Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 21


__ADS_3

Di tempat lain, Reva tengah memandangi handphonenya dengan serius. Sebuah senyuman tipis tergambar jelas di bibirnya. Jemarinya tampak lincah menscroll satu per satu pesan yang di kirim Raka.


“Kenapa aku bisa seterbuka ini sama kamu Raka?” gumam Reva yang seolah tidak mengenali dirinya sendiri.


Seperti prinsipnya, ia akan lebih banyak mendengar daripada bercerita, ia lebih banyak mencoba mengerti daripada di mengerti namun ia lebih banyak di nilai  orang lain tanpa pernah berani menilai orang lain.


Tapi kali ini semua berbeda, barisan kalimat terlontar begitu saja saat ia berbicara dengan Raka. Tidak ada rasa sungkan atau canggung sama sekali. Bercerita, kini jadi kebiasaan barunya, namun tidak dengan 2 hal lainnya.


“Ting!”


Sebuah pesan masuk di layar persegi yang di genggam Reva. Garis bibirnya kembali melengkungkan sebuah senyuman.


“Udah tidur?” tanya Raka. Reva membayangkan ekspresi dingin yang diperlihatkan Raka seperti saat berbicara dengan orang lain. Entah mengapa begitu lucu dalam pikirnya.


“Belum” Reva memberi emoji wajah penat di pesannya.


“Tidurlah, besok kesiangan lagi.”


“Heemm... Gue lebih bisa bangun pagi di banding tidur cepet.”


Reva memijat pangkal hidungnya yang terasa penat. Ia mencoba membaringkan tubuhnya seraya memeluk guling.


“Kalo gitu, bangunin gue biar gag kesiangan.”


“Manja!! Males!!”


Reva tersenyum sendiri dengan pesan yang dikirimnya.


“Besok gue jemput ya”


“Hemm.. nite.”


“Yes!”


Raka melonjak gembira. Handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya terbang entah kemana. Ia menari menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri dengan bibir yang melantunkan suitan lagu cinta.


Sementara Reva, ia memilih menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut. Ia terkekeh sendiri membayangkan hari esok. Bayangan wajah Raka terlihat dengan jelas di matanya.


“Astaga, gue mulai gila!” batinnya.


****


 


Pagi ini, Reva sudah terlihat rapi. Dengan mulut terisi roti bakar, ia memasukkan kakinya ke steleto 7 cm miliknya. Rambut sebahunya ia ikat tinggi-tinggi agar terlihat rapi.


Setelah menelan paksa roti bakar di mulutnya, Reva meneguk habis susu coklat yang ia buat, perutnya sekarang sudah terisi dengan cukup. Barang yang akan di bawa, telah ia masukan semua ke dalam tas. Ia segera keluar dari kamarnya.


“Astaga!”


Jantung Reva hampir melorot saat ia melihat sosok yang ia kenal tengah menyandar di samping pintu kamarnya. Senyuman khas milik laki-laki tampan itu menyapa Reva pagi ini.


“Pagi…” sapa Raka yang tidak peduli dengan Reva yang masih terpaku dengan wajah kagetnya. “Yuk berangkat!” sambungnya yang mulai berjalan di depan Reva.


Reva hanya menggelengkan kepala, ia masih tidak habis pikir dengan Raka yang katanya tidak bisa bangun pagi. Reva mengikuti langkah Raka yang hanya berjarak beberapa senti saja di depannya.

__ADS_1


Di kejauhan terlihat mobil Raka yang sudah terparkir dengan rapi. Ia membukakan pintu untuk Reva dan mempersilakannya masuk. Reva hanya memandangi Raka dan menurut saja untuk duduk di kursi sebelah kanan miliknya.


Raka mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melirik Reva yang tengah memandangi handphonenya.


“Ya Jer…” jawab Reva saat benda persegi di tangannya berdering. “Iya, gue mulai magang di Adiyaksa Corp. Okey, sepulang gue kerja. Ya, bye.” Lanjut Reva yang kembali meletakkan handphonenya di dalam tasnya.


“Jeremy?” tanya Raka dengan dingin.


“Hem…” Reva menoleh Raka yang terlihat fokus menatap jalanan. “Dia ngajak ketemu nanti sore, katanya ada hal penting.” Terang Reva yang kembali ikut menatap jalanan.


Tidak ada sahutan apapun dari Raka, hanya sebuah dengusan nafas kasar yang membuat Reva menoleh dan menatap sejenak sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada pertokoan di pinggir jalan. Entah apa alasannya hingga ia harus menjelaskan rencana pertemuannya pada Raka.


****


“Oh, kalian udah dateng?” sapa seorang wanita yang masuk ke ruangan tempat Reva dan ketiga anak magang lainnya berkumpul.


“Selamat pagi…” sahut keempatnya bersamaan.


“Pagi.. duduklah…”


Wanita yang mereka kenal sebagai Lenna saat wawancara tengah duduk di hadapan mereka. Ia membagikan sebuah map pada masing-masing.


“Kalian sudah berkenalan kan?” tanyanya sambil menatap satu persatu siswa magang.


“Sudah.” Lagi-lagi bersamaan keempatnya menjawab.


“Okey, itu tugas kalian selama kalian magang. Silakan untuk di pelajari dan ini,” Lenna kembali menyodorkan sebuah berkas. “Raka, kamu saya pilih sebagai ketua timnya, kamu pelajari ini dan sampaikan dengan baik ke temen-temen kamu. Sore ini, saya minta laporannya.” Imbuh Lenna seraya tersenyum.


“Hem…” sahut Raka tanpa menatap Lenna.


Lenna hanya tersenyum melihat reaksi keduanya. “Ehem!” Lenna berdehem untuk mengurangi groginya berhadapan dengan 4 siswa magang, lebih tepatnya mungkin dengan Raka yang begitu memancarkan auranya. “Silakan mulai kerjakan tugas kalian, saya tunggu reportnya sore ini.” Tukas Lenna yang di akhiri dengan senyum titpis dan berlalu pergi.


Raka tampak serius membolak-balik kertas di tangannya. Reva ikut mengintip  apa yang di baca Raka tapi sumpah demi apapun, ia tidak mengerti. Semuanya istilah bisnis dan berbahasa inggris.


Selesai dengan apa yang ia baca, Raka mulai mencoba menjelaskan tugasnya pada ketiga teman magangnya. Penjelasannya sangat menarik dan mudah di mengerti. Raka yang biasa Reva lihat sangat berbeda dengan Raka yang saat ini berbicara di hadapannya. Sebuah spidol hitam di tangannya menjadi teman Raka menjelaskan tugas mereka.


Untuk sejenak, ia menikmati setiap ekspresi serius dan gerak bibir tipis Raka yang terlihat begitu bersinergi.


“Apa ini Raka yang lain, yang belum gue kenal?” batin Reva.


Selama ia kenal dengan Raka, ia hanya mengetahui seorang Raka yang baik, pendiam dan sedikit kaku. Ia belum pernah melihat Raka yang begitu banyak bicara dengan penuh kharisma seperti saat ini.


Ia merasa, selama ini ia begitu egois. Hanya dia yang selalu mendominasi pembicaraan setiap kali bersama Raka dan Raka hanya sebagai pendengar setia. Kali ini, Reva merasa bahwa semuanya benar-benar mulai berubah.


****


Sesuai hasil pembagian pekerjaan yang dilakukan Raka, di sinilah saat ini Reva bekerja. Tempat yang tidak asing dengan tugas yang baru.


Reva dan Raka bertugas untuk promosi sebuah cluster perumahan elit di pameran. Beberapa maket berada di hadapannya.


Reva menggelengkan kepalanya saat melihat beberapa Maket yang telah di susun dengan baik.


“Raka, kita jualan rumah?” tanya Reva dengan tatapan polosnya. Raka hanya mengangguk sambil tersenyum. Reva mengerjap tidak percaya.


“Kenapa? Biasanya lo semangat.” Tanya Raka sambil memindahkan beberapa Maket ke tempat yang lebih menarik.

__ADS_1


“Siapa yang mau beli rumah dengan harga M begini? Zamannya kan lagi sulit …” gumam Reva yang tidak yakin.


“Ctak!” Raka menyentil dahi Reva dengan sengaja.


"Sakit tauuu" Reva mengaduh dan refleks memukul bahu Raka. Raka malah terkekeh melihat respon Reva.


“Yang pertama dilakukan oleh bagian promosi itu adalah meyakinkan diri sendiri dulu bahwa produknya bagus dan akan di beli orang. Bukan minderan kayak lo!”


“Tapi gue gag ngerti dunia properti. Mana bisa gue jualan.”


“Bukannya lo jago promosiin barang, masa yang beginian lo nyerah.” Ledek Raka yang kembali merapikan Maket yang menurutnya tidak terletak dengan sempurna.


Reva ikut memperhatikan gerakan tangan Raka. “Ya udah, lo jelasin dulu dunia properti kayak gini. Baru gue promosiin.” Sengit Reva.


Raka mulai duduk di hadapan Reva. Ia menjelaskan secara detail produk yang akan mereka tawarkan. Satu per satu maket di tunjuk Raka dengan penjelasan yang terperinci. Reva menyimaknya dengan serius.


“Gimana, ngerti?” tanya Raka seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Reva dan menatapnya dengan lekat.


Entah mengapa, melihat Raka dengan jarak sedekat ini membuat jantung Reva bertalu tidak menentu. Sorot mata elang itu, rasanya nyaris mencabik rongga dadanya.


Bola mata Reva bergerak ke kanan dan kekiri lalu mengerjap dengan perlahan. Ia segera bangkit dan menyadarkan dirinya.


“Lo keren! Gag salah kuliah di luar negri.” Cetus Reva seraya menepuk-nepuk bahu Raka. Ia menghembuskan nafasnya kasar, tiba-tiba saja tubuhnya merasa gerah.


Raka hanya tersenyum. Baru kali ini ia merasa Reva fokus pada pribadinya, bukan hanya pada isi pembicaraannya. Ia memperhatikan Reva yang berjalan ke sana kemari dengan tangan tersilang di depan dada.


Ia berjalan ke depan stan, kemudian mengernyitkan dahinya dan menggigit bibirnya sendiri. Sepertinya ia sedang berfikir keras.


“Kayaknya, ini bagusnya di pindah ke sini deh…” tunjuk Reva pada sebuah maket cluster.


Raka menghampiri Reva dan mengikuti  arah pandang Reva. Ia terangguk sejenak lalu mengikuti semua permintaan Reva. Mereka memindahkan satu per satu maket ke sudut yang di rasa lebih baik. Semua berlangsung cepat dan kini semua terlihat lebih baik.


“PAK!” keduanya melakukan tos dengan diikuti senyum penuh kebanggaan saat mereka merasa puas dengan apa yang mereka lakukan.


Berbekal ilmu dari Raka, Reva mulai melakukan pekerjaannya. Orang-orang yang melintas di depan stan nya, ia tawari satu per satu. Ada yang acuh saja, ada yang hanya menerima selebaran yang Reva berikan tapi ada beberapa juga yang bersedia masuk walau hanya untuk melihat-lihat saja.


Reva mendenguskan nafasnya dengan kasar. Ternyata ia tidak bisa menawarkan produknya dengan cara yang sangat formal seperti yang diajarkan Raka. Reva memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri lalu membuka ikatan rambutnya agar tergerai dengan indah. Jemarinya saling memilin dan berbunyi bersamaan, ia sudah siap untuk berperang.


“Silakan mas, mba, bapak dan ibu, mampir ke stan kami. Disini kami menawarkan sebuah rumah yang berlokasi tidak jauh dari pintu keluar tol. Hanya dalam 5 menit saja, kalian bisa sampai di rumah dan berkumpul dengan keluarga. Harga yang kami tawarkanpun sangat fleksible, jadi tunggu apa lagi, silakan mampir…” cerocos Reva yang membuat beberapa orang mengalihkan pandangan padanya.


Pengunjung mulai berdatangan, melihat satu per satu maket yang di tawarkan Reva dan Raka. Raka tersenyum bangga dengan apa yang Reva lakukan. Namun hal tersebut tidak lantas merubah air muka Raka yang kaku dan dingin. Reva menggeleng tidak percaya saat beberapa orang bertanya dan Raka menanggapinya dengan dingin.


Setelah pengunjung mulai sepi, Reva menghampiri Raka yang terlihat kelelahan karena banyak bicara.


“Sini…”


Reva menarik tangan Raka dan berdiri menghadapnya. Ia menangkup wajah Raka, membuat matanya terbelalak sempurna. Hangatnya sentuhan tangan Reva mengalirkan  sebuah rasa yang membuat jantung Raka berdegub kencang. Reva pun menyentuh bibir Raka dengan lembut.


“Re, jangan disini…” bisik Raka yang tidak karuan.


"Apanya yang jangan di sini? Ya harus di sini laaahh…” sahut Reva dengan serius membuat jantung Raka benar-benar akan copot. Reva menyentuh kedua sudut bibir Raka dengan jemarinya. Ia melebarkan jemarinya dan membuat garis bibir Raka melengkung.


“Nah, senyum dikit kayak gini, jangan kaku kayak maneken.” Cetus Reva dengan tatapan seriusnya dan senyum manisnya.


Raka hanya terdiam, ia mengerjap tidak percaya. Setelah yakin dengan garis senyum Raka, Reva segera melepaskan tangannya karena detak jantungnya mulai tidak terkendali melihat sorot tajam kedua mata Raka. Ia pun berlalu dengan senyum canggung yang terarah pada Raka yang masih mematung.

__ADS_1


****


__ADS_2