
Malam ini Wira sekeluarga memutuskan untuk menginap di rumah Ratna. Mereka menempati salah satu kamar yang biasa digunakan anak-anak panti yang berjumlah sekitar 8 orang, semuanya adalah adik Reva.
Niken menahan sesak di dadanya kala membayangkan Reva tumbuh di rumah ini. Ia mengusap seprai, bantal dan guling yang jauh dari kesan mewah dan cukup pun tidak, tapi ia bisa menjadi gadis yang penyayang dan memiliki hati yang hangat.
Lana yang dulu di kenalnya sangat manja sangat jauh berbeda dengan Reva saat ini. Ia menjadi poros di keluarga Adiyaksa dan semua perhatian tertuju padanya. Apapun yang ia minta seperti sebuah keharusan bagi Niken dan keluarganya untuk memenuhinya. Sehingga tidak ada alasan untuknya merasa kurang.
Tapi waktu yang lebih lama ia lewati tanpa semua itu. Ia mungkin harus menelan kecewa saat semua keinginannya hanya menjadi sebuah keinginan. Ia harus berjuang sendiri untuk setiap harapannya dan ia hanya akan mendapatkan sesuatu sebagai sisa dari kebahagiaan keluarga barunya di sini.
Niken membayangkan hari-hari yang dilalui Reva pasti terasa berat. Tapi satu yang tidak pernah berubah, binar mata penuh kedamaiannya. Seperti saat pertama ia bertemu Reva, dari matanya Niken bisa menebak kedamaian yang Reva berikan pada setiap orang yang ada di sekitarnya. Andai saja waktu bisa di putar kembali, ia berharap Reva tidak pernah mengalami setiap kesulitan karena kesalahannya.
Niken terpekik sendirian dalam tangisnya, perasaan penuh kebahagiaan dan sesal bercampur dalam dadanya. Ia hanya bisa mengusap dadanya seraya meneteskan air mata, berharap sesalnya hilang seiring tetesan air matanya.
****
Malam semakin larut namun Raka masih belum bisa memejamkan matanya. Semua kolase dalam pikirannya kini menjadi sebuah puzzle yang lengkap dan indah. Ia tersenyum kala teringat wajah Lana kecil dan Reva yang muncul di benaknya. Benar saja, sejak dulu hanya Lana yang menjadi poros hidupnya hingga saat ini ia menjadi Reva yang begitu dicintainya.
Ia bangun dari tempat tidurnya. Berjalan keluar kamar untuk mencari segelas air. Tenggorokannya terasa kering. Lebih dari itu, ia berharap bisa bertemu Reva yang selalu ia rindukan.
Saat Raka membuka pintu kamarnya, ia melihat Reva yang baru keluar dari sebuah kamar yang bertuliskan “Kamar Nisa dan Ila.” Ia menutup pintu dengan perlahan dan tidak menyadari kehadiran Raka yang sejak tadi memperhatikannya.
Raka berjalan mendekati Reva “Hay adik…” bisiknya tiba-tiba membuat Reva terperanjat.
“Ih mas raka, ngagetin aja…” Reva refleks memukul lengan Raka tapi Raka hanya terkekeh. Ia menatap gemas gadis yang kini sedang mengerucutkan bibirnya. “Mas raka kok belum tidur sih? Ini udah malem loh.” Reva melirik jam yang tergantung di dinding.
Raka hanya tersenyum lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku kiri dan kanan celananya. Tubuhnya condong ke arah Reva. “Gag bisa tidur, kangen kamu.” Bisiknya dengan lembut.
Bulu kuduk Reva rasanya meremang begitu saja. Ia tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“Tapi aku ngantuk. Aku duluan ya…” Reva berusaha menyembunyikan perasaan yang berkecambuk di dadanya. Satu hal yang bisa ia pastikan, ia bahagia Raka berada di dekatnya.
Tanpa di duga, Raka menarik tangan Reva dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia mendekap Reva dengan erat, seolah tidak rela jika harus melepaskannya pergi.
__ADS_1
“Mas, jangan kayak gini,, nanti ada yang liat…” Reva berusaha melepaskan pelukan Raka.
Alih-alih melepaskan pelukannya, Raka malah semakin mengeratkannya. Tangan kokohnya melingkari punggung Reva dengan mata terpejam. Menikmati setiap desiran yang mengisi aliran darahnya. “Sebentar aja lana, aku sangat merindukanmu…” lirihnya. Reva kembali terdiam. Ia ikut merasakan debaran jantung yang sama seperti Raka. “Aku bahagia bisa kembali melihat kamu dan lebih bahagia karena selalu kamu yang bisa membuatku bahagia. Terima kasih sudah bertahan selama ini. Dan terima kasih karena kamu selalu menjadi lana yang aku cintai.”
Nafas Reva tercekat. Ia menatap wajah Raka yang berada di atasnya dan tengah memberinya sebuah kecupan hangat di kening.
“Kalau aku dan lana bukan orang yang sama dan ternyata lana masih hidup, siapa yang akan kamu pilih?” pertanyaan Reva seolah sebuah jebakan yang mungkin akan menentukan hubungan mereka kedepannya. Tapi tidak ada yang perlu Raka takutkan. Sejak bertemu Reva, ia sudah yakin dengan perasaannya.
“Lana akan selalu menjadi cinta pertamaku dan tidak ada yang bisa menggantikannya. Dan reva anasya tetap menjadi cinta terakhirku, selamanya.” Tegas Raka. Terdengar sangat berlebihan memang tapi melihat tatapan Raka yang penuh kesungguhan, ia bisa meyakini perasaan untuknya nyata seperti perasaannya untuk Raka.
“Aku yakin, lana sangat beruntung memiliki kamu mas.” Tutur Reva seraya mengusap lembut dada Raka.
“Tentu, aku kakak yang baik, tampan dan pintar. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesona seorang Raka Adiyaksa putra.” Ujarnya dengan jumawa seraya terkekeh.
Reva kembali tersenyum, ia memejamkan matanya dan semakin membenamkan tubuhnya dalam pelukan Raka. Ia bahagia ya sangat bahagia. Dan Raka, ikut terhanyut dalam perasaannya hingga sebuah kecupan hangat kembali mendarat di pucuk kepala Reva.
****
“Mas raka….” Lirihnya dengan penuh perasaan.
Setelah beberapa saat terhanyut dalam perasaannya, perhatian Reva beralih pada sosok yang tengah terlelap di hadapannya. Ia berbaring miring memunggungi Reva. Garis bibir Reva tertarik melengkungkan sebuah senyuman, wanita yang sudah tidak muda lagi ini telah mengurusnya selama bertahun-tahun. Mencurahkan kasih sayangnya yang tidak berbatas layaknya pada anaknya sendiri.
Reva berjalan mendekat lalu membaringkan tubuhnya di samping Ratna. “Ibu udah tidur?” bisik Reva perlahan.
Tidak ada jawaban dari Ratna. Reva membenamkan wajahnya di punggung Ratna dan memeluknya dengan erat.
“Rere sayang ibu…” lirih Reva.
Ratna yang sebenarnya belum bisa memejamkan matanya, dan ia bisa mendengar dengan jelas penuturan anak gadisnya.
Air mata meleleh di sudut mata Ratna. Ia ingin terisak tapi tidak ingin Reva sampai tahu. Ia berusaha menahannya sambil menggigit bibirnya kelu. Hanya hembusan nafas kasar yang mewakili perasaannya saat ini.
__ADS_1
****
Pagi ini, hidung Reva sudah mencium wangi masakan yang sangat dikenalinya. Ia segera bangun saat membayangkan Ratna tengah berjibaku menyiapkan sarapan yang lebih banyak untuk mereka.
Benar saja, sosok itu tengah berdiri di depan kompor dengan tangan yang masih mengiris bawang. kedua tungku menyala sedang memanaskan masakan yang biasa Ratna hidangkan saat Reva pulang.
“Bu… wangi banget sih… pasti masak yang spesial buat rere…” Reva menaruh dagunya di bahu Ratna yang memunggunginya.
Ratna tampak terkejut. Ia segera mengusap matanya yang berair. Reva bisa menebak ibunya tengah menangis.
“Bu, ibu kenapa?” Reva menoleh wajah sendu yang ada di siisi wajahnya.
“Gag pa-pa nak. Ini ibu lupa gag pake kacamata item pas ngupas bawang. Ibu juga gag tutup jendela jadi anginnya masih masuk.” Kilah Ratna yang sebenarnya mengada-ngada.
Reva berusaha tersenyum saat Ratna menatapnya. Ratna kembali dengan pekerjaannya, tangannya tampak gemetar dan lemas.
“Bu, ibu tau kan kalo rere sayang sama ibu?” lirih Reva yang ibarat sebuah pancingan bagi Ratna untuk kembali meneteskan air mata. Ratna terangguk tanpa menoleh Reva yang masih dipunggunginya. “Ibu juga tau kan kalo rere akan selalu sayang sama ibu dan ibu adalah orang terpenting buat rere?” kali ini suara Reva terdengar bergetar.
Ratna meletakkan pisau di tangannya. Ia tertunduk lesu dan bertumpu pada pinggiran tembok di hadapannya. Ia tidak bisa lagi menahan tangis yang sejak semalam ia coba tahan. Baginya, kepergian Reva tidak pernah ia bayangkan bahkan ia tidak berani membayangkannya. Bahunya bergerak naik turun seirama tangisnya yang meluap begitu saja. Reva membalik tubuh Ratna menghadapnya lalu memeluknya dengan erat. Perasaan yang Ratna rasakan saat ini terang saja di rasakan pula oleh Reva.
“Maafkan ibu nak, ibu benar-benar gag sanggup kalau harus kehilangan kamu… Tapi ibu juga sadar, mereka lebih punya hak atas kamu…” ujar Ratna dengan terbata-bata di sela tangisnya.
“Ibu, ibu gag akan pernah kehilangan rere… Selamanya rere akan menjadi putri ibu.” Tegas Rere dengan penuh keyakinan.
Reva meraih tangan Ratna lalu memandanginya dengan air mata berurai. Tangan ini adalah tangan yang membesarkannya dengan tulus. Tangan yang rela bekerja keras demi memenuhi kebutuhan Reva. Tangan ini pula tangan yang menyentuhnya dengan penuh sayang dan tangan yang selalu menyeka air mata yang menetes saat Reva menangis.
“Rere sangat beruntung memiliki ibu. Ibu gag pernah lelah menjaga rere, berjuang untuk rere. Sampai kapanpun, rere gag akan bisa membalas semua kebaikan ibu. Terima kasih bu, terima kasih ibu sudah menyayangi rere dengan tulus. Maafkan rere karena sampai saat ini rere masih membuat ibu menangis.” Tutur Reva dengan tangis yang pecah.
Mereka saling berangkulan. Rasanya ingin sejenak saja waktu berhenti, membiarkan mereka merasakan kasih sayang yang mengaliri perasaan masing-masing. Hingga saat ini, Reva bisa berdiri dengan kuat bukan karena ia hebat. Ia hanya seorang anak rapuh yang sangat beruntung karena bertemu seorang ibu yang tangguh seperti Ratna.
Di balik pintu sana, ada seorang wanita yang juga tengah terisak di pelukan Wira. Ya dialah Niken. Ia tak sampai hati jika harus merenggut kebahagiaan wanita yang telah membesarkan putrinya dengan penuh kasih. Ia tidak ingin lagi membuat kesalahan dengan merampas kebahagiaan milik orang lain. tapi sekali saja, ia ingin di maklumi. Ia hanya ingin memiliki putrinya. Putri yang selalu ia rindukan bahkan saat ia terlelap.
__ADS_1
****