
Hari-hari berlalu, Reva semakin mumpuni dalam pekerjaannya. Ia mencurahkan semua pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan mimpinya bersama Alea. Hampir setiap hari Reva mengunjungi Alea. Mereka berbagi cerita, tertawa bersama dan menuliskan banyak harapan saat Alea pulang nanti. Mereka semakin dekat. Benar kata Raka, darah lebih kental dari air.
Nyatanya, tidak hanya Reva yang mengharapkan Alea untuk segera pulang. Nida dan Indra bahkan Fery , Niken, Wira dan Raka bergantian mengunjungi Alea. Rasanya Alea tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian.
Seperti saat ini. Siang-siang Fery mengunjungi Alea dengan membawa 4 cup es krim rasa strawbery favorit Alea. Mereka tidak banyak bicara, mereka fokus menikmati es krim di tangan masing-masing sambil sesekali saling lirik dan melempar senyum. Seperti ini lah cara Fery menghabiskan waktu dengan Alea. Saat ia dipusingkan dengan banyaknya pekerjaan, ia akan me-refresh pikirannya dengan menemui Alea.
Hanya 30 menit waktu yang mereka habiskan untuk berbincang atau sekedar menikmati makanan bersama. Namun di balik itu, satu sama lain sudah merasakan kenyamanan. Adanya Fery bisa membuat Alea yang kaku mulai tersenyum. Terkadang ia tertawa, seperti saat bersama Reva.
“Pak, ini buat bapak.” Ujar Fery seraya menyodorkan 1 cup es krim pada petugas lapas yang sedang mengawasi mereka.
“Oh maaf saya gag bisa terima. Silakan kalian lanjutkan.” Tutur petugas itu yang menolak dengan halus. Ia memang di larang menerima apapun dari pengunjung.
“Ini es krim doang pak, bukan sogokan. Toh saya juga gag akan minta perpanjangan waktu buat ketemu temen saya.” Fery bersikukuh menyerahkan es krim di tangannya.
Lagi petugas lapas pun hanya menggeleng.
“Gini deh, bapak udah menikah atau punya anak? Maaf nih kalau saya kurang sopan.” Fery meneruskan aksinya.
“Iya, saya punya anak umur 7 tahun.” Jawab petugas tersebut yang tampak tersenyum saat mengingat anaknya.
“Gini deh, saya titip es krim ini buat anak bapak. Lagi pula temen saya kan gag ada kulkas di ruangannya, jadi nanti malah mencair es krimnya. Makanya saya titip bapak buat di kasih ke anak bapak.”
Bukan Fery namanya kalo Negosiation skill nya gagal. Dan benar saja, akhirnya petugas itupun menerima es krim dari Fery tentunya setelah dapat izin dari atasannya.
Alea terkekeh melihat tingkah Fery yang menurutnya ajaib. Pandangan Fery pun teralih pada gadis yang tengah terkekeh tersebut. Ternyata Alea terlihat lebih cantik saat ia tertawa. Fery pun ikut tersenyum. Jantungnya berdenyut lembut saat tatapan mereka saling bertemu.
Tak lama, tangan Fery terangkat mendekati wajah Alea. ia mengusap sisa es krim di dekat bibir Alea. Alea hanya terpaku. Usapan tangan Fery benar-benar lembut.
“Lo masih aja ceroboh kayak dulu, tuan putri.” Ujar Fery dengan panggilan yang biasa ia gunakan untuk Alea. tersungging senyum tipis di bibir Fery.
Dengan segera Alea memalingkan wajahnya. Ia merasa tiba-tiba saja jantungnya berdebar sangat kencang terlebih saat Fery menatapnya dalam. Ia segera beranjak hendak meninggalkan Fery.
“Lea, mau kemana? Masih 8 menit lagi.” Ujar Fery seraya menahan tangan Alea.
“Emm sory, gue ada janji mau ikut belajar ngerangkai bunga.” Jawab Alea sekenanya. Ia berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya dan rasa gugup di dadanya.
__ADS_1
“Tapi…”
“Sory fer, kita ketemu lain kali.” Sanggah Alea seraya melambaikan tangan. Ia segera meninggalkan Fery yang masih mematung.
Dan Fery, hanya tersenyum kecil melihat Alea berlalu. Alea yang salah tingkah ternyata sangat lucu menurutnya.
“Lea, gue akan selalu nunggu lo. Lo harus baik-baik aja, sampe waktu untuk kita tiba.” Batin fery.
****
Handphone Reva tampak menyala dengan bunyi notifikasi khusus. Ia yang sedang serius membaca berkas, segera meraih benda pipih di hadapannya. Bibirnya tersenyum saat melihat barisan text yang dikirim Raka.
“Sayang, makan siang yuk. Aku jemput ya….” Tulis Raka yang di akhiri emoticon smile di akhir kalimatnya.
Reva menoleh jam dinding di ruangannya, benar saja ini sudah waktunya mengisi kembali energi.
“Okey,,, aku tunggu mas.. hati-hati di jalan yaa…” balas Reva dengan sebuah voice note. Ia tersenyum sendiri, mengingat Raka selalu membuat hatinya berbunga-bunga.
Reva menaruh handphonenya dan kembali dengan pekerjaannya sambil menunggu Raka menjemputnya.
Raka tidak ingin membuat gadisnya menunggu lebih lama, ia segera mengambil kunci mobil dan bergegas menjemput Reva. Seperti biasa dari mulutnya terdengar lirih lagu cinta yang sedang ia nyanyikan.
Cukup 15 menit, sudah membawa Raka melihat sosok kekasihnya yang sedang menunggu di lobby kantornya. Reva tampak tersenyum dan segera menghampiri Raka.
“Hay mas…” sapanya dengan lembut.
“Hay sayang, yuk!” sahut Raka seraya membukakan pintu mobil untuk Reva.
Reva tersenyum tipis, setiap perhatian kecil Raka selalu membuatnya merasakan kebahagiaan. Ia segera naik ke mobil dan di susul Raka yang kini duduk di sampingnya.
“Gimana hari ini?” tanya Raka saat mulai melajukan kendaraannya.
“Hem… hari ini lancar… Dalam beberapa hari, aku harus ketemu direksi buat presentasi proyek ini mas.” Terang Reva seraya menoleh Raka.
Raka tersenyum tipis, ia meraih tangan Reva dan menggenggamnya dengan erat. “Aku yakin kamu bisa meyakinkan mereka re..” sahut Raka seraya mengecup lembut tangan Reva.
__ADS_1
“Makasih mas… Dukungan kamu berarti banget buat aku.” Timpal Reva yang semakin mengeratkan genggaman tangan Raka.
Mereka menikmati perjalanan menuju tempat makan. Raka memilih resto tempat Niken dan Reva bertemu pertama kali. Mereka memilih beberapa menu, tentu saja dengan nasi. Mereka menikmati makan siangnya dengan hangat.
“Sayang, kita camping atau hiking lagi yuk…” ajak Raka di sela makan siangnya.
“Kapan mas?” Reva terlihat antusias, mendengar dua kata tersebut di sebut Raka.
“Yaaa sabtu minggu sekarang juga bisa. Kebetulan aku juga gag lagi ada rencana kemana-mana.” Raka menyuapkan kembali makanan kemulutnya menunggu respon Reva.
Reva tampak terdiam. Ajakan camping dan hiking memang selalu sangat menggiurkan bagi Reva, apalagi kalau Raka yang mengajaknya. Tapi kali ini Reva menggelengkan kepala, membuat perhatian Raka tertuju padanya.
“Kenapa sayang? Jangan bilang kamu ada kerjaan lagi akhir pekan ini?” terka Raka yang tidak di respon apapun oleh Reva. Ia hanya terpaku sambil menggigit sendok makannya. “Ayolah re… Belakangan ini kamu sibuk banget. Kamu perlu sesekali bersenang-senang menikmati hobi kamu.” Protes Raka yang berusaha membaca air muka Reva.
Namun Reva malah tersenyum. “Mas tau, kenapa dulu aku suka camping atau hiking?” Reva kini balik bertanya.
Raka hanya menggeleng, ia tidak tahu tepatnya apa alasan Reva menyukai 2 hobi yang berbaur dengan alam tersebut.
“Aku selalu merasa, saat aku merasakan kegundahan, alam bisa memberi aku ketenangan. Aku juga merasa saat aku merasa kesepian, alam menghiburku dengan belaian lembut angin yang menyejukkan atau gemericik air yang terasa seperti nemenin aku yang sendirian. Tapi, rasanya itu gag terlalu aku butuhin lagi. Ada kamu di samping aku, bisa bikin aku mendapatkan keduanya.” Terang Reva yang tersenyum di akhir kalimatnya.
Raka memandang Reva dalam, membuat Reva salah tingkah karena jantungnya yang berdetak tak terkendali. Raka selalu bisa membuat hatinya merasakan beragam jenis perasaan. Dan yang pasti, ia bahagia.
Raka mencondongkan tubuhnya pada Reva. Ia menatap Reva dengan lekat. Ada segaris senyum di wajahnya.
“Haiiissshhh belakangan ini kamu makin manis aja sih. Bikin aku gag bisa nunggu terlalu lama lagi.” Tutur Raka yang berbisik di akhir kalimatnya.
“Iihhh mas raka apaan sih?!” Reva segera memalingkan wajahnya agar tidak bersi tatap dengan Raka. Ia bisa merasakan wajahnya yang menghangat dan memerah.
“Kenapa? Kamu juga ngerasain hal yang sama?” goda Raka dengan senyuman tampannya.
“Apa sih kamuuu…” Reva mencubit lengan Raka dengan gemas dan Raka mengaduh manja.
Ya begitulah suasana makan siang kali ini. Mereka lupa, bahwa ada mahluk lain yang juga bernafas di sekitarnya dan melihat tingkah mereka.
******
__ADS_1