
“Kenapa kamu menemui dia hah, kenapa?!” teriak Raka sesampainya di rumah.
Emosinyaa sudah benar-benar di ubun-ubun. Ia tidak terima melihat Reva bersama laki-laki itu, terlebih Theo telah menyentuh dan memeluk tubuh istrinya.
“Mas, aku gag nemuin dia. Dia yang datang ke rumah sakit dan ketemu mamih. Aku gag mungkin biarin theo di sana sama mamih. Aku….” Elak Reva yang berusaha meyakinkan Raka.
“Kamu bilang kamu nemenin papih. Tapi apa buktinya? Kamu pergi dengan laki-laki itu!” lagi Raka memotong kalimat Reva dan Raka kembali menumpahkan kemarahannya.
“Mas! Semuanya gag seperti yang kamu kira!” seru Reva.
“Apa? Apa yang gag seperti aku kira? Kamu mau balas dendam sama aku, hah? Kamu mau kembali ke kehidupan kamu dengan banyak lelaki yang bisa kamu pilih sesuka hati? Apa? Apa lagi yang gag sesuai dengan yang aku kira, hah? Apa?!” gertak Raka.
Detik itu juga air mata menetes dari sudut mata Reva. Satu kalimat yang sangat ia benci,meluncur begitu saja dari mulut Raka dan mengoyak harga dirinya. Rasanya hati Reva remuk seketika. Sakit,ya ucapan Raka sangat menyakitkan.
Reva terangguk seraya menatap Raka dengan penuh kesakitan. Raka rupanya lupa bahwa ia pun datang dengan wanita yang begitu Reva benci. Tidakkah ia tahu kalau hati Reva juga terluka?
“Terima kasih,… terima kasih karena kamu masih mengingat masa laluku." Tutur Reva dengan suara bergetar dan air mata yang perlahan menetes. "Terima kasih karena kamu masih mengingatkan aku bahwa tidak semua orang bisa menerima masa lalu aku termasuk kamu." Reva menunjuk dada Raka. "Terima kasih kamu telah menyimpannya dengan baik dan mengatakannya di waktu yang lebih cepat. Terima kasih telah membuatku berfikir kalau kamu berbeda tapi nyatanya tidak.” Lirih Reva seraya menatap Raka dengan penuh kekecewaan.
Selama ini, semua hal Reva lakukan demi untuk mengubur semua masa lalunya yang menjijikan. Selama ini juga ia mengira Raka benar-benar bisa menerima dirinya yang sekarang. Jika itu Laras atau orang lain yang mengungkit masa lalunya, mungkin Reva bisa mengabaikannya. Tapi jika itu Raka, rasanya terlalu menyakitkan.
Raka mengguyar rambutnya frustasi. Ia semakin kesal dengan apa yang Reva ucapkan.
Reva memejamkan matanya sejenak membiarkan buliran air mata itu menetes begitu saja. Rasanya terlalu sakit jika ia harus menahannya. Semua ia lakukan untuk menjadi wanita yang layak untuk Raka tanpa peduli pikiran orang-orang terhadapnya. Ia yakin ia tidak perlu menjelaskan tentang dirinya kepada siapapun. Karena yang menyukainya tidak butuh itu dan yang membencinya tidak akan percaya. Lantas Raka termasuk yang mana?
Ia kembali menatap Raka nanar. “Jika kamu tidak bisa menerima masa laluku, harusnya kita tidak pernah berada dalam satu ikatan yang sakral. Kamu bisa memilikiku dengan uang-uangmu dan meninggalkanku saat kamu merasa bosan atau merasa muak. Bukankah itu akan lebih adil buat kita?” tutur Reva dengan air mata yang berderai.
“Bagus, sekarang kamu kembali menunjukkan siapa diri kamu. Kamu mengatakan ini karena kamu merasa theo lebih baik dari saya kan?! Dia lebih memiliki semuanya di banding saya. Itu alasan kamu menemui dia diam-diam kan? Iya reva?!” teriak Raka dengan mata membelalak. Raka memahami perkataan Reva dengan persepsi yang berbeda.
Reva hanya mampu tertunduk. Hatinya hancur, demi apapun, ia lebih rela di hujani pukulan atau puluhan belati di tubuhnya. Ia akan tetap bertahan di banding mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Raka.
Harga diri, persetan dengan semuanya. Dalam pikiran Reva, bagi Raka mungkin Reva tidak memilikinya.
__ADS_1
“Berfikirlah seperti yang mau kamu pikirkan. Dan katakan semua yang kamu simpan selama ini. Jika semuanya terlalu membebani kamu, kamu bisa meninggalkannya. Termasuk aku.” Tukas Reva pada akhirnya.
Ya, pada akhirnya Reva hanya bisa berlari menuju kamarnya. ia tak sanggup lagi berdiri di hadapan Raka yang mungkin akan mengeluarkan lebih banyak kata-kata yang menyakitkannya. Katakanlah Raka benar dengan semua ucapannya tentang masa lalu Reva, tapi apa artinya kalimat ia menerima Reva dengan semua masa lalunya jika nyatanya Reva masih di anggap sebagai wanita yang ada di pikiran Raka.
Reva menutup pintu kamarnya rapat-rapat kemudian bersandar di daun pintu. Tubuhnya gemetar, ia menangis sejadinya dan jatuh terduduk tanpa sisa tenaga sedikitpun.
“Prankk!!!” terdengar suara pecahan kaca saat Raka memukul lemari kaca untuk menumpahkan emosinya.
“Aarrrgghh!!!” teriak Raka dengan penuh kemarahan.
Matanya terlihat merah dengan amarah bercampur air mata, penampilannya benar-benar berantakan. Ia bahkan membiarkan darah segar itu menetes dari tangan kanannya. Sementara Reva hanya bisa terduduk dengan tangis yang dalam seraya menutup kedua telinga dengan kedua tangannya.
Sakit, hanya itu yang Reva rasakan saat ini.
*****
Malam menjelang suasana rumah masih hening dan kelam. Hanya lampu tidur yang menyala di kamar Reva. Ia beranjak dari tempat duduknya dengan langkah gontai. Ia duduk di depan meja rias dan memandangi pantulan wajahnya di cermin. Ia pucat dengan mata yang merah dan sisa air mata yang belum kering seluruhnya.
Reva kembali terisak di hadapan bayangannya sendiri. Ia bahkan sangat membenci ketika melihat sepasang mata yang menyiratkan kesakitan dan penyesalahan. Reva mengusap air matanya dengan kasar. Ia beranjak untuk pergi ke kamar mandi. Dengan pakaian lengkap, ia mengguyur tubuhnya dengan shower. Ia menangis sejadinya di bawah guyuran air. Ia berharap, semua masa lalunya bisa pergi bersama dengan aliran air yang mengalir entah kemana.
“Kelak, saat kamu lahir dan mengerti semuanya, apa kamu pun akan membenci bunda nak? Apa kamu bisa memaafkan semua masa lalu bunda sayang?” tutur Reva dengan suara bergetar.
Ia mengusapi perutnya dengan lembut. Bahkan ia tidak bisa membayangkan jika kelak anak ini akan mengatakan kalimat yang sama dengan yang diucapkan Raka. Cukuplah Raka yang mengatakannya tapi jangan anak yang tidak berdosa ini.
Di tempat lain, Fery tengah membalut luka di tangan Raka dengan perban elastis. Raka masih terdiam dengan tatapan kosongnya dan Fery tidak mengatakan sepatah kata pun. Baru kali ini Fery melihat Raka sangat hancur bahkan mungkin tenaganya hanya tersisa untuk ia bernafas dan mengedipkan mata saja.
Selesai merawat luka Raka, Fery segera merapikan antiseptic dan perkakas lainnya. Ia menutup kotak obat dengan kasar lalu pergi meninggalkan Raka.
“Akhiri kerjasamanya, buat GN menyesal!” ucap Raka yang membuat langkah Fery terhenti seketika.
Fery berbalik dan menatap Raka. Terlihat sorot mata penuh kemarahan di wajah dingin itu.
__ADS_1
“Lo yakin? Jangan buat keputusan saat lo marah.” Fery mencoba memperingatkan Raka.
Raka mengangkat wajahnya dan balik menatap Fery. “Lo hanya perlu menuruti semuanya.” Tandas Raka tanpa bisa di debat.
Apalah daya Fery, tentu ia hanya bisa mengikuti perintah Raka.
****
Jam 11 malam, Raka baru tiba di rumahnya. Saat membuka pintu semuanya terlihat sepi. Hanya lampu malam yang menyala di sudut ruang tamunya. Raka sudah tidak lagi melihat ruangan yang berantakan dan pecahan kaca yang terserak di lantai. Semuanya sudah bersih.
Raka kembali menatap tangannya yang terbalut perban. Rasa perihnya tidak sebanding dengan gejolak kesakitan dan kemarahan yang ada di dadanya. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Dahaganya seperti tidak pernah hilang. Ia bisa mencium wangi masakan. Saat membuka penutup makanan di atas meja makan, ada beberapa masakan yang ia yakini di buat oleh Reva. Raka mengabaikannya, ia tak bernafsu untuk memakannya. Ia hanya meneguk segelas air minum.
Raka berjalan menuju kamarnya. Ia berniat hanya mengambil baju tidurnya dan akan tidur di kamar tamu. Namun saat membuka pintu kamar pun semuanya terlihat sepi. Tidak ada Reva di sana. Raka mendudukan tubuh jangkungnya di atas tempat tidur. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan kemudian mengacak rambutnya dengan frustasi. Seperti biasa, Reva sudah menaruh baju Raka tidur di atas tempat tidur agar Raka tidak kesulitan mencari namun yang menyiapkannya entah berada di mana.
Raka merebahkan tubuhnya dan memandangi langit-langit kamarnya. Sepi dan sendiri seolah menjadi perpaduan yang sempurna untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Raka menghela nafasnya dalam, dadanya terasa sesak. Sejenak ia memejamkan matanya, bayangan pertengkarannya bersama Reva kini kembali berputar di ingatannya. Sudut hatinya meringis saat mengingat tatapan kesakitan yang Reva tujukan padanya tapi logikanya masih membenarkan bahwa yang ia lakukan dan katakan sudah tepat.
Mungkin, mereka memang perlu waktu untuk diri masing-masing.
Di rumah sakit, Reva tengah meneguk secangkir coklat hangat di gelas kertasnya. Ia masih terduduk sendirian di depan ruang ICU tempat Indra di rawat. Sudah lebih dari 2 jam Nida pergi menemui tamu yang merupakan salah satu orang kepercayaan Indra. Hati Reva tergerak untuk mencari Nida, mungkin saja ia membutuhkan bantuannya.
Di kejauhan Reva melihat Nida yang tengah duduk tertunduk di hadapan 2 orang laki-laki yang masih memakai pakaian kerjanya. Sesekali Nida tampak menyeka air matanya dan kembali berbicara. Walau tidak sopan, Reva mencoba mendekat dan mencuri dengar perbincangan mereka.
“Kami sudah menjual beberapa aset kita di inggris sesuai petunjuk bapak sebelum sakit, tapi masih belum cukup untuk menutupi kerugian kita dan mengembalikan semua dana investor yang mereka minta. Rasanya tidak ada jalan lain dan keputusan harus di buat.” Ujar laki-laki tersebut dengan berat.
Nida menatap kedua laki-laki itu dengan sendu. Ia harus menguatkan dirinya menghadapi kenyataan ini. “Apa kalian sudah melakukan rapat dengan direksi untuk meminta pertimbangan?”
Laki-laki itu terangguk. “Sudah bu. Direksi mengatakan bahwa kalau kita kehilangan para investor dan pemegang saham yang mulai berbalik menentang kita, sepertinya kita memang tidak bisa bertahan. Bahkan bu alea dan pak edho pun tidak bisa meyakinkan para direksi.” Terang laki-laki itu kembali.
Nida hanya bisa terdiam. Menangis pun rasanya ia tak bisa. Dan Reva, ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada dinding seraya mengusap dadanya yang terasa sesak. Semuanya begitu bersamaan dan bertubi-tubi hingga nyaris membuatnya kehabisan nafas.
****
__ADS_1