Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 134


__ADS_3

Menyambut Alea pulang, Indra menggelar makan malam besar dengan keluarganya. Indra begitu seru bercerita saat Reva meyakinkan para direksi mengenai proyeknya bersama Alea. Masih melekat kuat dalam ingatan Indra saat Reva mengatakan,


“Mungkin kami tidak banyak memperhitungkan segi ekonomisnya atau keuntungan sesaat yang berlipat bagi perusahaan, kami hanya membayangkan bahwa saat tamu berada di resort kita, mereka tidak akan pernah bisa melupakan kehangatan yang tercipta. Dan saya yakin mereka akan kembali ke resort kita bersama orang-orang yang dicintainya. Bukankah memang begitu prinsip membangun bisnis jangka panjang?” tutur Reva yang membuat peserta rapat hanya terdiam seraya menganggukkan kepala.


Alea terdiam mendengar Indra mengulang kalimat Reva. Alea menatap Reva yang berada di sebrang mejanya.


“Good job de!” Seru Alea seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.


Reva hanya tersenyum. “Karena kelak, tidak hanya tamu yang akan menikmati resort kita, lebih dari itu aku ingin keluarga kita selalu hangat kak.” Batin Reva yang membalas tatapan Alea.


Makan malam ini memang sangat menyenangkan. Di antara mereka , hadir pula sosok Fery yang sekarang tidak pernah jauh dari Alea. di akhir makan malam, Fery pergi ke balkon restoran menghampiri Alea yang sedang memejamkan mata menikmati semilir udara kebebasan yang cukup lama ia tinggalkan.


Fery berdiri di samping Alea seraya bersandar pada pagar besi. Ia bisa jelas melihat wajah cantik yang berada di hadapannya. Fery tersenyum kecil saat melihat banyak perubahan pada diri Alea. Ia lebih banyak tersenyum dan berbicara dengan gaya orang normal pada umumnya.


“Kenapa?” tanya Alea seraya membuka matanya lebar. Ia sadar benar Fery sedang memandanginya.


“Lo cantik malam ini..” ujar Fery seraya mengacungkan gelas minuman di tangannya.


Alea tersipu, namun entah untuk alasan apa. Padahal ia sebelumnya sudah sangat sering mendengar kata-kata itu dari laki-laki yang mendekatinya. Namun saat Fery yang mengucapkannya, entah mengapa hatinya harus berbunga-bunga.


“Gue bahagia fer, sangat bahagia.” Sahut Alea yang membalas tatapan Fery.


Fery menyentuh tengkuknya canggung. Ternyata saat Alea menatapnya dengan lekat, desiran itu kembali mengaliri aliran darah Fery dengan deras.


“Ya, lo memang harus bahagia. Keluarga lo nunggu lo pulang, tentu itu menjadi sebuah kebahagiaan, bukan cuma buat lo, tapi juga buat mereka.” Timpal Fery yang kemudian meneguk minumannya perlahan.


Alea menggeleng dengan tatapan yang tak lepas dari Fery. “Bukan cuma mereka yang bikin gue bahagia, tapi….” Alea menjeda kalimatnya dengan menarik nafas dalam dan mengalihkan pandangannya dari Fery. “Karena ada lo yang membuat gue punya tujuan untuk pulang.” Tandas Alea yang kembali menatap Fery di akhir kalimatnya.


Tidak bisa Alea pungkiri, saat Fery berdiri menunggunya di depan pintu lapas, oh bukan, mungkin sejak Fery mengatakan dia akan menunggu Alea, oh tidak, lebih lama dari itu, mungkin saat Fery mencuci tangannya yang berlumuran darah, oh bukan. Ya, Alea sendiri tidak bisa memastikan sejak kapan ia merasa kalau hidupnya terasa lebih beruntung karena memiliki Fery. Bahkan kini, jantungnya berdebar kencang hanya karena Fery tersenyum atau menatapnya seperti saat ini.

__ADS_1


“Gue nunggu lo, bukan tanpa alasan lea.” Kali ini Fery yang di landa debaran tak menentu. “Ngeliat lo, gue ngerasa seperti bercermin.” Fery mengusap dahinya yang ia yakini sedang berkerut, ia berfikir keras berusaha menggambarkan seperti apa perasannya saat ini. “Sepeninggal nyokap, gue gag pernah gag ngerasa sendiri. Tapi adanya lo di sekitar gue, gue ngerasa lo bisa ngisi satu sudut hati gue yang kosong. Maaf kalo ini terlalu muluk-muluk gue cuma…”


Kalimat Fery terhenti saat Alea mendekat ke arahnya dengan ekspresi wajah yang sulit ia tebak.


“Oh sorry kalo gue ngelantur..” Fery mengguyar rambutnya kasar. Ia tahu mungkin bukan di saat ini harusnya ia berbicara tentang perasaannya. Tapi bukankah kalimat pembuka pancingan itu keluar dari mulut Alea?


Alea menempatkan tangannya di dada Fery. Tempat pertama yang membuatnya nyaman bahkan saat ia menangis. Alea membuat gerakan halus di dada Fery yang membuat Fery merasa kegerahan dalam seketika. Ia melihat Alea terdenyum dan semakin mendekat mengikis jarak keduanya.


“I think, I’m in love, with you…” ujar Alea seraya berbisik di telinga Fery.


Tak ayal, Fery segera meraih tangan Alea dan menggenggamnya dengan erat.  Alea tak menolak sedikitpun bahkan kini gadis di hadapannya tengah memejamkan mata membuat Fery semakin mendekatkan wajahnya lalu, bibirnya mengecup lembut bibir Alea untuk pertama kalinya.


****


Rasa gerah dan tak karuan tengah di rasakan Fery dan Alea. Mereka mendapat tatapan tajam dan dingin dari Indra yang tidak bisa mereka hindari. Baru beberapa menit lalu, Indra menarik paksa jas Fery saat mendapati Fery tengah memeluk Alea di depan matanya. Ia tidak tahu persis seperti apa yang terjadi tadi, tapi nyatanya ia merasa beberapa saat lagi, putri sulungnya pun akan berpindah tangan.


“Pih, jangan overthinking, semuanya gag seperti yang papih lihat.” Alea berusaha bersuara di antara suasana hening dan mencekam yang membuat bulu kuduknya merinding.


Ternyata di tatap dingin oleh Indra lebih menakutkan dari tatapan membunuh jaksa penuntut. Terang saja, walau jaksa penuntut ingin memastikan Alea mendapat hukuman yang setimpal, paling tidak ada Indra yang akan menguatkan dan berjuang untuk dirinya. Tapi saat yang menatap dingin itu Indra, rasanya ia tidak bisa membayangkan kalau ia harus bersi tegang lagi dengan laki-laki over protective di hadapannya ini.


“Tau apa kamu soal pikiran papih hah?” ucapan Alea seolah menjadi pemantik kemarahan Indra menjadi lebih besar.


Alea kembali tertunduk dengan jemari saling memilin.


“Maaf om, saya bukan bermaksud melecehkan alea. semuanya terjadi begitu saja, karena saya memang memiliki perasaan pada alea. Kalau om tidak percaya, saya bersedia bertangung jawab, untuk…”


“DIAM!!!” gertakan Indra membuat mulut Fery kembali mengatup.


Rasanya lebih baik ia memiliki seribu bos seperti Raka dari pada satu Indra di hadapannya.

__ADS_1


“Itu memang maunya kamu kan? Melakukan sesuatu pada putri saya dan berjanji akan bertanggung jawab terus kamu pergi bawa anak saya, kamu kira saya bodoh, hah?!” lanjut indra yang masih belum bisa menerima putrinya memikirkan laki-laki lain selain dirinya.


“Pih….” Nida mengusap bahu indra untuk menenangkannya. Indra berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Rasanya kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun.


Sementara itu, di belakang sana, Raka tengah menahan tawanya membayangkan ekspresi Fery yang berhadapan dengan Indra. Muka memelasnya, sudah pasti sangat bisa membuat Raka tertawa.


“Mas, kasian kaka fey, bantuin sana…” Reva menyikut Raka yang sejak tadi tampak santai-santai saja.


“Lah, bantuin apanya yang.. Yang mau sama lea kan dia, ya dia lah yang berjuang. masa bentar-bentar minta tolong aku, kapan dewasanya..” ledek Raka dengan jumawa.


“Ish! Temen macam apa kamu…” Reva berdecik sebal. Ia melipat tangannya di depan dada dengan bibir mengerucut kesal.


“Lah, kok jadi kamu yang marah sih… Udah kita liat dulu aja… Seru ini…” timpal Raka yang melingkarkan tangannya di pinggang Reva seraya menikmati keseruan di hadapannya.


“Mentang-mentang gag pernah kena omel papih!” gerutu Reva yang masih bisa di dengar oleh Raka.


Namun Raka hanya terkekeh. Tentu saja, ia menantu kesayangan Indra saat ini.


“Jangan pernah bermimpi untuk membawa putri saya dari dari saya. Tunjukkan dulu kalau kamu mampu, baru kamu datang untuk meminta putri saya. Sebelum itu, jangan berani macam-macam terhadap putri saya.” Ancam Indra yang terasa seperti tantangan bagi Fery.


Fery hanya bisa terangguk.  Benar adanya, perintah mertua memang lebih berat dari titah raja.


****


 


Feryy yang sabar yaaa... cup cup cup, tapi bo'ong!


Tertanda Raka

__ADS_1


__ADS_2