
Satu pilihan yang sulit harus Reva ambil. Saat Wira dan keluarganya memutuskan untuk pulang, Ratna terus memaksa Reva untuk ikut. Ia bahkan mengemasi barang-barang milik Reva.
Wira sebenarnya tidak ada masalah jika Reva masih ingin tinggal di sini. Tapi Ratna terus berfikir bahwa saat ini Reva memerlukan waktu yang lebih banyak untuk bersama keluarga yang sebenarnya. Ia tidak ingin egois dengan menahan Reva untuk terus berada di sampingnya.
Reva berjalan disamping Raka yang menggenggam tangannya dengan erat. Sesekali ia menoleh melihat Ratna yang berdiri di depan pintu sambil memandanginya dengan wajah yang berpura-pura bahagia.
Langkah Reva terhenti, rasanya begitu sulit meninggalkan rumah yang sudah ia tinggali selama lebih dari 17 tahun ini. Bagaimana bisa waktu berlalu dengan cepat.
“Aku butuh waktu mas…” tutur Reva sambil melepaskan genggaman tangan Raka.
Raka mengerti benar maksud Reva dan ia tidak ingin egois dengan memaksakan kehendaknya. Ia terangguk dan membiarkan Reva begitu saja.
Reva membalik tubuhnya menatap Ratna. Sejurus kemudian ia berlari ke arah Ratna dan memeluknya dengan erat. Ia sangat tidak siap untuk pergi meninggalkan Ratna. Wanita yang selalu menyayanginya yang tak putus do’anya dalam setiap sujudnya hanya untuk kebaikan dirinya seorang. Bahkan mungkin ia luput berdo’a untuk dirinya sendiri.
Reva terisak di pelukan Ratna yang juga pecah tangisnya. Ia tidak bisa lagi menahan rasa takut kehilangan Reva.
“Jangan menangis nak, kamu sudah menemukan keluargamu. Ibu merasa sangat bahagia dan kamu juga harus bahagia.” Ujar Ratna seraya menangkup kedua belah wajah Reva dengan tangannya.
“Kenapa ibu minta rere buat bawa semua barang rere? Emang ibu gag mau kalo rere ke sini lagi? Ibu udah gag sayang sama rere?” rengekan manja Reva yang sebenarnya hanya sebagai penyangkalan atas rasa sedihnya.
“Siapa bilang… Selamanya kamu anak ibu. Rumah ini rumah kamu, kapanpun kamu mau kamu bisa datang. Ibu hanya takut kamu membutuhkan barang-barang kamu…” kilah Ratna yang sebenarnya tidak ingin semakin bersedih karena hanya bisa memandangi barang-barang peninggalan Reva.
“Rere mohon bu, biarin barang-barang ini tetap di sini. Rere juga udah bawa baju ibu, kalo rere kangen, rere akan pake baju ibu. Ibu juga bisa pake baju rere kalo ibu kangen rere.” Ujar Reva dengan rengekan yang tidak pernah Ratna lihat sebelumnya.
Ratna hanya tersenyum seraya terangguk. Ia mengusap pucuk kepala Reva dengan lembut. “Rere ada di hati ibu dan itu sudah lebih dari cukup. Di sana, rere harus bahagia. Jangan lupa ngasih kabar sama ibu. Ibu sayang sama rere….” Tukas Ratna seraya mengusap buliran air mata di wajah Reva.
“Rere juga sayang ibu…” sahut Rere seraya menyentuh lembut tangan yang selalui membuainya.
Setelah drama perpisahan yang cukup menguras tenaga dan air matanya, Reva memantapkan kakinya untuk melangkah. Ia melihat Ratna melambaikan tangannya. Wajahnya terlihat sangat damai dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya.
“Rere akan jemput ibu saat wisuda nanti.” Batinnya.
Reva duduk bersama Niken di barisan belakang. Saat mobil mulai melaju ia terus melihat ke arah Ratna yang masih berdiri dengan melambaikan tangannya. Ia terpekik dalam tangisnya. Niken yang duduk di sampingnya membawa Reva ke dalam pelukannya.
Tubuh Ratna terkulai lemas, saat ia sudah tidak bisa lagi melihat mobil yang membawa putrinya pergi. Ia menangis sejadinya dan hanya adik-adik Reva yang menemaninya saat ini.
“Bahagialah nak, do’a ibu menyertai…” batinnya dalam tangis yang pilu.
****
Ini adalah kali pertama Reva menginjakan kakinya di rumah yang sejak kecil ia tinggali. Suasana tenang dan nyaman menjadi kesan pertama saat Reva melihat taman yang ada halaman rumah keluarga Adiyaksa. Raka tidak pernah melepaskan genggaman tangannya, ia berjalan beriringan di samping Reva sementara Wira dan Niken berada di depannya.
“Ini rumah kamu mas?” perhatian Reva berpedaran pada sekitaran rumah yang tertata dengan rapi.
“Iya, dulu kamupun tinggal di sini dan sering main di sana.” Tunjuk Raka pada sebuah ayunan yang tergantung di bawah pohon.
__ADS_1
“Iya kah?” Reva membelalak tidak percaya.
“Hem…” sahut Raka dengan yakin.
Mereka kembali meneruskan langkahnya. Saat pintu utama di buka, kesan klasik terlihat jelas di rumah ini. Sebuah foto besar terpajang di ruang tamu. Foto keluarga Adiyaksa dengan seorang gadis kecil.
“Itu aku mas?” tunjuk Reva pada gadis kecil yang tengah tersenyum dengan ceria.
“Iyaaa… foto itu diambil waktu ulang tahun aku. Saat itu gigi depan kamu tanggal 1 makanya di fotonya mingkem gitu.” Kenang Raka sambil memperagakan cara Reva tersenyum.
“Hahaha ngarang kamu.” Reva memukul lengan Raka dengan gemas. Namun Raka malah tertawa lepas melihat reaksi Reva.
Suasana rumahpun kembali terasa hangat. Niken yang melihat kejadian tersebut tersenyum senang. Akhirnya suasana rumah ini bisa kembali. Dulu setiap hari rumah ini selalu di penuhi keceriaan. Raka yang usil sering membuat Lana merengek karena kejahilannya. Membuat Wira segera pasang badan dan lebih membela Lana di banding Raka. Dan Niken akan menjadi orang yang paling pertama di cari saat Raka dan Fery mengejainnya hingga menangis.
“Hey, kok malah ngobrol di sini. Ayo masuk… Rere pasti capek, kamu jangan godain dia terus…” tutur Niken seraya memberikan 2 anak kesayangannya minuman dingin.
“Makasih tante..” sahut Reva.
Reva menjulurkan lidahnya pada Raka sebagai pertanda ejekan. Raka hanya terkekeh, ternyata wanita dewasa yang ada di ekspektasinya masih kekanakan. Bayangkan saja wanita dewasa mana yang masih menjulurkan lidahnya saat mengejek kekasihnya, eh kakaknya.
Raka hanya bisa menurut kalau sudah Niken yang meminta. Raka membawa tas milik Reva dan mengantarnya ke kamar Lana dulu.
Kamar bernuansa pink ini masih terjaga dengan baik. Semuanya tampak rapi, tidak ada yang berubah sedikitpun sejak Lana tinggalkan. Dindingnya di penuhi aksesoris lucu dan lukisan-lukisan Lana yang dibuat oleh Raka.
“Mas ini bikinan kamu semua?” Reva menyentuh sebuah lukisan dirinya yang tengah tersenyum cerah.
“Yang tulisannya RA itu?”
Raka terangguk. “RA itu adalah inisial nama kita. Raka-Alana.” Raka menunjuk dirinya dan Reva bergantian.
Mulut Reva membulat membentuk huruf “O” tanpa suara. “Mas, kok kamu masih inget aja sih. Padahal itukan udah belasan tahun lalu.” Reva menatap Raka dengan penuh keheranan.
Raka bangkit dari duduknya menuju Reva yang tidak jauh di hadapannya. Ia menyentuh bahu Reva dan memeganginya seraya menatap dengan lekat.
“Aku udah pernah bilang kan sama kamu, aku bisa tetap hidup karena mengenang kamu di sini.” Tunjuk Raka pada dada kirinya. “Semua tentang kamu gag ada yang aku lupain. Terakhir kamu ngompol aja aku inget. Apa lagi waktu kamu bilang kamu mau jadi pengantin aku.” Ungkap Raka seraya menyilangkan tangannya di depan dada dengan jumawa.
“Serius? Aku pernah ngomong gitu?” Reva membelalak tidak percaya. Ia tidak bisa membayangkan dirinya yang masih kecil ternyata sangat genit.
Raka teringat kembali potongan kenangan itu.
“Kak raka…. Nanti kalo kak Raka nikah, kak raka gag akan lupa sama Lana kan?” tanya Lana dengan tatapan polosnya.
“Kalo kamu tetep jadi anak yang baik, mungkin aku gag akan lupa.” Sahut Raka dengan ketus.
“Iissh kak rakaaa….” Lana memukul lengan Raka seolah tidak terima dengan ucapan Raka. Raka berusaha menahan tawa di bibirnya melihat ekspresi Lana yang begitu menggemaskan. “Ya udah, biar kak raka gag lupa, nanti aku aja yang jadi pengantinnya kak raka. Ya kak yaa…” rengek Lana dengan penuh harap.
“Aku pertimbangin kalo kamu udah gag ngompol.” Timpal Raka sambil terkekeh.
__ADS_1
“Iisshhh kak rakaaa, aku udah gag ngompol kok…” Lana mengerucutkan bibirnya karena kesal. Namun Raka malah berpura-pura acuh. Setelah itu sudah pasti ia akan berlari mencari Wira atau Niken untuk mengadu.
“Isshh masa sih aku kayak gitu? Ngarang kamu mas!” kilah Reva dengan wajah yang memerah karena malu.
“Benerannn… Sejak kecil kamu tuh cinta banget sama aku re. Tiap pagi pasti minta di bangunin. Terus kalo sebelum tidur pasti minta didongenin putri salju terus harus aku cium di sini. “ Tunjuk Raka pada kening Reva. “Sejak kecil kamu tuh genit. Over protective lagi. Gag ada ceritanya aku punya temen cewek. Semuanya kamu jutekin ato kamu aduin sama papah mamah.” Ungkap Raka dengan puas walau sebenarnya ada beberapa yang ia hiperbola kan.
“Ah ngaco kamu.”
Reva mendorong tubuh Raka lumayan keras hingga terjatuh ke tempat tidur. Dan secepat itu juga Raka menarik tangan Reva hingga terjatuh di atas dadanya. Mereka saling bertatapan cukup lama. Merasakan desiran darah yang mengalir deras dan dada yang berdegub kencang. Bagaimana tidak, jarak wajah mereka hanya satu jengkal saja.
Raka menyibak rambut yang menutupi wajah Reva yang merona. Ia tersenyum lalu mengecup bibir Reva tanpa permisi, membuat Reva membelalak tidak percaya. Berikutnya, ia membenamkan Reva di dadanya yang bidang. Reva bisa mendengar dengan jelas bunyi detak jantung Raka yang bertalu-talu.
“Kamu gag akan pernah tau seberapa besarnya kebahagiaan aku, Mamah dan papah saat ternyata kamu kembali. Maafkan kami kalau kamu merasa kami begitu egois memisahkan kamu dengan ibu yang merawatmu penuh kasih. Kami hanya ingin kamu tetap di sini, di samping kami.” Tutur Raka dengan suaranya yang terdengar berat.
Reva mengangguk paham. Di lubuk hatinya yang paling dalam, iapun merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Tapi sisi hatinya yang lain, masih merasakan kesedihan karena harus berpisah sementara dengan wanita yang menyayanginya.
Pikiran Reva teringat pada sosok kedua orang tuanya. Yang diceritakan Raka hanya tentang ia dan keluarga Adiyaksa.
“Mas, apa aku lebih sering tinggal di sini?” Reva bertanya tanpa ragu.
“Tentu, karena kamu punya kakak yang ganteng. Jadi kamu betah tinggal di sini.” Goda Raka yang dihadiahi sebuah pukulan di dadanya.
“Issh aku serius tau…”
“Aku juga serius re…” timpal Raka tidak ingin kalah.
“Ih mas iiihhhh…” Reva mencubit pipi Raka dengan kesal. Namun Raka malah terkekeh.
Ia mengusap bahu Reva dengan lembut seolah ingin mengalirkan energi kasih sayangnya lebih besar lagi. “Sebulan setelah kamu lahir, kamu mulai tinggal di rumah ini. Mamah menyayangi kamu dan menjadikan kamu sebagai prioritasnya. Mamih dan papih kamu saat itu, mereka harus mengurus bisnisnya di inggris dan alea ikut ke sana bahkan sekolah di sana. Kamu biasanya hanya pulang sesekali ke rumah kalian. Kalo bukan karena orang tua kamu yang pulang, tentunya untuk menemani alea yang libur sekolah. Saat kamu pulang ke sana, biasanya aku sama mamah nyusul, karena dia gag bisa jauh-jauh dari kamu dan kamu pasti selalu nyariin aku.” Terang Raka dengan bangga.
“Lalu, apa aku sama alea akrab?”
Kali ini Raka terdengar menarik nafas dalam-dalam.
“Lea memang anak yang cuek. Tapi aku yakin dia sayang sama kamu. Setiap kamu di rumah sama alea, kamu pasti minta mamah buatin kue-kue kesukaannya alea supaya kamu bisa main sama dia.” Ujar Raka dengan hati-hati.
Ada beberapa hal yang menurutnya sebaiknya Reva tidak mengetahuinya. Sehingga sebisa mungkin ia mengemas ucapannya dengan baik.
Tapi hati Reva masih merasakan kejanggalan. Sepertinya hubungannya dengan Alea tidak baik-baik saja.
“Apa alea baru mau main sama aku kalo aku ngasih dia kue?” Pertanyaan Reva benar-benar memancing.
Ia menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah Raka yang berada di atasnya. Dari raut wajah Raka, Reva bisa menyimpulkan memang mereka tidak baik-baik saja.
“Tapi dia kakakku. Kalau aku mau main sama dia, berarti kami berhubungan baik kan mas?” Reva ingin meyakinkan dirinya sendiri.
“Tentu, karena kalian adalah sodara sedarah. Dimana darah lebih kental dari air.” Tandas Raka walau ragu. Tapi kalimatnya bisa membuat Reva terdiam dan tidak kembali bertanya.
__ADS_1
****