Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 157


__ADS_3

“Reva,,” panggil Raka saat melihat Reva akan pergi.


Reva menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Raka. Dengan langkah panjangnya Raka menghampiri Reva. Dihadapan Reva ia berdiri, seraya menatap lekat wajah wanita yang sangat di rindukannya.


“Re, bisa kita bicara sebentar?” lanjut Raka dengan wajah memelas.


Reva hanya terdiam, seolah menyetujui ajakan Raka.


Dan saat ini, Reva dan Raka berada di rooftop kantor Adiyaksa. Lantai teratas yang di tata cukup indah. Ada sebuah taman kecil yang menghadap ke arah pusat jakarta. Dari sana bisa terlihat jelas hiruk pikuk kota Jakarta di siang ini.


Raka dan Reva sama-sama berdiri memandang jauh entah kemana. Rasanya ini seperti dejavu dengan kondisi yang sama saat pertama kali Raka menyatakan cintanya. Hati Reva berdesir, semuanya terjadi 2 tahun lalu dan perasaannya pada Raka masih sama bahkan semakin bertambah.


Meski ragu, Raka memulai kalimatnya. “Re, soal laras. Aku..”


“Aku minta maaf.” Ujar Reva tiba-tiba yang memotong kalimat Raka.


Raka terpaku mendengar ucapan Reva, mungkin saja ia salah dengar.


Reva mengalihkan pandangan pada Raka. Ia menatap wajah yang begitu ia rindukan. “Aku minta maaf, karena aku gag percaya sama kamu mas.” Reva menggenapkan kalimatnya, membuat hati Raka melambung tinggi. “Aku gag pernah tau apa yang kamu fikirkan selain aku, aku juga gag tau apa yang kamu lakukan di belakang aku, aku tidak pernah ingin mencari tahu karena aku pikir jika itu sesuatu yang menyakitkan, maka sebaiknya aku tidak pernah tau agar perasaan aku sama kamu tetap utuh. Tapi nyatanya pikiran aku salah, anggapan itu membuat aku mudah kehilangan kepercayaan saat kita tidak berada di samping satu sama lain. Membiarkan kamu memikirkan hal lain di luar aku, membuat aku ketakutan. Membiarkan kamu melakukan sesuatu di belakang aku membuat aku merasa khawatir. Aku takut dan khawatir jika ternyata hanya aku yang menjaga komitmen kita dan hanya aku yang berjuang sendirian.” Reva menjeda kalimatnya dengan meraih tangan Raka dan menggenggamnya dengan erat.


“Maaf, untuk semua keraguan aku atas perasaan kamu mas. Aku terlalu bodoh karena aku terlalu takut, maafkan aku karena aku terlalu mencintai kamu hingga tidak bisa membayangkan kalau suatu saat kamu pergi meninggalkanku.” Tandas Reva yang kemudian mengecup tangan sang suami dengan lembut, penuh perasaan.


Air matanya ikut menetes mengiringi ungkapan perasaannya yang mendalam.


Raka mengusap pipi Reva kemudian menangkup satu sisi wajahnya. “Kamu gag perlu minta maaf sayang. Aku memang tidak seharusnya melakukan atau memikirkan sesuatu yang bisa membuat kamu berprasangka. Saat kamu pergi, aku merasa duniaku runtuh. Maka kelak kalau aku membuat kesalahan yang tidak aku sadari, kamu boleh memakiku, kamu boleh memukulku, kamu boleh mengupatiku, kamu boleh mengadukan aku sama papih, tapi aku mohon jangan pernah pergi ninggalin aku. Karena saat itu, mungkin aku akan kehilangan alasan untuk aku bertahan.” Ungkap Raka dengan penuh kesungguhan.


Reva hanya terangguk seraya menahan tangis yang mungkin akan kembali pecah. Raka mengecup dahi Reva dengan lembut, seolah ia ingin meyakinkan Reva dengan semua ucapannya.


****


Sepanjang perjalanan pulang, Raka tidak henti tersenyum. Terlebih saat ia mengingat Reva berceloteh tentang bagaimana ia menghadapi Laras. Ia pun mengungkapkan rasa bersalahnya pada Laras kala itu. Selalu, bayangan masa lalu itu muncul dan menghantui Reva. Andai saja ia tetap menjadi gadis yang polos dan tidak mengingkari kesakitannya di masa lalu, mungkin semuanya tidak akan terjadi dan menjadi karmanya saat ini.


Tapi bagi Raka, tidak adil jika seseorang terus merasa di hukum atas masa lalunya. Yang harus dilakukan sekarang adalah memperbaiki semuanya dan memulainya dari awal.


“Sayang, kita mau makan di mana?” tanya Raka yang mengingatkan beberapa saat lagi mereka akan sampai di rumah.


“Emm… aku mau makan kwetiau mas. Boleh?” tanya Reva yang rasanya air liurnya akan menetes saat membayangkan makanan itu di pikirannya.


“Tentu sayang, bentar mas nyari dulu referensi kwetiau terenak.” Raka menepikan mobilnya dan mengeluarkan handphone dari sakunya.


“Jangan, kita beli yang di pinggir jalan aja mas, sambil perjalanan pulang.” Pinta Reva.


Raka tampak berfikir sejenak, sang istri memang sangat berbeda hari ini. Tapi rasanya ia melihat Reva lebih bahagia dan itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


“Okey, kita cari yang pinggir jalan.” Tandas Raka yang mulai kembali melajukan mobilnya.


Beberapa menit berlalu Raka kembali menepikan mobilnya di depan penjual kwetiau pinggir jalan. Tempatnya memang penuh sehingga mereka tidak mendapatkan tempat duduk. Akhirnya terpaksa mereka memakan makanannya di dalam mobil.


“Gimana, enak?” tanya Raka saat melihat Reva makan dengan lahap. Ia bahkan tidak sempat mengucapkan kata-kata pujian yang biasa ia lakukan saat makanan di hadapannya di rasa begitu enak. Ia hanya sesekali tersenyum girang saat bisa menelan makanannya dengan nikmat.


“Okey, habisin yaa…” lanjut Raka seraya mengusap pucuk kepala Reva.


Reva hanya terangguk hingga akhirnya sepiring kwetiau itu sempurna berpindah ke perutnya. Reva menutup mulutnya kemudian sedikit bersendawa. Rasanya ia begitu kekenyangan. Sementara makanan Raka belum semuanya habis. Ia menikmati makanannya dengan perlahan. Bukan, tapi menikmati pemandangan orang yang makan di hadapannya dan membuat Raka ikut merasa kenyang.


“Tetaplah seperti ini re… Kita habiskan waktu bersama. Bercerita, makan bersama dan melihat kamu tertawa. Aku sangat bahagia.” Batin Raka.


****


Nafsu makan Alea sepertinya kurang baik, sedari tadi ia hanya memainkan makanannya dengan pikiran yang entah di mana. Indra menyenggol Nida yang sejak tadi memandangi putrinya, biasanya Alea sangat tidak suka ketika makan ia terus diperhatikan.


“Kenapa?” tanya Indra yang hanya dengan gerakan bibirnya tanpa suara sedikitpun.


Nida hanya mengangkat bahunya, ia bener-benar tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya.


“Permisi tuan, ada den fery..” Ujar Bi Inah yang membuat Alea segera berhenti dengan aktivitasnya.


“Suruh dia masuk, sekalian makan malam.” Ujar Indra sambil melirik Alea.


“Malem om, tante… lea…” sapa Fery seraya melirik Alea.


“Oh malem fer, ayo gabung. Kita baru mulai makan kok.” Tawar Indra dengan ramah.


Alea mengernyitkan dahinya, suatu pemandangan langka ketika Indra bersikap begitu ramah pada kekasihnya.


“Terima kasih om.” Fery segera mendekat dan duduk di samping Alea. Alea tidak menoleh sedikitpun, ia malah menyuapkan potongan makanan ke mulutnya dengan kesal.


“Lea, ambilin fery makan dong…” Titah Nida seraya tersenyum.


Alea memutar bola matanya malas, tapi tetap saja ia mengambilkan piring dan nasi untuk Fery. Ia pun mengambil beberapa lauk yang mungkin Fery sukai tanpa bertanya.


“Aku alergi udang, lea…” cicit Fery dengan senyum tipis.


Alea tidak menyahuti, hanya lirikan mata kesalnya yang membuat hati Fery ketir. Alea kembali menaruh udang di tempatnya dan menyerahkan piring makan Fery ke hadapannya.


“Thanks..” ujar Fery yang tidak di tanggapi Alea.


Nida dan Indra hanya saling lirik, sepertinya mereka mulai tahu apa yang membuat sang putri kehilangan nafsu makannya.

__ADS_1


Suasana makan terasa begitu hening tanpa banyak perbincangan. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar saling beradu.


Usai makan malam, Nida dan Indra segera pergi ke kamarnya. mereka membiarkan pasangan kekasih yang tidak sedang baik-baik saja itu memiliki waktu yang lebih leluasa berdua. Sepertinya mereka butuh bicara.


“Lea..” panggil Fery saat melihat Alea yang hendak pergi meninggalkannya. Alea menghentikan langkahnya namun tidak lantas berbalik. “Bisa kita bicara sebentar? Aku mohon, banyak hal yang harus aku jelasin.” Lanjut Fery dengan segera.


“Apa lagi yang mau lo jelasin hah? Bukannya lo bilang gag mau ngasih tau masalah perempuan itu sama gue? Kenapa sekarang lo berubah pikiran?” tanya Alea dengan tatapan menghunus ke jantung Fery.


Fery hanya bisa tertunduk dan merutuki ucapannya siang tadi.


“Nggak lea, aku mau jelasin semuanya sekarang. Aku gag mau kita salah paham.” Bujuk Fery.


“Kita? Sejak kapan ada kita? Bukannya di cerita kalian cuma ada lo sama perempuan sialan itu? Lagian gue udah gag tertarik lagi.” Alea terlihat sangat acuh. Ternyata Alea yang dingin benar-benar menakutkan bagi Fery, meski ia sebenarnya sudah sering melihat ekspresi ini. Tapi saat Alea dingin tentang hubungan mereka, Fery memiliki ketakutan tersendiri.


“Kamu boleh marah, tapi paling tidak dengerin aku dulu, please lea….” Lagi-lagi Fery merajuk.


Alea menghela nafasnya dalam. Di sudut hatinya ia memang tidak tega melihat Fery walau sudut hatinya yang lain ia masih merasakan kekecewaan.


Alea menunjuk taman belakang dan mulai berjalan ke arah sana, Fery dengan segera mengikutinya.


Mereka duduk di gazebo sambil melihat riakan air kolam. Hanya gemericik air yang kini menjadi pemecah kesunyian di antara keduanya. Fery menghela nafasnya sebelum memulai kalimatnya. Ia berusaha memilih kata yang tidak akan membuat Alea bereaksi.


“5 tahun kami bersama dan selama 5 tahun itu pula sebenarnya hati kami tidak benar-benar saling memiliki.” Fery memulai kalimatnya dengan berat.


Tentu saja, jika perempuan begitu mudah memaafkan tapi sulit melupakan, bagi seorang Fery lebih mudah melupakan tapi akan sulit untuk memaafkan. Dan mengingat kembali kebersamaannya bersama Laras, tentu membuka luka hatinya yang sudah berusaha ia kubur dalam-dalam.


“Reva gag pernah menjadi wanita yang merusak hubungan aku sama laras, dia hanya membuatku sadar kalau aku seharusnya lebih mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Bukan hanya masalah kesetaraan derajat. Dan  karena alasan itulah aku memilih untuk pergi dari hidup laras selamanya.” Lanjut Fery parau.


Alea mulai menaruh perhatiannya pada pembicaraan Fery. Ia mendengarkan dengan seksama apa yang Fery jelaskan. Sudut hatinya ikut terrenyuh karena ia pun pernah memiliki pemikiran yang sama dengan Laras.


Ya, kesetaraan seorang lelaki dengannya,  selalu menjadi dasar bagi wanita seperti Laras dan Alea untuk melanjutkan hubungan mereka atau mengakhirinya. Beruntungnya, di pertengahan perjalanan hidupnya Alea sadar, ketulusan seorang Fery lebih penting daripada segala status sosial ataupun kemapamanan.


“Aku sadar diri, mungkin buat kamu pun aku belum layak lea. Dan kalau kamu masih memiliki pemikiran bahwa kemapanan seorang laki-laki itu penting, maka saat itu mungkin aku akan segera mengubur perasaanku dalam-dalam. Tapi kalau kamu bersedia menerimaku dengan segala kekuranganku, maka aku akan berusaha keras untuk meyakinkan kamu kalau kita bisa saling melengkapi.” Ungkap Fery dengan penuh kesungguhan.


Ia tertunduk di samping Alea. Rasanya yang harus ia sampaikan sudah ia katakan semuanya. Jika kali ini Alea pun memilih untuk pergi meninggalkannya, maka ia bisa apa. Bukankah memaksa seseorang untuk tetap berada di samping kita tanpa perasaan apapun itu sangat jahat?


*****


 


 


Yeaaayy baikan doong...

__ADS_1


Gimana, udah pada plong kan reader sekalian? ;D


__ADS_2