
Reva mulai bisa memfokuskan pikirannya. Setelah muntah 2 kali perutnya terasa lebih baik. Raka dengan setia menunggu di sampingnya membantu Reva memijat tengkuknya dan memberinya minum.
Tubuh Reva benar-benar lemas. Raka membawa Reva masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya dengan hati-hati. Ia pun memasangkan sit belt melingkari pinggang Reva dan segera duduk di belakang kemudi.
“Sayang, kita pulang yaa…” ujar Raka seraya mengusap rambut Reva.
Reva hanya terangguk. Sepanjang perjalanan Raka menggenggam tangan Reva namun Reva terus melihat keluar jendela. Dari pantulan kaca, Raka bisa melihat dengan jelas linangan air mata di wajah Reva yang ia coba sembunyikan.
Sikap Alea hari ini seolah mempertegas jarak yang sangat jauh antara ia dengan Alea. Reva masih harus sangat bersabar, menghadapi setiap sikap Alea dan membuktikan bahwa ia peduli dengan kakaknya. Ia tidak ingin kehadirannya justru menjadi awal kehancuran keluarga Wijaya.
“Aku akan bicara sama alea tentang semuanya…” Ujar Raka yang seolah memahami isi pikiran Reva.
Reva segera menghapus air matanya kemudian menoleh laki-laki yang tengah menatap jalanan dengan wajah dinginnya.
“Mas, ini masalah di keluargaku, aku sendiri yang harus menyelesaikannya.” Tegas Reva.
Kali ini Raka menoleh. Ia menatap wajah pucat gadisnya dengan sisa air mata di sudut matanya. Raka tau, pendirian Reva tentang keluarganya tidak bisa ia debat begitu saja.
“Kami kakak beradik, bukankah akan selalu ada tali kasih walau ditutupi kemarahan?” lanjut Reva seraya mengeratkan genggamannya. Ia sangat butuh pengertian Raka saat ini, ia butuh dukungannya.
Raka hanya terdiam, mungkin memang hanya Reva-lah yang bisa menyelesaikan masalahnya.
Di kediaman Wijaya, alea tengah di introgasi. Indra berkacak pinggang dengan tatapan penuh kemarahan.
“Gimana bisa kamu pulang lebih dulu dan kamu tinggalin adik kamu sama temen-temen kamu yang gag jelas itu?!” teriak Indra dari dalam rumah.
Alea tidak menjawab sedikitpun pertanyaan Indra.
Terdengar derap langkah Reva bersama Raka. Ia berjalan dengan cepat menghampiri Indra yang terlihat sedang menumpahkan amarahnya pada Alea.
“Pih…” ujar Reva.
Pandangan Indra dan Nida juga Alea tertuju pada Reva dan Raka. Raka hanya mengangguk memberi sapaan pada calon mertuanya.
“Sayang… kamu bikin mamih cemas… Kenapa gag pulang bareng lea?” ujar Nida yang segera memeluk Reva.
Reva melihat Alea tengah menatapnya dengan dingin.
“Tadi, aku memang minta kak lea pulang duluan…” lirih Reva dengan ragu.
Terdengar decikan sebal dari Alea.
“Sekarang papih sama mamih udah senang kan, anak kesayangannya pulang dengan selamat dan di antar calon suaminya?” ujar Alea dengan nada menyindir.
“Alea, kamu…” teriak Indra yang nyaris mengangkat tangannya namun Nida segera menahannya.
Tangan Indra masih mengepal kuat. Amarahnya belum benar-benar reda.
“Maaf pih, harusnya tadi aku ngasih tau mamih atau papih kalau pulang terlambat tapi handphoneku mati.” Ujar Reva dengan alasan klise yang dibuat-buatnya.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas kasar Indra. Kini perhatiannya beralih pada wajah pucat Reva, ia tidak tega kalau harus melampiaskan amarahnya pada putri bungsunya.
“Ya udah, sekarang kamu masuk. Jangan diulangi lagi.” Tandas Indra yang mulai mereda emosinya.
Reva hanya terangguk dan menuruti perintah Indra. Raka-pun segera pamit untuk pulang.
****
Belum hilang rasa kesal Raka saat mengingat kejadian di club tadi. Reva nyaris hilang kesadarannya dan entah apa yang akan terjadi jika beberapa menit saja Raka terlambat datang di club tadi.
Raka memijat pelipis kanannya yang terasa pening. Ia tidak pernah menyangka Alea akan setega itu memperlakukan adiknya dan lebih tidak habis pikir karena Reva masih melindunginya dari kemarahan Indra. Padahal ia tau, seberapa besar kekasihnya menderita.
Buntu, hanya itu yang muncul di kepala Raka untuk masalahnya saat ini. Ia sama-sama termenung dengan Fery di ruang bacanya. Mereka masih belum menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini.
Fery pun teringat, saat ia sengaja menghampiri Alea di kantornya siang tadi untuk membicarakan masalahnya.
“Emang lo siapa? Lo sadar gag sama posisi lo? Lo gag punya hak apa-apa untuk ngatur perasaan dan pikiran gue!” seru Alea yang tidak terima dengan ucapan Fery.
Fery hanya terdiam. Ia membiarkan Alea menumpahkan semua kemarahannya hingga tak bersisa. Ia-pun sadar, dirinya tidak pernah berarti apa-apa bagi Alea.
“Gue peduli sama lo lea…” ujar Fery yang berjalan mendekati Alea.
Alea berbalik menatapnya dengan tidak suka. “Peduli? Sama gue?” Alea menunjuk wajahnya sendiri dengan tatapan tak percaya. “Lo, datang ke sini bukan karena peduli sama gue…” Alea menunjuk-nunjuk dada Fery. “Lo datang karena lo cuma peduli sama lana. Semua orang peduli sama lana. Harusnya, dia benar-benar pergi selamanya dan jangan pernah kembali!” seru Alea dengan emosi yang tidak terkendali. “Kalian cuma peduli sama lana, ya cuma sama lana…” tutup Alea yang berlalu pergi meninggalkan Fery.
“Lea tunggu..” Fery berusaha menahan tangan Alea, namun Alea mengibaskannya. Ia sudah tidak ingin mendengar apapun dari Fery.
Fery mendengus kasar. Begitu sulit mengubah pemikiran Alea. Semua yang ada dipikirannya hanya pikiran-pikiran negatif tentang Reva.
****
Reva kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ia ingin menyelesaikan tugas yang menumpuk dihadapannya dengan segera. Ia pun tidak ingin mengecewakan Indra yang sudah memberinya kepercayaan besar.
Reva membuka-buka dokumen lama tentang berbagai proyek. Ia mencoba mempelajari setiap point-point penting dalam sebuah proyek. Apa artinya ia menjadi seorang putri dari Indra Wijaya jika hanya bisa menggunakan nama orang tuanya sebagai tameng dalam pekerjaan. Reva ingin dihargai dengan hasil kerjanya sendiri bukan karena putri pemilik perusahaan.
“Semangat reva!” seru Reva pada dirinya sendiri.
Segelas kopi menjadi teman Reva melewati hari. Berkas yang bertumpuk satu per satu berhasil kembali masuk ke tempatnya dengan beberapa catatan penting yang ia tulis. Bekal dari Nida menjadi pengisi perutnya yang keroncongan karena melewatkan makan siang.
Hingga sore menjelang Reva baru selesai dengan pekerjaannya. Ia bisa sejenak merenggangkan otot-otot tubuhnya. Memandangi keindahan kota jakarta dari tempat yang tinggi membuat pikirannya sedikit segar.
Handphone Reva berdering nyaring, sebuah nomor tidak di kenal muncul di layar ponselnya. Biasanya ia akan mengabaikan panggilan atau pesan dari nomor tidak di kenal namun kali ini ia mengangkatnya khawatir yang menghubunginya adalah klien pekerjaannya.
“Dengan reva anasya?” tanya suara berat di sebrang sana. Ia berbicara bahkan sebelum Reva menyapanya.
“Iya benar, mohon maaf ini dengan siapa?”
“Alea ada di tangan saya. Bawa uang 300 juta sebagai penebusnya kalau kamu ingin nyawa kakak kamu selamat.” Ujar laki-laki di sebrang sana dengan penuh penekanan.
“Hey jangan becanda!” gertak Reva yang terkejut bukan kepalang.
__ADS_1
“Hahahahaha kami tidak bermain-main nona… Bawa uang itu ke tempat yang kami tentukan dan jangan berani lapor polisi atau anda tidak akan bisa bertemu lagi dengan kakak anda yang cantik.” Ujar laki-laki tersebut yang kemudian mengakhiri panggilannya.
Reva hampir kehabisan nafasnya. Tubuhnya terasa lemas, ia berpegangan pada pinggiran meja. Perasaannya benar-benar tidak menentu. Perasaan khawatir itu semakin menjadi-jadi saat nomor yang tadi menelponnya mengirim foto Alea yang terikat di kursi dengan mulut tersumpal kain.
“Ingat jangan lapor polisi, atau anda akan menyesal.” Tulis pengirim pesan tersebut dengan lokasi bertemu yang telah ia kirimkan.
Ini tidak main-main bagi Reva. Ia segera mencari Ira di ruangannya. Ia berlari ke sana kemari dengan perasaan khawatir yang tidak bisa ia jelaskan.
“Ira, kamu liat kak alea?” tanya Reva dengan tergesa-gesa.
“Belum kembali mba.” Sahut Ira dengan ekspresi datarnya.
“Coba tolong telpon!” Reva sedikit meninggikan suaranya membuat mata Ira mengerling tidak suka.
“Gag aktif!” sahutnya.
Reva tidak memperdulikan lagi jawaban Ira. Ia segera menaiki lift menuju ruangan Edho. Ia masih mencoba menenangkan diri. Bagaimanapun ini harus ia selesaikan sendiri. Siapapun tidak boleh mengetahuinya atau Alea akan celaka, begitu pikir Reva.
“Kak!” seru Reva saat berhasil membuka pintu ruangan Edho.
Beberapa orang karyawan yang berada di ruangan Edho tampak terkejut melihat kedatangan Reva. Reva sudah tidak memikirkan lagi apa arti dari lirikan para stafnya Edho. Hanya dengan isyarat tangan staf Edho-pun pergi meninggalkan ruangan.
“Ada apa re?” Edho melihat ekspresi panik yang belum total bisa Reva tutupi.
“Kak, aku boleh pinjem uang 300 juta?” tanpa berfikir panjang ia segela menyampaikan maksudnya.
“Ada apa re? buat apa uang sebanyak itu?”
Reva mengguyar kasar rambutnya dengan jemari saling memilin. “Aku, aku harus nolong sodaraku.” Kalimat itulah yang akhirnya keluar dari mulut Reva.
“Siapa, anak panti?”
“Iyaaa!” jawab Reva dengan segera.
Yang ada dipikiran Edho memanglah anak panti , ia tidak menyangka kalau sodara yang di maksud Reva adalah Alea.
“Ya udah, aku transfer ya…”
“Cash kak!” sanggah Reva dengan segera.
Edho hanya menatap Reva sejenak. Adik sepupunya ini terlihat benar-benar panik. Edho sudah tidak ingin lagi bertanya. Ia segera menghubungi bawahannya dan meminta membawa uang sejumlah yang di sebutkan Reva.
Reva menunggu dengan gusar di sudut sofa tunggu ruangan Edho. Ia menggigiti jemarinya dengan kaki yang terus bergerak tidak tenang. Edho mencoba duduk di samping Reva dan menyentuh bahunya namun secepat itu ia menghindar hingga berdiri. Edho kembali menarik tangannya.
“Re, ada apa dengan anak panti? Kenapa kamu sepanik ini? Kamu gag lagi kena tipu lewat telpon atau sms kan?” tanya Edho berrentetan. Reva hanya menoleh dan menelan ludahnya kasar-kasar.
“Andai itu hanya sebuah penipuan, aku akan lebih bersyukur.” Batin Reva.
Tak lama bawahan Edho datang dengan sekoper uang. Reva segera mengambil koper itu tanpa berkata apapun. Ia berlari sekencangnya menuju lift dan segera turun saat laki-laki itu mengirim pesan suara teriakan Alea.
__ADS_1
Ia tak ingin kehabisan waktu, ia tak ingin menyesal, apapun caranya ia harus menyelamatkan kakak perempuannya.
****