Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 123


__ADS_3

Di rumah mewah milik Riana dan Jeremy, Riana tampak tengah sibuk meladeni keinginan sang jagoannya yang tengah menangis kencang karena lapar. Riana bergegas pergi ke ruangan khusus bayinya dan membuatkan satu botol susu untuk putranya yang kini menjadi poros hidupnya.


Riana memilih untuk menjadi sosok ibu yang 24 jam dalam seminggu berada di rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Pikirannya untuk menjadi seorang wanita karir dengan banyak pekerjaan yang ia tangani, kini tidak ada lagi dalam pikirannya. Ia begitu menikmati perannya sebagai ibu dan istri. Hari-harinya terasa lebih bermakna saat ia bisa menyiapkan segala keperluan Jeremy dan siap sedia saat sang putra membutuhkannya.


Seperti saat ini, ia tengah menggendong Edgar saat terdengar suara bell rumahnya berbunyi. Perlahan ia menaruh Edgar di box bayinya dan segera membukakan pintu untuk tamu yang tidak di sangkanya.


“Salam hormat saya untuk bunda ratu.” Sebuah suara dengan sosok yang lama tidak di lihat Riana membuat ia berteriak histeris.


“Astaga Revaaaaaa….” Seru Riana yang berhambur memeluk Reva. “Reeee… gimana kabar lo? Gue kangeennn…” ujar Riana yang beberapa saat kemudian malah terisak.


“Hahahaha eh buset lo mewek ri…” ungkap Reva yang juga mengeratkan pelukannya seraya mengusap punggung Riana.


Mereka begitu merindukan satu sama lain. Hingga beberapa saat mereka berangkulan saling melepaskan kerinduannya.


“Re, beneran, gimana kabar lo?” Riana menatap Reva dalam, seraya mengusap lengan kirinya.


“Lo liat lah gue baik-baik aja. Lo sendiri gimana kabarnya bunda ratu?” begitulah cara Reva menggoda sahabatnya.


“Tentu gue sehat re… ayo masuk, edgar mau ketemu lo.” Riana menarik tangan Reva dan membawanya langsung ke kamar Edgar.


“Ya ampun,,, anak lo gemesin banget ri…” seru Riana saat melihat Edgar yang tengah tersenyum memandangi Reva.


“Lo mau gendong? Sekalian tuh kasih dia susu.” Ujar Riana yang tahu benar kalau Reva sangat menyukai anak kecil.


“Iyaa gue mau gendong. Tapi bentar deh, gue cuci tangan dulu. Gue gag mau ponakan cakep gue kenapa-napa.” Timpal Reva yang berjalan menuju wastafel yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


Riana hanya tersenyum. Ia mengambilkan minuman dan makanan untuk Reva. Di selang waktu luangnya, Riana memang suka membuat kue-kue untuk menemaninya begadang saat Edgar masih ingin bermain.


“Gue denger sekarang lo kerja di tempat bokap lo? Gimana, seru?” Riana menunggu Reva di sofa panjangnya bersama Edgar.

__ADS_1


“Yaaa seru lah. Gue banyak belajar hal-hal baru. Gue juga belajar bikin proyek ri.” Terang Reva dengan antusias. Ia duduk di samping Riana dan menggendong Edgar ke pangkuannya. “Astagaaaa… ini pipi bisa tumpah gini sih anak ganteng.” lanjut Reva dengan gemas.


“Ya lo jangan keasyikan kerja re. cowok lo udah nungguin lo kan?” pertanyaan Riana seperti pancingan yang membuat Reva tersenyum. “Lo kapan nyusul gue dan ngasih Edgar ade?” imbuh Riana seraya menyodorkan botol susunya pada Reva.


“Ah elah, lo udah mulai ketularan materi obrolan emak-emak kompleks deh…” Reva tersenyum simpul mendengar pertanyaan Riana.


“Gue serius maemunah, lo nunggu apa lagi sih?” Ledek Riana di tengah perbincangan seriusnya.


“Maemunah… Selena gomes mak…” Timpal Reva yang membuat Riana tertawa renyah. “Ya, gue juga mikirin hal itu lah… tapi masih ada 1 prioritas yang harus gue selesein dulu.” Lanjut Reva dengan tatapan yang di tujukan entah ke arah mana.


“Emmm… Gue tau, lo selalu punya cara pandang sendiri terhadap hidup lo. Gue cuma pesen, sekali-kali lo harus mentingin perasaan dan hidup lo. Jangan selalu fokus pada kebahagiaan orang lain. Karena lo baru bisa membuat orang lain bahagia setelah lo sendiri merasa bahagia.” Ujar Riana dengan serius.


“Astaga… buku siapa yang lo baca, ampe mulut lo bisa semanis itu?” goda Reva yang dalam lubuk hatinya membenarkan ucapan Riana.


“Ah elu, gag bisa di ajak ngobrol bener dikit ya.” Riana mencubit pipi Reva dengan gemas namun Reva hanya terkekeh.


“Edgar mau adek, iya? Coba minta sama bunda ratu, jangan nyuruh tante rere yang bikinin  yaa…” ledek Reva yang belum puas mengerjai sahabatnya.


“Ri… kenapa sih lo mesti ragu? Lo gag liat badan anak lo tambun begini? Pipinya juga, emmmm…” Reva menggigit pipi Edgar dengan lembut, namun Edgar malah tersenyum. “Kita sama-sama tau, buat seorang anak, mereka gag cuma butuh di kasih makanan dan minuman atau kehidupan yang layak. Dalam kondisi apapun, yang mereka butuhkan itu kasih sayang kita. Iya kan bunda ratu?” ujar Reva seraya tersenyum. Riana hanya mengangguk. “Lagian, kalopun anak lo di kasih susu sapi, lo kan bikinnya juga penuh perasaan, pake cinta.” Lanjut Reva seraya menyelipkan tangannya di genggaman Edgar.


“Lo salah, gue bikin susu gag pake cinta. Tapi pake sendok takar sama air anget.” Timpal Riana yang membuat keduanya kembali tertawa.


“Gue bahagia liat lo sekarang ri…” batin Reva.


****


Beberapa hari menjelang rapat direksi, Reva semakin disibukkan dengan pekerjaannya. Ia beberapa kali mengecek tempat yang akan di bangun proyek impiannya bersama Alea. Seperti yang disampaikan Alea, ia harus menguasai konsep proyeknya di depan direksi. Dan Bali, tentu menjadi pilihan lokasi yang berat karena persaingan pun sangat ketat.


Dengan di temani Raka, Reva kembali menemui Alea sesuai dengan janjinya. Mereka serius membahas konsep hingga waktu kunjungannya hampir habis.

__ADS_1


“Kak, kok gue gugup gini yaaa… “ ujar Reva seraya menyentuh dadanya yang terasa tidak tenang.


“Apa yang bikin lo gag tenang? Lo udah menguasai konsepnya dengan baik.” Alea berusaha menyemangati Reva yang memang terlihat ragu.


Alea melirik Raka yang duduk di samping Reva dan dengan isyarat mata ia meminta Raka melakukan hal yang sama. Raka paham benar maksud tatapan Alea.


“Iya re, kamu pasti bisa kok ngeyakinin mereka. Dan kalo ngeyakinin mereka harus di mulai dari kamu ngeyakinin diri sendiri.” Timpal Raka.


Reva menatap Raka yang kini sudah menggenggam tangannya. Ia berusaha melepaskan genggaman tangannya. Hal ini tidak boleh terjadi di hadapan Alea.


Alea memahami benar gestur keduanya.


“Haiissshh kalian berdua kapan nikah sih? Gemes gue.” Ujar Alea dengan tatapan tajam pada kedua orang di hadapannya.


Raka dan Reva saling tatap, mereka masih belum bisa memahami maksud pembicaraan Alea.


“Udah laahh yaa gag usah ragu-ragu lagi. Kalian saling cinta kan?” Alea menunjuk Raka dan Reva bergantian. Reva dan Raka kembali saling bertatapan tanpa berani mengangguk. Alea menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan dingin yang membuat nyali Reva beringsut. “Gue gag tau sebenarnya pikiran kalian seperti apa tentang gue. Tapi gue cuma mau ngasih tau kalian. Gue sama lo,” Alea menunjuk Raka. “Udah gag punya perasaan apa-apa. Dan gue, sama lo, “ Kali ini Alea menunjuk Reva. “Gue cuma pengen lo bahagia sama laki-laki yang lo cinta. Jadi tunggu apa lagi?” imbuh Alea dengan enteng.


Lagi-lagi mereka saling berpandangan, lalu bersama-sama menatap Alea.


Alea terlihat menarik nafasnya dalam dan menatap Reva dengan lekat. “Kalian kalo mau nikah, ya nikah lah. Gag perlu nunggu gue pulang. Gue udah cukup bahagia dengan kondisi sekarang dan gue akan lebih bahagia setelah liat kalian sama-sama. Hem?” tandas Alea seraya mengetuk meja yang ada di bawah tangannya.


Ia tidak peduli dengan keterkejutan Raka dan Reva. Ia segera beranjak meninggalkan Raka dan Reva.


“Pulang lah, waktu berkunjung habis” tutup Alea seraya menunjuk jam dinding di hadapan mereka. Senyuman tipis menjadi penutup pertemuan mereka.


****


 

__ADS_1


Aleaaaa, are you sure?


Mana nih tim KawalSampaiHalal? ;D


__ADS_2