
Kantor Wijaya Group sedang dipenuhi para wartawan di depan kantornya. Mereka menunggu Indra untuk memberikan keterangan terkait penahanan putri sulungnya. Menjadi terkenal adakalanya membuat ruang gerak mereka terasa sempit terlebih saat mata dunia tertuju pada mereka. Para pemburu berita ini tidak pernah menyerah untuk mendapatkan klarifikasi dari Indra sang pemimpin salah satu perusahaan terkenal.
“Om, tim pengacara sedang dalam perjalanan dari kantor polisi, sebaiknya om menunggu mereka kalau mau melakukan klarifikasi.” Ujar Edho yang ikut kalang kabut menerima pertanyaan dari banyak rekan bisnisnya.
“Om belum siap edho, om juga gag tau apa penculik lana masih memperhatikan keluarga kita atau nggak. Om masih belum tau harus berbicara apa.” Indra memijat pelipisnya yang terasa pening.
“Apa om akan selamanya menyembunyikan lana dari orang-orang? Bukannya ini akan semakin memperburuk hubungan om dengan lana?”
Indra hanya bisa menghela nafasnya kasar. Di satu sisi ia ingin melindungi putrinya di sisi lain ia tidak mau Lana merasa tidak diakui sebagai anaknya.
“Om lebih memilih membiarkan lana membenci om daripada om harus kehilangan lagi lana. Kalau lana baik-baik saja , paling tidak om masih bisa melihat dia.” Indra sudah bertekad. Ia tidak boleh mencelakakan putrinya sendiri.
Edho mengangguk paham. Apa boleh di kata, ia hanya bisa mengikuti keputusan Indra. Dan Lana, ia tahu benar bahwa Lana tidak pernah bisa membenci siapapun.
Konfrensi pers di gelar, Indra mulai memberikan pernyataannya dengan di dampingi tim kuasa hukumnya.
“Kami mohon maaf kepada siapapun yang merasa dirugikan atas insiden ini. Kami berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini tanpa merugikan siapapun. Segala yang dilakukan putri saya, kami akan bekerjasama untuk mematuhi semua peraturan hukum yang berlaku.” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Indra.
Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan awak media, namun ada satupun yang di jawabnya. Baginya, mengakui keadaan saat ini sudah lebih dari cukup. Karena mereka yang bertanya, bukan karena mereka peduli tapi hanya ingin melampiaskan rasa penasaran mereka. Dan Indra tidak ingin masalah keluarganya menjadi konsumsi publik. Ia sudah merelakan , jika beberapa kerjasama bisnisnya mungkin gagal dengan masalah ini, ia hanya ingin fokus pada keluarganya dan membayar semua kesalahannya pada kedua putrinya di masa lalu.
****
Siang ini Raka datang dengan membawa buku catatan Reva. Ia duduk disamping Reva yang tengah memunggunginya. Ia tau, kekasihnya tidak sedang tertidur, melainkan sedang menghindar.
“21 Maret, aku bertemu laki-laki menyebalkan bernama Raka. Kami berbicara hingga larut malam seolah kami bukan dua orang asing dan sudah saling mengenal sangat lama. Kenapa aku harus mulai bercerita padanya?” ujar Raka membaca salah satu catatan Reva. Ia melihat gambar-gambar tak beraturan yang dibuat Reva.
Reva tak menghiraukan ucapan Raka. Ia menarik selimutnya lebih tinggi dan menutupi tubuhnya hingga hanya kepalanya yang terlihat.
__ADS_1
Raka membuka halaman berikutnya, ia kembali tersenyum melihat tulisan Reva. “Ternyata makan nasi goreng bisa seenak ini. Tidak hanya nasinya yang enak tapi suasananya yang menyenangkan.” Sambung Raka yang ikut membayangkan saat-saat mereka menikmati makan nasi goreng di pinggir jalan di bawah remang cahaya lampu malam.
Reva mengambil satu bantalnya dan menutupi telinganya dengan bantal tersebut. Sejujurnya ia masih bisa mendengar suara Raka saat kembali membuka halaman diarynya.
“Malam ini, aku gag bisa tidur. Bayangannya terus muncul di pelupuk mataku. Selalu ada desiran halus yang mengaliri aliran darahku saat mengingat sepasang mata itu menatapku dengan hangat. Ingin rasanya pagi segera datang, aku ingin kembali melihat senyumnya. Tuhan, aku jatuh cinta.”
“Aku gag pernah nulis gitu ya!” protes Reva yang tiba-tiba terbangun. Ia terduduk dengan tatapan kesal yang tertuju pada Raka.
Raka hanya tersenyum, dalam hatinya bersyukur ternyata Reva tidak melupakan apapun tentangnya. Kalaupun ada yang Reva lupakan, ia akan membuat Reva mengingat kembali setiap kenangan yang mereka lalui.
Raka beranjak dari tempat duduknya. Ia duduk di tempat tidur Reva kemudian memeluk Reva dengan erat.
“Aku merasa, aku nyaris gila saat melihat kamu terbaring tidak berdaya dan aku gag bisa ngelakuin apapun. Tapi melihat kamu bangun dan tidak berbicara sedikitpun, aku merasa duniaku akan berakhir. Aku begitu merindukan saat kamu bicara dan tertawa. Aku juga sangat merindukan saat kamu menatapku dengan penuh perasaan. Aku gag pernah tau bagaimana cara mendefinisi bahagia yang sebenarnya tapi saat bersama kamu aku bisa merasakannya. Terima kasih untuk tidak melupakan tentang kita. Terima kasih untuk tetap kuat, kembali terbangun dan memberiku kesempatan untuk melihat kamu lagi. Aku rindu kamu re…” lirih Raka dengan lembut.
Ia memejamkan mata dalam pelukan Reva seolah ia telah kembali menemukan hidupnya yang beberapa hari kemarin terasa telah mati. Reva yang terpaku telah membuat hatinya teriris perih. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika kemudian ia harus kembali sendirian menapaki harinya.
Reva hanya terdiam, ia berusaha menahan laju air matanya. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan hingga ia lupa pada perhatian-perhatian yang selalu membuatnya bahagia. Ia pun lupa pada orang-orang yang sebenarnya tidak berhak menerima kemarahannya.
Perasaan Reva masih bercampur aduk. Ia ingin menyelesaikan terlebih dahulu pergolakan batinnya sebelum kembali menata hari yang akan ia lewati kedepannya. Sekali saja ia ingin egois, mementingkan perasaannya di atas perasaan siapapun.
Reva menggenggam tangan Raka dan melepaskan tangkupan tersebut dari kedua belah pipinya. “Aku mau sendiri, penuhi apa yang kamu bisa berikan saat ini.” Ujar Reva seraya memalingkan wajahnya dari Raka.
Raka hanya tertunduk, ia berusaha memahami apa yang Reva rasakan saat ini. Tanpa sepatah katapun ia mengecup pucuk kepala Reva sebelum benar-benar pergi dan memberikan Reva ruang untuk sendiri menghadapi perasaannya saat ini.
*****
Malam menjelang, Reva masih belum bisa memejamkan matanya. Ia tidur di atas pangkuan Ratna dengan mata yang menerawang jauh entah kemana. Ratna mengusap lembut rambut Reva dengan sekelumit perasaan yang bersarang di dadanya.
__ADS_1
“Tidur sayang, kamu harus beristirahat.” Ujar Ratna yang kemudian mengecup pucuk kepala Reva dengan penuh kasih.
“Bu, apa rere sangat jahat saat ini?” Suara Reva membuat Ratna mengalihkan pandangannya pada sepasang mata yang tengah menahan tangisnya. Ia berusaha menyelami perasaan anak gadisnya yang beranjak dewasa. “Rere sangat ingin membalas semua sakit hati rere, tapi satu sisi hati rere menolaknya. Rere marah bu, rere sakit hati dan semuanya membuat rere kehabisan tenaga untuk menahannya.” Reva terisak dan membenamkan wajahnya di pangkuan Ratna.
Ratna menghela nafas dalam, seberat ini yang Reva rasakan saat ini. Ia pernah merasakan seperti apa itu amarah yang bisa membutakan semua logikanya tapi ia pun pernah merasakan sebuah ketenangan yang membuat hidupnya terasa lebih bermakna.
Reva kecil datang tepat di saat ia merasa sendirian karena di tinggalkan oleh orang yang menjadi sandaran hidupnya.
Saat itu, Ratna baru menikah sekitar 4 tahun. Kehidupan pernikahannya sangat bahagia walau mereka belum dikaruniai anak. Ia memiliki suami yang begitu menyayanginya walau hidup dalam kondisi yang serba kekurangan.
Ratna menikahi seorang laki-laki yang sangat tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya. Ia hanya laki-laki sederhana yang bekerja sebagai petani di ladang. Pernikahan Ratna merupakan sebuah pernikahan yang di tentang oleh keluarganya hingga akhirnya ia di usir dan telantarkan karena teguh mempertahankan pernikahannya dengan laki-laki yang ia cintai.
4 tahun pernikahan, kebahagiaan Ratna dan suaminya bertambah dengan kabar adanya calon bayi yang sedang tumbuh di rahim Ratna. Hari-hari mereka lalui dengan bahagia walau masih ada perasaan mengganjal karena restu yang tak kunjung mereka dapatkan.
Di bulan terakhir kehamilannya, Ratna dan suami hendak berkunjung ke rumah keluarganya. Sayangnya, tidak ada satupun keluarga yang mau membukakan pintu untuk mereka. Mereka pulang dalam perasaan sedih yang memenuhi perasaannya.
Imran, suami Ratna melajukan motor tuanya di bawah guyuran hujan. di jalanan yang sepi, ia melihat kilatan cahaya lampu dari sebuah mobil yang menyilaukan mata Imran. Saat itu juga, Imran menghindarkan motornya dari mobil yang kemudian nyaris menabrak mereka.
Mereka terjatuh berlumuran darah. Imran terbaring tidak sadarkan diri sementara Ratna kesakitan di bagian perutnya karena hantaman keras pada aspal jalanan. Darah segar terus keluar dari jalan lahir Ratna.
Apa boleh dikata, di hari yang sama Ratna kehilangan suami dan anak yang belum sempat melihat indahnya dunia. Ratna terpuruk tanpa seorangpun di sampingnya. Ia melewati hari-hari kelam sendirian, hingga akhirnya seorang gadis kecil terbaring tak sadarkan diri di depan rumahnya dan mengubah hidupnya.
Ratna bisa merasakan kemarahan yang kini membuncah di dada Reva dan perasaan terabaikan yang kerap menyiksa dirinya. Ratna memang memberikan kasih sayang yang sangat besar untuk Reva tapi tentu itu tidak sama dengan kasih sayang yang Reva harapkan dari kedua orang tua kandungnya.
“Ibu tidak akan meminta rere untuk meredam kemarahan, ibu juga tidak akan memaksa rere untuk melupakan semua dendam. Ibu hanya ingin mengingatkan bahwa menyimpan keduanya tidak akan membuat hidup kita bahagia.” Hanya itu kalimat yang terlontar dari mulut Ratna.
Pada dasarnya, ia tidak sedang menasihati Reva tapi sedang mengingatkan dirinya sendiri yang mungkin masih menyimpan rasa marah dan dendam di dadanya.
__ADS_1
Reva hanya terdiam, ia berusaha mencerna apa yang Ratna ucapkan. Jika saja dulu ia tidak bertemu Ratna, entah apa jadinya ia saat ini.
****