
Bis mulai melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang mulai di genangi air dari langit. Reva memandang awan yang menghitam dengan kilatan petir yang saling bersambaran. Dengungan musik dangdut yang menghangatkan suasana tak lantas membuat hatinya ikut berjingkrak. Reva menyentuh dadanya yang terasa tak nyaman yang sejak tadi. Tidak ada kabar dari Raka membuat ia semakin gusar.
Reva mencoba memejamkan matanya, ia ingin melupakan sejenak kegundahan yang terus merasukinya. Beberapa kali bis berhenti dan penumpang bergantian naik turun. Penumpang di sampingnya pun terus berganti dan tanpa Reva pedulikan.
Penjaja makananpun menawarkan berbagai jenis makanan mulai dari kacang goreng, rujak buah, anggur yang di kemas kecil-kecil hingga makanan khas daerah seperti tahu atau tauco.
“Mas, kamu kemana kok gag ada kabar?” Reva kembali membuka matanya dan menatap layar ponselnya yang sejak tadi tidak pernah menyala. Ia mengubah posisi duduknya dan menatap keluar jendela, melihat orang-orang yang hilir mudik di jalanan dengan kendaraan yang cukup padat.
Hanya sebuah hembusan nafas kasar yang terdengar dari mulutnya sesaat sebelum ia bisa memejamkan matanya.
****
Rasa berdebar tak karuan kini menyergap Niken dan keluarganya. Irma yang akhirnya berhasil ia ajak untuk mencari rumah yang tadi diceritakannya kini tengah melihat-lihat rumah yang mereka lewati. Tidak ada satupun penanda panti di sana. Yang ia ingat hanya sebuah pintu besi dengan halaman yang luas dan rimbun.
Dari kejauhan terlihat anak-anak sedang bermain di sebuah halaman. Mereka saling berteriak dan tertawa bermandikan air hujan. Kegembiraan terlihat jelas di wajah mereka.
“Andi, ayo masukkk, udah maghrib!!” teriak seorang wanita paruh baya.
Anak-anak berlarian masuk ke dalam rumah dan di sambut dengan handuk yang dibawanya.
“Itu, di sana!” tunjuk Irma pada seorang wanita yang tidak lain adalah Ratna.
“Yang mana bu?” Niken memincingkan matanya untuk lebih memperjelas penglihatannya.
“Rumah itu, saya ingat, ya rumah itu.” Tutur Irma.
Jantung Raka benar-benar berdebar tak menentu. Saat Rudy menginjak pedal rem, rasanya jantungnya ikut berhenti berdetak. Benarkah pencariannya telah menemui akhir?
Ratna menatap nanar sebuah mobil mewah yang berhenti di depan rumahnya. Ia memperhatikan dari arah pintu tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Hening mengambil alih suasana sore itu. Hanya derasnya hujan yang seolah menjadi musik pengiring kesunyian di antara mereka. Ratna masih terdiam dengan foto gadis kecil di tangannya. Ia menatap tak percaya dengan maksud kedatangan orang-orang dihadapannya.
“Tolong beritahu saya bu, apa ibu mengenal gadis ini?” tanya Niken yang berulang kali hanya di balas tatapan oleh Ratna.
Di tempat lain, Reva baru turun dari Bis. Ia membawa tas ransel dengan goodie bag yang berisi oleh-oleh untuk ibu dan adik-adiknya. Dengan menggunakan ojek, malam itu ia melewati ladang tempat ibunya biasa menanam sayuran. Rasa dingin dari angin malampun menyergap tubuhnya yang ramping. Ia bersembunyi di balik mantel pengendara ojek.
Tidak sampai 10 menit, Reva sudah sampai di halaman rumahnya. Ia melihat sebuah mobil mewah terparkir dengan rapi. Andi yang sejak tadi berdiam di pintu tampak terkejut saat melihat Reva datang.
“Kak rere...” ujar Andi dengan wajah pucat karena kaget.
“Kenapa de? Ada yang di adopsi ya? Siapa?” tanya Reva denagn segera. Andi hanya terdiam tidak menjawab apapun.
Reva berjalan mendekati pintu. Dari luar terdengar suara seseorang yang sedang terisak. Reva tidak berani meneruskan langkahnya. Ia berdiri di samping Andi dan mencuri dengar perbincangan orang-orang di dalam rumah.
“Bu, saya mencari putri saya selama 17 tahun ini. Rasanya saya hampir gila setiap hari memikirkan apa putri saya masih hidup atau sudah meninggal. Saya mohon, saya tidak ada niat buruk. Ini bukti foto-foto kami bersama putri kami. Tolong beritahu kami dimana dia saat ini.” Ujar wanita yang Reva rasa kenal suaranya.
Bibir Ratna mulai bergetar hendak bicara. Yang menjadi berat bagi Ratna saat ini, jika ia memberitahukan tentang gadis ini, maka mungkin ia akan kehilangan gadis ini selamanya. Tapi memang pada kenyataannya, wanita di hadapannya ini lebih berhak memiliki sang putri yang sudah ia besarkan selama ini.
“Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, cerdas juga mandiri. Saya memberinya nama, " Ratna menjeda kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas dalam. Ia harus menyiapkan hatinya menghadapi kenyataan, karena mungkin ia akan kehilangan anak gadisnya setelah ia memberitahukan identitasnya pada wanita di hadapannya. "Reva Anasya.” Tukas Ratna yang mulai pecah tangisnya.
Bak petir di siang bolong, Reva benar-benar terkejut dengan yang disampaikan Ratna. Ternyata gadis yang dimaksud wanita tadi adalah dirinya. Keluarga yang Reva rasa telah menelantarkannya ternyata kini ada di dekatnya.
Reva melangkahkan kaki untuk sedikit mendekat. Ia ingin melihat wajah keluarga yang mencarinya secara diam-diam. Jantungnya serasa mau copot saat yang ia lihat di hadapannya adalah Niken, Wira dan Raka, kekasihnya.
Reva terhuyung, barang bawaannya terjatuh begitu saja. Laki-laki yang dicintainya ternyata Kakak yang selama ini mencarinya. Reva tersenyum dalam kesakitannya. Takdir benar-benar telah mempermainkannya. Tanpa berfikir panjang, ia segera berlari menerjang hujan. Tidak peduli dengan dingin yang terasa menusuk tubuhnya. Ia hanya ingin menjauh sejauh mungkin dan tidak bertemu dengan siapapun.
“Maksud ibu, reva ini?” Raka menunjukkan foto Reva pada Ratna.
Ratna hanya terangguk pelan. Yang terkejut kali ini bukan hanya Reva tapi seisi ruang tamu sempit itu. Raka menggeleng tidak percaya. Entah perasaan apa yang dominan saat ini ia rasakan, harus senang atau seperti apa.
__ADS_1
Raka menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi sementara Niken dan Wira saling berangkulan.
****
“Bu, kak rere tadi lari hujan-hujanan!” seru Andi yang memberanikan diri menghampiri Ratna dan tamunya.
“Kak rere? Dimana?” Ratna terkejut bukan kepalang.
“Tadi kak rere di sini tapi gag masuk. Terus barusan aja dia lari sambil nangis. Gag pake payung juga.” Terang Andi yang tampak cemas.
“Astaga reva!” ujar Raka yang sudah membayangkan apa isi pikiran Reva. Dengan segera ia mengejar Reva mengikuti petunjuk Andi.
Rasanya Reva sudah berlari sangat jauh. Air mata yang menetes saat ia berlari mengering sudah terbawa derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya. Reva berjalan dengan gontai tak tentu arah. Ia benar-benar kacau. Hingga tanpa ia sadari Ia telah sampai di tempat yang menurutnya pernah ia datangi. Sebuah jurang di tepi jalan dengan pagar yang bengkok seperti terhantam kendaraan atau sejenisnya.
“Kenapa?! Kenapa?!” Teriak Reva yang meneriakkan isi hatinya entah pada siapa.
Reva jatuh terduduk dengan lemas. Tenaganya seperti telah habis. Rasanya bernafaspun begitu sulit dan pengap.
Reva menatap jurang dibawahnya yang terlihat sangat rimbun. Ia menangis sejadinya meratapi hidupnya yang terlalu penuh kejutan. Di saat ia ingin memulai sesuatu yang baru, kenapa masa lalunya datang tanpa di duga dan mengubah semua masa depan yang sudah ia rancang dalam pikirannya. Semua harapannya sirna, hanya tersisa kilatan ingatan yang saling bertabrakan dalam pikirannya.
Reva menyerah, ia membiarkan semua ingatan itu muncul. Seperti halnya puzzle yang tidak pernah ia tau harus ia mulai rangkai dari mana. Yang ia ingat saat ini, adalah bayangan laki-laki yang membawanya secara paksa. Masuk kedalam sebuah minibus. Ia berontak, ia kesakitan dan ketakutan. Tapi tidak ada seorangpun yang menolongnya. Hingga hidupnya berakhir di tempat ini. Ia merangkak berusaha keluar dari mobil yang hampir meledak. Dua orang laki-laki di jok depan tampak tak sadarkan diri. Ini kesempatannya untuk membebaskan diri dan berlari sejauh mungkin seperti saat ini.
Reva terpekur sendirian. Hanya itu puzzle yang berhasil ia rangkai. Dengan sisa tenaganya ia berusaha bangkit. Ia sudah berjanji untuk menghadapi apapun masalahnya di depan sana. Jadi tidak ada alasan untuknya tetap diam di sini.
“Reva! Reva!” terdengar seseorang memanggil namanya berulang kali.
Di bawah guyuran hujan, ia melihat seseorang berlari ke arahnya dengan tergopoh-gopoh. Walau tidak terlalu jelas, ia bisa melihat itu adalah Raka.
“Re, kamu..” Raka melepas jaketnya dan menyampirkannya di tubuh Reva. “Kamu kenapa pergi hah? Kamu gag tau aku cemas? Aku nyari kamu tapi kamu malah terus lari! Mau sampai kapan reva!” gertak Raka dengan wajah cemas yang tidak terperikan.
__ADS_1
Mendengar gertakan Raka, Reva hanya tersenyum pilu. Seperti ini rasanya saat orang yang kita sayangi mencemaskan kita. Tapi kini rasanya ia sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri. Dan beberapa saat kemudian Reva terkulai tak sadarkan diri.
****