Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 64


__ADS_3

Raka baru selesai dengan pekerjaannya, saat ia melihat jam di tangannya ia baru tersadar jam kerja sudah berakhir sejak tadi. Ia mulai merapikan meja kerjanya, memilah berkas-berkas penting dan menyusunnya dengan rapi.


“Raka, lo mau pulang sekarang apa masih ada kerjaan?” tanya Fery yang muncul dari balik pintu.


“Gue mau nyari reva dulu, baru balik ke apartemen.” Sahut Raka tanpa menoleh ke arah suara.


“Dia udah balik dari tadi. Udah nyampe kost-an kali.”


Fery masuk ke ruangan Raka dan duduk di salah satu sudut sofa. Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut Raka. Fery hanya tersenyum, penampilan sahabat sekaligus bos nya ini benar-benar terihat kusut. Banyak sekali pekerjaan yang harus Raka kerjakan menjelang pergantian kursi kepemimpinan.


“Kita jalan dulu lah bentar, lo kayaknya kusut banget!” ajak Fery sambil beranjak dari tempatnya.


“Hem!” sahut Raka seraya melemparkan kunci mobilnya pada Fery. Fery menangkapnya dengan sigap.


Selesai dengan pekerjaannya Raka segera meninggalkan ruang kerjanya. Mereka berjalan beriringan menuju basemen.


“Tadi bokap lo nanyain insiden lo mukul si edho, kayaknya bokap gue lapor.” Tutur Fery tanpa ragu.


Raka menyandarkan tubuhnya pada dinding lift yang mulai bergerak turun. Ia merasakan tubuh dan pikirannya yang sangat lelah, jadi pasrah saja dengan apa yang akan ia hadapi nanti.


“Si edho juga nyari perkara aja, malah godain pacar orang.” gerutu Raka masih tidak terima.


“Ya elah, cewek lo kan glowing shining simmering splendid, mana ada cowok yang bisa nolak pesonanya. Lo aja yang kurang jagain doi.” Ledek Fery sambil membayangkan Reva dalam pikirannya.


“Anjrit lo! Awas kalo lo berani ngayalin cewek gue!” Raka menendang kaki Fery yang ia yakini sedang memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kekasihnya.


Fery hanya terkekeh, Raka yang cemburu memang benar-benar menakutkan.


"Pelit lu!" gumam Fery yang masih sedikit di dengar sahabatnya. Raka melototi Fery yang terlihat tertawa dari pantulan dinding lift, tapi Fery tampak santai saja, ia tau sebatas apa sahabatnya marah padanya.


***

__ADS_1


Reva masih menuju ke satu persatu toko aksesoris pria. Ia memilah dan memilih kado apa yang cocok ia berikan pada Raka. Ia tau, kesibukan dikantor lusa, kemungkinan akan membuatnya tidak bisa pergi keluar bersama Raka.


Disalah satu toko askesoris pria, Reva menemukan barang menarik. Ia memilih warna yang cocok yang akan ia beli. Ia membayangkan jika ia memasangkan benda kecil itu pada tubuh Raka, ia tersipu sendiri menahan malu saat membayangkan Raka berdiri di hadapannya muncul begitu saja. Saat ini ia menyadari satu hal, betapa sebagian ingatannya adalah tentang Raka hingga tanpa memejamkan matapun ia bisa membayangkan Raka ada di hadapannya.


Reva memutuskan untuk membeli benda kecil tersebut. Di meja kasir ia sekalian memilih kotak yang cocok dan memberinya pita sebagai pemanis. Ini pertama kali baginya, ia membeli kado untuk seorang laki-laki.


Puas dengan barang yang dibelinya, Reva mulai melangkahkan kakinya menuju jajaran food court. Usus perutnya sudah merengek  minta untuk di isi. Sebagian tempat sudah terisi orang-orang yang sepertinya akan menikmati makan malam di sana. Anak-anak kecil berlarian dengan gembira dan para orang tua sibuk menjaganya.


Reva memutuskan untuk memilih menu makanan di salah satu restoran cept saji. Ia memilih menu yang bersahabat untuk perut juga kantongnya.


“Buk!” seorang anak yang tengah berlari menabak kaki Reva dan terjatuh di sampingnya.


“Ya ampun den…” seru seorang wanita yang sontak membuat Reva mengalihkan pandangannya pada anak tersebut.


“Tante rere….” Ujar anak kecil itu dengan senyum manisnya.


“Ya ampun kean….” Sahut Reva yang segera berjongkok membantu Kean untuk berdiri. “Kean sama siapa ke sini?” tanya Reva selanjutnya.


Tak lama, wanita paruh baya yang Reva kenal datang menghampiri.


“Bi, apa kabar?” timpal Reva kemudian.


“Baik mba rere… Lama ya kita gag ketemu…” ungkap bi Asri dengan senyuman tulusnya.


Reva hanya terangguk seraya tersenyum.


“Kean, udah selesai makannya?” tanya sebuah suara berat yang muncul begitu saja.


“Dady!!!” teriak Kean yang kemudian berlari ke arah laki-laki tersebut. “Dady, ada tante rere…” seru Kean dengan girang saat sudah di pangkuan laki-laki tersebut.


Reva mengalihkan pandangannya dari berbincang dengan bi Asri. Garis senyumnya tiba-tiba hilang saat ia melihat sosok yang kini sedang menggendong Kean.

__ADS_1


“Reva….” Ujar laki-laki tersebut dengan tatapan nyaris tak percaya.


****


Adalah Adrian Ditya, yang kini duduk bersebrangan dengan Reva. Ia menatap Reva dengan hangat seperti yang biasa ia lakukan saat memperlihatkan perhatiannya pada gadis yang sangat ia cintai. Sejak perpisahan mereka, Adrian memutuskan untuk berhenti menjadi Dosen di kampus Reva, ia tidak ingin menjadi masalah kedua yang akan menghambat masa depan Reva setelah hatinya ia patahkan.


Reva hanya tertunduk, ia memilin jemarinya dengan saling erat, jantungnya berdetak tak menentu hanya saja tidak sama dengan debaran saat Adrian menjadi satu-satunya pengisi hatinya dulu.


“Gimana kabar kamu re? kamu terlihat sangat berbeda…”


Adrian berusaha memecah keheningan yang sedari tadi mengambil alih suasana.


Reva tersenyum tipis, dengan segenap keberanian ia memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap Adrian yang sudah sangat lama tidak ia temui.


“Saya baik pak…” sahutnya singkat.


Adrian kembali tersenyum. Gadis di hadapannya memang jauh berbeda. Dulu ia terlihat polos dengan tampilan tomboy, rambut panjang yang di ikat tinggi-tinggi dan celana jeans serta sneaker yang menjadi ciri khas gadis berwajah cantik ini.


Kali ini Reva terlihat berbeda dengan rambut berponi dengan panjang sebahu dibiarkan tergerai, rok span dan heels yang mengalasi kaki jenjangnya.


“Makanan favorit kamu masih sama, dada ayam dengan burger extra cheese bukan?” tanya Adrian yang menyesap sedikit minuman ringan di hadapannya.


Reva hanya terpaku, ia sadar Adrian paham betul masalah makanan kesukaannya. Selain nasi, makanan yang ada dihadapannya kini adalah menu kedua yang menjadi favoritnya. Namun ia tidak ingin membalas ucapan Adrian, lebih tepatnya ia tidak ingin mengenang, dengan mengingat masing-masing menu favorit mereka dulu. Meski Reva menyadari, spageti dan soda selalu menjadi pilihan Adrian sejak dulu saat mengajaknya berkencan dan makan di restoran cepat saji.


“Gimana kuliah kamu re, apa semuanya lancar?” Adrian mengganti topik pembicaraannya. Ia bisa merasakan kecanggungan yang di rasakan Reva.


“Alhamdulillah lancar pak, minggu depan sudah sidang.” Sahut Reva yang kembali memberanikan diri menatap lawan bicaranya.


Adrian kembali tersenyum, panggilan “Pak” membuatnya kembali teringat saat pertama ia bertemu dengan Reva. Jatuh cinta pada pandangan pertama pada sang mahasiswi dan sekaligus luka pertama yang ia toreh di hati masing-masing. Jika saja ia bisa mengakui, Reva masih menjadi yang pertama hingga saat ini dan mungkin akan selalu menjadi yang pertama.


“Sudah lama saya ingin bertemu dengan wanita jagoan yang selalu kean ceritakan sebelum dia tidur. Saya tidak menyangka kalau itu kamu re.” tutur Adrian dengan tatapan lekat pada Reva.

__ADS_1


Reva memalingkan wajahnya, melihat ke arah Kean berlarian sambil sesekali mendapat suapan makanan dari bi Asri. Reva tersenyum simpul, takdir memang tidak bisa diaturnya. Sejak berpisah, Reva berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan Adrian, tapi apa boleh buat, anak kecil menggemaskan itu membuatnya harus berbicara dengan Adrian tanpa persiapan apapun.


****


__ADS_2