Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 155


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Alea dengan wajah dinginnya tampak fokus melihat jalanan. Ia mengendallikan kemudinya dengan lincah. Beberapa kali ia menyalip kendaraan di depannya tapi tak lantas membuat Reva protes. Ia hanya ingin segera sampai ke kantor Raka dan menemui Fery.


“Kak, soal gue sama kak fery…” Reva menggantung kalimatnya seraya melirik Alea.


“Gue gag butuh penjelasan lo.” Sahutnya yang membuat Reva kemballi bungkam.


Hening seketika mengambil alih suasana. Selama menuju kantor Adiyaksa tidak ada percakan apa pun antara kaka beradik tersebut.


“BRAK!!!” Alea membuka pintu ruangan Fery dengan kasar membuat sang empunya terperanjat.


“Lea? Reva?” ujar Fery yang masih terkejut.


Tak di sangka, Raka pun melihat kedatangan Reva dan Alea. Ia segera masuk ke ruangan Fery.


“Ada apa ini?” tanya Raka yang kebingungan. Raka menatap Reva namun Reva memalingkan wajahnya.


“Siapa laras?!” tanya Alea pada Fery.


“Hah, laras?” seketika wajah Fery terlihat seperti orang bodoh. Ia celingukan  tak jelas seperti meminta bantuan untuk menjawab. “Dia yang jebak raka kan?” Fery balik bertanya.


“Siapa laras?” Alea kembali mengulang pertanyaannya seraya berjalan mendekat pada Fery.


Fery segera menjauh dari kursi kerjanya dan mendekati Alea.


“Lea ini ada pa sih?” lagi Fery bertanya dengan kebingungan. “Ya laras itu temen SMA gue. Dia aktif di OSIS terus dia minta nomor hp gue buat ngabarain kalo reuninan nantinya.” Terang Fery seraya mencari jawaban dari Reva, Namun Reva hanya menggeleng kemudian tertunduk. Ia mengusap dahinya yang tiba-tiba terasa gatal.


“SIAPA LARAS?!!” akhirnya Alea berteriak.


“Dia mantan pacar gue!” sahut Fery yang refleks menjawab. Rasanya ia sudah tidak bisa lagi menghindar dari pertanyaan dan tatapan Alea.


Mata Raka membulat seketika.

__ADS_1


“Kenapa lo gag bilang hah? Kenapa?” tanya Alea dengan tune suara lebih rendah namun dari tatapannya Fery bisa melihat kemarahan Alea.


“Lea, sory… bukan maksud gue gag cerita tapi…”


Alea mengabaikan penjelasan Fery begitu saja. Ia segera pergi meninggalkan seisi ruangan tanpa mengatakan apapun. Mungkin ini yang membuat Alea merasa tak asing dengan sosok Laras. Terang saja, Fery pernah sangat memamerkan gadis pujaannya ini di akun media sosialnya walau saat ini sudah kembali ia hapus.


“Lea tunggu…” Fery segera mengejar Alea dan menghadangnya. “Lea, dengerin dulu penjelasan gue. Gue mohon lea…” Fery benar-benar merajuk dengan penuh kesungguhan.


“Tinggalin gue sendiri.” Pinta Alea tanpa menatap Fery.


“Tapi lea, gue…”


“Tinggalin gue sekarang atau lo gag usah muncul lagi depan gue selamanya!” seru Alea yang membuat nyali Fery menciut seketika.


Fery hanya tertunduk. Rasanya mencoba berbicara dengan Alea saat ini, hanya akan membuat suasana semakin panas. Dengan berat hati, ia membiarkan Alea pergi tanpa sepatah kata pun.


Alea benar-benar pergi. Fery hanya bisa memandangi Alea yang perlahan semakin menjauh. Ia mengacak rambutnya frustasi, ia menyesal sedalam-dalamnya.


*****


Mengingat nama Laras, kembali membawa Fery pada kejadian beberapa tahun silam. Ya, Laras pernah memiliki banyak cerita dengannya, hanya saja ia tidak ingin siapapun tahu, termasuk Raka.


Kembali, Fery duduk sendirian di balik kemudinya saat ia menunggu Laras yang katanya sedang menikmati me time-nya bersama para sahabatnya. Selalu seperti ini, 5 tahun berpacaran, Fery selalu hanya menjadi persinggahan Laras yang kadang tidak menganggapnya ada.


Benar, 5 tahun sudah mereka menjalin hubungan. Namun selama itu pula, Fery tidak pernah merasa memiliki arti penting bagi Laras dan  tidak pernah benar-benar berada pada posisinya sebagai kekasih Laras. Laras hanya menganggapnya ada saat Laras memang membutuhkannya dan teman di kala sepi. Di luar itu, Laras lebih suka bepergian bersama temannya dan Fery hanya berperan sebagai “Body guard” atau “Orang suruhan” yang mengantar kemana pun Laras mau. Tidak ada yang tahu hubungan Laras dan Fery bahkan sahabat dekatnya sekalipun, terlebih orang tuanya.


“Fer, aku sayang sama kamu. Aku gag bisa kehilangan kamu, tapi kamu tau kan, dady belum ngasih aku izin buat pacaran. Jadi maaf, untuk sementara kita hanya bisa seperti ini.” Selalu, itulah alasan yang kerap di lontarkan Laras.


Fery sangat mencintai Laras kala itu, semuanya ia lakukan demi untuk selalu berada di dekat Laras. Tapi rasanya, kali ini ia mulai goyah, setelah ia mengenal sosok **** girl yang ia tahu dari teman-temannya.


Mengingat Reva, membuat sudut hati Fery tersenyum. Memandangi wajah damai itu, yang dalam ekspresi apa pun, cukup membuat dirinya merasa nyaman.

__ADS_1


Ini kali pertama Fery “Kencan” dengan Reva. Setelah drama penolakan berkali-kali karena Reva tengah sibuk dengan ujian tengah semesternya, akhirnya Fery mendapatkan kesempatan untuk bersama gadis ini. Reva yang selesai ujian semester, Fery yang kegirangan karena bisa pergi dengan Reva. Sebenarnya Ia tidak berniat untuk bermain hati, karena hanya Laras yang ada di hatinya. Tapi kali ini saja, ia ingin sedikit bermain-main dengan gadis yang banyak di puja para kumbang. Ia ingin tahu sensasinya, ia ingin tahu seperi apa sosok Reva yang membuatnya penasaran.


“Hay re!” seru Fery saat melihat Reva yang tampak berdiri di depan kampus menunggu kendaraan umum lewat. Reva tampak kebingungan, ya Reva memang tidak mengenal Fery walau mereka satu kampus. “Gue fery.” Fery mengulurkan tangannya.


“Oh hay, gue reva.” Terlihat senyum tipis di wajah yaang tetap terlihat cantik meski tanpa riasan.


“Ujian semesternya udah selesai ya?” Fery menunjuk buku yang di bawa Reva di tangannya.


“Oh iya, baru aja selesai. Em.. bukannya kita janjian satu jam lagi ya?” Reva melihat jam di tangannya.


“Iya, tapi kebetulan gue juga ada urusan di kampus dan kebetulan gue liat lo, lo gag masalah kan gue nyamperin sekarang?” tanya Fery.


Reva menggeleng seraya tersenyum. “Gag pa-pa, cuma tampilan gue masih kayak gini.” Cetus Reva seraya terkekeh.


Siang itu Reva memang terlihat tomboy dengan mengenakan kaos bergaris hitam lengan panjang dan celana hitam. Rambutnya ia ikat ekor kuda dengan poni yang menutupi dahinya. Di punggungnya ia membawa tas punggung yang kerap ia bawa kemanapun dan kakinya terbungkus sepatu cats. Sangat sederhana, namun manis.


“Gag masalah, gue nyaman-nyaman aja liat lo kayak gini.” Sahut Fery. Biasanya Reva memang akan bertanya, kumbang ingin ia tampil seperti apa, tapi tampilannya kali ini sepertinya cukup nyaman di pandang Fery. “Gimana, bisa jalan sekarang? Gue beli juga deh waktu lo yang satu jam.” Imbuh Fery seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya, pesona Reva telah membuatnya salah tingkah, terlebih ketika sepasang mata itu fokus menatapnya dengan hangat, sangat berbeda dari lawan bicara wanitanya yang lain.


“Wah, duit lo banyak banget bisa beli waktu yaaa, jangan lupa, gag semua hal bisa lo beli pake uang…” timpal Reva sambil terkekeh. Fery ikut tertawa, mengingat perntayaan bodohnya “Okey, mau gue temenin kemana fer?” lanjut Reva setelah memasukkan semua bukunya ke dalam tas.


“Temenin gue makan siang, gimana?” tawar Fery.


“Gag masalah, kebetulan gue juga laper.” Reva berbicara dengan santai. Ia tidak terlihat jaga image seperti halnya beberapa gadis yang pernah ia dekati.


“Okey, yuk!”


Fery mengajak Reva menuju tempat ia memarkirkan motor sportnya. Ia memakai helmnya kemudian memakaikan helm milik Reva. “Berperanlah sebagai gebetan gue kali ini.” Pinta Fery seperti halnya permintaan yang biasa di sampaikan oleh kumbang lainnya. Reva hanya terangguk, maka untuk beberapa jam ke depan, ia akan menjadi gebetan Fery.


*****


 

__ADS_1


Kita flash back dulu yaaa.... Happy reading semua... Love


__ADS_2