Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 119


__ADS_3

Perasaan Reva tak karuan saat ia meminta Indra ke kantornya untuk membahas masalah hukum Alea. Bagaimanapun Reva pasti akan di panggil untuk memberikan keterangan atas kejadian insiden yang menimpanya.


Reva memberanikan diri untuk datang seorang diri ke kantor Indra. Ia melihat kesibukan yang sama seperti biasanya mereka hadapi di perusahaan dengan tingkat pencapaian kinerja proyek yang tinggi. Reva telah di tunggu oleh penasihat hukum yang di pilih oleh Indra.


Di ruang kerja Indra, Reva berkumpul bersama para pengacara, Edho dan Indra tentunya. Mereka membahas kondisi Alea saat ini. Para pengacara memberikan beberapa berkas pada Indra yang di perhatikannya dengan seksama dan mendengarkan kronologis kejadian dari Reva.


Hati Indra berdenyut ngilu saat mendengarkan putri bungsunya hampir kehilangan nyawanya karena sebuah permainan yang tidak seharusnya Alea lakukan. Namun apa pun kondisinya saat ini, mereka harus memastikan bahwa Alea mendapat hak-haknya selama proses penyelidikan hingga proses peradilan.


Lebih dari 2 jam mereka membahas kasus Alea. Dan semuanya berakhir dengan kenyataan Reva harus memenuhi panggilan.


Reva terpekur sendirian di ruang kerjanya. Sebenarnya ia baru akan masuk kerja lusa tapi saat mengingat Alea tiba-tiba banyak pemikiran yang muncul di kepalanya. Tentang masalah Alea, tentang proyek mereka dan tentang semua rencana yang sudah mereka buat di masa depan. Reva menghela nafasnya dengan berat, seberat masalah yang kini tengah di hadapinya.


Sebuah ketukan menyadarkan Reva dari lamunannya. Adalah Edho yang datang dengan 2 gelas kopi di tangannya.


“Bernafaslah re sebentar, semuanya harus di hadapi dengan ketenangan.” Ujar Edho seraya memberikan salah satu gelas kopinya pada Reva.


Reva tersenyum kelu seraya menerima kopi yang di sodorkan Edho. “Gimana kabar kamu sekarang?”


“Aku baik kak. Sudah lebih sehat.” Sahut Reva yang kemudian menyesap kopinya yang masih hangat.


Edho terangguk dengan senyum kecil di bibirnya. Ia duduk di hadapan Reva yang tampak sedang berfikir keras.


Reva menatap Edho dengan ragu. Ada sekelumit perasaan yang ingin ia utarakan. Dan Edho mengerti benar arti tatapan Reva.


“Kenapa, ada yang mau kamu katakan?”


Reva berusaha tersenyum mengawali kalimatnya. Rasanya berbicara dengan Edho mungkin akan membuat perasaannya lebih baik.


“Kak, saat pemanggilan nanti, apa yang aku katakan akan sangat mempengaruhi kak lea kedepannya kan?” tanya Reva dengan ekspresi cemasnya.


Edho menatap kedua manik hitam itu dalam. Kegusaran terlihat jelas dari tatapannya.

__ADS_1


“Ya, apa yang kamu sampaikan memang akan mempengaruhi proses hukum alea.” Edho mencoba realistis dengan kondisi yang akan di hadapi Reva. “Tapi kamu harus ingat, negara kita negara hukum yang adil. Kamu harus percaya, semuanya akan berjalan di jalur yang benar dan om indra memilih para kuasa hukum untuk memastikan lea mendapatkan haknya dalam proses hukum. Kamu hanya perlu berkata yang sebenarnya, karena di atas apapun, kejujuran itu selalu lebih baik.”


Ucapan Edho membuat Reva terdiam. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya namun rasanya sekarang pikiran Reva mulai terbuka. Benar, semuanya harus ia hadapi dengan penuh kejujuran.


Selama ini, Edho adalah satu-satunya orang yang mengenal Alea dengan baik. Di balik sikap angkuh dan ambisiusnya, Alea adalah orang yang realistis. Edho sangat yakin, apapun yang terjadi pada Alea kelak, Alea akan bisa menjalaninya dengan kuat.


“Selain nanti di perlukan kejujuran, lebih dari itu, alea membutuhkan orang-orang yang kelak merangkulnya saat ia melewati semua konsekuensi atas tindakannya.” Lanjut Edho dengan senyum tipis di akhir kalimatnya.


Reva terpaku dengan pikiran yang kembali melayang, memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


*****


Untuk alasan kejelasan hukum bagi Alea, Reva kini duduk di hadapan penyidik bersama para pengacaranya. Seperti halnya Alea, ia diberikan banyak pertanyaan oleh penyidik dan tidak singkat waktu yang Reva habiskan.


Memutar ingatan tentang kejadian yang tidak menyenangkan, membuat luka Reva kembali terbuka. Bukan lagi tentang kekecewaannya pada Alea melainkan pada keadaan yang membuat mereka harus mengalami hal yang tidak seharusnya di alami oleh kakak beradik.


Semua pertanyaan Reva jawab dengan penuh ketegasan dan kejujuran. Dalam hatinya ia berharap, semoga setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya dapat meringankan beban hukum Alea.


Yang Reva rasakan saat ini, ia ingin sekali menemui Alea dan memastikan kakak perempuannya baik-baik saja. Dan untuk hal itu, sebelum pulang ia memilih mengunjungi Alea terlebih dahulu.


“Kak… gimana kabar kakak?” tanya Reva saat Alea tengah tiba di hadapannya.


Waktu besuknya tidak lah lama, hanya sekitar 5 menit saja. Reva ingin menggunakan waktu yang singkat itu untuk berbagi cerita dengan kakak perempuan yang kerap mengisi pikirannya akhir-akhir ini.


“Aku baik, kamu apa kabar? Papih dan mamih apa sehat?”sepasang mata sendu itu kini menatap Reva.


“Aku baik, papih sama mamih juga baik. Dan mamih, dia sangat merindukan kakak.” Tutur Reva dengan mata berkaca-kaca.


Alea tertunduk, mendengar ucapan Reva hatinya mencelos. Perasaan yang Nida rasakan , iapun merasakannya.


Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan. Dengan jelas Reva melihat satu per satu butiran air mata Alea menetes. Pilu, hanya itu yang Reva rasakan saat ini. Ingin sekali Reva memeluk Alea. Atas apa yang ia lakukan hari ini, ia sungguh ingin meminta maaf jika mungkin keterangannya bisa memperberat proses hukum Alea. Jauh di Lubuk hatinya, ia ingin Alea segera pulang dan berkumpul kembali di rumah. Ia ingin melupakan semuanya dan memulai hari baru bersama orang-orang terkasihnya.

__ADS_1


****


Reva masih membenamkan kepalanya di pelukan Raka, tempat ternyamannya saat ia ingin melepas semua gundahnya. Ia terisak dan Raka dengan setia mengusap punggung Reva dengan lembut seraya berharap, setelah ini semua beban Reva akan lepas.


“Menangislah, anggaplah aku gag melihatnya re…” lirih Raka seraya mengecup pucuk kepala Reva.


Reva menangis sejadinya. Betapa hatinya ikut teriris perih saat mengingat kondisi Alea saat ini. Bayangan wajah Nida dan Indra pun bergantian muncul di pikirannya. Ada banyak kesedihan yang mereka sembunyikan. Di balik sikap tegas Indra, Reva yakin terselip banyak kecemasan dan di balik sikap tenang Nida, kegundahannya pasti sangat besar. Semuanya terasa begitu berat dan menyesakkan bagi Reva.


Cukup lama Reva terisak di dada Raka, dan saat mulai tenang sepasang mata indah itu menatap Raka.


“Mas, apa aku jahat?” Reva bertanya dengan bibir bergetar. Hidung bangirnya merah dengan mata yang sembab.


Raka menggeleng. “Kamu sudah melakukan bagianmu dan kamu sama sekali tidak jahat, kamu bijaksana seperti biasanya.” Ucap Raka seraya menyeka air mata di pipi Reva.


Reva menghela nafas dalam-dalam. “Terlalu banyak kesalah pahaman yang terjadi, tapi hanya ada satu kepastian, kami menyayangi kak lea.” Lirih Reva seraya mengalihkan pandangannya entah kemana.


“Itu yang di butuhkan lea saat ini. Dia bisa sangat kuat seperti biasa atau mungkin semakin terpuruk.” Timpal Raka.


Ingatan Raka kembali berputar saat ia menemui Alea di kantor polisi. Ia tidak banyak bicara dan selama beberapa menit bersama Raka hanya 1 kalimat yang terucap dari bibirnya. “Gue terlalu banyak berfikir tentang hal yang seharusnya gue dapet, sampe gue gag sadar, gue melupakan banyak hal yang gue terima dan bisa membuat gue sangat bahagia dan lebih beruntung dari orang lain.” Ujar Alea yang tersenyum di akhir kalimatnya.


Raka melihat sesuatu yang berbeda dari Alea saat ini. Tidak ada lagi tatapan angkuh dengan ambisi untuk mewujudkan keinginannya. Saat ini, ia hanya seorang gadis yang tidak ingin lagi merasakan kesepian. Seorang gadis yang tengah berharap segala keberuntungan yang ia miliki dahulu tidak pergi meninggalkannya termasuk keberuntungan berada di tengah-tengah orang-orang yang menyayanginya.


“Kalian bisa saling menyayangi dengan cara masing-masing, itu yang tidak dimiliki oleh hubungan lain selain hubungan kakak beradik seperti kamu dan alea.” tutur Raka seraya mengusap kepala Reva.


Raka menatap Reva seraya tersenyum. Genggaman tangannya seolah ingin menguatkan hati Reva dan menghilangkan segala keresahannya.


“Tuhan terlalu baik sama aku mas. Dia mengirimkan seorang malaikat pelindung yang tidak pernah aku sangka.” Reva mengeratkan genggaman tangan Raka. Ia menempatkan tangan Raka di pipinya. “Terima kasih untuk selalu ada di sisiku.” Imbuh Reva dengan senyuman tipis di bibirnya.


Raka ikut tersenyum, betapa hatinya merasa tenang saat wajah itu tidak lagi terlihat sendu.


“Aku yang beruntung re, karena punya kamu yang memiliki hati begitu luas.” Batin Raka.

__ADS_1


****


__ADS_2