka dengan lembut, membuat sang empunya memejamkan matanya. Reva tersenyum tipis, melihat lekat pahatan indah di depan matanya. “Okey, sekarang ayah tidur lagi gih, pagi ini ada rapat penting kan?” imbuh Reva kemudian.
Raka mulai membuka matanya. “Aku gag pengen tidur lagi, aku mau olah raga aja. Kamu mau nemenin kan?”
Reva melihat jam di dinding yang baru jam 3 dini hari. “Kepagian… 3 jam lagi baru olah raga, biar badannya seger.”
Raka menggeleng seraya tersenyum. “Justru kita bisa olah raga selama 3 jam supaya lebih segar, hem….” Timpal Raka seraya menggerakkan alis tebalnya naik turun. Barulah Reva sadar arti olah raga yang Raka maksud. Tentulah Reva tidak akan menolak. Dalam beberapa saat Raka membopong tubuhnya ke kasur. Bibirnya mulai lincah mengecupi setiap inci wajah Reva dan sebuah ******* dalam pun berhasil membuat Reva mendesah.
__ADS_1
Leher Reva dan bagian tubuh lainnya menjadi sasaran Raka berikutnya. Raka menutupi tubuhnya dan tubuh Reva dengan selimut. Pagi ini mereka bermain di bawah selimut tebal dengan desahan dan lenguhan yang memecah keheningan pagi ini.
****