
Deru suara mesin terdengar cukup nyaring. Klakson saling bersahutan dan memekakan telinga. Reva sedang dalam perjalananya untuk pulang menemui keluarganya. Rasa rindu benar-benar bergumul di dadanya, bayangan senyum Ratna dan adik-adik panti datang silih berganti.
“Kak rere pulaang…” seru salah satu anak saat melihat kedatangan Reva.
Ratna yang mendengar teriakan anak tersebut segera menghampiri dan menjemput Reva di pintu rumahnya. Reva berlari menghampiri Ratna, wanita yang sudah tidak muda lagi ini dengan hangat memeluk Reva.
“Kamu sehat nak? Kok gag ngabarin kalo mau pulang?” Ratna mengecupi pipi dan dahi Reva. Betapa ia sangat merindukan gadisnya yang kini tumbuh semakin dewasa dengan rupa yang menawan.
“Iya bu, kan biar jadi kejutan.” Sahut Reva dengan sukacita.
Ratna memandangi Reva tanpa terlewat satu incipun. Hatinya mengucap syukur putrinya baik-baik saja. Matanya berkaca-kaca tanpa diminta.
“Bu, Reva baik-baik aja, ibu gag perlu khawatir yaa,,,”
Reva mengusap lembut lelehan air mata yang menetes di wajah Ratna. Ia segera mengajak Ratna dan adik-adiknya masuk dan membuka tas yang dibawanya yang telah ia isi dengan beragam oleh-oleh dari ibu kota.
Mereka saling berbagi barang dan makanan yang di bawa Reva. Tawa riangpun mengisi ruangan yang tidak terlalu luas tersebut.
Di tempat lain, Raka tengah terbaring menatap langit-langit kamarnya dengan lengan kanan yang menjadi bantalnya. Pikirannya kembali melayang mengingat kejadian tadi siang. Perdebatannya dengan Reva, menerbitkan rasa sesal di sudut hatinya.
“Re, apa lo baik-baik aja?” gumam Raka yang tiba-tiba merasakan kerinduannya pada Reva.
Ia mencoba bangkit dan bersandar pada pinggiran tempat tidur. Ia menyalakan handphone Reva yang telah selesai di perbaiki oleh bagian teknis d kantornya. Layarnya memang pecah tapi ia masih bisa menggunakananya walau tersendat-sendat. Raka sengaja memperbaikinya karena berfikir, mungkin handphone ini memiliki kenangan untuk Reva.
Saat layarnya menyala, ia meminta password 4 kombinasi angka. Ia memasukkan tanggal lahir Reva yang sama persis dengan tanggal lahir Lana. Layarnya terbuka. Raka mengecek galerynya, tidak ada poto Reva di sana selain foto bunga, anak kecil tengah tersenyum, tanaman yang sedang di panen oleh wanita paruh baya dan tangan seseorang yang sedang mengendalikan laju sepeda motor dan di ambil dari belakang. Raka mengecek tanggal pengambilan foto tersebut, sekitar 4 tahun yang lalu. Raka meyakini, mungkin ini kekasih Reva di masa itu.
Raka mengecek daftar kontaknya. Hanya ada 3 kontak yang memiliki nama. Ibu, Riana dan Jeremy sementara kontak lainnya hanya diberi nomor urut. Raka mengecek namanya di kontak Reva, ternyata tidak di simpan sama sekali.
“Apa lo emang gag mau nyimpen apapun tentang gue re?” batin Raka.
Logikanya menyuruhnya untuk mengakhiri semuanya tapi hatinya terlanjur tertaut pada Reva. Ia mengetik nomornya dan memberi nama di handphone Reva dengan nama “Pengganggu” seperti halnya Reva memanggilnya tadi. Ya ia sudah memutuskan untuk menjadi penganggu bagi Reva dan merebut hatinya dengan segera.
****
__ADS_1
“Minum susunya dulu non.” Tawar pelayan yang membantu Riana di apartemennya.
Riana melirik segelas susu khusus ibu hamil yang sudah berada di atas meja riasnya.
“Makasih bi. Bibi boleh pulang, besok ke sini agak siangan aja, soalnya aku libur jadi mau males-malesan.” Sahut Riana yang sedang asyik mendengarkan alunan musik dan memperdengarkannya pada janin yang saat ini berusia 5 bulan.
“Iya non, kalo gitu saya permisi.” Pamit sang pelayan dengan segera.
Riana hanya membalasnya dengan anggukan. Ia kembali bersenandung mengikuti alunan lagu yang ia dengarkan. Perasaannya sedikit lebih tenang apalagi saat sang bayi memberinya respon dengan sebuah tendangan halus di perutnya. Benar sepertinya dugaan Reva, anak ini akan membawa cerita indah dalam hidup Riana.
Riana mengambil handphonenya dan mencari nomor Reva. Namun saat di hubungi Reva tidak menjawab panggilannya dan sesaat kemudian handphonenya tidak aktif.
“Isshh kebiasaan deh , pasti naro hp dimana aja sampe hpnya jatuh.” Gumam Riana yang mengenal betul kebiasaan sahabatnya.
Tak lama, terdengar suara bell apartemen yang berbunyi nyaring. Dengan malas Riana keluar dari kamar dan membukakan pintu. Melihat seseorang yang berada di hadapannya, Riana segera menutup kembali pintunya, namun Jeremy menahannya dengan kaki kanannya.
“Lo mau apa lagi?” tanya Riana dengan sinis.
Jeremy terlihat rapi di hari selarut ini. Tercium wangi parfum yang begitu familiar bagi Riana.
“Gue bawa makanan ini buat anak lo.” Ujar Jeremy dengan senyuman tipis.
“Tapi Ri,,,”
“Udah deh Jer, ini udah malem. Gue capek pengen istirahat. Lo mending pulang dan nikmatin waktu lo sebaik mungkin.” Cetus Riana dengan seringai sarkasnya.
Ia segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Riana menyandarkan tubuhnya ke daun pintu. Hatinya merasa kembali sakit mendengar ucapan Jeremy.
“Harusnya, gue emang gag pernah ngeharapin dia bisa nganggap bayi ini sebagai anaknya.” Gumam Riana dengan air mata yang di kedua pipinya. Ia menangis seraya mengusap perutnya dengan lembut.
Sementara itu, di balik pintu, Jeremy masih mematung memandangi daun pintu berwarna putih yang menjadi pembatasnya dengan Riana.
“Kenapa lo selalu ngejauh ri, apa lo bener-bener gag mau gue ada di samping lo?” lirih Jeremy yang masih belum menyadari kesalahan terbesarnya.
Ia menatap makanan yang ada di tangannya. Sebelum pulang, ia menggantungkan makanan tersebut di gagang pintu, seraya berharap Riana akan kembali membuka pintunya.
__ADS_1
****
Malam ini, Reva masih belum bisa memejamkan matanya. Ia duduk sendirian di teras belakang rumahnya. Ia membuka-buka album foto anak-anak panti dengan berbagai ekspresi.
“Re, kamu belum tidur nak?” sapa Ratna dengan hangat.
Ia duduk di samping Reva dan mengusap rambutnya dengan lembut.
“Aku belum ngantuk bu. Ibu juga belum istirahat. Bukannya besok kita ke ladang?”
Reva menyandarkan kepalanya di bahu Ratna, tempat yang selalu menjadi tempat ternyaman bagi Reva.
“Ada sesuatu yang mau ibu kasih liat sama kamu re..”
Ratna mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku baju tidurnya dan memberikannya pada Reva. Reva menegakkan tubuhnya dan menatap kotak coklat yang terbuat dari kayu tersebut.
“Apa ini bu?”
Reva mulai membuka kotaknya perlahan.
“Itu kalung yang kamu pakai saat ibu menemukan kamu. Kalungnya sudah putus dan baru ibu patri akhir-akhir ini.” Terang Ratna yang mengangkat kalung itu di depan Reva. Sebuah kalung dengan inisial RA yang tersambung. “Saat ibu tanya nama kamu, kamu gag inget apa-apa. Kata dokter, kamu mungkin kehilangan sebagian ingatan kamu. Jadi ibu ngasih kamu nama Reva Anasya karena kalung yang kamu pakai ini.” Lanjut Ratna yang membenamkan kalung tersebut di tangan Reva.
Reva memandangi kalung tersebut. Tidak ada sedikitpun ingatan yang muncul di rongga kepalanya. Ia hendak bercerita tentang masalah ingatan yang terasa berantakan di rongga kepalanya, namun Reva mengurungkannya. Ia takut malah membuat Ratna khawatir.
“Kata dokter yang periksa kamu waktu itu, kamu hanya kehilangan ingatan sementara dan akan kembali dalam waktu singkat. Apa kamu sudah mengingat sesuatu tentang diri kamu nak?”
Ratna menatap lekat manik hitam yang memperlihatkan binar mata yang indah.
Reva hanya menggeleng. “Kalau ingatan itu tidak kembali, Reva gag keberatan bu. Mungkin ini cara Allah memberi Reva kesempatan untuk memulai hidup baru. Mungkin saja hidup Reva yang dulu gag seindah sekarang, makanya gag perlu diingat lagi.” Ujar Reva dengan penuh kepasrahan.
“Ibu malah berfikir, mungkin saat ini ada orang-orang yang sedang bersedih karena kehilangan kamu. Tapi ibu selalu berharap, kamu akan tetap menjadi putri ibu sampai kapanpun. Apa ibu terlalu egois?”
Ratna tertunduk menatap jemari tangannya yang saling tertaut.
“Itu juga yang Reva inginkan, menjadi putri ibu sampai kapanpun.” Tukas Reva seraya menggenggam erat tangan Ratna.
__ADS_1
Keduanya seolah tidak ingin terpisah untuk alasan apapun.
*****