
Raka baru keluar dari ruangannya, tubuhnya terasa benar-benar lelah karena pekerjaan yang sangat banyak. Ia melirik jam di tangannya dan sudah hampir jam 8 malam. Makan malam ia lewatkan begitu saja dan perutnya sudah benar-benar keroncongan.
Di ruang tamu kantornya, ia melihat seorang gadis yang berjalan ke arahnya. Senyumnya mengembang saat ia melihat sosok Raka. Ya dialah Alea yang memutuskan untuk kembali ke kantor Raka setelah tadi siang tidak sempat menemuinya.
Alea mengajak Raka untuk makan malam bersama di sebuah resto dekat kantor. Raka tidak menolaknya karena perutnya memang sudah sangat keroncongan. Mereka memesan berbagai menu dan menikmatinya dengan lahap.
“Raka, gue sekarang udah mulai kerja di kantor papih loh…” ujar Alea di sela suapan nasinya.
“Hem bagus, perusahaan lo bisa tambah maju kalo ada orang kayak lo udah turun tangan.” Puji Raka tanpa sungkan.
Alea menyelipkan rambutnya di belakang telinga, entah mengapa ucapan Raka membuatnya semakin bersemangat.
“Iya, papih bilang kedepannya gue harus belajar mimpin perusahaan. Jadi gue mulai belajar dari sekarang. Kalo ada project, kita bisa kerjasama…” Alea benar-benar antusias. Tanpa ia sadar ia meraih tangan Raka dan menggenggamnya.
Raka menghentikan makannya, lalu menaruh sendoknya. Ia meraih tangan Alea dan menaruhnya berjarak dari tangannya.
Alea menghela nafasnya, ia merasakan kekecewaan atas sikap Raka padanya. Garis senyum yang sejak tadi terukir tampak mulai memudar. Begitu sulit baginya mendekati Raka, ia selalu memberi jarak untuk mereka sejak dulu.
“Lo capable, gue yakin lo pasti jadi pengusaha yang sukses kayak bokap lo.” Timpal Raka yang berusaha tersenyum.
“Thanks Raka… Lo emang sahabat gue.” Alea tersipu di ujung kalimatnya.
Raka kembali menikmati makanan di hadapannya sementara Alea masih memandangi Raka dengan senyum tipis di bibirnya. Raka selalu terlihat bersinar saat ia memandanginya.
Selesai makan malam, mereka berjalan-jalan untuk menurunkan makanan yang baru di cernanya. Semilir angin malam itu mengayunkan rambut Alea dengan lembut.
“Gue gag pernah nyangka kita berteman sampe saat ini. Dulu lo ngeselin banget, sekarang….” Alea menggantung kalimatnya seraya menoleh Raka yang berjalan di sampingnya. Ia menggigit bibirnya sendiri dengan gemas “Ngangenin..” batinnya.
“Lo dari dulu selalu keren lea. Prestasi lo bagus padahal persaingan di sekolah lo berat. Gue salut..” Raka menepuk bahu Alea dengan bangga.
“Iya, gue emang keren, tapi yang jadi fokus lo selalu lana…” kenang Alea seraya menatap langit malam yang bertabur bintang.
Selalu, saat ia mengenang Lana, ada sesal dan kesal yang bersarang di dadanya.
“Lo lebih mengenal lana dari gue, lo lebih seperti kakanya di banding gue.” lirih Alea seraya menatap Raka.
__ADS_1
Nafas Raka rasanya tercekat. Ingin rasanya ia memberitahu Alea bahwa Lana masih hidup. Tapi ia harus menahannya, ia ingin Lana terlebih dahulu yang meminta untuk bertemu keluarganya.
“Dia selalu sendirian. Di depan kalian mungkin dia bakal keliatan mandiri dan gag cengeng tapi depan gue sama nyokap beuh, tingkahnya selangit.” Raka ikut mengingat Lana kecil yang selalu membuatnya tersenyum.
Cemburu, perasaan yang kerap muncul saat Alea melihat sorot mata Raka ketika membicarakan Lana. Sebegitu besar perhatian Raka untuknya, hingga tidak ada tempat untuk orang lain di sisinya. Hati Alea mencelos, hanya oleh sebuah kenangan saja ia kalah di hati Raka.
“Dia cinta pertama lo kan raka?” Alea tidak mengerti, untuk alasan apa ia menanyakan hal ini pada Raka padahal jelas ini akan membuat hatinya semakin sakit.
Raka mengangguk seraya tersenyum. “Cuma dia yang selalu ada di hati gue.” Tegas Raka.
“Lihat, bahkan saat orang itu sudah tidak adapun dia masih punya tempat di hati kamu. Dan sekarang Reva, aku sama sekali gag punya tempat. Tapi, aku akan membuat kamu memberi tempat untukku.” Batin Alea seraya menatap Raka dengan penuh perasaan.
****
Reva masih mondar mandir di samping tempat tidurnya. Ia terus teringat ucapan Edho siang tadi tentang Nida. Perasaannya tidak menentu, walau terasa asing ia yakin perasaan yang ia rasakan saat ini karena ia peduli dengan wanita yang telah melahirkannya.
Di balkon kamarnya kini ia berdiri, menikmati tiupan angin malam yang menyegarkan tubuh dan pikirannya. Dengan mata terpejam, ia berusaha mengingat saat bersama kedua orang tua kandungnya. Namun tidak ada satu bayanganpun yang hadir. Semakin mencoba mengingat, semuanya semakin terlihat gelap.
Reva mengacak rambutnya kesal. Tidak ada satupun kenangan yang ia ingat atau melintas dipikirannya. Ia menghela nafasnya dengan kasar rasanya beban di dadanya terasa begitu berat.
Reva menoleh dan melihat Niken yang berjalan ke arahnya.
“Belum mah…” sahut Reva yang berusaha tersenyum.
Niken berdiri di hadapan Reva, memandangi wajah cantik gadis kesayangannya.
“Apa yang kamu pikirin nak?” Niken mengusap lembut rambut Reva.
Seperti bisa membaca pikiran Reva, Niken tahu benar putrinya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Sebenarnya Reva merasa canggung kalau harus menyampaikan perasaannya saat ini tapi tidak ada pilihan lain selain mengatakannya.
“Em… tante nida, sakit mah..” ujar Reva dengan ragu.
Niken berusaha tersenyum, terkaannya benar bahwa gadis cantik ini sedang memikirkan sesuatu.
“Sayang…” Niken mengusap lengan Reva dengan lembut, tatapannya begitu hangat. “Setiap manusia bisa terhalangi jarak dan waktu, tapi batin seorang ibu dengan putrinya, sedekat aliran darah dengan pembuluhnya. Dan di sana, mungkin mamih kamupun sedang memikirkan kamu. Kamu harus tau sayang, Nida adalah wanita yang cerdas , hebat dan kuat. Kelemahannya hanya satu, yaitu putrinya.” Tutur Niken dengan penuh ketenangan.
__ADS_1
“Saat kamu pergi, dunia serasa runtuh untuk nida. Ia tidak bisa menerima kenyataan. Hidupnya hancur dan ia lebih memilih hidup dalam kenangan dan membiarkan kamu selalu ada dalam halusinasinya. Butuh waktu yang lama hingga ia membaik, bahkan mungkin hingga saat ini lukanya belum sembuh benar. Kalau kamu merindukan dia, temui dia. Mamah yakin, dia akan sangat senang…” imbuh Biken seraya menggenggam erat tangan Reva.
Reva menatap wajah damai di depannya, hatinya mulai sedikit tenang walau tetap ada debaran keraguan apa mereka akan menerimanya yang jelas memiliki cerita kelam dalam hidupnya. Tapi Reva harus memantapkan hatinya, semua harus ia hadapi. Ia tidak ingin lagi menghindari dan mengingkari semuanya.
****
Keesokan harinya, saat yang dinantipun tiba. Sore ini, Reva dengan ditemani keluarga Adiyaksa memberanikan diri untuk datang ke rumah keluarga Wijaya. Dadanya berdebar tak menentu, entah seperti apa nanti keadaannya setelah ia bertemu dengan kedua orang tua kandung dan kakak perempuannya.
Raka mengerti benar kecemasan Reva. Ia mengeratkan genggaman tangannya berusaha mengalirkan energi untuk menguatkan hati gadis kesayangannya. Sejenak Reva menghentikan langkahnya, ia melihat ke sekeliling rumah mewah dengan taman yang indah ini. Tidak ada sedikitpun ingatan yang muncul di benaknya. Ia mencoba memejamkan mata, menenangkan hatinya sendiri dengan tarikan nafas yang dalam.
“Aku ada di samping kamu re…” tutur Raka seraya mengecup lembut pucuk kepala Reva. Reva dengan wajah tengangnya hanya bisa mengangguk. Tangannya dingin dan berkeringat. Ia berusaha membalas senyuman Raka yang sebenarnya sangat sulit ia lakukan.
Tiba di dalam rumah, Wira dan Niken di sambut lebih dulu oleh Indra. Benar yang dikatakan Raka, Wira dan Indra terlihat sangat canggung. Mereka seperti orang asing yang saling menyapa tanpa saling berangkulan atau melepas senyuman hangat layaknya sahabat lama.
Reva melihat kesekeliling ruangan ini, tidak ada satupun foto dirinya. Seketika hatinya ragu, apa ia benar-benar putri dari keluarga terpandang ini? Apa mereka masih mengingatnya atau sudah mengubur semua kenangan tentang gadis kecil itu.
“Oh reva juga ikut?” sapa Indra dengan senyum lebarnya. Senyuman berbeda dari yang ia berikan pada Wira, Nida dan Raka.
Reva benar-benar terperanjat. Ia menatap wajah tampan yang sudah tidak muda lagi namun tetap berkarisma itu. Garis wajahnya mulai terlihat jelas. Hatinya berdesir, rasanya ia ingin memeluk laki-laki tersebut.
“Iya om…” lirihnya dengan suara bergetar.
Reva meraih tangan Indra dan mengecupnya dengan hormat. Dadanya terasa sesak dengan tangis yang ia coba tahan.
“Duduk nak…” Indra mempersilakan Reva untuk duduk.
Reva duduk di samping Raka. Ia masih mencari sosok wanita yang dikabarkan sedang sakit. Reva mengusap dadanya sendiri yang terasa semakin sesak.
“Mas indra, nida dimana?” Niken memberanikan diri untuk bertanya.
“Dia sedang istirahat, katanya tidak enak badan.” Terang Indra dengan wajah cemasnya.
Hening mengambil allih suasana. Semua pandangan tertuju pada Reva yang hanya bisa tertunduk. Entah dari mana mereka harus memulai kalimatnya.
****
__ADS_1