Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 160


__ADS_3

Raka dan Fery datang dengan tergesa-gesa saat mendengar kabar bahwa Indra akan di operasi malam ini juga. Jam 1 malam mereka berkumpul di depan ruang operasi dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Lampu ruangan operasi masih menyala padahal sudah hampir 3 jam sejak Indra masuk ke dalam ruang operasi.


Dalam beberapa saat, terlihat Nida yang jatuh terkulai tidak sadarkan diri.


“Mamih!” teriak Reva yang segera menghampiri Nida dan menyangga Nida dengan kedua tangannya. Sementara Alea, ia menangis sejadinya dan membenamkan wajahnya di pelukan Fery. Ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi semuanya. Semuanya terasa menyesakkan dadanya dan rasanya kepalanya mulai berkunang-kunang.


“Gue yang angkat re.” ujar Edho seraya mengangkat tubuh Nida yang tak sadarkan diri dan membawanya ke ruang UGD. Reva jatuh terduduk dengan tatapan kosong dan tangan yang gemetar. Sesulit itu malam ini mereka lalui.


“Sayang, kamu harus kuat. Mamih sama papih butuh kekuatan kamu, kuatlah sayang…” Ujar Raka seraya memeluk Reva dengan erat.


Nyatanya, tidak hanya Indra dan Nida yang saat ini membutuhkan kekuatan. Ada Raka dengan banyak hal berkecambuk dalam pikirannya yang masih belum bisa ia urai satu per satu, namun menjadi laki-laki yang kuat di hadapan Reva nyatanya lebih penting dari apapun.


Bibir Reva tampak bergetar memanggil nama Indra namun tidak ada sedikit pun suara yang terdengar. Hanya lelehan air mata tanpa isakan yang membuat siapapun yang melihatnya ikut merasakan kepiluan.


Melihat sosok Reva dan Alea, ingatan Fery kembali mengingat kejadian saat Indra tiba-tiba memanggilnya ke kantornya.


“Selamat siang om.” Sapa Fery seraya mengecup tangan Indra dengan hormat.


“Siang, duduklah.” Sambut Indra yang mengajak Fery duduk di sofa ruangannya.


Baru kali ini Indra memanggil Fery dan pikiran Fery masih bertanya-tanya tentang apa yang mungkin di sampaikan oleh Indra.


“Saya tahu, kondisi adiyaksa saat ini sedang tidak baik-baik saja. Saya mohon, bantu Raka menghadapi kesulitannya saat ini. Saya yakin bebannya sangat berat terlebih ia harus menyembunyikan semuanya dari wira." Indra menjeda kalimatnya dengan menatap Fery, dalam.


"Dan jika boleh saya meminta bantuan kamu, saya titip nida, alea dan reva. Sayangi mereka dalam kondisi apapun, seperti kamu menyayangi raka dan kedua orang tuanya.” ungkap Indra kemudian.


Terlihat jelas kegundahan yang ada di mata Indra bahkan matanya berkaca-kaca. Fery masih belum memahami apa yang dimaksudkan Indra.


“Saya harus menyampaikan, wijaya pun sedang tidak baik-baik saja." Kalimat itu berhasil membuat Fery mulai memahami maksud Indra sebelumnya. "Memang namanya dunia bisnis, kita bisa berada di atas atapun di bawah dan saat ini ada beberapa pemegang saham yang menjual sahamnya secara diam-diam kepada pihak asing. Kondisi Wijaya saat ini sedang sekarat. Hampir seluruh investor menarik semua investasinya dan mungkin saham perusahaan akan sangat jatuh. Saya gag tau sejauh mana wijaya akan bertahan, tapi kalaupun kami harus jatuh ke titik terrendah, om menitipkan mereka sama kamu.” Lanjut Indra seraya menepuk bahu Fery.


Terlihat Indra yang kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Tidak ada lagi Indra yang duduk dengan tegap dengan segala kharismanya. Ia hanya seorang laki-laki yang menanggung begitu banyak beban dipundaknya.


Indra memijit pelipis kanannya dan sesekali tampak meringis.


“Iya om, saya akan menjaga mereka.” janji Fery kemudian.


Indra hanya tersenyum seraya mengangguk. Ia memejamkan matanya dengan banyak pikiran di kepalanya. Namun rasanya satu bebannya berkurang, yaitu memastikan keluarga tercintanya berada di tangan yang tepat.


Fery tidak pernah menyangka, bahwa mulai malam ini, berita tentang kondisi Wijaya corp banyak muncul di televisi bahkan media online. Beragam  argumen muncul dan seolah menjatuhkan Wijaya corp. Edho lah yang saat ini menjadi satu-satunya orang yang menghadapi semua kemelut ini. Dan mungkin inilah yang membuat pertahanan Indra berakhir.

__ADS_1


****


Dini hari, mereka mulai masuk ke ruang tunggu pasien yang telah disiapkan Edho. Ada 2 tempat tidur dan 2 set sofa di sana untuk tempat mereka menunggu. Saat ini kondisi Indra tergolong stabil meski ia harus di rawat di ruang ICU dengan ventilator sebagai alat bantu pernafasannya.


Nida terbaring di salah satu tempat tidur dan di tempat tidur lainnya ada Alea yang masih memandangi langit-langit ruangan yang berwarna putih. Entah apa yang dipikirkannya. Di sofa, ada Fery, Raka,Reva dan Edho yang saling membisu dengan pikirannya masing-masing.


“Raka, gimana adiyaksa?” tanya Edho yang memecah keheningan.


Raka tampak menggeleng dengan kedua tangan yang menggenggam erat tangan Reva.


“Gue gag tau dho. Semuanya terlalu bersamaan dan sepertinya gue harus mengorbankan salah satunya.” Tutur Raka yang sebenarnya belum bisa di mengerti oleh Reva.


Reva mengusap bahu Raka yang mulai turun, berusaha memberikan kekuatan untuk laki-laki yang dicintainya. Raka berusaha tersenyum walau berat.


“Asal kamu berada di sisiku, aku akan kuat.” Lanjut Raka seraya menatap Reva sendu.


Reva terangguk kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Raka.


“Wijaya gimana?” tanya Raka kemudian.


Edho menghembuskan nafasnya kasar kemudian menyandarkan tubuhnya dengan lemas ke sandaran sofa. Ia menggelengkan kepalanya entah karena ia tidak bisa menjawab entah karena kepalanya memang terasa sangat pening. Tapi sepertinya keduanya ia rasakan.


Buntu, hanya itu yang mengisi kepala mereka saat ini. Dan Alea yang mendengar semuanya, hanya bisa meneteskan air mata saat perusahaan yang di bangun oleh Indra dengan tetesan darah dan air mata, mungkin akan segera hancur.


Mereka kembali dalam keheningan. Reva mulai merebahkan tubuhnya di sofa dan tangannya melingkari pinggang Raka yang masih duduk bersandar seraya mengusap kepala Reva. Sudah jam 4 pagi tapi mereka masih belum bisa memejamkan mata.


Dalam beberapa saat, Reva merasakan mual yang tiba-tiba. Ia segera bangun dan berlari menuju kamar mandi.


Dengan serta merta Raka mengejarnya.


“Hoek\, hoek…” Reva kembali mengalami *morning sicknes-*nya.


“Sayang, kamu kenapa re.. buka pintunya…” Raka mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tapi Reva tidak membukakannya. Ia tengah mengeluarkan seluruh isi perutnya hingga bagian yang terasa pahit.


“Reva kenapa?” tanya Alea yang segera mendekat.


“Dia belum tidur, mungkin dia masuk angin.” Terka Fery yang diangguki keduanya.


Dalam beberapa saat Reva keluar dengan mata yang memerah dan tubuh yang lemas. Raka segera meraih tangan Reva dan membawanya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


“Kamu mau minuman hangat sayang?” tanya Raka yang menatap Reva dengan penuh kecemasan.


Reva hanya terangguk kemudian menyandarkan tubuhnya.


“Aku beliin dulu, kamu tunggu di sini ya….” Raka mengusap kepala Reva dan mengecup keningnya sebelum pergi untuk membelikan minuman hangat untuk Reva.


Reva berusaha memejamkan matanya, di sampingnya ada Alea yang tengah memandanginya.


“Lo baik-baik aja kan de?” tanya Alea, cemas.


Reva mengangguk seraya menatap Alea. Terlihat jelas Alea sangat mencemaskannya dan tentu saja ia harus terlihat baik-baik saja di hadapan orang-orang sekitarnya. Fokus mereka cukup Indra dan Reva tidak boleh membaginya.


“Lo pulang dulu aja, istirahat di rumah. Kasian juga raka, dia butuh istirahat.” Terang Alea yang ikut memejamkan mata di samping Reva.


Reva hanya terdiam, ia masih dengan pikirannya sendiri.


“Kak, papih pasti sangat sedih ya waktu sadar kondisi perusahaan seburuk itu?” tanya Reva mencoba menyelami hati Indra yang selalu menyimpan sendiri masalah perusahaannya.


Beberapa hari ini ia terlihat baik-baik saja saat berada di rumah padahal di kepalanya ada banyak hal yang ia pikirkan. Semua demi tidak membuat keluarganya cemas hingga akhirnya ia harus menyerah pada kesakitannya.


“Iya papih dan om wira, pasti merasakan kesedihan yang sama… Banyak cerita yang mereka lewati hingga perusahaan bisa begitu perkembang."  Alea menjeda kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas dalam. "Dulu papih sama om wira bukanlah berasal dari keluarga berada. Mereka bisa sekolah tinggi karena beasiswa yang mereka dapat. Mereka merintis usahanya benar-benar dari nol dan saling menyemangati satu sama lain. Om wira yang lebih jago di bidang properti dan papih yang jago di bidang pembangunan. Mereka memilih jalan masing-masing untuk meraih mimpinya hingga bisa mendirikan perusahaan dengan banyak karyawan yang begitu loyal. Papih sangat senang ketika banyak orang yang kurang beruntung bisa hidup dengan kesempatan yang diberikan oleh perusahaan untuk bekerja.”


Alea mengalihkan pandangannya pada Reva yang sedari tadi menyimak. “Buat papih, semua karyawannya bukan sekedar karyawan tapi mereka adalah keluarga. Mereka yang membawa papih ke puncak kesuksesannya. Sama seperti yang om wira pikirkan. Dengan kondisi perusahaan sekarang, baik papih ataupun om wira pasti sangat terpukul. Karena salah satu keputusan tersulit yang harus di ambil  adalah merumahkan sebagian besar karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan kita. Yang berarti, akan banyak saudara papih yang harus kehilangan pekerjaannya. Dan itu beban moral buat papih de…” tandas Alea.


Benar, beban tersebar dari seorang pemimpin adalah ketika begitu banyak orang yang menggantungkan harapan besar padanya tapi di waktu yang bersamaan ia harus mengakhiri banyak mimpi dan harapan orang-orang tersebut, tidak kah itu lebih menyakitkan dari mencelakakan seseorang secara langsung?


Reva terangguk paham. “Kita harus kuat kak, kita harus berusaha sebisa mungkin untuk memperbaiki semuanya.” ujar Reva dengan tatapan hangatnya pada Alea.


Selintas Alea tersenyum. “Gue baru sadar, kalo ternyata semangat tingginya papih itu turun sama lo de.” Cetus Alea seraya mengusap kepala Reva.


“Dan kecerdasan papih ada di lo kak.” Timpal Reva yang membuat kedua kakak beradik tersebut saling menggenggam tangan untuk lebih menguatkan satu sama lain.


****


 


Saudara perempuan adalah sahabat terbaik bukan?


Semang Reva, semangat Alea!!!

__ADS_1


__ADS_2