Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 174


__ADS_3

Sepeninggal Theo, Reva menangis sejadinya di ruang kerjanya. Ira segera berlari menghampiri Reva yang jatuh terkulai di lantai. Ira memeluk Reva dengan erat. Ia mencoba menenangkannya walau begitu sulit. Reva meremas lengan Ira, dan Ira membiarkannya saja. Mungkin ini bisa membantu Reva untuk meluapkan perasaannya.


Ira mendengar semuanya. Ira merasakan ketakutan yang Reva rasakan. Baginya, Reva tidak hanya atasannya, tapi seorang adik yang harus ia lindungi. Untuk beberapa saat, Ira menemaninya dalam diam.


Reva sudah mulai tenang. Ira mendudukannya di sofa. Ia segera menelpon Raka dan dalam beberapa menit Raka tiba di kantor Wijaya.


“Sayang,..” seru Raka seraya berhambur memeluk Reva.


Reva hanya terdiam, rasanya air matanya sudah habis. Tubuhnya terasa begitu lemas. Ia hanya bisa menjatuhkan tubuhnya di pelukan Raka. Ini titik terlemahnya. Di titik ini pula ia sadar, tidak ada manusia yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Tidak ada super human yang bisa menyelesaikan setiap masalahnya seorang diri. Kita selalu membutuhkan orang lain. Katakan saja Reva egois selama ini. Katakan juga Reva berusaha kuat sendiri untuk melindungi keluarganya, namun kini ia tersadar, dirinya tidak benar-benar kuat. Saat Ini ia memang memerlukan sebuah pelukan. Ia membutuhkan ketenangan. Ia rapuh, ia ketakutan dan hanya Raka yang bisa menenangkannya.


Reva terisak dalam pelukan Raka.


Di tempat lain, Theo tengah menatap Richard dengan dingin. Richard terpaku dengan banyaknya pertanyaan dari Theo. Kilatan kejadian malam itu kembali terulang di ingatan Richard.


Malam itu Richard menghadiri sebuah pertemuan untuk tender proyek besar di salah satu hotel. Proyek yang akan di lakukan di salah satu kota besar dengan banyaknya pengusaha yang mempertaruhkan reputasi yang kemampuan finansialnya untuk bersaing.


Sang pemilik proyek adalah Hartono yang tidak lain adalah mertua Richard sendiri. Selama bertahun-tahun Richard mengurus anak perusahaan milik mertuanya dan ia berharap ia akan memenangkan tender proyek besar ini. Selama ini pula ia telah melakukan usaha terbaiknya untuk mengembangkan perusahaan dan bersiap menggantikan Hartono yang akan menjelang pensiun.


Tanpa Richard duga, Hartono tidak begitu saja memberikan kepercayaannya pada dirinya untuk meneruskan proyek dan perusahaan miliknya. Ia memilih menawarkan tender pada perusahaan lain dengan alasan ia ingin ada persaingan sehat di antara para pengusaha muda termasuk Richard.


Richard sangat kecewa karena di akhir keputusan, tender ini dimenangkan oleh 2 sejoli Indra dan Wira. Tentu saja Richard tak terima, ia merasa telah di khianati oleh mertuanya sendiri yang tengah tertawa di hadapannya seraya menepuk bahu Indra dengan bangga. Kemarahan dan kekecewaan Richard telah memuncak, ia mengepalkan tangannya dan rasa benci pun muncul tidak hanya pada Hartono tapi juga pada Indra dan Wira. Hingga akhirnya sepulang dari acara tersebut ia mabuk-mabukan untuk menghilangkan kemarahan dan kekecewaannya.


“Sayang, kamu baru pulang?” Melisa menyambut Richard dengan wajah cemasnya. Ia mengambil jas Richard yang tersampir di tangannya. Diraihnya tangan Richard untuk  membantunya yang kepayahan menaiki anak tangga.


“Lepas! Perempuan bodoh!” gertak Richard seraya mengibaskan tangannya.


“Sayang ada apa ini?” tanya Melisa yang tampak kebingungan.


Terlihat kilatan kemarahan di mata Richard saat menatap Melisa.


“Kau tau, ayahmu itu bodoh! Dia gila! Dia lebih mempercayakan proyek ini pada orang lain dari pada menantunya sendiri. Dia kira dia siapa? Dia kira berapa lama lagi dia akan bertahan hidup hah?” ungkap Richard yang sedang berada di bawah pengaruh minuman keras.


“Sayang, kamu salah paham tentang ayah. Beliau hanya ingin kamu merasa lebih kompetitif. Dia tidak ingin kita berada di zona nyaman.” Terang Melisa yang berusaha menenangkan Richard.

__ADS_1


“Bullshit!!!!” teriak Richard. “Minggir kau perempuan bodoh!” lanjut Richard seraya mendorong tubuh Melisa.


"Aah..." Melisa yang tak seimbang terjatuh di salah satu anak tangga. Terlihat seringai jahat di bibir Richard yang gelap mata. Di banding membantu Melisa yang meringis kesakitan, ia malah menendang tubuh Melisa dengan sepatu pantopelnya hingga Melisa terjatuh berguling di tangga dan terkulai berlumuran darah.


Mata Richard membulat saat melihat Melisa terkulai tak berdaya. Ia tak menyangka kalau akan melihat Melisa seperti ini. Ia tak berani mendekat dan tak ingin meninggalkan jejak. Dibiarkannya saja Melisa yang tergeletak dan tidak bergerak sedikitpun. Richard mengacak rambutnya frustasi. Matanya memerah dengan air mata yang berkumpul di sudut matanya. Ia kebingungan, ia buntu. Tidak ada pilihan lain baginya saat ini selain menyelamatkan dirirnya sendiri.


Dengan segera ia berlari ke kamarnya. Ia mengambil semua rekaman CCTV dan menyembunyikannya seolah tidak ada yang terrekam dalam CCTV tersebut selama 1 bulan terakhir. Dan karena itulah ia bisa mengatakan pada siapapun termasuk Theo bahwa sang istri mengalami kecelakaan.


“I’m sorry son…” lirih Richard seraya menyentuh bahu Theo.


Tak di sangka Theo malah menarik kerah baju Richard dan mengangkat kepalnya untuk memukul sang ayah. Andai saja saat itu ia benar-benar lepas kendali, entah apa yang akan terjadi pada sang ayah.


Theo mendorong tubuh Richard hingga terjatuh di lantai. Ia mengacak rambutnya frustasi.


“Aaaarrggghhh!!!!” teriaknya dalam kemarahan yang memuncak. Ia menatap Richard dengan kebencian, rasanya semua kepercayaan dan kebanggan pada sosok di hadapannya hilang sudah tanpa sisa. Ia sejahat itu, ia setega itu dan Theo tidak pernah menyangkanya.


Theo memilih pergi meninggalkan Richard yang sendirian dengan perasaan dan pikiran yang berkecambuk dalam dirinya.


*****


“Sayang, kita nginep di rumah papih dulu ya…” tutur Raka seraya menoleh Reva.


Reva hanya mengangguk. Ia menyadarkan kepalanya di bahu Raka dan mengeratkan genggamannya. Raka merasa cemas dengan kondisi Reva saat ini. Ia khawatir jika Richard kembali mengancam keselamatan Reva.


Tiba di kediaman Wijaya, Raka langsung membawa Reva masuk. Ada Alea yang sudah menunggunya dan menyediakan makanan untuk Reva. Namun Reva sepertinya tak berselera. Ia segera menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang terasa lemas.


Raka berbaring di samping Reva. Ia membawa Reva kedalam pelukannya. Diusapnya kepala Reva dengan lembut dan mengecupnya. Reva semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Raka, tempat ternyaman untuknya saat ini. Pelukan hangat dan usapan lembut Raka, menjadi satu-satunya obat bagi Reva saat ini.


“Sayang, kamu sudah bertahan sejauh ini. Kamu sangat kuat. Dan kali ini pun kita akan melewati semuanya dengan kuat.” Lirih Raka yang berusaha menenangkan Reva.


Reva terangguk pelan. Perlahan ia menatap Raka yang berada di atas wajahnya. “Maaf atas kesalahanku selama ini mas. Maaf karena aku membuat semua keadaan semakin memburuk." ujar Reva dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Sstt,,, Nggak sayang, kamu gag salah.. Semuanya musibah dan kamu udah melewati semuanya dengan kuat. Aku bangga. Maaf kalau kehadiran mas terlambat." Raka mengusap lelehan air mata di pipi Reva. Sebuah kecupan hangat mendarat di pucuk kepala Reva, membuat perasaan Reva lebih tenang.

__ADS_1


"Mas, Bisakah kita rahasiain dulu semuanya dari papih dan papah?” pinta Reva.


Kondisi kesehatan Indra dan Wira memang belum membaik. Selama ini Wira dan Niken berada di luar negri untuk proses pengobatan Wira. Selain itu, ini merupakan salah satu cara untuk mengisolasi mereka dari dunia luar agar tidak mendengar kabar buruk apapun tentang perusahaan. Ia tidak ingin membuat orang tua mereka kembali merasakan kecemasan.


“Iya sayang, kali ini kita akan menghadapinya sama-sama..” Raka mengiyakan.


“Terima kasih mas..” Reva mengusap wajah Raka yang semakin terlihat dewasa dengan kumis tipis dan jambang yang tumbuh di rahangnya.


Raka hanya tersenyum tipis. “Sayang, mas akan ke rumah dulu ya… Ada beberapa berkas yang harus mas ambil. Nanti mas balik lagi ke sini. Gag pa-pa kan kalo mas tinggal sebentar?”ujar Raka seraya menatap mata sayu Reva.


Reva mengangguk seraya tersenyum. “Iya, hati-hati di jalan.” Pesan Reva.


Raka mengecup kening Reva sebelum ia benar-benar pergi. Terasa berat memang walau hanya sebentar saja meninggalkan Reva.


Di luar kamar, ada Alea yang sedang terduduk menonton televisi. Ia menitipkan Reva sebelum benar-benar pergi.


****


Suasana malam jakarta memang tidak pernah benar-benar sepi. Mobil-mobil masih melaju kencang di jalur bebas hambatan. Raka memacu kendaraannya dengan cepat, ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Reva.


Di halaman rumahnya kini Raka memarkirkan mobilnya. Ia segera masuk dan menuju kamarnya. Tubuhnya terasa begitu lengket dengan keringat, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tanpa Raka sadari, sedari tadi ada seseorang yang mengikutinya. Ia bahkan masuk ke rumah Raka dan mengikutinya hingga ke kamar. Adalah Laras yang kini duduk di pinggiran tempat tidur Raka. Ia memandangi foto pernikahan Raka dan Reva dengan tatapan sinisnya. Terdengar jelas suara gemericik air berpadu dengan alunan musik yang menenangkan dari dalam kamar mandi.


Laras membuka lemari baju Reva, ia memilih salah satu pakaian Reva untuk memperlancar aksi berikutnya. Ia memakai baju Reva lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Reva, gue belum puas sampe lo dan raka benar-benar berpisah.”  Gumamnya seraya tersenyum sinis. Baginya, melihat penderitaan Reva adalah kebahagiaan terbesarnya.


Laras menarik selimut menutupi tubuhnya. Saat mendengar suara pintu berderet, ia segera menutup seluruh tubuhnya hingga tak terlihat sedikitpun. Tanpa di sangka, ada tangan yang memeluk tubuhnya kemudian membekap mulutnya. Laras berusaha berteriak tapi suaranya benar-benar terredam. Dalam beberapa saat ia terkulai tak sadarkan diri.


****


 

__ADS_1


Hah, siapa itu?


__ADS_2