Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 130


__ADS_3

Makan malam telah tersaji di meja makan. Reva duduk di hadapan Raka dan mengambilkan nasi untuknya. Raka tersenyum sendiri, ternyata seperti ini rasanya dilayani oleh seorang istri. Sementara Reva dalam hatinya terus mengingat ajaran Niken dan Nida,  apa saja yang harus ia lakukan di meja makan. Semuanya terasa saling bersahutan dan terngiang di ingatan Reva.


Raka makan dengan lahap. Saat resepsi ia memang tidak bisa makan banyak karena tamu yang tidak henti memberikan selamat untuk Reva dan dirinya. Tapi ia begitu menikmatinya. Sekali seumur hidup, ia merasakan kebahagiaan dan haru yang luar biasa.


“Enak gag mas? Ato ada yang kurang sesuai sama lidah mas raka?” tanya Reva yang akhirnya malah terpaku memandangi suaminya yang sedang makan.


“Semuanya enak sayang, terima kasih.” Puji Raka. “Loh kamu gag makan?” perhatian Raka beralih pada piring Reva yang masih utuh.


“Oh iya, ini juga mau makan kok.” Reva salah tingkah sendiri.


Ini adalah salah satu makan malam ternikmat bagi Raka dan Reva. Mereka berharap, akan selalu melewati masa-masa ini setiap harinya.


Selesai makan malam, Raka mengajak Reva untuk bersantai sejenak di balkon kamarnya. 2 cangkir teh dengan sepiring kue yang Reva sajikan untuk Raka. Mereka berbincang hangat mengingat indahnya kejadian hari ini.


“Sayang, menurut kamu, dari acara pernikahan kita, bagian mana yang paling kamu sukai?” tanya Raka seraya meraih tangan Reva. Ia mengecup tangan Reva dengan lembut.


“Emm.. semuanya aku suka mas. Tapi kalo di tanya moment of truth -nya, itu waktu kamu nyebut nama aku dan berakhir dengan kata sah. Aku sampe merinding.” Ungkap Reva dengan mata membulat.


“Iyaaa,,, aku juga. Awalnya aku takut banget lidah aku keselimpet apa gimana, tapi untungnya semua berjalan lancar. Dan saat kamu datang dan berdiri di hadapanku, aku ngerasa kalo aku mulai terbangun dari mimpi panjang dan ada seorang bidadari yang tetap tinggal untuk menemaniku seumur hidup, hingga kehidupan setelah kematian. Terima kasih sayang, kamu sudah memilih bersedia menghabiskan hidup kamu sama aku.” Tandas Raka seraya mengecup dahi Reva.


“Aku pikir, keinginan aku dulu cuma candaan anak kecil. Tapi ternyata semuanya memang sudah di gariskan.” Reva kembali menatap mata Raka dengan hangat. “Aku memilih kamu, karena aku yakin, hatiku berakhir di kamu mas.” Imbuh Reva yang membuat keduanya terpaku menikmati perasaan bahagia yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.


Seketika Raka meraih tengkuk Reva dan mencium bibirnya dengan lembut. Sangat hati-hati, seolah ia sangat takut kalau Reva mungkin takut mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba. Keduanya saling memagut satu sama lain, Raka mengikis jarak yang memisahkan mereka.


Saat nafasnya terasa akan habis, Raka melepas pagutannya. Ia memandangi wajah yang selalu ia rindukan bahkan saat berada dalam dekapannya. Raka beranjak, ia menggendong Reva menuju tempat tidur dengan tatapan yang tidak pernah terlepas satu sama lain. Ia membaringkan Reva dengan hati-hati di ranjang pengantin mereka. Raka kini berada di atas tubuh Reva dengan di topang kedua tangannya yang keka.


Wajah Raka berada tepat di atas wajah Reva dengan jarak yang sangat dekat. Reva bisa merasakan saat hembusan nafas Raka menerpa wajahnya. Jantungnya berbedar kencang saat ia membalas tatapan dari manik hitam yang seolah menembus hingga ke jantungnya. Raka tersenyum tipis melihat wajah merona Reva yang tidak bisa di sembunyikannya.


“Boleh kah aku melakukannya sekarang?” lirih Raka setengah berbisik.


Reva hanya terangguk dengan sunggingan tipis di wajahnya.


Setelah mendapat persetujuan dari Reva, Raka mulai mengecup kening Reva dengan lembut. Mengecupi kedua belah pipi, hidung dan bibir. Semakin lama semakin turun, ke leher dan bagian tubuh lainnya hingga tidak ada satu titikpun yang terlewat.


Raka membuka kaos yang menutupi tubuhnya dan beralih pada bathrobes yang kenakan Reva. Mereka terhanyut dalam hangatnya berbagi kasih. Tidak ada lagi yang terdengar selain desahan dan lenguhan yang bersahutan memecah keheningan malam. Menyebut nama satu sama lain menjadi akhir dari puncak kenikmatan keduanya. Hingga mereka terlelap di bawah satu selimut yang sama.


****


Pagi ini, saat Raka terbangun Reva sudah tidak ada di sampingnya. Tubuh Raka masih polos dan hanya terbungkus selimut tebal. Ia tersenyum sendiri saat mengingat indahnya malam yang mereka lewati bersama. Bayangan wajah Reva tak pernah lekang dari ingatannya.


Raka mencari bajunya yang mungkin terserak tapi semuanya sudah sangat rapi. Bahkan ada secangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya di samping tempat tidur Raka. Raka segera bangkit dan bersandar pada head board tempat tidur. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat segar. Benar,belum pernah ia bangun dalam kondisi sesegar ini.

__ADS_1


Wangi aroma kopi begitu menyegarkan bagi Raka. Ia segera meraihnya dan menyesapnya perlahan. Setelah kesadaranya kembali terkumpul, ia segera beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya sambil bersenandung lirih.


Di dapur Reva tengah berjibaku dengan tugas paginya. Ia menyiapkan sarapan untuk Raka karena yakin sang suami akan terbangun sebentar lagi. Ia membuat menu yang diyakini akan mudah di cerna di pagi ini. Ia bahkan menghias piringnya dengan sayuran atau sauce dan mayonaise. Ia membuatnya dengan sepenuh hati.


“Pagi sayang…” sapa Raka yang memeluk Reva dari belakang. Ia mengecup leher Reva yang menurutnya sangat menggoda.


“Pagi mas… ayo sarapan dulu. Tadi mamah sama mamih nelpon, katanya nanti mau video call.” Terang Reva.


Tapi Raka malah memejamkan matanya dan tidak melepaskan pelukannya. Ia sangat nyaman memeluk Reva seperti saat ini. Suara Reva terdengar seperti nyanyian pagi bagi Raka. Ya, ia sangat menikmati setiap moment bersama Reva.


“Mas…” Panggil Reva dengan lembut.


“Sayang… jangan menggodaku, ato gag akan berhenti kali ini.” Tutur Raka yang membuat Reva merinding.


“Yang bener aja, semalam aja berapa kali kita…” batin Reva. “Ah gila, aku kok malah mikirin semalam sih. Sadar Reva….” Bisik malaikat di sampingnya yang membuat Reva tersadar.


“Kenapa, kamu masih inget kejadian semalam?” tanya Raka seraya tersenyum.


Reva hanya terdiam. Entah sejak kapan Raka mulai bisa mendengar suara hati Reva.


“Sarapan dulu ya, nanti mamah sama mamih keburu video call.” Tutur Reva seraya mengusap pipi sang suami.


Raka menghela nafas dalam. Perutnya memang sudah keroncongan. Sepertinya tenaganya habis terkuras.


Raka mulai melepaskan pelukannya dan duduk di hadapan Reva. Ia baru sadar kalau istrinya mengenakan bajunya yang kebesaran.


“Sayang, kamu cinta banget ya sama aku, sampe pake baju aku segala.” Goda Raka seraya mencubit gemas pipi Reva.


“Jangan ngeledek deh… ini tuh karena isi koper aku baju tidur semua jadi gag ada baju ganti.” Kilah Reva dengan bibir mengerucut kesal.


Raka ikut terkekeh, sudah pasti sanga istri menjadi korban inisiatif tinggi ibu dan mertuanya.


“Aku gag keberatan kamu pake baju tidur. Ato gag pake baju sekalian juga, gag pa-pa kok…” Raka semakin gencar menggoda Reva dan membuat wajah Reva kembali memerah.


“Mass… jangan mulai deh…” protes Reva yang hanya di balas kekehan oleh Raka.


Mereka mulai menikmati sarapannya tanpa lepas  dari Raka yang tak henti menggoda Reva.


****


“Sayang gimana kalo Maldives?” Tawar Niken seraya menunjukkan tablet di tangannya. Mereka berbicara melalui sambungan video.

__ADS_1


Raka dan Reva kompak menggelengkan kepala.


“Ini deh, phuket.. mamih pernah ke sini sama papih. Rere juga di bikinnya di sana. Gimana, mau?” lagi, Nida dengan semangat menawari destinasi bulan madu selanjutnya.


Pasangan pengantin kembali kompak menggelengkan kepala.


“Santorini atau Vienna?”


“Praha atau hawaii?”


Nida dan Niken sepertinya tidak kehabisan ide referensi destinasi honey moon yang menyenangkan dan menenangkan. Tapi tetap, tidak ada satupun yang Raka dan Reva pilih.


“Mah, raka masih belum bisa pergi-pergian. Ini aja cuti 3 hari udah banyak kerjaan yang keteter. Raka pengen bulan madu tanpa di ganggu apapun, termasuk kerjaan.” Terang Raka yang membuat wajah Niken murung seketika.


“Iya mih, rere juga baru mau mulai proyek. Pikiran rere pasti terkuras habis sama kerjaan. Jadi jangan sekarang yaa…” Reva kompak  mengamini keinginan suaminya.


Sebenarnya Raka dan Reva memang sudah sepakat bahwa untuk bulan madu mereka akan menundanya.


“Terus mamah kapan dapet cucunya kalo kalian sibuk terus?” Raut sendu kembali terlihat di wajah Niken.


“Ya ampun mah, di sini aja bisa sampe 4 ronde.” Sahut Raka dengan segera dan dihadiahi cubitan dari Reva.


Namun Raka malah terkekeh.


“Ya udah deh terserah kalian. Yang penting cepet-cepet kasih mamih sama mamah cucu yaa…” akhirnya Nida menyerah.


“Iya, tenang aja. Ngasih kalian cucu itu usaha yang menyenangkan, jadi jangan takut ya, masing-masing raka kasih 2 biar gag berebut.” Tandas Raka dengan seringai jenakanya.


“Astaga mas…. Kamu ngomong apa sih…” Reva menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia di buat malu dengan pembahasan pagi ini. Tapi hal ini sepertiinya tidak berlaku bagi 3 orang di hadapannya. Dan enteng sekali ucapan Raka pada kedua orang tuanya.


Niken dan Nida kompak mengacungkan kedua jempolnya pada Raka. Dan Reva hanya bisa menggelengkan kepala.


Panggilan pun terputus, terlihat jelas wajah kesal bercampur malu dari Reva. Ia menjauh dari Raka dan segera masuk ke kamar untuk berganti baju. Untung saja orang rumahnya sudah mengirimi Reva baju.


“Sayang, jangan marah dong…” Raka merajuk dan mengikuti kemanapun Reva melangkah.


“Ya lagi, kamu ngomong seenaknya. Masing-masing 2 itu artinya 4 mas. 1 aja aku belum tentu bisa mengurusnya dengan baik, apa lagi 4. Gimana kalo anak aku gag ngerasain kasih sayang yang cukup? Gimana kalo mereka ternyata gag akur?” bayangan-bayangan negatif terus berputar di kepala Reva. Ia sangat takut mengalami hal yang sama seperti dirinya dan Alea.


“Okey, okey aku minta maaf. Aku niatnya cuma pengen bikin mamah sama mamih tenang aja. Gag ada niat buat nyiksa kamu. Jadi jangan marah yaa…” bujuk Raka dengan tatapan yang membuat Reva luluh seketika.


“Kamu mah kebiasaan, kalo aku marah ngebujuknya kayak gitu. Pinter banget sih!” Reva mencubit perut Raka dengan sengaja.

__ADS_1


Raka mengaduh manja, tapi Reva hanya terkekeh dan mengabaikannya. Ia tidak akan terjebak lagi oleh drama yang Raka buat.


****


__ADS_2