Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 70


__ADS_3

Jam 8 malam, Reva selesai membersihkan tubuhnya. Ia sudah menggunakan piyama tidur namun rambutnya masih tergulung handuk kecil. Dihadapannya laptop masih menyala menampilkan bahan sidangnya lusa. Di tangannya ia menggenggam segelas teh hangat dengan madu untuk menghangatkan tubuhnya.


Benda persegi dihadapannya berdering menampilkan nama Bi Asri melakukan video call. Reva segera mengangkatnya walau sangat tumben bi Asri melakukan panggilan video.


“Tante rere…..” seru Kean dari sebrang sana.


“Hay kean… Kean lagi ngapain?” sapa Reva pada anak laki-laki yang tengah tengkurap dan menatapnya dengan penuh semangat.


“Aku lagi gambar mobil. Tante rere mau liat?” ujar sean sambil bangun untuk duduk dan memperlihatkan gambar miliknya.


“Wah bagus banget gambarnya… Kean hebat deh.” Puji Reva seraya mengacungkan ibu jarinya pada Kean.


Kean tersenyum memperlihatkan barisan gigi susunya yang putih dan tersusun rapi.


“Tante rere, aku mau makan ayam goreng sama tante rere yaaa….” Rengek Kean dengan manja.


“Iya nanti kita makan ayam goreng yaaa. Tapi ini udah malem, kean belum mau bobo?”


Kean menggeleng. “Aku masih mau gambar, boleh kan dady…”


“Ya boleh… Tapi bobonya jangan malem-malem yaa.. nanti tante rerenya gag mau makan ayam goreng sama kean.” Sahut sebuah suara yang Reva yakini adalah Adrian.


Tak lama berselang, wajah Adrian terlihat jelas di hadapan Reva. Ia tersenyum sebagai bentuk sapaan pada Reva.


“Sorry ya re malem-malem ganggu. Dari tadi kean ngerengek pengen main sama kamu. Jadi video call deh supaya dia gag ngambek.” Terang Adrian entah benar atau tidak. Yang jelas ia merasa sangat senang bisa melihat wajah Reva sebelum tidur. Wajah yang selalu menghiasi pikirannya akhir-akhir ini.


“Oh iya pak, gag pa-pa.” sahut Reva dengan canggung.


Terlihat garis senyum di bibir Adrian. Ia berajak dari tempat duduknya dan berpindah keberanda belakang rumahnya. Ia duduk di salah satu kursi dengan pandangan yang tak lepas dari Reva.


“Kamu baru selesai mandi re?” tanya Adrian yang memperhatikannya dengan lekat membuat Reva kikuk.


Reva hanya tersenyum. Ia melepas handuk yang menutup kepalanya hingga membuat rambutnya terburai alami. Ia merapikan rambutnya dengan tangan. Seketika itu , jantung Adrian kembali berdegub kencang.


Ingin rasanya ia segera berlari menemui Reva, mencium wangi rambut Reva yang sangat ia rindukan dan membantunya mengeringkan rambut Reva seperti dulu ia sering lakukan saat mereka masih bersama. Ya, kenangan saat mereka masih bersama. Terasa seperti baru kemarin, nyatanya kini sudah ada jarak yang sangat jauh memisahkan hati keduanya.


“Maaf pak, ini sudah malam. Saya tutup dulu…” ujar Reva yang mulai merasa tak nyaman dengan tatapan Adrian.

__ADS_1


“Hah? Oh iya re…” Adrian baru tersadar dari lamunannya. “Tapi re…” Adrian tampak menjeda kalimatnya. Masih banyak yang ingin ia ucapkan tapi bibirnya terasa begitu kelu.


“Iya gimana pak?” Suara Reva kembali menyadarkan Adrian.


“Kita, masih bisa bertemen kan?”


Pertanyaan Adrian terasa menelisik hati Reva. Pilihan itu kini ada di tangan Reva. Adrian selalu menjadi salah satu alasan Reva merasa cemas dan sedih. Mungkin ia harus menghadapi salah satu kesedihannya dan terbebas dari perasaan tidak nyaman yang selama ini ia rasakan.


“Iya pak…” Reva terangguk. Ya, Dia memutuskan untuk menghadapi masa lalunya. Tidak ada alasan untuknya menghindar karena nyatanya, hatinya kini sudah milik Raka.


Terlihat senyum lega di wajah Adrian. Ia tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya. “Okey re, sekarang kita berteman.” Adrian seolah menegaskan kalimatnya pada Reva. Reva hanya mengangguk dan tersenyum. “Ya udah, kamu istirahatlah. Jangan lupa minum teh hangat pake madu supaya kamu gag masuk angin. Rambutnya juga keringin dulu.”


“Iya pak, selamat malam.” Reva mengakhiri obrolannya begitu saja.


Adrian terlalu mengingatkan banyak hal dan itu masih harus membuat Reva berlatih terbiasa. Reva menoleh segelas air teh dengan madu yang ada dihadapannya. Bahkan Adrian masih sangat mengingatnya.


“Fokus re, jangan terjebak di masa lalu. Kamu hanya cukup menghadapinya agar terbebas dari setiap beban.” Gumam Reva seraya mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan.


*****


Reva melihat layar handphone yang sudah mati. Ia menyalakannya dan sudah jam 10 malam. Tapi tidak ada satupun pesan atau panggilan dari Raka. Sepertinya anak magang rasa direktur itu benar-benar sibuk.


“Bu, rere kangen… Bentar lagi kita ngumpul.” Gumam Reva seraya tersenyum mengenang wajah Ratna yang sangat dirindukannya.


Tak berselang lama, terdengar sebuah ketukan di pintu. Dengan segera Reva terbangun dan beranjak untuk membuka pintu.


“Mas raka?” Mata Reva membelalak tidak percaya, laki-laki yang tidak kunjung menghubunginya ternyata kini berdiri tepat di hadapannya. Ia terlihat kusut dengan wajah lelah dan lingkaran hitam di matanya. Namun saat melihat Reva, ia masih berusaha tersenyum. “Masuk mas…”


Reva membukakan pintu lebar-lebar untuk Raka.


Raka melangkahkan kakinya masuk, rasanya tenaganya terkuras habis untuk pekerjaan kantor.


“Re, aku rebahan bentar boleh?” tanya Raka yang terus berjalan menuju tempat tidur Reva. Reva hanya terangguk. Dan tak lama tubuhnya roboh terlentang di kasur Reva.


Reva memandanginya dengan penuh iba. Kekasihnya sudah sangat berusaha keras. Ia duduk di samping Raka dan mengusap rambut Raka dengan lembut.


“Mas udah makan?” lirih Reva dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Pandangan Raka beralih pada sosok cantik di sampingnya. Perlahan kepalanya menggeleng lalu tersenyum.


“Kalo udah gag capek, kamu bersihin badan kamu dulu, aku bikinin makanan tapi seadanya yaa…” tutur Reva dengan diiringi senyum. Senyuman yang selalu membuat Raka merasa tenang. Raka hanya terangguk dan Reva pun bergegas membuatkan makanan untuk Raka.


Setelah tenaganya cukup terkumpul, Raka beranjak menuju kamar mandi. Ia meraih handuk merah muda milik Reva dan bayangannya menghilang di balik pintu kamar mandi.


Cukup lama Raka membersihkan tubuhnya. Tubuhnya yang lelah terasa kembali segar saat butiran air membasahi tubuh atletisnya.


Diluar sana Reva sudah menyiapkan makan malam dan baju ganti untuk Raka. Sambil menunggu Raka, ia kembali membaca skripsinya agar lebih siap menghadapi sidang.


Pintu kamar mandi berderet, Reva yakin Raka sudah selesai mandi.


“Baju gantinya ada di situ mas.” Ujar Reva tanpa menoleh sedikitpun. Ia tidak ingin melihat sesuatu yang tidak seharusnya di lihat mata perawannya.


“Hem…” hanya itu sahutan Raka yang kembali masuk ke kamar mandi.


Selesai dengan urusan mandi dan berganti baju, Raka segera menghampiri Reva dan memeluknya dari belakang.


“Hay pacar, kok serius banget…” goda Raka sambil mengecup pucuk kepala Reva.


“Iya, ini ada beberapa yang aku gag yakin buat sidang lusa jadi aku baca-baca lagi deh.” Sahut Reva seraya menoleh Raka yang ternyata sedang memandanginya.


Pandangan keduanya bertemu, membuat desiran darahnya mengalir sangat cepat. Reva pun bisa mencium aroma wangi tubuh Raka yang terasa sangat menyegarkan. Rambut yang basah berkilauan terkena cahaya lampu, membuatnya benar-benar terlihat tampan.


“Cup!”


Sebuah kecupan mendarat begitu saja di bibir Reva dan membuatnya merona seketika. Kini mereka bertatapan dengan lekat, jantungnya berdebar sangat kencang. Tanpa ia duga, Raka kembali menekan bibir Reva dengan lembut. Menyesapnya kecil-kecil membuat Reva membalasnya malu-malu. Tangan Raka menyentuh tengkuk Reva dan menggenggamnya dengan lembut.


Semakin lama Raka semakin mengikis jarak di antara keduanya hingga pagutan keduanya terasa semakin dalam. Raka melepaskan sejenak pagutannya agar ia dan Reva bisa mengambil nafas dan setelahnya mereka kembali saling berpagutan. Raka mengigit lembut bibir Reva dan Reva membuka mulutnya begitu saja, membuat Raka bebas menjelajah seisi mulut Reva dengan penuh gairah. Reva menepuk dada Raka saat ia merasa nafasnya akan segera habis.


Dengan terengah, Raka melepaskan kecupannya. Ia memandangi Reva yang tertunduk malu dengan sebuah senyuman penuh arti.


“I love you re…” bisiknya seraya menempelkan keningnya di kening Reva.


Reva memejamkan matanya, menikmati setiap hembusan nafas Raka yang menerpa wajahnya. Dadanya masih berdebar tidak menentu, mengakhiri sebuah gairah memang tidak semudah itu.


“Mas kamu makan dulu, nanti makananya keburu dingin.” Lirih Reva dengan terengah dan mata yang masih terpejam. Raka kembali terangguk, sebelum beranjak untuk makan ia mengecup kening Reva dengan penuh perasaan.

__ADS_1


****


__ADS_2