
Beberapa pelanggan kembali datang, kali ini sekumpulan abg yang tertarik karena melihat wajah Raka yang tampan dengan beberapa titik keringat di wajahnya. Sangat seksi memang.
“Kak, kakak artis ya?” tanya seorang gadis.
“Bukan…” Raka berusaha menjauh dari gadis-gadis yang ingin menyentuh tubuhnya.
“Foto bentar dong…” rengek salah satunya seraya melingkarkan tangannya di lengan Raka.
Reva yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri.
“Sini aku fotoin. Tapi deket maket nya yaa…” Reva meminta handphone gadis tersebut dan mengarahkannya ke dekat maket.
Raka hanya terpaku tanpa senyum sedikitpun. Dalam pikirannya, bagaimana bisa Reva membiarkan para remaja ini mengerumuninya seperti semut.
Mereka mulai bergaya di depan maket. Reva mengambil beberapa foto dengan fokus tetap pada maketnya.
“Nih..” Ia menyerahkan handphone gadis itu seraya menatap Raka sekilas. Raka terlihat sangat malas meladeni gadis-gadis itu tapi Reva membelalakan mata dengan isyarat bibir yang memintanya untuk menurut saja.
“Wah makasih kak…” seru gadis tersebut dengan sumeringah. Raka segera menjauh dan duduk di pojokan menghindari antusiasme para abg ini.
Reva hanya tersenyum dan kembali ke tempatnya.
“Ih ini guenya cantik banget yaa…”
“Ih jangan post yang ini, guenya merem…”
“Yang ini aja, guenya keliatan mesra.”
Begitulah obrolan abg yang terngiang di telinga Reva. Reva ikut geli dengan kelakuan mereka.
Reva kembali dengan pekerjaannya, sementara Raka tengah menenggak habis sebotol air mineral di tangannya. Ia mengusap lengan bekas para gadis melingkarkan tangannya. Ia merasa kesal sendiri dengan kejadian yang dialaminya tadi.
“Hay Re…” sapa seorang laki-laki yang tidak asing bagi Reva.
“Hay Jer, lo kok ke sini?”
“Iyaa, gue denger dari anak-anak lo lagi di tugasin di sini. Gimana kabar lo?” tanya Jeremy seraya menyelipkan beberapa helai rambut Reva di sela telinganya. Kebiasaan yang selalu Jeremy lakukan.
Raka yang melihat kejadian itu, segera berdiri dan meremas botol air mineralnya hingga tidak berbentuk. Ia merasa kesal dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
“Gue baik. O iya, sorry kayaknya nanti sore kita gag bisa ketemu. Soalnya gue masih harus ke kantor.” Terang Reva seraya tersenyum.
“Lo sibuk banget ya Re……” wajah Jeremy terlihat kecewa
__ADS_1
“Iyaa… sory ya Jer… mungkin lain kali…”
“Re, ini masih jam kerja. Kok malah ngobrol?” cetus Raka yang datang tiba-tiba.
“Kenapa, lo gag suka?” tantang Jeremy yang merasa terusik.
“Duh kalian ini, kalo ketemu pasti kayak kucing sama anjing.” Ujar Reva seraya menatap kedua laki di hadapannya.
“Iya lah, ini masih jam kerja. Lo mau Reva di tegur gara-gara lo ajak ngobrol?” sahut Raka dengan malas saat bertatapan dengan Jeremy.
“Isshh lo ya” Jeremy hendak menghampiri Raka dengan kesal.
“Udah deh, kalian jangan ribut aja. Jer, udah dong.” Reva berusaha menahan tangan Jeremy.
“Kalo bukan karena Reva, habis lo sama gue.” Ancam Jeremy yang berbisik di telinga Raka.
Raka hanya memperlihatkan seringai sebalnya. Seolah tidak peduli dengan ancaman Jeremy.
“Re, gue pergi dulu ya… Kalo nih cunguk berani macem-macem sama lo, lo banting aja.” Tutur Jeremy sambil mendorong dada Raka. Namun Raka tidak bergeming sedikitpun. Ia memalingkan wajahnya dengan kesal dari Jeremy. Ia tersenyum tipis saat berhasil membuat laki-laki itu pergi.
“Iyaaa… lo jangan kebangetan juga dong.” Protes Reva.
“Okey, see you Reva ku. Nanti malem gue telpon.” Pamit Jeremy sambil mengusap lembut pucuk kepala Reva.
Reva hanya terangguk dengan senyum tipis di bibirnya. Jeremy berlalu dengan lambaian tangannya.
“Si Jeremy emang kayak gitu, tapi dia baik kok. Lo gag usah masukin ke hati ya…” bujuk Reva
“Apa dia juga terbiasa megang dan ngusap-usap lo?” sorot mata Raka terlihat tidak bersahabat. Reva hanya terdiam lalu tertunduk. “Orang bisa salah paham liat dia kayak gitu sama lo re. Gimana pun lo jangan mau di pegang atau di usap seenaknya. Lo harus tegas, lo harus nunjukin kalo lo punya harga diri sebagai cewek, sedeket apapun lo sama cowok, yang dia pikirin gag sama dengan yang lo pikirin.” Cerocos Raka tanpa sadar.
Reva hanya terdiam, entah mengapa sudut hatinya terasa begitu hangat. Ia menatap Raka yang masih dengan wajah kesalnya, lalu tersenyum dengan ketir.
“Selama ini, gag ada yang peduli dengan harga diri gue, karena yang terpenting bagi mereka adalah citra mereka di hadapan orang lain. Thanks Raka, lo udah peduli sama gue. Tapi gue gag terbiasa dengan orang yang terlalu peduli sama hidup gue.” Tutur Reva yang segera berlalu dari hadapan Raka.
Kali ini, Raka yang terdiam. Ia memandangi Reva yang kembali dengan aktivitasnya menawarkan rumah. Ia terlihat sangat ramah dan penuh energi, tapi dalam benak Raka, Reva sedang bersandiwara. Ia pura-pura tersenyum dengan semua yang ada di hadapannya.Seperti yang selama ini ia lakukan.
"Gue peduli sama lo, karena lo penting buat gue re..." batin Raka yang beberapa saat memandangi gadis cantik itu dari kejauhan.
****
Pengunjung semakin banyak yang berdatangan, mereka terlihat tertarik dengan produk yang di tawarkan Reva. Raka tidak kalah sibuk, ia menjelaskan secara detail pada pengunjung yang bertanya lebih lanjut mengenai perumahan yang di tawarkan.
__ADS_1
Jam makan siang sudah lama berlalu, meski perut keduanya terasa perih tapi terlupakan begitu saja karena banyaknya pekerjaan. Hanya air mineral dalam kemasan yang mengganjal perut mereka.
Sore menjelang, Reva dan Raka sudah selesai dengan pekerjaannya di pameran. Mereka membereskan barang dan menutup stan dengan rapi.
“Kruukk..”
Perut Raka berbunyi nyaring hingga menarik perhatian Reva. Reva tersenyum kecil dan ikut mengusap perutnya yang juga keroncongan.
“Makan dulu yuk…” ajak Raka yang melihat Reva mengusap perutnya.
Reva hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah kaki Raka yang ada di depannya.
Mereka berkendara sekitar 15 menit, dan saat ini telah sampai di drive thru sebuah restoran makanan cepat saji. Mereka tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama karena sudah beberapa kali mendapat panggilan dari kantor.
“Lo mau makan apa Re?” tawar Raka saat sudah menurunkan kaca mobilnya.
“Apapun yang penting ada nasi.” Sahut Reva dengan segera. Raka hanya tersenyum. Ia mulai terbiasa dengan kalimat itu. Ia memesan beberapa menu dan siap dalam hitungan menit.
Raka kembali melajukan mobilnya.
“Lo makan duluan Re…”
Reva membuka bungkusan makanan yang di beli Raka. Wangi makanan benar-benar menusuk hidungnya.
“Cuma ada 1 nasi, lo gag salah pesen kan?”
Reva menatap Raka penuh tanya.
“Gue Cuma pengen burger aja.” Sahut Raka.
Reva terangguk paham, ia mengeluarkan burger dari bungkusnya.
“Aaaaa…” ia mengarahkannya ke mulut Raka. Raka segera menoleh dan membuka mulutnya lebar-lebar.
“Gue bisa makan nanti Re, lo duluan aja.” Ujarnya dengan mulut penuh makanan.
“Gue gag mau lo gag fokus nyetir gara-gara lo laper.” Cetus Reva yang kembali menyuapkan makanan ke mulut Raka.
Raka kembali membuka mulutnya. Rasanya burger kali ini terasa lebih enak.
Selesai menyuapi Raka dengan burger dan sebotol air mineral, Reva mulai menikmati makannya selama perjalanan. Ia benar-benar lapar hingga tidak sadar Raka memperhatikannya dari spion tengahnya.
“Lo makan yang tenang, gag bakal gue minta.” Tutur Raka sambil terkekeh.
__ADS_1
Reva tidak peduli, ia terus mengunyah makananya sambil menatap keluar jendela dan menghabiskan makananya dengan cepat.
***