Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 163


__ADS_3

Reva baru keluar dari ruang perawatan Indra. Ia merasa kepalanya terasa sangat pusing. Ia duduk sejenak di kursi yang ada di depan ruangan Indra yang memijat kepalanya perlahan. Deringan handphone seolah menyadarkannya.


“Halo sayang..” suara Raka terdengar begitu lembut di telinga Reva.


“Iya mas…” sahutnya.


“Sayang, kamu lagi dimana? Gimana papih?”


“Aku masih di rumah sakit mas. Kondisi papih udah lebih membaik, dia udah bisa bernafas spontan dan itu suatu kemajuan yang bagus kata dokter. O iya, gimana di kantor?”


“Syukurlah kalo papih membaik. Di kantor masih tetap sama, mas masih berusaha melakukan yang terbaik yang mas bisa.” Terang Raka dengan segala kegundahannya.


“Aku yakin mas bisa menghadapinya dengan baik. Tetap semangat ya sayang…” timpal Reva kemudian.


Raka terangguk. “Iya makasih sayang. Jangan lupa makan dan salam buat mamih.”


“Iya mas…”


Reva mengakhir panggilannya. Perasaannya sedikit tenang mendengar suara Raka yang terdengar baik-baik saja. Ia selalu yakin, suaminya akan berusaha dengan gigih untuk mengembalikan kondisi menjadi lebih baik.


Reva mengalihkan pandangannya pada suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya. Matanya membulat saat melihat Theo yang kini sedang melambaikan tangannya seraya tersenyum.


“Helo sweetheart, are you waiting for me?” tanya Theo dengan penuh percaya diri.


Reva tidak menghiraukannya, Ia segera berbalik dan hendak meninggalkan Theo, rasanya berbicara dengan laki-laki ini selalu membuatnya kesal.


Siapa sangka, Nida datang begitu saja.


“Selamat siang nyonya wijaya…” sapa Theo seraya menunduk.


“Selamat siang.” Nida membalas anggukan Theo. “Sayang, ini siapa?” tanya Nida kemudian.


Terpaksa Reva kembali berbalik. “Ini theo mih.” Jawab Reva sekenanya.


Theo mengulurkan tangannya pada Nida dan Nida menyambutnya dengan ramah. “Saya berteman dengan putri anda, dia sangat menyenangkan.” Puji Theo yang membuat Nida terangguk.


“Oh begitu.. Reva jarang sekali mengenalkan saya dengan temannya.” Cicit Nida.


Reva melirik Theo yang tampak senang bertemu Nida.


“Bisakah saya mengajak reva untuk makan siang? Kebetulan kami sudah lama tidak bertemu.” Pinta Theo seraya melirik Reva.


“Oh iya tentu. Ini memang sudah jamnya makan siang. Pergilah sayang, biar mamih yang jagain papih.” Sahut Nida yang polos tanpa menduga apapun.


“Nggak usah mih, rere makan bareng mamih aja.” Tolak Reva seraya menatap Theo dengan sinis. Theo hanya tersenyum, tentu saja ia tidak akan menyerah.


“Sayang, kalian kan udah lama gag ketemu. Gag pa-pa, mamih yang jagain papih, hem…” bujuk Nida yang seolah menjadi suatu keharusan.

__ADS_1


Reva menoleh Theo, ia tampak mengangkat alis kanannya seraya tersenyum. Sepertinya di kepalanya ada banyak rencana untuk Reva.


Akhirnya Reva menyetujui untuk pergi. Ia tidak mungkin membiarkan Theo berlama-lama bersama Nida. Ia khawatir Theo akan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya ia katakan.


*****


Mereka makan siang di sebuah restoran tempat Reva dan Theo kembali bertemu beberapa waktu silam. Theo membawa Reva duduk di tempat terbaik dengan view yang bagus. Theo menarikkan kursi untuk Reva dan Reva hanya bisa menurut. Ia duduk di hadapan Reva dengan senyum penuh kemenangan.


“You look’s beautiful today.” Puji Theo yang diabaikan begitu saja oleh Reva.


“Saya tidak punya banyak waktu untuk berbicara tidak penting dengan anda.” Ketus Reva.


Lagi, Theo hanya tersenyum tipis, sepertinya ia tidak peduli dengan penolakan Reva. Theo mengangkat tangannya membeli tanda pada pelayan.


“Kamu mau makan apa sweetheart?” tanya Theo


“Soto ayam!” cetus Reva sekenanya. Ia tahu, di restoran ini tentu tidak menyediakan menu pesanannya.


“Tanpa seledri dan daun bawang.” Timpal Theo yang membuat mata Reva membulat seketika. “Apa kamu mau sekalian dengan jus jeruknya atau blueberry cheese cake?” lanjut Theo yang membuat Reva semakin terperangah. Theo hanya tersenyum mendapat tatapan bingung dari Reva.


“Maaf tuan, kami tidak menyediakan soto ayam…” ujar pelayan itu dengan takut-takut.


“Minta daniel buatkan!” gertak Theo yang membuat nyali pelayan tersebut menciut seketika.


“Baik tuan.” Hanya itu jawabannya. Melihat tatapan tajam Theo, pelayan itu bergegas pergi bahkan sebelum menanyakan menu lainnya.


Hingga menu yang dipesan tiba, Reva masih dengan keacuhannya memandang entah kemana dan Theo masih dengan rasa kekagumannya pada Reva.


“Silakan tuan…” ujar pelayan tersebut.


Benar saja semangkuk soto ayam sudah ada di hadapan Reva lengkap dengan jus jeruk dan blueberry cheese cake. Namun sayangnya, ini bukan saatnya untuk Reva terkesima. Di hadapannya ada menu makanan lain yang diyakini disediakan Daniel untuk Theo.


“Makanlah, bayimu perlu banyak nutrisi.” Ujar Theo yang kembali membuat Reva terkejut. Rasanya tidak ada siapa pun yang tahu kehamilannya bahkan Raka sekalipun. “Saya bisa menyayanginya seperti anak saya sendiri dan memberi perhatian yang lebih dari yang ayahnya berikan.” Lanjut Theo seraya menyuapkan salah satu menu makanan ke mulutnya.


Reva hanya tertunduk tanpa berani memandang Theo. Bulu kuduknya merinding setiap melihat tatapan Theo terlebih kata-kata ajaib itu yang keluar dari mulutnya. Reva berusaha acuh dan mulai menikmati makannya. Ia mungkin harus membenarkan salah satu kalimat Theo kali ini, bayinya perlu banyak nutrisi.


****


Selesai makan Reva memulai kembali kalimatnya. “Apa yang anda inginkan sebenarnya?” tanya Reva dengan tatapan sinis.


Theo terkekeh, Reva terlalu menggemaskan menurutnya. “Penawaran saya masih sama. Datanglah pada saya dan saya akan mengembalikan semuanya. Tidak hanya Wijaya tapi juga Adiyaksa.” Tutur theo dengan tatapan tajamnya.


“Kamu gila theo! Saya wanita bersuami!” seru Reva yang tidak bisa mengontrol emosinya. Ia berdiri seraya menatap Theo dengan penuh kemarahan.


“Leave him!! Everything will be easier right?” sahut Theo dengan penuh penekanan.


“You, damn!!!” tegas Reva seraya menunjuk Theo dan berbalik hendak pergi. Namun dengan segera Theo meraih bahu Reva. Saat Reva hendak menepis tangan Theo dan membantingnya, rupanya Theo jauh lebih bersiap. Ia mengcengkram tangan Reva lebih kuat, memutar tubuhnya hingga terjatuh bersandar di dadanya dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Reva bisa merasakan hembusan nafas memburu Theo yang menerpa rambutnya yang kini berantakan. Reva terengah. Theo telah mengunci tubuhnya. Rasanya Reva sangat sesak dan tidak bisa melakukan apapun.


“I said I want you! And I will definitely get you!” bisik Theo dengan penuh penekanan.


Kini Reva dan Theo sudah menjadi pemandangan langka banyak orang. Tidak hanya orang-orang di resto itu yang melihatnya. Sepasang mata tajam pun tengah memandanginya dengan kilatan amarah di matanya.


Theo melepaskan pelukannya dan Reva menjauh beberapa langkah.


"BUK!!" Siapa sangka seseorang datang dan melayangkan pukulannya ke wajah Theo dan dialah Raka. Theo terhuyung.


“Awww!!” teriak pengunjung resto saat melihat Raka menghantamkan tinjunya berkali-kali ke wajah Theo.


“Mas raka! Mas!” teriak Reva yang segera menahan tangan Raka. “Mas,, berhenti mas…” ujar Reva dengan suara bergetar.


Raka menurunkan tinjunya namun pandangannya masih tertuju pada Theo. Nafasnya memburu dengan amarah yang bergejolak di dadanya. Demi apapun ia ingin menghabisi laki-laki di hadapannya.


Theo berusaha untuk bangun. Ia tampak tersenyum tipis seraya mengusap darah yang menetes dari sudut bibirnya.


“Astaga reva, lihat apa yang kamu perbuat… Kamu mempermalukan 2 laki-laki sekaligus." Ujar Laras dengan tatapan mengejek. Reva menatap Raka dengan penuh tanya, bagaimana bisa mereka datang bersamaan. Tapi Raka sepertinya tidak ingin menjelaskan. Fokusnya masih pada kemarahannya pada Theo.


"Apa kamu tidak tahu, suami kamu sedang berusaha keras untuk perusahaannya dan mencari kepercayaan orang lain tapi kamu malah sibuk meladeni laki-laki lain. Apa sifat dasar **** girl kamu masih belum hilang?” ujar Laras dengan penuh drama.


“Jaga mulut kamu!” teriak Reva yang mulai tersulut emosinya.


Raka menatap Reva dengan dingin, seolah perkataan Laras diamininya.


“Kamu benar laras, dia tentu akan lebih memilih laki-laki seperti saya , right sweetheart?” timpal Theo dengan seringai sarkas yang ia tujukan pada Raka.


Raka kembali mengeratkan kepalan tangannya namun ternyata Theo lebih dulu melayangkan bogemnya untuk membalas Raka. Siapa sangka Reva dengan cepat menghadang tubuh Raka dan menahan layangan tangan Theo yang tertuju pada Raka. Reva mencengkram dengan kuat kepalan Theo.


Theo kembali tersenyum. “Oh sweetheart, tempatmu bukan untuk pasang badan melindungi laki-laki itu. Kemarilah, berdirilah di sampingku.” Imbuh Theo dengan senyuman mengejek pada Raka.


Reva mengibaskan tangan Theo. Rasanya ia benar-benar membenci laki-laki di hadapannya.


Raka segera maju dan berniat menyerang Theo kembali namun Reva berbalik menahan.


“Kita pulang, sayang…” lirih Reva seraya menatap mata Raka yang masih menyalak tajam. Mata Reva memerah dan sedikit berair, tentu saja hati Raka mulai luluh. Ia menarik tangan Reva dan meninggalkan dua orang dihadapannya.


****


 


Huwaaaa gemes aku ngetik part ini. Dapet gag sih feel-nya?


Semoga kalian tetep suka ya... Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya juga tambahkan sebagai favorit. Happy reading semua....


Love

__ADS_1


__ADS_2