Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 110


__ADS_3

Di kamar perawatan Reva, ia masih terduduk di atas tempat tidur dengan tatapan kosongnya. Di sampingnya ada Ratna yang sedang menemani perawat memasang perban di lengan Reva yang berdarah karena infusnya tercabut.


Dengan penuh kecemasan Raka berjalan mendekati Reva.


“Re, ini aku raka…” ujar Raka dengan perlahan. Ia mengusap punggung Reva tapi tak lantas membuat Reva memberikan respon.


Raka menoleh Ratna yang duduk di sampingnya, namun Ratna hanya menggelengkan kepala. Raka menghela nafasnya kasar, sudah berhari-hari Ia tak mendengar suara kekasihnya dan membuat perasannya tak menentu.


Reva benar-benar tidak peduli pada sekelilingnya. Saat kedua keluarga itu masuk ke ruang perawatannya, Reva segera membaringkan tubuhnya lalu memakai selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang terlihat lebih kurus. Ia berbaring memunggungi orang-orang yang menghampirinya.


Reva masih perlu waktu, ia ingin mengingkari semuanya rasa sakit yang kembali datang tapi ia benar-benar tidak bisa melakukannya. Ia memejamkan mata, berusaha kembali melakukan represi tapi yang ada, semua bayangan di masa lalu semakin jelas mengisi ingatannya.


Hati Reva menjerit, ia tidak bisa menghadapi semuanya yang terasa begitu berat.


Di sela keheningan, datang 2 orang polisi yang mengangguk memberi salam pada mereka. Ia meminta izin untuk berbicara dengan Indra. Tak menunggu lama, Indra segera mengikuti langkah kaki 2 laki-laki tersebut.


“Apa kalian sudah menjemput putri saya?” tanya Indra dengan berat.


Keduanya terangguk mengiyakan pertanyaan Indra. Ingin rasanya Indra berontak menghadapi kenyataan yang begitu sulit baginya. Putri sulungnya harus mendekam di penjara entah untuk berapa lama dan putri bungsunya masih dalam kondisi trauma.


“Putri bapak menyerahkan dirinya dengan di antar temannya. Namun ia masih belum mau menceritakan kronologis kejadian dan kami datang untuk memberitahukan hal ini pada bapak. Kami pun berharap bisa mendapat keterangan dari korban” terang polisi tersebut.


Indra mengangguk paham tapi ia masih belum bisa mengambil keputusan. Reva masih enggan berbicara dengan siapapun dan sepertinya mereka tidak akan bisa mendapat keterangan apapun.


Alea sangat mengecewakan Indra saat ini. Ia tidak pernah menyangka bahwa putri yang selalu ia banggakan memiliki pemikiran dangkal mengenai kasih sayang kedua orang tuanya, hingga membuatnya memutuskan untuk melakukan hal bodoh ini. Namun ia sadar, ada kesalahan dari dirinya dan Nida yang membuat Alea melakukan kebodohan ini. Dan di lubuk hatinya, Alea tetaplah putri kecilnya yang ia sayangi.


“Pengacara saya akan menemui bapak di kantor. Mohon maaf untuk sementara putri saya belum bisa memberikan keterangan apapun.” Tutur Indra dengan berat hati.


Kedua polisi tersebut mengangguk paham.


****


Hari menjelang malam, Reva masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Di kamar rawatnya ada Ratna yang setia menemani. Sementara di ruang tunggu keluarga, ada Nida yang tengah terisak menangisi kemalangan kedua putrinya.


Nida tidak bisa membayangkan bagaimana bisa putri sulungnya menjalani hari-hari yang berat di balik jeruji besi. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Nida bahwa keluarganya akan menemui masa sulit seperti ini.

__ADS_1


“Nida, yang kuat, yang sabar… Semua pasti akan baik-baik saja…” Niken terus berusaha menenangkan Nida yang sejak tadi tidak berhenti menangis.


“Niken, aku gag sanggup lagii… Kenapa semua ini harus menimpa kedua putriku? Kenapa?” ingin sekali Nida meluapkan kemarahannya namun entah pada siapa.


Niken hanya bisa memeluk Nida dengan erat. Ia mengerti benar perasaan hancur yang saat ini di hadapi sahabatnya.


“Kamu harus kuat nida, lebih kuat dari sebelumnya. Kedua putrimu membutuhkanmu saat ini, mereka benar-benar membutuhkan ibunya yang kuat yang akan melindunginya dari rasa takut dan sepi.”


Ucapan Niken terdengar seperti sebuah peringatan bagi Nida. Jika dulu Nida terpuruk selama belasan tahun saat Lana pergi, kali ini benar adanya bahwa ia harus lebih kuat.


Di tempat lain, Alea sedang menemui Fery di ruang jenguk tahanan. Ia sudah berganti pakaian dengan baju tahanan. Wajahnya tampak sendu dan pucat.


“Kenapa lo dateng lagi? Apa lo belum puas ngeliat penderitaan gue?” ujar Alea tanpa berani menatap Fery. Ia sadar benar apa yang sudah ia lakukan pada laki-laki dihadapannya.


Fery hanya tersenyum. Ia tahu Alea sedang menyembunyikan kerapuhannya di balik sikap angkuh dan acuhnya.


“Lea, terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Lo lebih berani dari yang gue duga dan lo lebih kuat dari yang gue kira. Apapun yang akan terjadi di masa depan, gue akan ada di samping lo.” Ujar Fery seraya menggenggam tangan Alea.


Entah harus terharu atau sedih atas apa yang Fery ucapkan , yang jelas ia merasa tidak layak mendapatkan perhatian dari laki-laki yang selalu ia rendahkan. Alea menahan tangis di dadanya. Ternyata masih ada orang yang sangat peduli dengan perasaannya saat ini.


Alea sudah tidak bisa menahan laju air matanya. Ia segera bangkit dan meninggalkan Fery yang terdiam tanpa kata.


Sangat sulit merubah hati Alea, tapi bukan Fery jika ia harus menyerah di sini.


“Berapa lama gue harus nunggu lo?” Seru Fery yang membuat Alea menghentikan langkahnya. “2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 7 tahun, 12 tahun atau seumur hidup, lo akan tetep gue tunggu. Dan gue akan selalu ada di samping lo sampai kapan pun!” lanjut Fery yang membuat air mata Alea benar-benar jatuh berderai.


Alea menangis tanpa isakan tapi bisa terlihat bahunya yang naik turun. Ingin rasanya ia berbalik dan memeluk Fery, tapi ia terlalu takut. Ia tidak ingin mengikat Fery dengan ketidakpastian.


“Gue cinta sama lo lea!” teriak Fery dengan menggebu-gebu.


Tangis Alea semakin menjadi. Tidak, ia tidak siap untuk berbalik. Ia tidak ingin lagi menyakiti siapapun, terlebih itu adalah Fery.


Fery mengguyar rambutnya dengan Frustasi. Ia melihat Alea yang terpaku dan kemudian tetap meneruskan langkahnya meninggalkan Fery, seolah ia tidak peduli dengan apa yang Fery katakan.


Fery memang selalu ragu dengan perasaannya. Tapi entah kenapa, melihat Alea, ia seperti melihat cerminan dirinya. Ada rasa sepi yang sama seperti yang Alea rasakan. Namun saat memeluk Alea, ia merasa Alea telah mengisi sudut hatinya yang hampa.

__ADS_1


“Gue akan nunggu lo lea, saat lo berbalik dan memeluk gue lagi.” Batin Fery.


****


“Sayang, makan dulu nak… mamih udah bikinin kamu sup ayam, supaya kamu cepet pulih.” Ujar Nida yang kini duduk di samping Reva.


Reva tampak lebih segar pagi ini, hanya saja tatapannya masih tetap kosong. Ia duduk di depan jendela yang menghadap ke taman. Dari sana ia bisa melihat pasien lain yang sedang menghirup udara segar di antara pepohonan yang rindang dan bunga-bunga yang bermekaran.


Reva tak bergeming, wajah tanpa ekspresinya membuat siapapun yang melihatnya merasa tersiksa.


“Sayang, mamah juga bawain roti isi kesukaan kamu. Liat mamah kasih banyak keju.” Tawar Niken dengan makanan yang dibawanya.


Lagi, Reva tidak menanggapinya. Matanya berkedip lemah seolah tubuhnya sudah sangat lelah. Sejak Reva sadar tidak ada sedikitpun makanan yang masuk. Infusan nutrisi yang terpasang di tangannya, lagi-lagi di lepasnya. Ia terlihat sangat kurus dengan wajah yang semakin tirus.


Tak lama, terdengar suara seseorang masuk ke ruang perawatan. Adalah Ratna yang kini membawa beberapa bungkus makanan yang ia beli dari kantin rumah sakit. Ia membuka plastik pertama yang berisi sayur bayam sementara ada satu botol susu murni yang ia hangatkan di atas mangkuk yang berisi air panas. Setelah siap, ia membawa makananya ke hadapan Reva.


“Ibu bawa sayur bayam kesukaan kamu nak. Ini ada susu juga yang lagi ibu angetin.” Tunjuk Ratna pada sebuah botol kaca.


Reva tampak menelan ludahnya, perutnya memang terasa kosong walau ia mengabaikan rasa lapar yang dirasakannya.


“Tadi andi nelpon dari panti, katanya dia kangen sama kamu. Dia sekarang lagi libur semester dan nagih janji buat di ajarin taekwondo, tapi ibu bilang kamu lagi sakit.” Ujar Ratna sambil meniupi makanan Reva.


Biasanya ini cara terampuh Ratna untuk membuat Reva berbicara, yaitu dengan membahas adik-adik yang ia sayangi. Ratna ingat, Reva selalu berkata bahwa seperti halnya Ratna yang rela menghadapi kesulitan untuk anak-anak asuhnya, iapun rela menghadapi apapun demi adik-adik yang selalu mengisi harinya yang sepi.  Saat ia berada di antara para adik, ia tidak lagi merasa kesepian dan sendirian. Ia bisa tertawa dan mencurahkan kasih sayangnya satu sama lain.


Benar saja, Reva menoleh pada Ratna dan menatapnya dengan sendu.


“Anak ibu harus sehat, harus kuat, banyak yang merindukan dan menantikan kamu pulang nak.” Imbuh Ratna seraya menyuapi Reva dengan sayur bayam di sendoknya.


Siapa sangka, Reva benar-benar membuka mulutnya. Mata Ratna berkaca-kaca, nyatanya usahanya tidak sia-sia. Dengan tangis tertahan, ia menyuapi Reva seperti saat ia masih kecil.


Nida terpekik, ternyata begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang putrinya. Ia bahkan tidak tahu bahwa Reva sangat tidak menyukai saat begitu banyak seledri dan bawang yang memenuhi sup yang di bawanya.


Lalu selama ini apa ia pun tau apa yang Alea inginkan, lantas mengapa putri sulungnya selalu merasa bahwa ia tidak pernah memikirkan perasaannya. Ya, bahkan hingga sekarang pun ia tidak tau apa yang dirasakan kedua putrinya. Jarak mereka terlampau jauh dan hati mereka pun tak bertautan.


****

__ADS_1


__ADS_2