Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 46


__ADS_3

Reva telah kembali ke kost-annya. Ia di antar oleh Raka yang dengan setia menemaninya. Fery yang juga ingin menemani Reva, di usir begitu saja oleh Raka.


“Re, mau makan sekarang?” Raka membuka bungkusan makanan yang di belinya dalam perjalanan pulang.


“Gue mau mandi dulu.” Sahut Reva yang mengambil beberapa potong baju dan handuk.


Ia berdiri di pintu kamar mandi dan berusaha mengikat rambutnya. Tapi tangan kananya masih sangat sakit, membuatnya kesulitan. Dengan sigap Raka segera menghampiri. Ia melepas jepitan yang tadi siang ia pakaikan dan mengantinya dengan karet.


Raka menelan ludahnya sendiri saat melihat leher Reva yang putih dan jenjang.


“Mandinya mau gue bantuin?” bisik Raka dengan penuh kesungguhan.


Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja mengingat kondisi Reva yang saat ini terluka atau mungkin sifat dasar laki-laki yang muncul begitu saja melihat godaan yang cukup besar di hadapannya.


“BUK!” sebuah sikutan mendarat dengan sempurna di perut rata Raka. Raka mengaduh sambil memegangi perutnya yang terasa ngilu.


“Awas kalo lo berani ngomong macem-macem lagi.” Ancam Reva seraya mendelikkan matanya dengan kesal. Sebagai seorang laki-laki, Raka mulai menunjukkan sisi mesumnya. Reva tahu itu hanya candaan tapi entah mengapa malah membuat jantungnya berdebar kencang saat mendengar celotehan Raka tadi.


“Ngomong gag boleh tapi kalo di lakuin boleh ya?” batin Raka sambil terkekeh sendiri. “Astaga, mikir apa gue?” sisi lain Raka berusaha menyadarkannya dari pikiran kotor. Ia merasa malaikat dan setan yang ada di sisi kiri dan kananya sedang bertarung.


Reva berdecik sebal. “Ck! Mesum lo!” lanjutnya seraya meninggalkan Raka yang masih terpaku dengan salah tingkah.


Suara bantingan pintu kamar mandi terdengar sangat nyaring membuat Raka tersadar dari lamunannya. Bayangan Reva sudah menghilang dari pandangannya. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi, bagaimana bisa mulutnya bicara tanpa bisa ia kontrol.


Gadis yang berada di kamar mandi saat ini, sedang bersandar pada daun pintu. Ia terlihat mengatur nafasnya sambil memejamkan mata. Ia berusaha mengatur detak jantungnya yang terasa tidak menentu.


Biasanya ia tidak mudah tersentuh apalagi memikirkan pikiran ucapan kotor yang keluar dari lawan jenis di sekitarnya. Ibaratnya kata “No baper” menjadi salah satu prinsip Reva saat bersama laki-laki yang merayunya dan dekat dengannya. Tapi entah mengapa, perhatian-perhatian kecil Raka membuat sudut hatinya merasakan hal lain.


****


 


Sambil menunggu Reva mandi Raka menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk Reva. Celemek lecek yang tergantung dekat kompor di pakai Raka untuk menyempurnakan tampilannya sebagai koki handal.


Reva keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Ia melirik Raka dan tersenyum geli melihat tampilan Raka yang konyol menurutnya.


“Udah selesai mandi? Yuk makan?” Raka menyodorkan bantalan untuk Reva duduk.


Bibir Reva masih mengerucutkan senyuman simpul.


“Kenapa?” tanya Raka sambil memperhatikan penampilanya sendiri.


“Itu celemek kena pipis kucing, kenapa lo pake?” sahut Reva sambil terkekeh.


“Lo kok gag bilang?” Raka spontan melepas celemeknya dan melemparnya sembarang. Reva tertawa dengan renyahnya tidak peduli dengan kekesalan Raka.


“Ketawa lagi, gue pakein nih celemeknya!” Raka menghampiri Reva sambil membawa celemek dan berniat memberikannya pada Reva.


“Ihh Raka jijik tauuu… Lo bau pipis kucing!” ujar Reva sambil tertawa terbahak-bahak.


Raka terlihat semakin kesal. Ia menatap Reva dan menggeleng tidak habis pikir gadis ini mengerjainnya. Reva segera berlari menghindari Raka tapi Raka berhasil menangkapnya. Raka menggenggam tangan Reva dan menatapnya dengan lekat. Raut wajah keduanya berubah tiba-tiba lebih cepat dari membuka halaman buku.


Dua pasang mata itu saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Lagi, desiran halus itu dirasakan oleh keduanya membuatnya terpaku untuk beberapa saat saling menatap dan mencoba mengenali perasaan masing-masing.


“Raka, sakit tau…” Reva berusaha melepaskan genggaman tangan Raka, tapi Raka semakin mengeratkan genggamanya.


“Gue bakal lepasin lo, asal lo janji. Kedepannya, lo gag akan kesakitan atau menangis untuk alasan apapun.” Tutur Raka dengan tatapan tajam.


Seketika, terasa seperti ada hembusan angin yang menyentuh wajah Reva dengan sangat lembut. Reva melihat tatapan penuh kecemasan di wajah Raka dan ia yakini itu sebuah ketulusan. Reva hanya bisa mengangguk. Dalam sekejap Raka membawa  Reva ke dalam pelukannya. Menenggelamkannya di dada bidangnya. Reva bisa mendengar detak jantung Raka yang sangat cepat  dan tidak beraturan, seperti yang Reva rasakan saat ini.

__ADS_1


“Lo hampir bikin gue mati berdiri. Jangan diulangi lagi. Lo harus baik-baik aja.Jangan pernah terluka lagi.” Bisik Raka dengan penuh kesungguhan. Ia mengecup pucuk kepala Reva dengan lembut.


Reva kembali terangguk. Saat ini Ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Raka, hingga ia lupa salah satu prinsip yang tadi ia teriakan pada hatinya sendiri. Ingin rasanya waktu berhenti sekejap saja, membiarkan Reva merasakan rasa nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


“Apa aku boleh berharap?” batin Reva.


****


 


Video dan foto insiden Reva di mall tersebar dimana-mana. Para kumbang riuh bersorak di group virtualnya. Masing-masing saling membanggakan saat bisa membagi foto dan vidoe dengan kualitas lebih baik. Dan lebih bangga lagi saat mereka sadar pernah mengenal Reva dari jarak dekat.


“Gue cari tuh ********, berani banget bikin Reva gue terluka!” tulis salah satu kumbang dengan antusias.


“Reva lo? Bukannya kita sama-sama gag pernah bisa pegang tangannya?”


“Ya tapi gue pernah jalan di samping dia, banggain dia ke temen-temen SMA gue.”


“Gue juga pernah di temenin main sepeda bareng. Kalo dia keringetan, beuh seksi banget bray!”


“Gue pernah nonton sama dia, gelap-gelapan berdua romantis banget.”


“Tapi lo gag berhasil ngapa-ngapain kan?”


“Besoknya tangan gue harus di urut gara-gara gag sengaja megang tangan dia pas ngambil minum.”


Fery tertawa terbahak-bahak saat membayangkan kemalangan para kumbang yang berusaha menyentuh Reva. Hal ini lah yang sering mereka bahas di group ini. Pada ujungnya adalah, tidak ada satupun di antara mereka yang berhasil menyentuh Reva. Tapi, tidak ada juga yang pernah mundur atau merasa kecewa. Karena saat ada Reva di samping mereka, memberi  sensasi tersendiri di hatinya masing-masing.


“Kenapa lo?” Raka memukul Fery dengan berkasnya. Ia kesal sendiri melihat Fery yang asyik menatap layar persegi dalam genggamannya sambil tertawa-tawa.


“Itu di group kumbang, lo gag baca?” sahut Fery yang masih terkekeh saat membaca cerita kemalangan para kumbang selanjutnya.


“Kenapa, lo takut hati lo goyah denger banyaknya cerita dari para kumbang?”


Fery menatap Raka yang sedang memijat pangkal hidungnya dengan mata tertutup. Semalaman ia memang tidak bisa tidur, melihat foto dan video yang beredar mengenai Reva.


“Group itu, bikin gue pengen ngehajar satu per satu anggotanya.” Dengus Raka sambil mengepalkan tangannya.


Fery kembali terkekeh, sahabatnya sudah benar-benar menjadi bucinnya Reva.


“Lo tau, gue pernah mabok berat waktu sama si Reva. Dia mapah gue keluar dari club bahkan gue muntah depan dia.” Fery menjeda kalimatnya, demi melihat respon kesal sahabatnya dan membuat ia sedikit jumawa di hadapan Raka. “Tapi dia gag jijik dan gag ninggalin gue. Dia malah ngurusin gue lebih dari pacar gue sendiri. Dia lap muntahan di mulut gue pake tangannya sendiri, gue masih bisa ngerasain lembutnya tangan si Reva waktu dia ngusap bibir gue. Ah sial! Harusnya gue pura-pura pingsan. Siapa tau dia ngasih nafas buatan.” Tutur Fery dengan wajah bahagia saat membayangkan masa-masa ia bersama Reva yang sebenarnya hanya halusinasi untuk menggoda sahabatnya.


“BUK!”


Raka melempar Fery dengan bantal yang ada di sofa. Matanya melotot menatap Fery dengan tidak suka. Fery bergidik ngeri, sepertinya Raka sedang bersiap memikirkan cara tersadis untuk membunuhnya.


“Tapi kan cuma lo yang bisa meluk dia.” Hibur Fery dengan seringai jenakanya.


Ia harus segera mengamankan posisinya sebelum Raka benar-benar murka dan mencabik-cabik tubuhnya.


Raka hanya tersenyum. Ia kembali mengingat kejadiannya bersama Reva. Sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Ada rasa bahagia yang menyeruak di dadanya.


“Semalem, lo gag ngapa-ngapain kan sama si Reva?” selidik Fery yang mulai berpindah duduk ke samping Raka. Ia benar-benar penasaran dengan ekspresi yang di tunjukkan Raka.


Raka hanya tersenyum. Ia mengusap bibirnya sendiri dengan lembut.


“Anjrit! Jangan bilang lo?”


Fery menunjuk Raka dengan ibu jarinya. Ekspresi wajahnya benar-benar tidak terima membayangkan apa yang dilakukan Raka dan Reva. Mungkin mereka berciuman, begitu bisik setan di samping Fery. Padahal Raka hanya ingin terlihat menang 1 point dari sahabat reseknya ini.

__ADS_1


Raka benar-benar tidak menjawabnya. Ia hanya menoleh Fery lalu beranjak menuju meja kerjanya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dengan raut bahagia yang tidak pernah memudar.


“CiK!” fery berdecik sebal, melihat ekspresi Raka yang seolah menang banyak. Namun Raka tidak ambil pusing. Ia benar-benar menikmati segudang pekerjaan yang menumpuk di hadapannya.


****


 


“Re, kenapa kamu malah masuk. Harusnya kamu istirahat biar cepet sembuh.” Ujar Tika yang melihat Reva sudah duduk kembali di kursi kerjanya.


Ia tampak semangat mengerjakan persiapan untuk workshop.


“Saya udah baikan ko mba… Lagian diem di kost-an malah bikin sakitnya tambah kerasa.” Sahut Reva dengan senyum tipisnya.


“Padahal kalo kamu gag bisa ikut workshop, kamu gag usah maksain. Saya coba handle semuanya.”


Tika menatap Reva dengan penuh kesungguhan.


“Mba Tika, ini pertama kalinya saya mendapat tugas yang penting. Jadi saya tidak akan melewatkan kesempatan ini.” Tukas Reva dengan yakin.


Tika menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada meja Reva. Ia tersenyum bangga melihat semangat yang menggebu dari Reva.


“Okey, siap kan semuanya dengan baik. Tidak boleh ada kekurangan sedikitpun.” Ujar Tika seraya berlalu dengan sebuah senyuman penuh kebanggan.


“Baik mba!”


Reva mengangguk dengan semangat. Ia mengepalkan tangannya seraya berseru “Fighting!” untuk menyemangati dirinya sendiri.


Reva mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Semua hal detail tentang workshop perusahaan ia siapkan dengan baik. Bibirnya selalu melengkungkan senyum, betapa ia menikmati setiap pekerjaan yang di tugaskan padanya.


“Re…”sapa sebuah suara yang Reva kenal.


Reva mendongakkan wajahnya berusaha melihat sosok jangkung yang berdiri di samping mejanya. “Hay dho, ada apa?” sahut Reva dengan senyuman riangnya.


“Tadi aku ke kost-an lo, tapi kata ibu kost lo masuk kerja. Emang lo udah baikan?”


Edho tidak bisa menyembunyikan raut cemasnya.


“Udah dong, nih gue udah sehat begini.”sahut Reva dengan semangat.


Edho tersenyum tipis melihat Reva yang begitu bersemangat. Gadis dihadapannya selalu bisa membuatnya takjub.


“Nih , ada titipan buat lo.”


Edho menyerahkan sebuah goodie bag berukuran lumayan besar dan menaruhnya di meja Reva.


“Apa ini?” Reva mengintip isi goodie bag di hadapannya.


“Ini dari tante Nida. Dia juga ngundang lo main ke rumahnya.”


“Ya ampun, ngerepotin banget sih!” seru Reva yang tersenyum riang. Ia membongkar isi goodie bag itu dengan semangat. Tampak beberapa kotak makanan yang tersusun rapi dan tercium sangat lezat.


“Lo udah nyelametin hidup tante Nida, lo pantes dapet lebih dari ini.”


“Makasih dho. Sampein salam gue buat bu nida.” Tukas Reva.


Edho hanya mengangguk. Maksud hati ia ingin menanyakan banyak hal pada Reva, tapi Reva sudah memanggil rekan-rekannya dan menunjukkan isi  goodie bag berisi aneka ragam masakan yang memenuhi meja kerjanya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi.


Hari ini sepertinya mereka akan makan besar. Dimas, Tita dan Tika ikut senang mendapat kiriman makanan sebanyak ini. Mereka berkumpul di pantry dan mencicipi makanan dengan lahap sambil bercanda riang.

__ADS_1


****


__ADS_2