
Banyak rutinitas baru yang Reva lewati akhir-akhir ini. Kehamilannya yang semakin membesar tidak lantas mengurangi aktivitasnya, ia malah semakin semangat bergerak. Seperti saat ini, ia mulai mengikuti kelas yoga untuk ibu hamil di sela waktu senggangnya.
Di sebuah ruang olah raga, ia tengah mengikuti arahan sang instruktur untuk melakukan Easy Pose (Sukhasana) saat Raka datang dengan pakaian olahraganya yang lengkap. Ia duduk di samping Reva, ikut memejamkan mata sambil sesekali membuka matanya untuk melihat sang istri yang tengah mengatur nafasnya.
“Sayang, sory aku baru dateng.” Bisiknya dengan lembut di telinga Reva.
Reva hanya tersenyum tipis. Ia begitu senang saat tahu Raka sudah ada di sampingnya.Raka selalu menemaninya saat senam hamil atau yoga seperti sekarang. Walau sering datang terlambat, tapi sudah di pastikan ia akan datang dengan pakaian olah raganya.
Raka ikut tersenyum saat melihat Reva yang semakin seksi dengan perut membuncit yang tampak dari samping. Ralat, tampak dari mana pun ia tetap seksi. Terlebih saat tetesan keringat melintasi leher jenjangnya, membuat Raka menelan salivanya kasar-kasar. Ingin rasanya ia menarik ikat rambut Reva agar tidak ada orang lain yang melihat leher jenjang itu di aliri keringat. Seindah itu pemandangan di depan matanya.
“Okey bunda, sekarang silakan untuk melipat kaki dengan posisi lutut menyentuh matras, lalu tundukkan badan ke arah depan seperti posisi sujud. Rentangkan tangan ke depan lurus searah kepala. Untuk para ayah, bisa membantu dengan melakukan comfort massage di punggung ke arah depan.” Terang sang instruktur, memberi arahan.
Ibu hamil beserta pasangannya mulai mengikuti instruksi yang diberikan sang instruktur. Beberapa di antara mereka memang ada yang tidak didampingi suaminya dan para pendamping instruktur biasanya sudah bersiap untuk membantu.
Raka mengikuti arahan, ia mulai mengusap punggung Reva dengan lembut saat Reva merundukkan tubuhnya, semakin lama ia semakin lihai memberikan pijatan nyaman di area yang sering di keluhkan pegal oleh Reva. Beberapa hitungan berlalu kini berganti dengan posisi favorit Raka. Ia sudah hafal benar, posisi berikutnya akan sangat menyenangkan baginya.
“Okey, selanjutnya bunda bisa melipat kaki kanan dan kaki kiri lurus ke samping. Tangan kanan di perut dan tangan kiri di angkat ke atas. Para ayah silakan mengikuti di belakang bundanya. Dan jangan lupa, posisi tubuhnya sejajar.” Lanjut sang instruktur.
Dengan cepat Raka memperagakannya. Ia duduk di belakang Reva sesuai instruksi. Tangan kanannya melingkari pinggang Reva dan ia tempatkan di atas tangan kanan Reva yang berada di perutnya. Kepalanya sangat dekat hingga Reva bisa merasakan hembusan nafas Raka. Raka tersenyum simpul, ia sangat menyukai wangi Reva dengan jarak sedekat ini.
“Ayah, mundur dikit, aku kegerahan…” bisik Reva dengan jantung yang berdebar kencang.
“Justru aku suka deket kayak gini. Kapan lagi coba kamu gag nolak kalo aku deket-deket di tempat umum gini.” Timpal Raka di telinga Reva.
Reva hanya bisa mengulum bibirnya menahan senyum. Suaminya memang sangat menggemaskan.
Gerakan demi gerakan mereka lakukan dan terasa begitu intim dan menyegarkan. Sesekali Raka menggoda Reva yang membuat sang istri merona seketika. Hingga akhirnya sesi yoga pun berakhir.
Selesai dengan yoganya, Reva melap titik-titik keringat di wajah Raka. Sepertinya ayah siaga ini benar-benar memperagakan gerakannya dengan benar hingga ia ikut berkeringat. Raka mengambil handuk kecil miliknya dan ikut melap wajah Reva, mereka saling berpandangan dan melempar senyum, layaknya ABG yang selalu jatuh cinta berkali-kali dengan hal kecil yang mereka lakukan satu sama lain. Di sudut lain, ada para ibu yang sepertinya risih dengan apa yang mereka lihat. Mereka tampak bergunjing dengan sesekali mendelik melihat kemesraan pasangan baru tersebut.
“Aku ganti baju duluan ya bun, jangan lupa minum air yang banyak.” Ujar Raka seraya mengusap pucuk kepala sang istri. Reva mengangguk sebagai respon, ia segera meneguk air mineral yang sudah ia siapkan di dalam tumbler.
“Mba reva ya…” tanya seorang ibu dengan senyum tipisnya.
“Iya bu…” Reva mengangguk sopan.
“Hamil anak ke berapa mba?” tanya ibu satunya.
“Baru anak pertama bu.” Reva tersenyum seraya mengusap perut buncitnya.
“Ooo pantesan, bentuk tubuhnya masih bagus. Saya juga dulu waktu hamil anak pertama masih kayak mba reva badannya.” Sahut wanita tersebut yang membuat ibu lainnya berbisik menimpali.
__ADS_1
Reva berusaha untuk tidak terpancing dengan kalimat yang mulai sensitif tersebut.
“Suaminya juga rajin nemenin yaaa… Emang gag kerja mba?” sahut ibu satunya.
Reva menyentuh tengkuknya bingung. Entah seperti apa ia harus menjelaskan.
“Ada bu, beliau ada pekerjaan. Cuma memang meluangkan waktunya untuk menemani saya.” Reva berharap, Raka tidak mendengar perkataan para ibu-ibu dan dirinya. Kalau tidak, entah seperti apa nanti reaksinya.
“Suami saya sih, bukannya gag ngeluangin waktu. Tapi pekerjaannya emang penting banget di kantornya. Dia udah jadi tangan kanan bosnya.” Ujar Wanita tersebut dengan jumawa.
“Wah hebat ya bu… Emang kerja dimana suaminya?” ibu lainnya ikut penasaran dengan rumpian tersebut.
“Dia Adiyaksa corp. udah jadi kepala proyek.” Sahutnya dengan bangga.
Reva ber”O” ria tanpa suara sementara ibu-ibu yang lain tampak antusias memuji.
“Maaf ibu-ibu, saya permisi untuk ganti baju duluan.” Pamit Reva yang tidak ingin berbincang lebih jauh. Setelah ini mungkin mereka akan mulai membicarakan tentang hadiah dari suami, tas branded atau tren ibu-ibu lainnya. Rasanya Reva tidak satu frekuensi dengan pembahasan mereka.
Wanita tersebut hanya mengangguk dengan senyum sinis pada Reva. Reva segera pergi menuju kamar ganti, namun ia masih bisa mendengar kalimat terakhir dari wanita tersebut.
“Kalo suaminya kerjanya biasa aja, kok bisa-bisanya yaa dia ikut kelas yoga mahal begini?” nyinyir wanita tersebut.
Dan rumpian pun sepertinya berlanjut namun Reva tidak ingin mengetahuinya.
Tubuh Reva terasa lebih segar setelah mengikuti kelas yoganya. Ia tak sabar menunggu 2 minggu berikutnya untuk kembali mengolah tubuhnya. Di tempat parkir terlihat ibu-ibu yang tadi berbincang dengan dirinya tengah celingukan, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Seorang laki-laki terlihat berjalan dengan cepat menghampiri wanita tersebut.
“Maaf mih, mamih nunggu lama ya?” ujar laki-laki tersebut seraya membawakan tas olah raga milik istrinya.
“Gag pa-pa pih… Papih kan sibuk, jadi mamih pasti ngerti kok. Gimana kerjaan di kantor, lancar?” tanya wanita tersebut yang meninggikan suaranya saat melihat Reva dan Raka.
Laki-laki tersebut hanya mengernyitkan dahinya, tidak biasanya sang istri membahas pekerjaannya tersebut.
“Mba reva, udah mau pulang yaa…” panggil wanita tersebut dari kejauhan.
Raka menatap Reva penuh tanya. “Temen baru sayang?” tanyanya. Reva hanya mengangguk seraya tersenyum.
“Iya bu, saya pulang dulu.” Sahut Reva ramah.
“Eh tunggu sebentar, ini ada kartu nama suami saya. Siapa tau suaminya berminat bekerja dengan suami saya. Untuk zaman sekarang biaya persalinan kan tidak murah.” Tutur wanita tersebut seraya memberikan kartu nama suaminya pada Reva.
Reva dan Raka saling bertatapan. Reva menggelengkan kepalanya pada Raka sebagai isyarat untuk tidak meladeni wanita tersebut. Tapi bukan Raka namanya kalau dia hanya diam saja.
__ADS_1
“Oh suaminya kerja di adiyaksa ya?” tanya Raka songong.
Laki-laki itu mulai memperhatikan Raka dengan seksama. Laki-laki bernama Hendro tersebut mengerjapkan matanya berkali-kali, sepertinya ia mengenal laki-laki tampan dengan tampilan santai ini.
“Pak raka?” tanyanya dengan gugup.
“Hem… ohh anda bekerja di adiyaksa ya? Tau saya dong?” tanya Raka dengan tatapan dingin.
“Papih kenal?” wanita tersebut tampak kebingungan.
“Sssttt!!” ujar Hendro seraya melotot pada sang istri. “Dia bos papih mih. Dia pemilik Adiyaksa!” bisiknya dengan takut-takut.
Wanita tersebut melotot tak percaya. Reva berusaha tetap tersenyum dan Raka hanya memalingkan wajahnya malas. Mungkin wanita ini tidak tahu kalau harga sandal Raka bisa 2 kali lipat dari sebulan gaji suaminya.
“Maafkan istri saya pak raka dan ibu…” Hendro mengangguk sopan.
“Tidak apa-apa pak. Kami permisi dulu, mari.” Balas Reva. Ia menggangguk sopan sebelum benar-benar pergi.
Reva menarik tangan Raka untuk segera pergi, sebelum ia mengucapkan kata-kata yang lebih menyakitkan untuk wanita tadi. Raka mengikuti langkah Reva dengan malas, untuk beberapa saat wajah dinginnya membuat wanita itu bergidik takut.
Dalam perjalanan pulang, Raka masih terlihat kesal dengan tatapan merendahkan dari wanita yang menjadi rival istrinya.
“Ngomong apa aja tadi dia?” tanya Raka dengan ketus.
“Nggak ngomong apa-apa kok mas. Dia cuma bangga aja ngasih tau kalo suaminya kerja di adiyaksa. Keren kan?” sahut Reva seraya mengacungkan kedua ibu jarinya pada Raka.
Raka mengernyitkan dahinya, tentu saja ia tidak percaya. Istrinya pasti sedang menyembunyikan hal menyebalkan yang tidak sempat ia dengar dan saksikan.
Reva terangguk yakin. “Aku yakin, kejadian kemaren, gag mungkin pasangan itu gag tau kan?” Raka tampak berfikir mendengar pertanyaan Reva. “Tapi suaminya masih tetap bertahan untuk bekerja di Adiyaksa. Aku yakin itu bukan hanya karena ia tidak mau kehilangan pekerjaannya tapi lebih pada kecintaannya pada adiyaksa. Dan mungkin mereka juga mendo’akan mas supaya bisa mengambil keputusan dan langkah yang tepat. Kita gag pernah tau, do’a siapa yang tuhan kabulkan saat mereka mendo’akan kebaikan untuk kita. Mungkin saja do’a mereka.” Tutur Reva seraya tersenyum di akhir kalimatnya.
Lagi, Raka hanya bisa terpaku. Selalu, Reva berusaha mengambil sisi positif dari segala hal dan itu semakin menambah kekaguman di hati Raka.
“Kalo kamu yang ngomong, aku percaya. Tapi lain kali, kalo ada yang ngomong aneh-aneh soal kamu, aku gag tinggal diem sayang.” Timpal Raka dengan tatapan tajamnya.
“Uhhh suami aku keren bangeettt… Tambah cinta deh…” Reva mengalungkan tangannya di lengan Raka kemudian mengecup pipi kiri suaminya dengan lembut. Raka tersenyum senang ia mengecup pucuk kepala Reva dengan penuh perasaan. Istrinya memang benar-benar istimewa.
“Jadi mau kemana kita sekarang?” tanya Raka berikutnya.
Dengan segera Reva membuka handphonenya. Ia memperlihatkan wishlist tempat dan makanan yang dia inginkan.
“Baik bunda ratu…” Raka terangguk patuh dan Reva tergelak renyah mendengar ujaran suaminya.
__ADS_1
****