Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 72


__ADS_3

Di tempat parkir, sudah menunggu Adrian yang sedang menyandarkan tubuhnya pada mobil sedan mewah berwarna hitam. Ia tersenyum menyambut dara cantik yang menghampirinya. Reva berusaha bersikap biasa saja, lagi pula saat ini mereka berteman seperti yang diucapkan Adrian tadi malam.


Adrian membukakan pintu untuk Reva dan tampaklah Kean yang kegirangan duduk bersama bi Asri di jok belakang.


“Asyiiikkk makan ayam goreng sama tante rere…” serunya dengan riang.


Seolah mengalihkan kegusarannya, Reva bisa tersenyum melihat antusiasme Kean yang begitu besar hanya untuk makan ayam goreng. Rupanya Adrian tidak berbohong. Acara makan siang bukan settingan-nya untuk mendekati Reva kembali. Itulah yang ada di pikiran Reva saat ini.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ramai ibu kota. Kean yang memilih duduk di pangkuan Reva tampak gembira. Ia berceloteh dan bernyanyi mengisi perjalanannya menuju resto ayam goreng favoritnya. Reva ikut tertawa mendengar celotehan Kean yang sangat lucu diusianya yang masih sangat kecil.


Tiba di resto yang di maksud, Kean meminta beberapa potong ayam yang ia siap lahap dengan semangat. Kehadiran Adrian dan Bi Asri benar-benar tidak bermakna saat ini. Semua ingin ia lakukan bersama Reva.


“Kean, sini makannya sama dady… biar tante rere nya juga makan…” bujuk Adrian pada Kean yang sejak tadi ingin selalu bersama Reva.


“Gag pa-pa kak, santai aja… Toh kean juga masih bisa makan sendiri. Iya kan nak?” timpal Reva yang benar-benar menikmati moment nya bersama Kean.


“Hem!” Kean mengangguk yakin dengan mulut penuh makanan.


Adrian tersenyum lega, ternyata Kean bisa bertemu dengan Reva dan bisa selengket ini. Sesuatu yang tidak pernah terpikir sama sekali oleh Adrian. Dan perhatian Reva pada Kean yang begitu tulus, lagi-lagi membuat hati Adrian menghangat. Iapun sudah mengganti panggilannya seperti dulu Reva memanggilnya. Ia tau, mungkin tidak ada kesempatan untuknya bersama Reva kembali tapi hatinya masih ingin berharap, berharap jika suatu hari Reva kembali membuka pintu hatinya kembali untuk Adrian.


Selesai dengan acara makan siang yang seru, Kean merengek meminta pergi ke wahana permainan yang tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Lagi-lagi demi Kean, Adrian mengikuti permintaan putra semata wayangnya dan Reva mengikut saja untuk menyenangkan jagoan kecil ini.


Kean tampak bahagia sesampainya di taman bermain tersebut. Ia berlarian ke sana kemari, membawa balon karakter kartun negri Jiran. Ia pun membeli beberapa makanan yang ia nikmati bersama Reva dan Adrian.


“Dady, aku mau naik kuda yang itu!” seru Kean menunjuk wahana fairy horse yang sedang berputar.


“Okey, ayo kita naik sama dady…” Adrian menggendong tubuh kecil Kean.


“Mau sama tante rere…” rengeknya.


“Tante rerenya pake rok sayang, susah kalo naik kuda.” Timpal Adrian yang malah mendapat rengutan wajah dari Kean.

__ADS_1


“Hem okey, ayo kita naik!” sahut Reva yang tidak ingin mengecewakan si kecil.


“Kamu yakin re?” Adrian benar-benar tidak percaya dengan kesanggupan Reva.


“Gag masalah, aku bisa duduk nyamping.” Sahut Reva yang kemudian meraih tubuh kecil Kean yang berpindah ke gendongannya.


Kean bersorak senang. Mereka mulai menaiki fairy horse. Kean duduk bersama Adrian sementara Reva sendirian berada di samping Adrian. Kean bersorak kegirangan membuat Reva dan Adrian ikut tertawa lepas.


****


Raka berjalan kesana kemari dengan gusar. Sedari tadi ia tidak melihat bayangan Reva di sekitarnya. Handphonenya pun tidak aktif sejak tadi. Saat melihat Fery yang berjalan dengan langkah gontai ke arahnya, Raka segera menghampiri. Tidak peduli dengan para tetamu yang masih ingin berbincang dengannya.


“Fer, lo liat Reva?” tanya Raka dengan tergesa-gesa.


Fery hanya terangguk dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia menatap Raka dari atas ke bawah, ia bisa merasakan kekecewaan yang kini dirasakan Reva.


“Lo liat dia dimana? Kok gue telponin gag di angkat-angkat ya…” ujar Raka sambil memutar benda persegi di tangannya.


“Tapi sekarang Reva hapenya gag aktif. Gue kirim pesan juga gag ada yang dia baca.”


“Bro, reva perlu waktu. Lo hargain dia dikit, biarin dia coba mikirin semuanya sendiri dulu.” Tukas Fery sambil menepuk bahu Raka.


Raka hanya terpaku, berusaha mencerna setiap ucapan Fery. Ia mulai mengerti letak kesalahannya. Ingin rasanya acara ini segera selesai, ia harus menjelaskan semuanya pada sang gadis.


Tak ada pilihan lain, para tetamu saat ini adalah orang-orang penting yang haru ia hadapi. Walau datang terlambat, pimpian Wijaya group juga hadir dan memberinya selamat.


“Selamat raka, semoga kamu bisa membawa adiyaksa ke puncak kesuksesan.” Tutur Indra seraya menjabat tangan Raka.


“Terima kasih om… Kedepannya, semoga kita bisa bekerjasama kembali di banyak bidang.” Sahut Raka yang mengggenggam erat jabatan tangan Indra.


Indra hanya terangguk. Ia tidak menyangka, anak ingusan yang dulu sering main ke rumahnya sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang rupawan.

__ADS_1


Di sisi lain, walau terasa dekat, Raka tetap merasakan jarak yang tercipta antara keluarga Indra dan keluarganya. Andai saja ia bisa memutar waktu dan mencegah kejadian buruk itu terjadi, mungkin mereka akan tetap bersama layaknya keluarga besar.


*****


Selesai dengan berbagai macam wahana, Kean membeli sosis bakar dengan di temani bi Asri sementara Adrian dan Reva duduk di salah satu bangku dan saling berbincang. Tanpa terasa haripun mulai menjelang malam. Seorang fotographer keliling yang menghampiri keduanya.


“Selamat malam papah, mamah…” sapa laki-laki paruh baya tersebut dengan ramah. Reva dan Adrian saling menoleh dan melempar senyum. “Ini saya ambil beberapa foto mamah dan papah. Boleh dilihat barangkali ada yang mau di beli…” ujarnya sembari menyerahkan beberapa lembar foto pada Adrian dan Reva.


Reva dan adrian melihat satu persatu foto mereka bersama Kean di berbagai wahana. Mereka tertawa dengan riang seolah mereka memang sebuah keluarga kecil yang bahagia. Reva memalingkan wajahnya dari foto-foto itu, perasaannya terasa hangat, ia tidak ingin hatinya berpaling. Ia sadar ia harus mengendalikan dirinya.


“Semuanya ada berapa foto pak?” tanya Adrian yang masih sibuk melihat-lihat fotonya.


“Ada 18 foto. Bapak mau beli yang mana?”


“Saya beli semua aja.” Sahut adrian dengan cepat. Baginya moment melihat Kean tertawa riang adalah sesuatu hal yang langka, terlebih ada Reva di samping mereka. Akan sangat sulit mendapatkan moment yang sama di lain waktu.


“Baik ini silakan.” Dengan senang hati sang photographer keliling memberikan semua karyanya walaupun ada yang blur.


Selesai dengan transaksinya photographer kelilingpun pergi. Adrian masih memandangi satu per satu foto yang ada di tangannya. Sebuah senyuman tergambar jelas di wajahnya.


“Kamu masih aja merem re kalo ketawa.” Ledek Adrian sambil menoleh Reva yang tengah memandangi langit malam ini. Hembusan angin menerbangkan rambutnya dengan indah. Adrian terpaku, wujud dihadapannya masih sama cantiknya seperti dulu ia menatapnya.


“Susah kalo mau melek. Apalagi kalo udah banyak kerutan, tambah gag keliatan deh tuh mata.” Timpal Reva sambil terkekeh.


“Kamu banyak kerutan juga akan tetep terlihat cantik buat aku re…” lirih Adrian yang membuat Reva berhenti tertawa. “Aku gag pernah nyangka kalo hari ini akan ada di hidup aku. Hari di saat aku bisa melihat kembali kamu tersenyum dan tertawa.” Adrian mengubah sudut tubuhnya menghadap Reva yang kini tengah tertunduk melihat jemarinya yang saling memilin. “Aku tau aku gag pernah layak untuk menerima maaf dari kamu re, karena aku tau kesalahan aku sangat besar. Tapi tuhan maha baik, di saat terpuruk seperti ini, kamu kembali hadir di hidup aku. Aku…”


“Adrian… Semuanya hanya masa lalu.” Reva memotong kalimat Adrian yang menurutnya tidak ingin ia dengar kelanjutannya. “Dimasa sekarang, kita hanya perlu hidup di jalan masing-masing tanpa perlu saling mengenang atau saling menyakiti lagi.” Tutur Reva tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Adrian.


Adrian tersenyum simpul, betapa ucapan Reva yang didengarnya  terasa begitu pedih. “Ya, hidup di jalan masing-masing….” Adrian mengutip sebagian kalimat Reva yang terdengar sebagai sebuah penegasan.


****

__ADS_1


__ADS_2