Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 30


__ADS_3

Reva telah kembali dari makan siangnya. Ia melirik meja Raka yang masih kosong dengan kotak makan yang masih tertutup. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, lagi-lagi Raka melewatkan makan siangnya. Reva pun mengecek handphonenya tapi tidak ada satu pesanpun dari Raka.


Reva duduk dengan malas, melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertinggal. Wajahnya serius menatap layar persegi di hadapannya. Jemarinya merangkai kalimat yang ada di pikirannya dengan rapi


“Tok tok tok.”


Seseorang mengetuk partisi meja Reva. Reva mengangkat wajahnya yang semula fokus ke layar.


“Hay cantik...” sapa Fery dengan senyuman lebarnya.


“Oh, hay...”


“Fery...” sambung Fery yang membantu Reva mengingatkan namanya.


“Es krim!” seru Reva dengann senyuman manisnya.


“Tepat sekali!”


Fery menjentikan jarinya seraya terkekeh. Akhirnya Reva mengingat kembali namanya.


“Lo magang di sini juga?”


“Emmmm, gue kerja di sini.” Sahut Fery dengan ragu.


“Oh kerja? Wah keren...” puji Reva dengan wajah sumeringahnya.


Fery hanya tersenyum simpul.


“Lo minat kerja di sini Re?”


“Ya gue minat. Ini salah satu perusahaan tujuan gue. Bisa magang di sini aja gue udah seneng.”


“Ya bagus kalo lo mau kerja di sini. Kita bisa jadi rekan kerja ke depannya.”


“Iyaa, semoga yaaa...” tutur Reva dengan penuh harap. “O iya, lo udah pernah ketemu pucuk pimpinan di sini? Gue sampe sekarang belum pernah ketemu. Kata bu lenna, sekarang perusahaan ini di pimpin sama anaknya yang jenius dan pekerja keras.” Lanjut Reva dengan penuh antusias.


Fery hanya terdiam, memandangi Reva yang terlihat begitu bersemangat. Ingin sekali ia memberitahu Reva, siapa orang yang di maksud tapi Fery masih terikat janji.


“Nanti ada peresmian pengangkatan penerus Adiyaksa Corp, lo bisa ketemu dia di sana.” Ujar Fery setengah berbisik.


Reva mengangguk-angguk dengan semangat.

__ADS_1


Fery masih terus menatap Reva. Ia merasa tidak tega membohongi Reva tapi apa boleh buat, ini yang diminta oleh sahabatnya. Merasa sudah cukup berbincang dengan Reva, Fery kembali ke ruangannya. Ia membiarkan Reva yang kembali bergelut dengan pekerjaannya.


*****


Pekerjaan Reva telah selesai sepenuhnya, sehingga ia bisa pulang tepat waktu. Alih-alih pulang ke kost-annya, Reva memilih untuk berjalan-jalan menikmati senja sore yang terlihat begitu indah. Ia naik sebuah becak motor dan menyusuri pinggiran jalan ibu kota. Semilir angin menerbangkan helaian rambutnya yang panjang sebahu.


Ia menikmati setiap pemandangan yang dilewatinya. Beberapa bangunan masih sama persis seperti saat Reva masih kuliah tingkat 1. Ia sering datang ke salah satu taman baca bersama sahabatnya Riana.


Reva mengehela nafas panjang saat mengingat hubungannya kini dengan Riana yang seperti orang asing. Tidak pernah lagi mereka saling tertawa dan berbagi cerita. Saat bertemupun Riana selalu memalingkan wajahnya dari Reva. Reva seolah menjadi musuh terbesarnya setelah ia gagal mendapatkan Jeremy yang tidak pernah bisa Riana miliki.


“Lo tuh cuma perempuan jal*ang yang gag tau diri! Lo ambil perhatian semua orang termasuk satu-satunya laki-laki yang gue suka. Pantes aja sekarang lo jadi mainan banyak cowok dan itu karma buat lo!”


Lagi-lagi, makian Riana terdengar jelas di telinga Reva. Entah sudah berapa kali ia berusaha menghipnotis dirinya sendiri untuk melupakan kejadian itu dan menganggapnya tidak ada. Tapi Reva terlalu sakit dan kecewa, sahabatnya sendiri telah membuat lukanya semakin menganga.


Reva memejamkan matanya, membiarkan hembusan angin mengusap lembut wajah dan rambutnya.


“Satu-satunya yang gag pernah berhasil gue lupain, cuma kata-kata lo ri,…” batin Reva.


Di tengah perjalanan, Reva melihat orang-orang sedang berkerumun. Reva ingat benar, itu adalah salah satu café langganannya dulu. Pengemudi becak menghentikan laju kendaraannya dan perhatiannya tertuju pada kerumunan tersebut.


“Ada apa pak?”


“Orang berantem neng.” Sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kerumunan tersebut.


“Kita gag bisa lewat ya pak?”


“Iya, banyak yang ngerumun, jalannya juga gag terlalu lebar.” Tutur tukang becak yang mencoba mencari celah untuk mereka lewat.


Reva hanya terdiam, ia memandangi handphonenya dan menunggu kerumunan orang-orang tersebut memudar.


“Lo pulang sama gue, ato gue habisin laki-laki ******** ini!” gertak seorang laki-laki dengan suara nyaring. “Dan lo, lo jangan sampe gue ngeliat muka lo lagi, ato lo bener-bener bakalan habis!” lanjutnya seraya berlalu pergi.


Reva mengernyitkan dahinya, rasanya ia mengenal suara itu. Tanpa banyak bicara Reva turun dari becak motornya dan memberikan beberapa lembar uang pada sang empunya.


Reva berjalan mendekat, ia melihat sosok yang dikenalnya telah berjalan pergi.


“Riana…” lirih Reva.


Ia melihat Riana dengan penampilan berantakan di bawa pergi oleh seorang laki-laki yang ia kenal sebagai Adam, kakak laki-laki Riana. Dan yang terkapar di lantai adalah Jeremy yang dipenuhi luka di seluruh wajahnya.


Perlahan kerumunan orang-orang mulai memudar. Sepertinya yang menarik bagi mereka adalah baku hantamnya, Soal dia yang terluka, bukanlah urusan bagi mereka. Beberapa orang tersenyum puas, saat mereka berhasil mengabadikan kejadian yang dilihatnya dengan kamera handphonenya namun setelah itu mereka pergi tanpa memperdulikan luka yang dialami laki-laki yang telah mereka rekam dan mereka sebarkan beritanya.

__ADS_1


Reva mulai mendekati Jeremy, matanya tampak terbuka tapi sepertinya luka-luka di wajah dan tubuhnya terlalu menyakitkan baginya sampai sangat sulit untuk bangun.


****


Reva duduk di samping Jeremy yang mengaduh kesakitan saat Reva membersihkan beberapa lukanya. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Reva. Seperti biasanya, ia tidak akan bertanya pada orang tersebut kalau dia tidak mau bercerita.


“Lo bilang, sekarang kita temen, tapi lo gag peduli apapun soal kejadian tadi. Apa gag ada yang perlu lo tanyain?” ujar Jeremy yang menatap lekat wajah di hadapannya.


“Lo tau, gue akan selalu dengerin apapun cerita lo, tapi gue gag akan memaksa kalo lo gag mau cerita.” Timpal Reva dengan ringan.


Jeremy tersenyum pilu, tidak ada yang berubah dari sikap Reva terhadapnya. Selalu sulit untuk didekati.


“Gue, ngehamilin Riana.” Ucap Jeremy tiba-tiba. Gerakan tangan Reva terdiam sejenak. Namun Ia tidak menatap Jeremy sedikitpun. “Gue juga tau, hubungan kalian rusak gara-gara gue, tapi apa lo bener-bener udah gag peduli sama Dia?” lanjut Jeremy yang kemudian tertunduk.


Jeremy tau, setiap ia mendekati Reva, Reva tidak pernah memperdulikannya karena Jeremy satu-satunya laki-laki yang disukai sahabatnya, Riana. Bagi Jeremy, dia pula lah yang menjadi alasan hancurnya persahabatan Reva dan Riana.


Reva tidak menjawab sama sekali, kenangan buruk yang selalu Ia coba lupakan, terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.


“Dia datang ke tempat gue, saat dia tau kalo lo udah gag mau jadi bunganya para kumbang. Dia nawarin diri untuk gantiin lo. Dia pikir, lo ngelakuin hal yang sama seperti dia pikirin buat nyenengin para kumbang, yaitu tidur sama mereka. Lo tau, Riana gag sejauh itu nganggap lo temen. Pikirannya terlalu dangkal. Dia…”


“Tapi itu bukan alasan lo buat ngerusak dia.”  Kali ini Reva menatap Jeremy dengan tajam. Rasa kecewa di dadanya tiba-tiba terasa seperti gada besar yang siap meremukan hatinya. “Urusan pertemanan gue sama Riana, gag pernah ada hubungannya sama lo. Lo cukup urus masalah lo sendiri dan tanggung jawab sama Riana.” Terang Reva seraya menaruh botol obat dan kapas di hadapan Jeremy.


“Setelah itu, lo akan lupain gue. Nganggap gue bukan bagian dari hidup lo, seperti lo lupain semua tentang Adrian, kan re?” timpal Jeremy seraya tertunduk.


Reva memejamkan matanya, berusaha mengendalikan hawa panas yang menyergap hatinya.


Adrian, kenapa nama itu yang harus ia dengar lagi.


Jeremy menatap Reva dengan lekat, ia tau ucapannya pasti membuka luka lama Reva. Ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat.


“Riana yang datang sama gue, dia yang nawarin diri buat gue. Gue gag pernah minta, dia yang sukarela. Dia bilang, kalo dia gag akan menuntut apapun dari gue. Dan gue…”


Reva segera mengibaskan tangannya.


“Lo boleh gag cinta sama Riana, tapi paling tidak hormati dia sebagai seorang perempuan. Lo harusnya lebih pinter dan lebih punya hati dari seekor kucing. Jangan sembarangan ambil ikan yang lo pikir ada di depan lo dan bisa lo habisin seenaknya. Dan tentang persahabatan gue sama Riana, gue milih ngejauh dari dia, bukan karena gue suka sama cowok yang Riana suka tapi gue gag mau orang-orang nganggap Riana sama brengseknya sama gue. Tapi lo udah ngerusak semuanya, lo ********!” terang Reva seraya menunjuk dada Jeremy.


Suaranya pelan namun penuh penekanan. Jeremy bisa merasakan benar amarah dan kekecewaan Reva. Dalam beberapa saat, Reva pergi meninggalkan Jeremy dan Jeremy hanya terdiam, meratapi semua kesalahan yang ia perbuat. Semua usahanya sekarang sia-sia. Reva benar-benar pergi dan tidak peduli padanya.


****


Huhuhu.. bagi lagi like dan komennya yaa buat dukung Revaa.. Makasiihh

__ADS_1


__ADS_2