Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 124


__ADS_3

Mengingat perkataan Alea, kedua insan ini terdiam cukup lama. Walau masa depan mereka tidak di tentukan oleh keputusan Alea, tapi restu Alea ternyata begitu besar efeknya bagi perasan mereka.


Kali ini, Raka mengajak Reva ke suatu tempat yang indah. Kawasan dataran tinggi, tepatnya mirip sebuah bukit kecil yang yang di terangi cahaya lampu alakadarnya. Suasananya sejuk dan bisa memberi ketenangan bagi keduanya. Raka menggenggam tangan Reva dan bersama-sama memandangi kilauan cahaya lampu yang terlihat kontras di malam ini. Hembusan angin segar menerbangkan rambut Reva yang meliuk dengan indah.


“Aku gag pernah nyangka, kita akan berada di titik ini. Titik dimana kita bisa memulainya tanpa ada perasaan yang mengganjal.” Ujar Raka seraya menoleh Reva yang berdiri di sampingnya.


Bak gayung bersambut, Reva menoleh pada Raka dengan binar mata yang sudah lama sekali Raka rindukan. Ia tersenyum dan dalam beberapa saat menyandarkan kepalanya di bahu Raka.


“Dulu aku selalu bertanya, dari sekian banyak laki-laki, kenapa cuma kamu yang gag bisa aku paksa buat aku lupain.” Reva terdengar menghela nafass dalam membuat fokus Raka benar-benar hanya tertuju pada gadisnya.


“Ada begitu banyak hal yang bisa aku kendalikan. Kata-kata yang aku pilih saat berbicara, ekspresi wajah pura-pura bahagia, dan langkah kaki penuh percaya diri saat berada di hadapan siapapun, hingga hal apa yang mau aku pikirkan atau mau aku lupakan. Tapi nyatanya, kamu merubah segalanya mas. Kamu merubah kebiasaanku hanya karena aku merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa aku kendalikan.” Reva menyentuh dadanya yang kali ini pun berdebar sangat kencang.


Benar, saat bersama Raka, semua yang sudah ia atur hilang begitu saja. Senyum yang ia tunjukkan pada Raka, bukan lah senyum yang sudah ia atur dari awal. Tatapan mata yang ia berikan pada Raka, adalah nyata representasi dari perasaannya. Dan setiap kata yang keluar dari mulutnya, mengalir begitu saja. Setiap perbincangan dengan Raka, ia begitu menikmati momentnya bahkan rasanya satu per satu kalimat Raka tersusun rapi di ingatannya.


Raka tersenyum. Ia menyentuh wajah Reva yang berada jelas di hadapannya.


“Aku gag tau siapa yang lebih dulu berubah di antara kita. Tapi seperti halnya kamu, aku merasakan hal yang sama re.” Raka menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Reva. Ia begitu mengagumi pahatan indah maha karya sang pencipta. Lebih dari itu, ia sangat mengagumi apa yang tersimpan di hati Reva. “Tidak ada deskripsi yang lugas bisa menjabarkan perasaan aku. Nyatanya, aku merasa hidup saat ada kamu di samping aku re. Terima kasih untuk semua hal indah yang kamu ciptakan di hidup aku. Entah aku layak atau tidak buat kamu, tapi dengan segenap perasaanku, aku berharap aku bisa menjadi satu-satunya buat kamu.” Ungkap Raka yang membuat air mata Reva menetes begitu saja.


Sejak dulu, nyatanya hanya Raka yang ada di hatinya. Semuanya terlalu berat rasanya jika ia harus mengingkari perasaannya.


“I hope, you’ll be my king,my man and always be my friend. From the deepest of my heart, I love you.” Lirih Reva yang di sambut tetesan air mata Raka. Ia tidak bisa lagi menahan perasaannya.


Mereka saling melempar senyum di sela lelehan air mata penuh kebahagiaan. Ini pertama kalinya bagi mereka saling mengakui perasaan masing-masing. Merasa satu sama lain saling membutuhkan , bukan hanya karena mereka sudah mengenal sejak lama, atau karena dorongan dari kedua orang tua mereka, mereka sendirilah yang kali ini memilih untuk melangkah.


Perlahan, wajah keduanya semakin mendekat. Reva memejamkan matanya. Dalam beberapa saat, Reva bisa merasakan kecupan hangat dari Raka. Keduanya terpejam, menikmati ritme yang indah saat jantung mereka saling bertalu-talu. Raka semakin memperkuat pagutannya, menjelajah seisi rongga mulut Reva dengan penuh perasaan. Sesekali mereka terlihat mengambil kembali oksigen saat terasa udara di paru-parunya akan habis dan kembali menikmati hangatnya kecupan yang mereka berikan satu sama lain.


*****

__ADS_1


Keributan kembali terjadi saat Raka dan Reva sudah berada di depan gerbang kediaman Wijaya. Raka yang bersikukuh untuk memberitahukan keputusan mereka dan Reva yang keukeuh ingin menundanya sampai ia memastikan proyek yang akan ia kerjakan di setujui direksi.


“Ayooo re, aku perlu ketemu papih kamu…” desak Raka yang memaksa meminta untuk ikut turun dan masuk ke rumah Reva.


“Mass,, gag usah.. nanti aku yang bilang sama papih dan mamih. Gimana pun aku harus nyari tau dulu apa aku pas ngomong ini sekarang atau nggak.” Reva terus berusaha menahan Raka.


“Ya om indra kan emang tau kita akan menikah, aku cuma mau yakinin om indra kalo kita udah siap.” Raka seperti tidak mau kalah.


“Mas rakaaaa… dengerin dulu dong…” tegas Reva dengan mata melotot. Raka bergumam tidak jelas mengutarakan kekesalannya, tapi pada akhirnya ia mendengarkan Reva juga. “Mas, “ Reva menjeda kalimatnya dengan menggenggam tangan Raka erat-erat.


“Kita memiliki perasaan dan keinginan yang sama. Dan kita udah sepakat, kamu akan ngasih aku waktu sampai aku bisa meyakinkan direksi tentang proyek aku sama kak lea. Ini penting buat aku mas… Kamu gag mau kan kena pepatah kalo orang yang mau nikah malah jadi sering berantem?” mendengar perkataan Reva yang seolah seperti ancaman, Raka menggeleng dengan cepat. “Okey, jadi kita akan sama-sama ngomong ke orang tua kita, setelah urusan kita masing-masing selesai, clear?” lanjut Reva dengan mempertegas beberapa bagian kalimatnya.


Kali ini Raka mengangguk patuh. “Tapi aku gag bisa jauh-jauh dari kamuuuu…” Raka kembali merengek dalam beberapa detik kemudian. Ia memeluk Reva dengan erat seperti benar-benar enggan berpisah.


Reva tersenyum kecil, laki-laki dalam pelukannya memang terkadang sangat menggemaskan sekaligus menyebalkan. Ia mengusap punggung Raka dengan lembut. “Aku juga gag bisa jauh-jauh dari kamu mas. Tapi ini kesempatan kita untuk lebih menyiapkan diri. Pernikahan bukan hal yang sulit tapi jalannya tidak selalu mudah. *So, can you wait  for a while *for me ?”


Raka meyakinkan dirinya untuk menyetujui permintaan Reva.


“Okeyy, aku akan nunggu kamu re….” batin Raka.


*****


Raka tersenyum-senyum sendiri saat melihat tumpukan berkas di atas mejanya. Ia duduk dengan mantap dan membuka satu per satu berkas yang harus ia tanda tangani. Tidak ada protes sedikitpun. Hari ini, staf yang menghadap terlihat saling lirik dan melempar senyum, bos nya benar-benar sedang berada dalam mood yang baik.


Dia yang biasanya terlihat sangar saat mengecek satu per satu berkas yang di bacanya, kali ini terlihat begitu mempesona dengan sudut bibir yang tidak hentinya tersenyum.


“Pak anwar, ajuan cuti anda saya acc untuk tiga hari ke depan, pastikan semua pekerjaan anda ada yang menghandle.” Ujar Raka dengan tiba-tiba dan berhasil membuat air muka Anwar berubah dengan cepat.

__ADS_1


“Terima kasih pak raka, saya pasti akan menyelesaikan pekerjaan saya tepat waktu dan mencari pengganti yang tepat.” Sahut Anwar dengan antusias.


“Heem… sampaikan salam saya pada ibu dan anak-anak bapak.” Timpal Raka yang tentu saja baru di dengar Anwar untuk pertama kalinya.


Raka yang dingin dan gila kerja dengan tingkat idealisme tinggi, sangat berbeda dengan Raka yang kini duduk di singgasananya. Ia bahkan memberitahu karyawannya untuk memperbaiki beberapa pelaporan yang ia sampaikan secara baik-baik. Biasanya kalau tidak gebrak meja ya lempar berkas.


“Terima kasih pak raka, saya permisi dulu.” Ujar Anwar yang bergegas pergi bersama karyawan lainnya.


Raka hanya terangguk dengan senyuman tipis yang membuat karyawan wanitanya mematung kesetika. Kalau saja Anwar tidak segera menarik tangannya, mungkin ia akan seharian di sana memandangi Raka penuh dengan kekaguman.


Keluar dari ruangan Raka mereka tampak berbincang lirih sambil sesekali tertawa.


“Gilaaa pak raka ganteng banget ya senyum kayak tadi. Mimpi apa gue semalem bisa liat bos dingin itu senyum.” Ujar salah satu karyawan wanita.


“Yang harus kita cari tau itu tadi pagi dia sarapan apa, biar tiap hari dia baik gitu.” Timpal karyawati satunya sambil menyentuh pipinya yang merona tiba-tiba. “Tapi liat pak raka kayak gitu, bikin gue berharap , dia bisa gue gapai. Aduuuhhhh…..” lanjutnya yang di sahuti oleh salah satu karyawan laki-laki.


“Mimpi jangan lo ketinggian, kalo jatoh sakit!” cetus laki-laki tersebut yang merasa sebal dengan tingkah 2 wanita di hadapannya.


Tapi sepertinya kekesalannya tidak di tanggapi oleh keduanya.


“Dia kayaknya sarapan bubuk berlian, makanya shining gitu.”


“Emang biasanya dia sarapan apa?”


“Sarapan bubuk mesiu, hahaha…” mereka tertawa renyah dengan candaan yang dibuatnya. Hingga tanpa sadar ada sepasang telinga yang menangkap kegaduhan tersebut.


****

__ADS_1


 


TimBubukBerlianVsTimBubukMesiu, kamu yang mana? ;D


__ADS_2