
Malam ini Reva dan Alea di antar pulang oleh Raka. Mereka kompak membahas masalah pekerjaan yang di amanahkan oleh papihnya.
“Kak, bukannya di bali itu udah banyak hotel, resto dan tempat wisata yang memanjakan mata, kenapa papih mau kita bikin proyek di sana juga? Bukannya saingan kita jadi makin banyak?” tanya Reva di sela perbincangan mereka.
“Ya justru itu point penting buat papih. Papih pengen liat sejauh mana kita bisa narik investor dan mewujudkan proyek dengan tingkat persaingan yang tinggi.” Terang Alea yang tak lepas dari laptopnya.
“Duhh mental gue kok melempem ya kak?” Reva menyandarkan kepalanya. Ia bisa membayangkan kesulitan apa saja yang nanti akan di hadapinya.
Terlihat senyuman tipis di bibir Alea. “Setiap orang memang harus tau batasannya masing-masing lana.” Batin Alea yang melirik Reva dari jok belakang.
“Kamu harus semangat dong re… Kamu harus buktiin sama papih kamu, kalo kamu itu mampu.” Ujar Raka seraya mengusap kepala Reva dengan lembut.
“Aku bukan gag semangat mas tapi…” Reva menghela nafas dalam-dalam. Jika di bandingkan dengan Alea, tentulah ia tidak ada apa-apanya. Selama membahas proyek, Alea lebih dominan memberi ide, dan itu membuat Reva sadar batas kemampuannya.
Reva menoleh Alea yang tampak memandang keluar jendela. Pikirannya melayang entah kemana. “Tapi aku akan belajar, karena aku punya kakak yang hebat.” Lanjut Reva yang di balas senyuman tipis oleh Alea.
“Good girl, itu baru pacar aku.” Sahut Raka seraya mengusap tangan Reva.
Reva membulatkan matanya menatap Raka dengan bibir yang bergumam tidak jelas. Intinya ia tidak enak mempertontonkan kemesraannya di depan Alea, tapi bukan Raka namanya kalau ia bisa mengerti begitu saja.
Dibelakang sana, Alea memjamkan matanya. Ia berusaha mengabaikan semua yang ia dengar dan ia lihat, walau hatinya terasa bergejolak.
****
Tiba di kediaman keluarga Wijaya, mereka di sambut oleh Indra dan Nida yang sedang menunggu kedua anak gadisnya pulang.
“Malem om, tante..” Adalah Raka yang pertama menyapa.
“Malem raka, ayo masuk.” Indra mengajak Raka untuk masuk.
“Kalian belum makan kan, kita makan malem sama-sama ya…” Nida pun mengajak kedua putrinya yang tampak kompak dengan wajah lelahnya.
“Mih, aku masuk dulu yaa… capek banget. Nanti kalo lapar aku nyusul.” Tutur Alea yang kemudian berlalu meninggalkan kedua orang tua dan adiknya.
“Iya sayang, nanti turun ya…” Nida terlihat cemas dengan putrinya.
Alea memang sangat jarang makan malam, kalau pun lapar biasanya ia hanya makan buah-buahan. Ia sangat menjaga tubuh idealnya yang menurut Nida sebenarnya sangat kurus.
Yang terlintas di pikiran Reva tentu saja berbeda. Ia merasa kakaknya sangat kelelahan karena ia tidak bisa membantu banyak untuk proyek. Lebih dari 50% dari proyek mereka adalah ide Alea dan mungkin itu menjadi beban besar juga untuk Alea.
Hanya sebuah senyuman tipis dari Alea sebelum ia benar-benar pergi ke kamarnya.
“Mih, kayaknya aku gag bantu banyak deh buat kak lea… Dia kelelahan banget kayaknya.” Lirih Reva yang mersa bersalah.
__ADS_1
“Sayang,…” Nida memandangi wajah cantik yang juga terlihat lelah. Ia berusaha tersenyum , memberi kekuatan pada sang putri. “Lea sudah di didik oleh papih dengan banyak pekerjaan yang menantang. Ia sudah banyak pengalaman di bidang ini. Ada kamu pasti sedikit banyak membantu alea dan ini juga kesempatan kamu buat belajar.” Terang Nida seraya mengusap rambut anak gadisnya.
Reva memberanikan diri menatap Nida yang tengah memandanginya. Jemarinya saling memilin satu sama lain, ia benar-benar merasa telah menjadi beban bagi kakaknya.
“Sekarang kita makan dulu, papih sama Raka pasti udah nunggu, hem…” Nida menggenggam tangan sang putri dengan erat.
Reva hanya terangguk mengiyakan. Walau hatinya gusar, ia tetap berusaha berfikir positif.
****
“Ambilin nasi buat raka , sayang…” Nida menyodorkan piring pada Reva dan dengan segera Reva menerimanya.
Ia mengambilkan Raka nasi. “Lauknya mau sama apa mas?”
“Ikan aja sama tumisan.” Pinta Raka yang di anggupi Reva.
Mereka mulai menikmati makan malam dengan perbincangan ringan di sela-selanya.
“Gimana perusahaan kamu raka? Om dengar kamu daper tender bernilai milyaran…” Indra menatap Raka dengan penuh penasaran.
Raka tersenyum mengawali kalimatnya. “Iya om, itu tender dengan salah satu perusahaan asing. Mereka menjalankan perusahaannya di luar tapi mulai pengembangan di sini. Itu di bawah pimpinan pak richard, mungkin om kenal?”
“Richard? “ Indra tampak berusaha mengingat nama yang menurutnya sedikit familiar. “Oh iya, om tau.. perusahaan beliau memang ada di inggris. Dulu om pernah mengalahkan dia dalam sebuah lelang anak perusahaan, kamu berhati-hatilah dengan orang seperti richard. Dia tipe yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.” Terang Indra yang sedikit cemas dengan partner kerja yang dipilih Raka.
“Iya om, menurut manajemen profesionalnya yang ada di indonesia, proyek ini akan di pimpin oleh penerusnya. Tapi kami masih belum berhasil bertemu.”
“Tidak apa, om yakin kamu bisa menjalankan proyek ini dengan baik.” Sahut Indra seraya menepuk bahu Raka.
Raka menganggukinya. Raka melirik Reva yang sejak tadi juga ikut menyimak pembicarannya bersama Indra. Ia tersenyum berusaha memberi dukungan pada kekasihnya.
“Om, tante, saya rencana besok akan mengajak papah dan mamah ke sini.” Tutur Raka dengan hati-hati.
“Hahahahha… akhirnya yang dinanti tiba…” ujar Indra yang mengerti benar maksud pembicaraan Raka.
Reva melirik Raka dengan ekspresi penuh tanya.
“Jam berapa rencana nak raka?” Nida ikut senang mendengar rencana Raka.
“Siang tante…” sahut Raka dengan yakin.
“Ya ampun, anak mamih udah ada yang mau seriusin nih…” Nida merangkul Reva yang duduk di sampingnya. Pada detik ini ia baru sadar apa yang sedang kedua orang tuanya bicarakan bersama Raka.
Reva tersipu, ia tidak menyangka Raka melakukannya secepat ini.
__ADS_1
*****
Reva masih terduduk di teras belakangnya dengan laptop yang masih menyala dan handphone yang tersambung panggilan video. Wajah Raka tampak mengisi layar handphonenya dan menatapnya seraya tersenyum.
“Emang besok acaranya apa aja mas?” dengan malu-malu Reva bertanya, setelah Raka memberitahu rencana kedatangannya besok.
“Kalo aku langsung bawa penghulu gimana?” goda Raka dengan wajah antusiasnya.
“Ihhh mas raka suka ngasal deh.. Papih gag akan setuju kali kalo langsung bawa penghulu..”
“Tapi kamunya mau kan?”
Wajah Reva memerah seketika mendengar pertanyaan Raka. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Tergesa-gesa itu gag baik loh mas.”
“Bukannya yang baik itu harus di segerakan?”
“Tapi harus dengan cara yang baik juga…” Reva masih berusaha mendebat. Bukan tidak setuju hanya menurutnya terlalu cepat.
“Loh aku kan mau minta kamu baik-baik, bukan mau nyulik atau maksa nikah. Atau kamu masih ragu sama aku , re?”
Pertanyaan Raka kali ini membuat Reva terpaku. Ia memberanikan diri menatap laki-laki yang tengah menunggu jawabannya.
“Aku .. ragu sama diriku sendiri mas.” Reva menjeda kalimatnya cukup lama. Pikiran dan hatinya kali ini tidak sejalan. “Aku gag tau, apa aku sanggup mendampingi kamu. Aku juga gag tau apa aku layak ada di antara kalian.”
Ingin sekali Reva memaki dirinya sendiri yang nyatanya saat ini ia sadar, pilihannya di masa lalulah yang membuat ia harus bimbang saat ini. Ia bahagia, ya sangat bahagia, tapi ia tidak berani membayangkan seperti apa kehidupan orang-orang di sampingnya kelak. Terutama kehidupannya nanti setelah ia menjadi seorang istri dari laki-laki yang tengah susah payah membangun mimpinya.
Orang-orang mengenalnya sebagai Reva Anasya sang F*ck girl, bukan Alana brethania wijaya sang putri dari keluarga Wijaya. Ia tidak ingin merusak nama baik bahkan harga diri orang-orang yang ia sayangi. Karena seperti apapun kelak ia menjelaskan, orang-orang hanya akan mengingat panggilannya, bukan dirinya secara pribadi.
Raka bisa membaca apa yang membuat kekasihnya bimbang. Ia bisa mengerti setiap kecemasan yang saat ini dirasakan Reva. Tapi ia sudah bertekad, ia dan Reva harus sama-sama bahagia di masa mendatang terlepas apapun yang akan mereka hadapi kelak.
“Re, sayang…." Raka menatap Reva dengan hangat. "Semua orang punya masa lalu entah itu buruk ataupun baik. Tapi setiap orang juga punya masa sekarang untuk kembali memilih demi masa depannya.” Tutur Raka dengan penuh keyakinan. “Aku bisa menerima masa lalu kamu re,saat ini dan di masa depan, aku ingin kamu selalu ada di samping aku.” Tukas Raka, membuat Reva tidak bisa berkata apapun.
“Terima kasih mas, terima kasih buat semuanya.” Reva mengusap air matanya yang tanpa terasa meleleh begitu saja. “Aku akan berusaha menjadi reva yang lebih dan lebih baik lagi.”
Raka terangguk, ia tersenyum penuh arti. Ingin rasanya ia memeluk Reva saat ini, menghapus semua kegundahan yang Reva rasakan dan meyakinkannya kalau Reva penting bagi Raka.
*****
Boleh minta like dan komennya gag nihh.... Biar nulisnya makin semangat gituu... Mohon di maafkan kalo masih banyak typo dan kekurangan lainnya.
__ADS_1