Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 153


__ADS_3

Setelah kembalinya Reva di tengah-tengah keluarganya, ia memilih untuk berdiam diri di kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya dengan perasaan yang masih tak tentu. Ia mengusap tempat di sampingnya, membayangkan jika Raka ada di sana dan tengah memandanginya. Betapa ia merindukan laki-laki itu meski rasa kecewanya masih belum bisa hilang.


“Dia suami saya! Kamu tidak ada hak atas dia walaupun kalian saling memiliki perasaan!” ucapan Arini kini berdengung jelas di telinga Reva.


Reva bisa membayangkan, kesakitan yang saat itu di rasakan Arini. Walaupun kondisinya berbeda, tapi menyadari di samping laki-laki yang ia cintai ada wanita lain, tentu memiliki rasa sakit yang sama. Reva kembali meneteskan air matanya, ia terisak seraya memegangi perutnya yang rata.


“Sayang, bunda harus gimana?” lirihnya dengan penuh kegamangan.


Ingatan tentang kejadian saat Laras dengan bangga tersenyum menantangnya dan raut wajah penuh kemenangan, masih tergambar jelas di ingatan Reva. Rasanya tiba-tiba saja ia menjadi mual. Reva segera bangkit dari tempat tidurnya berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan semua isi perutnya. Ia berpegangan pada tembok wastafel-nya. Ia hanya bisa memekikan tangisnya saat memandangi wajahnya sendiri, ia benar-benar tersiksa dengan semua ingatan yang muncul secara bersamaan di hati dan pikirannya.


Bayangan Raka yang sangat ia rindukan, bayangan Laras yang begitu ia benci, bayangan jika sang anak lahir tanpa seorang ayah dan tentu saja rasa kesakitan yang tengah menggerogoti hatinya.


“Re… ini gue.. boleh gue masuk?” suara Alea terdengar jelas di depan kamar Reva, mengetuk daun pintunya perlahan.


Reva segera membasuh wajahnya. Ia tidak ingin terlihat seperti ini di hadapan Alea.


“Masuk kak..” sahutnya sambil berjalan kembali ke tempat tidurnya.


Bayangan Alea muncul dari balik pintu dengan sebuah senyuman hangat. Ia membawa sepiring cookies dan segelas soda di atas baki. Dulu, Reva yang melakukan ini untuk sang kakak, kali ini Alea ingin melakukannya untuk sang adik.


“Gue sama mamih bikin cookies buat lo, cobain deh.” Alea menaruh makanannya di atas meja yang berada di balkon kamar Reva.


“Thanks kak..” sahutnya parau.


Reva duduk di samping Alea yang terhalang oleh meja. Ia terus memandangi Reva, banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya tapi entah ini waktu yang tepat atau tidak untuk ia tanyakan.


Reva mengambil salah satu cookies di hadapannya, kemudian memasukkannya ke mulut.


“Enak de?” tanya Alea dengan segera.


Reva hanya terangguk. Ia mengunyah makananya, tapi rasanya ia tidak begitu menikmati makanan di mulutnya. Pikirannya masih sangat berantakan. Dan melihat kue ini hanya semakin menyesakkan Reva karena membuatnya kembali mengingat Raka dan kesakitannya.


“De, are you okey?” tanya Alea dengan ragu.

__ADS_1


Pandangan Reva kini tertuju pada Alea. “Hem, I’m fine…” sahutnya.


Tapi tentu saja ia berbohong, walau ia terangguk dan tersenyum, lelehan air mata itu tetap menetes di wajahnya.


Kini Alea menatap Reva dalam. Reva mengusap air matanya dan berusaha untuk kembali tersenyum. “Realy, I’m fine kak.” Reva mengulang kalimatnya untuk meyakinkan Alea.


Alea hanya tersenyum. Ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. “Kalo lo capek, istirahatlah. Kalo lo lelah, coba untuk tidur. Kalo lo pengen nangis, ya nangis aja. Gag pa-pa kalo lo lagi gag baik-baik aja. Tapi jangan mutusin apa pun kalo lo lagi capek atau sedih, karena emosi itu cuma sementara tapi menyesal itu bisa selamanya.” Tutur Alea yang berusaha menenangkan Reva.


Reva tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Ia terisak di hadapan Alea. Air matanya berlinang tanpa permisi. Dengan segera Alea menghampiri Reva dan memeluknya dengan erat.


“Gue kesakitan kak…” lirih Reva dengan tangis yang pecah, membuat sudut hati Alea ikut meringis. Alea terangguk paham. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Reva dan mengusap punggung Reva dengan lembut. Ia ingin Reva tahu, bahwa ia tidak sendiri. Ada dirinya dan orang-orang di sampingnya yang peduli dengan perasaannya.


Untuk beberapa saat mereka saling berangkulan. Membiarkan waktu perlahan mengurangi rasa sakit di hati Reva seraya berharap, semua akan baik-baik saja.


****


Menjelang malam, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah Indra. Reva yang tidak begitu menikmati makanan di hadapannya, hanya memainkan nasinya dengan sendok.


Reva tersentak, rasanya ia belum siap untuk bertemu dengan Raka. Reva segera beranjak hendak pergi, namun ternyata Raka sudah ada di hadapannya.


Raka terlihat terengah dengan penampilan yang berantakan. Lingkaran mata yang menghitam dan baju yang lusuh. Terlihat sangat menyedihkan. Reva mengalihkan pandangannya dari Raka, karena tiba-tiba saja hatinya kembali meringis sakit. Dan tetesan air mata seolah menjadi penanda kesakitannya.


“Re, ini benar-benar kamu?” Raka segera mendekat menghampiri Reva. Namun Indra menghadangnya.


“Mau apa kamu?! Belum cukup kamu menyakiti putri saya hah?!” Mata Indra menyalak, rasanya api kemarahannya tiba-tiba saja kembali menyala.


“Pih, saya mohon, saya harus bicara sama reva. Saya harus menjelaskan banyak hal.” Ujar Raka tanpa memalingkan pandangannya dari Reva.


“Apalagi mau kamu, pergi sana, pergi!” teriak Indra seraya mendorong tubuh Raka hingga terhuyung jatuh di lantai.


“Pih!” Alea segera menghampiri Indra. Ia memegang tangan Indra dengan erat, seraya menatapnya lekat. “Pih, tolong jangan seperti ini. Raka itu suami reva..” Alea berusaha mengingatkan Indra yang sepertinya emosinya benar-benar sedang memuncak.


“Tapi dia sudah menyakiti anak papih! Papih gag bisa membiarkan dia lagi-lagi menyakiti reva!” teriak Indra.

__ADS_1


“Pih… Lea ngerti… Tapi kita gag punya hak untuk menghalangi mereka menyelesaikan masalahnya. Kalau reva emang gag mau, lea juga akan minta raka pulang. Tapi mereka tetap harus menyelesaikan masalahnya. Iya kan re?” kali ini pandangan Alea beralih pada Reva.


Saat bersama Reva tadi, Alea kerap mengingatkan agar jangan membiarkan masalahnya berlarut-larut, karena akan semakin banyak prasangka di antara mereka. Di hati kecil Alea, ia yakin Raka memiliki alasan. Ia mengenal benar sebesar apa Raka mencintai Reva. Ia tidak mungkin goyah hanya karena seorang Laras.


Reva hanya terdiam, seolah mengiyakan ucapan Alea. ia memang harus menyelesaikan masalahnya dengan Raka. Menunda semuanya bukan cara untuk bertahan tapi untuk memperlambat sebuah keputusan yang mungkin akan semakin menyiksa perasaan keduanya.


*****


Reva tengah berada di kamarnya bersama Raka. Ya, ia memutuskan untuk membicarakan masalahnya dengan Raka. Reva duduk di pinggiran tempat tidur, sementara Raka masih mematung di pintu kamar Reva. Ia menutup pintu dengan perlahan. Dalam beberapa saat ia berjalan menghampiri Reva dan bersimpuh di hadapannya.


“Sayang, kamu percaya kan sama mas. Mas gag ngelakuin apapun sama perempuan itu. Yang kamu lihat tidak seperti sebenarnya, mas bisa menjelaskannya.” Ujar Raka dengan penuh kesungguhan.


Melihat wajah Raka, kemarahannya kembali muncul. Reva berdiri dan menjauh dari Raka.


“Memangnya apa yang aku lihat dan apa yang menurut kamu tidak aku lihat mas? Penjelasan seperti apa yang mau kamu kasih?” Reva menatap raka dengan sinis. Raka hanya terpaku. Nyatanya pengakuan “Aku tidak melakukannya” tidak pernah cukup untuk Reva. Dan jika ia harus menjelaskannya, penjelasan seperti apa yang harus ia berikan sementara ia sendiri tidak mengingat apapun kejadian di malam itu.


Melihat Raka yang hanya terdiam, membuat kemarahan Reva semakin menjadi. “Kenapa? Kamu gag bisa jelasin?” kali ini Reva mendekat dan menatap Raka dengan penuh kebencian. “Apa kamu mau menjelaskan bahwa malam itu kamu merasa sangat bahagia, kalian menikmati suasananya. Kalian menikmati saat kalian sama-sama melenguh dan kalian juga menikmati setiap sensasi intim yang kalian lakukan? Itu kan yang mau kamu jelasin?! Itu kan yang kamu bilang aku gag ngeliat semuanya?!” teriak Reva.


“Nggak re! nggak seperti itu! Demi tuhan aku tidak melakukan hal seperti itu dengan wanita itu!” Raka ikut meninggikan suaranya. Ia memegangi kedua bahu Reva dan menatapnya dengan lekat. Matanya memerah dengan air mata yang mulai menetes. “Aku gag mungkin ngelakuin hal gila dengan wanita lain. Cuma ada kamu di hati dan pikiran aku. Aku mohon re, kamu percaya sama aku. Aku memang gag ingat apapun kejadian malam itu tapi aku yakin, aku gag menghianati kamu, karena cuma kamu yang aku cinta.” Tutur Raka dengan penuh penekanan.


Reva memalingkan wajahnya dari Raka. Ia mengusap kasar air mata yang tanpa henti terus menetes. Ia pun mengibaskan kedua tangan Raka dan berjalan mundur menjauhi Raka. Raka hanya bisa tertunduk dengan isakan yang sudah tidak bisa ia tahan.


“Aku perlu waktu. Hati aku terlalu sakit mas.” Lirih Reva seraya membalik tubuhnya membelakangi Raka.


Raka kembali terpaku, rasanya tenaganya sudah terkuras habis.


“Aku gag tau, apa lagi yang harus aku lakukan untuk meyakinkan kamu. Aku hanya bisa bersumpah, aku yakin aku tidak melakukan apapun dengan wanita itu.”  Tandas Raka.


Reva hanya terdiam dengan tangis yang belum reda. Entah mana yang harus ia percaya, Raka, kata hatinya atau logikanya. Bahkan setan dalam hatinya ikut bicara “Bukankah adrian pun mengatakan hanya mencintai kamu saat ia melakukannya dengan wanita pilihannya?”


Tidak, ia tidak ingin memutuskannya sekarang. Ia masih perlu waktu, waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri.


****

__ADS_1


__ADS_2