Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 125


__ADS_3

“Ooohhh…. Jadi ini pak bos yang sarapan bubuk berlian itu.” Ledek Fery saat masuk ke ruangan Raka.


“Apaan sih lo, gag jelas.” Cetus Raka dengan malas.


Fery hanya terkekeh. Dilihat dari sudut manapun, penampilan Raka hari ini memang terlihat berbeda. Tidak ada lagi aura kelam yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Yang terlihat sekarang adalah Raka yang tampan, mapan dengan segala kharismanya sebagai seorang pimpinan tertinggi di Adiyaksa.


Fery duduk di hadapan Raka, ia melihat satu per satu berkas yang Raka sodorkan padanya.


“Gilaaa, sebanyak ini berkas yang harus di koreksi?” Fery terperangah dengan sendirinya.


“Hem…” hanya itu jawaban Raka. Wajahnya masih benar-benar tenang, benar-benar Raka yang tidak biasanya.


Biasanya Raka tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun. Sudah berapa karyawan yang ia berhentikan karena di anggap tidak bisa bekerja dengan baik. Tapi kali ini, permaklumannya sangat tinggi. Berganti Fery yang di buat geram dengan kesalahan para karyawan ini.


“Bener deh, lo tadi pagi sarapan apa sih?” Fery kembali teringat dengan kata-kata karyawan tadi.


“Ngapain sih lo nanyain gue sarapan pake apa? Tuh kerjaan lo banyak, nanya sarapan segala, bentar lagi udah makan siang dan lo masih duduk-duduk aja.” Cetus Raka yang mulai kesal.


Fery hanya terkekeh, Raka is back pikirnya.


“Tadi gue papasan sama karyawan, mereka bahas lo. Mereka nyari tau lo sarapan sama apa hari ini, soalnya lo beda banget dari biasanya.” Kalimat Fery terhenti saat melihat Raka menghentakkan pena yang di tengah di pakainya.


Fery sadar dia sudah salah bicara.


“Cek pekerjaan  mereka, kalo gag beres, pecat aja! Masih sempat-sempatnya bergunjing di jam kerja. Ato lo tambah kerjaan mereka biar mereka anteng dan gag ngurusin orang lain di luar pekerjaan.” Tegas Raka yang membuat Fery kembali ternganga.


“Nah kan… Gue salah ngomong.” Batin Fery.


Fery menggaruk kepalanya walau tidak gatal. Perlahan ia mencoba pergi dari hadapan Raka dengan diam-diam. Ia tidak mau membangunkan macan yang mulai setengah sadar.


“Kemana lo?!” tanya Raka yang sadar Fery mulai beringsut.


“Hehehe.. kerja bos…” Fery cengengesan sambil menunjuk pintu ruangan Raka dengan ibu jarinya.


“Bawa berkasnya, suruh mereka selesein dalam 1 jam, kalo gag mampu pecat aja!” tegas Raka.


“Satu jam? Sebanyak ini?” Fery menatap tidak percaya.


“Okey, jangan 1 jam, tapi 45 menit harus sudah selesai!” gertak raka, no debat.


“Hah?” Fery menampar mulutnya sendiri yang kadang tidak bisa di kontrol. Ternyata perkara sarapan tidak bisa mengubah Raka begitu saja. “Okey, 1 jam bos. 1 jam mereka ngehadap lo lagi.” Lanjut Fery yang beringsut seraya membawa berkas dari hadapan Raka.


Dengan langkah cepat ia meninggalkan ruangan Raka. “Bubuk berlian apanya, bubuk mesiu baru bener!” gerutu Fery dengan penuh kekesalan.

__ADS_1


Fery kembali teringat, saat desas desus tentang Reva yang di tuding hamil oleh beberapa karyawan. Tanpa ampun Raka memeriksa pekerjaan mereka yang masih sempat bergosip di jam kerja. Dan surat pemecatan menjadi jawaban bagi para karyawan yang memang menurut Raka tidak bekerja dengan benar.


Begitulah Raka, dengan profesionalitas kerja yang tinggi dan terkadang membuat karyawannya kewalahan mengikuti langkah kerjanya yang cepat. Tidak ada jeda waktu baginya selain jam istirahat. Tidak ada maksud lain dari Raka, ia hanya ingin membiasakan karyawannya bekerja dengan profesional dan tidak melakukan hal-hal tidak penting terlebih itu tidak ada faedahnya untuk pekerjaan mereka. Namun secara pribadi, OB sekalipun ia akan menghormati keberadaannya.


****


Jajaran direksi tengah berkumpul di aula rapat utama. Mereka akan mendengarkan presentasi proyek besar yang akan di bangun oleh Reva. Reva pikir, mungkin hanya ada beberapa orang saja yang hadir, tapi siapa sangka, beberapa pemegang saham di hubungi oleh Indra, untuk meyakinkan mereka bahwa ia memiliki putri dengan kualitas pekerjaan yang tidak di ragukan.


Sebelum presentasi di mulai, Indra menyampaikan beberapa hal terkait proyek ini. Pada intinya, ia ingin meyakinkan, walau secara pribadi tengah ada permasalahan dalam keluarganya, tapi proyek yang akan dibangun oleh Reva dan Alea, tidak akan mempengaruhi perusahaan sedikitpun. Ia meyakinkan, bahwa kedua putrinya lah yang menggagas ide ini dengan penuh keyakinan.


Untuk alasan ini lah, Reva berdiri di hadapan peserta rapat. Reva melakukan ex hale dan in hale beberapa kali, untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ini memang perusahaan ayahnya, apapun bisa ia lakukan. Tapi ia sadar, Indra membangun ini dengan tetesan darah dan keringat. Ia harus mampu membuktikan bahwa ia dan Alea, berdiri di atas kakinya sendiri. Mereka mewujudkan ini bukan karena sebagai putri seorang pemilik perusahaan tapi sebagai karyawan yang ingin memberi kontribusi pada pertumbuhan perusahaannya.


Indra mengangguk seraya tersenyum, saat sepasang mata itu terlihat sedikit goyah. Ia meyakinkan Reva bahwa ia yakin Reva bisa melakukannya. Jika dulu ia memaksa Alea untuk melakukan ini itu atas kehendaknya, kali ini ia memberi kesempatan kepada kedua putrinya atas kemampuan dan kemauan mereka sendiri.


“Proyek ini, kami beri slogan “Visit us, with your familly.”” Reva mengawali kalimatnya dengan penuh percaya diri. “Kami akan membangun resort dengan mengedepankan keakraban dan kehangatan saat tamu berkunjung ke sini. Secara garis besar, di area ini, kami akan membangun area khusus untuk acara familly gathering atau sejenisnya dan bisa menampung hingga 50 tamu. Di area ini kami akan membangun khusus untuk keluarga yang ingin merasakan privasi mereka. Kami akan menyediakan….”


Kalimat demi kalimat terlontar mulus dari mulut Reva. Peserta rapat tampak fokus dengan materi yang Reva sampaikan. Indra terangguk setuju saat Reva melakukan penekanan pada beberapa kalimat yang menurutnya di rasa penting.


“Dulu, reva yang bikin saya menyetujui proyek pertama kita dengan adiyaksa.” Bisik Edho pada Indra yang sepertinya sangat menikmati presentasi dari Reva.


Indra menoleh sejenak, “Iya kah?” Indra menatap tidak percaya.


“Hem… om gag tau aja, nego nya dia tuh jago banget. Nanti om bisa liat sendiri.” Ungkap Edho dengan penuh kekaguman.


*****


Raka memutuskan untuk pergi menemui Reva. Saat ia bertanya melalui pesan singkat tentang kondisi setelah rapat, Reva hanya mengirim sedikit voice note.


“Masih nunggu keputusan mas. Gilaaaa aku gugup banget…” begitu balasan suara yang di kirim Reva.


Untuk alasan itulah Raka melajukan mobil menuju perusahaan tempat Reva kini bekerja. Setibanya di sana, ia melihat Reva yang sedang terduduk sendirian di depan ruang rapat. Sesekali ia berjalan mondar mandiri sambil mengigiti jari tangannya dengan perasaan gugup.


Waktu pembahasan dan voting yang hanya 60 menit, terasa seperti berabad-abad bagi Reva.


“Sayang… kok di luar?” Raka segera menghampiri Reva yang terlihat gugup.


“Mas rakaa…. Kamu baru dateng siihhh…” rajuk Reva dengan manja.


“Iya maaf sayang, tadi ada rapat dulu di kantor. Ngomong-ngomong gimana hasilnya? Di setujui kan?” sahut Raka dengan segera.


Reva hanya menggeleng. Ia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


“10 menit lagi, tapi kok berasa lama banget ya?”

__ADS_1


“Sayang, tenang dulu… ayo duduk.” Raka mengajak Reva duduk agar merasa lebih tenang. Raka bisa melihat rasa was-was yang saat ini di rasakan Reva. “Aku yakin kamu sudah menampilkan yang terbaik, jadi kita berharap semoga semuanya berjalan baik , hem…” Raka ingin menguatkan Reva yang pasti sedang merasakan berbagai perasaan dan pikiran-pikiran negatif di kepalanya.


Reva hanya terangguk. Support raka saat ini, benar-benar sangat membantunya. Sedikit banyak, kehadiran Raka memberinya ketenangan.


Tak berselang lama, Edho tampak membuka pintu ruang rapat. Reva segera mendekat dengan perasaan yang tidak menentu.


“Gimana kak?” mata Reva membulat menunggu jawaban.


“Acc.” Ujar Edho, singkat.


“Beneran?” Reva berujar tak percaya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Edho kembali terangguk seraya mengulurkan tangannya. “Selamat ya, ini proyek pertama lo. Good luck re.”


Bukan menjabat tangan Edho, Reva spontan memeluknya. “Aaaaa… makasih kak… gila gue seneng banget.” Seru Reva yang kegirangan.


Tak ayal, Raka yang sedari tadi terdiam, terlihat sangat tidak suka dengan apa yang di lihatnya saat ini. Matanya membulat ke arah Edho yang hanya tersenyum mendapat pelukan dari adik sepupunya.


Perhatian Reva kini beralih pada laki-laki yang dicintainya. “Mas aku berhasiiilll!!” seru Reva seraya memeluk Raka dengan erat. Bahkan ia mengecup pipi Raka dengan antusias.


Dengan cepat ekspresi wajah Raka pun berubah. Terlihat senyum penuh kemenangan yang ia tujukan pada Edho.


“Dalam kondisi gini aja lo masih ngerasa kita saingan. Dasar, buciinn, buciinn..” batin Edho yang hanya bisa di dengar olehnya.


“Selamat ya, kamu memang hebat.” Ujar Raka seraya mengacak rambut Reva dengan gemas.


Reva terangguk. Ia tersenyum dengan bahagia. Ia melepaskan rangkulannya dari Raka.


Terlihat Indra yang keluar dari ruang rapat.


“Pihh…” seru Reva yang berhambur memeluk Indra. Ia ingin meluapkan semua kebahagiaannya.


Edho mendekati Raka dan berbisik, “ Jangan sampe ada cowok ke empat yang dia peluk.”


Sontak Raka menoleh dengan wajah kesalnya. Demi apapun ia tidak akan membiarkan siapapun memeluk kekasihnya lagi.


Beberapa orang sudah keluar dari ruang rapat. Mereka menyalami Reva dan mengucapkan selamat.


“Konsep proyeknya bagus, saya harap, liburan tahun depan saya dan keluarga sudah bisa menghabiskan liburan di sana.” Ungkap salah satu pemegang saham.


“Terima kasih pak. Mohon dukungannya agar semua berjalan lancar.” Timpal Reva yang dianguki setuju oleh laki-laki paruh baya tersebut.


****

__ADS_1


__ADS_2