Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 147


__ADS_3

Menjelang dini hari, Reva merasa tenggorokannya sangat kering. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur. Ia melewati beberapa anak tangga dengan hati-hati. Satu gelas air kini sudah ada di genggamannya. Ia meneguknya hingga tandas. Akhir-akhir ini ia memang kerap merasa kegerahan dan mudah haus padahal suhu di kamarnya cukup dingin.


Reva memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan segelas air penuh di tangannya. Sebelum membaringkan tubuhnya, ia mengecek terlebih dahulu handphonenya. Raka tidak ada menghubunginya saat jam makan malam, mungkin rapatnya berlangsung alot.


Terlihat ada 2 notifikasi pesan masuk di aplikasi messenger Reva dari nomor tidak di kenal. Dan,


“PRANK!!!!!” gelas terjatuh begitu saja dari tangan Reva. Pecahan kaca dan air berserakan di lantai. Tangan Reva gemetar saat melihat foto yang ia terima di aplikasi messengernya. Air mata berderai dengan tangis yang tertahan.


“Mas raka…” lirihnya yang kemudian menjatuhkan handphonenya begitu saja.


Adalah foto Raka dengan seorang wanita yang tampak seolah sedang berciuman. Reva tidak bisa melihat wajah wanita tersebut karena foro tersebut di ambil dari belakang gadis tersebut. Yang jelas, Reva mengenali benar kemeja yang di kenakan Raka, karena ia yang menyiapkan semua kebutuhan Raka.


Untuk beberapa saat Reva terdiam. Berusaha mencerna apa yang dilihatnya.


“Nggak reva, ini cuma jebakan. Kamu percaya sama suami kamu kan? Ya kamu harus percaya.” Bisik logika Reva. Namun tidak dengan hatinya. Hatinya kini remuk redam. Amarahnya lebih besar dari pada logikanya.


Reva mengusap air matanya dengan kasar. Ia mengambil kembali handphonenya dan menghubungi seseorang.


“Siapkan tiket untuk saya ke makasar!” seru Reva tanpa basa basi.


“Hah, gimana bu?” Ira yang masih setengah sadar terperangah begitu saja mendengar perintah Reva.


“Siapkan tiket untuk saya ke makasar!” lagi, Reva mengulang kalimatnya.


“Tapi bu, ibu ada apa mau ke makasar? Ibu baru jam setengah 2 pagi.” Mata Ira yang semula terpejam kini terbuka lebar.


“Bisa gag sih kamu turutin perintah saya dan gag usah banyak tanya!” teriak Reva yang sontak membuat tubuh Ira gemetar dalam beberapa saat.


Baru kali ini ia mendengar Reva berbicara dengan nada tinggi. Bukan hanya nada tinggi tapi berselimut kekalutan.


“I-iya bu.. saya segera carikan tiketnya.” Tukas Ira.


Sambungan pun terputus. Reva terduduk di tepi ranjangnya dengan kedua tangan yang menutup wajahnya. Ia terisak dalam tangis yang dalam. Pikiran tentang Raka dan wanita itu berkelebat di rongga kepalanya tanpa bisa ia hentikan. Hatinya sakit, perasaannya hancur.


Dengan langkah cepatnya Reva mengambil tas dan beberapa barang pribadi. Tidak ada hal lain yang ia bawa. Ia segera berganti baju. Sejenak ia menatap wajahnya di cermin. Mata yang sembab dan kemerahan berpadu dengan wajah dingin dan penuh kesakitan.


“Aaarrrggghh!!!!!” teriak Reva seraya mengacak semua peralatan make up di meja riasnya. Ia memukul meja riasnya dengan keras.


Entah pada siapa amarah itu di tujukan yang jelas saat ini ia hanya ingin berteriak dan menangis sejadinya.


*****

__ADS_1


Jam 01:50 adalah waktu keberangkatan Reva menuju makasar. Ia menggunakan taksi online untuk menuju bandara. Jalanan yang lenggang membuat perjalanan berjalan lancar. Tapi tidak bagi Reva, rasanya ia ingin merutuki orang-orang yang membangun jalur panjang yang harus ia lewati.


Tiba di bandara Reva segera berlari masuk dan check in. Tidak ada waktu untuknya menunggu. Ia segera naik ke pesawat begitu penumpang di persilakan naik. Ia duduk dengan gusar dengan perasaan yang masih bercampur aduk. 2 jam 40 menit adalah waktu yang harus ia lewati dalam keadaan penuh prasangka dan kemarahan.


Apa yang harus ia lakukan selama kurun waktu itu? Menangis pun rasanya terasa begitu melelahkan. Reva memandangi lampu yang sesekali berkedip di sayap pesawat. Ia melihat pantulan wajahnya di jendela pesaeat dengan air mata berderai. Nyatanya tidak semua bisa sesuai keinginannya dan tidak semua juga berjalan sesuai rencananya. Ia hanya salah satu pion yang harus bergerak sesuai arah yang telah di tentukan.


Reva memandangi perutnya yang masih rata. Ia mengusapnya dengan lembut. Lagi bahunya bergerak naik turun seirama tangisnya. Mengapa harus ada kesakitan saat ia baru akan menuju sebuah kebahagiaan bersama orang yang ia cintai.


“Kita kuat ya nak, kita kuat…” lirih Reva dengan tangis tertahan.


Reva kembali menyandarkan tubuhnya, ia berusaha memejamkan matanya dan berharap saat ia tiba di sana, semua yang ia lihat hanya sebuah kesalahan.


Hampir jam 6 pagi Reva tiba di sebuah hotel tempat Raka menginap. Ia berjalan dengan cepat menuju reseptionist yang setia menunggu kedatangannya.


“Selamat pagi ibu, ada yang bisa saya bantu?” tanya reseptionist tersebut dengan ramah. Walau ia merasa terkejut dengan kedatangan wanita yang tampak tidak sedang baik-baik saja.


“Maaf, kamar atas nama Raka adiyaksa putra nomor berapa ya?” Reva bertanya dengan cepat.


“Mohon maaf, ibu dengan?”


“Saya istrinya! Handphonenya tertinggal, jadi saya tidak bisa menghubunginya.” Terang Reva sekenanya seraya menunjukkan handphone miliknya. Dan tentu saja ia sedang berbohong.


Beruntung wanita ini sepertinya percaya dengan ucapan Reva. “Sebentar kami coba cek dulu bu.” Pamit wanita tersebut.


“Atas nama bapak Raka adiyaksa putra, kamar 4502. Ibu bisa..”


Tanpa mendengarkan lebih lanjut ujaran perempuan tersebut Reva segera berjalan menuju lift. Ia menekan tombol lift sesuai petunjuk. Ia kembali harus menunggu saat lift berjalan naik menuju lantai yang di maksud.


“Ding!” Pintu lift terbuka. Reva menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menghapus semua air matanya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu tidak benar.


Di depan kamar 4502 ini kini Reva berdiri. Dadanya berdegub kencang dengan tangan yang mulai gemetar hebat. Ia mencoba memijit bel kamar Raka dan kembali menunggu dengan gusar.


Handle pintu tampak berputar dan pintu pun terbuka. Mata Reva membelalak bahkan kakinya mundur beberapa langkah saat melihat sosok di hadapannya.


“Reva…. Ups, sory… Ketauan ya…” ujar Laras dengan seringai tipis di bibirnya.


Tanpa terasa air mata Reva jatuh begitu saja. Rasanya jantungnya pun telah jatuh ke dasar perut bahkan untuk beberapa saat berhenti berdetak. Perutnya merasakan mual saat melihat wanita itu yang kini tengah mengenakan kemeja Raka dengan beberapa kancing bagian atas yang terbuka. Hati Reva hancur, rasanya tenaganya menghilang begitu saja. Dengan sisa tenaga di tubuhnya, Reva menggerakkan bibirnya untuk berujar.


“Sedang apa kamu di kamar suami saya?” tanya Reva dengan terbata-bata.


“Kira-kira, kalau penampilan saya seperti ini, saya sedang apa di sini?” Laras balik bertanya dengan senyuman lebar yang seolah mengolok Reva.

__ADS_1


“PLAK!!!!” sebuah tamparan keras mendarat di pipi Laras. Laras bahkan hampir terhuyung kalau saja tidak ada daun pintu yang menahan tubuhnya.


“Sial! Kamu ya!” teriak Laras yang berusaha membalas tamparan Reva namun dengan cepat Reva mencekal tangan Laras.


Laras dengan nafas memburunya menatap Reva dengan penuh kemarahan. Tangan kirinya masih memegangi pipi kirinya yang terasa panas dan sakit. Gila, sekeras itu tamparan Reva mendarat di pipinya hingga membuat telinganya berdengung.


Reva memandangi Laras dengan penuh kebencian. Bahkan ia tidak mengedipkan matanya saat butiran air mata itu menetes tanpa permisi.


“Siapa di situ?” terdengar suara serak Raka yang sepertinya baru bangun dari tidurnya. Ia berjalan ke arah pintu dengan penampilan berantakan dan bertelanjang dada.


“Reva….” Ujar Raka yang tercengang melihat Reva berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan


Tubuh Reva terasa lemas. Ia melepaskan cengkaraman tangannya dari tangan Laras. Ia memandangi sosok laki-laki yang kini sedang berjalan ke arahnya.


“Reva, sayang?” tutur Raka yang baru sadar ada Laras di hadapan Reva dengan kemeja miliknya yang di pakai Laras.Raka melihat tubuhnya yang bertelanjang dada, matanya membulat tak percaya dengan banyak kebingungan yang tergambar di wajahnya.


Reva hanya bisa menggeleng.Ia mundur beberapa langkah. Ia tidak mau laki-laki itu mendekat. Ia tidak bisa menerima saat semua prasangkanya menjadi kenyataan.


“Laras, sedang apa kamu di sini? Lepaskan baju saya!” gertak Raka.


Laras hanya tersenyum dengan tatapan yang tak lepas dari Reva.


“Sayang, kamu yakin aku harus melepas bajunya di sini? Apa semalam masih kurang?” tutur Laras seraya menyentuh dada bidang Raka.


Rasanya tubuh Reva akan benar-benar rubuh. Ia tidak kuat lagi menopang tubuhnya dan kepalanya serasa berputar. Tapi untuk alasan lain ia harus bertahan. Ya, demi harga dirinya ia harus terlihat kuat di hadapan Laras.


“Minggir kamu!” Raka mengibaskan tangan Laras. Ia kembali berusaha mendekati Reva. “Sayang, semuanya gag seperti yang kamu kira. Tolong jangan berfikir macam-macam.” Ujar Raka dengan suara bergetar. Matanya tampak memerah, sepertinya ia mulai sadar dengan apa yang terjadi saat ini.


“Berhenti.” Lirih Reva seraya mengangkat tangannya. Sangat sakit, ketika ia harus membayangkan apa yang dilakukan Raka dan lebih sakit saat semuanya sepertinya benar. “Jangan dekati saya.” lirihnya dengan tatapan tajam pada Raka.


Raka bisa melihat bibir Reva yang bergetar menahan tangisnya serta tatapan penuh kesakitan atas apa yang di lihatnya.


“Tapi sayang, semuanya…” Raka masih berusaha mendekati Reva yang melangkah mundur menjauhinya.


“SAYA BILANG BERHENTI RAKA!!!!!!” teriak Reva dengan sekuat tenaga.


Raka terpaku seketika. Wajahnya terlihat sangat pucat karena shock. Baru kali ini ia melihat Reva seperti ini. Wajah dingin dengan penuh kemarahan. Tidak ada lagi tatapan hangat yang selalu membuat dirinya merasa damai.


Tak bisa, Reva tidak bisa terus seperti ini. Semakin lama ia melihat Raka dan Laras, rasanya hatinya semakin sakit dan nafasnya terasa pendek. Demi apapun, ia merasa sangat kecewa pada Raka. Dengan sisa tenaganya, ia berjalan pergi meninggalkan Raka tanpa sepatah kata pun.


“Reva!!” Teriak Raka, namun Reva tetap melangkah pergi bahkan setengah berlari.

__ADS_1


*****


__ADS_2