Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 154


__ADS_3

“Mih, reva mana kok, belum turun juga?” tanya Indra yang sudah berulang kali melihat jam di tangannya.


“Udah sih pih, biarin dulu aja. Mungkin dia masih pengen di kamarnya.” sahut Nida seraya mengoleskan selai di atas rotinya.


“Tapi, dia sendiri yang pengen ke kantor bareng papih loh, langka banget kan?” tanya Indra seraya terkekeh.


“Tau nih, udah 2 hari ini reva susah banget di bangunin. Katanya matanya susah melek mih.” Sambung Alea yang ikut merasakan keanehan sang adik.


“Gag pa-pa,, mungkin moodnya belum bagus. Lagian terlambat ke kantor gag pa-pa kali pih, toh perusahaan papihnya ini.” Cetus Nida seraya menyenggol lengan suaminya.


“Hahahaha mamih bisa aja…” Indra terkekeh dengan renyahnya.


Tanpa mereka sadari yang di bicarakan sudah berjalan menuju meja makan. Tapi ia masih mengenakan piyama yang dipakainya tidur.


“Apa sih, FGD-in aku ya?” tanya Reva seraya menarik kursi di samping Alea.


“FGD-in elo? Kerjaan kali di FGD-in.” cetus Alea seraya mengacak rambut Reva yang memang masih tersanggul tinggi khas bangun tidur.


“Maksud gue FGD dalam arti Focus ghibah discusion.” Terang Reva yang di sambut tawa dari keluarganya. Tapi yang berbicara tampak santai saja, melahap apel yang ada di hadapannya.


“Oh iya, kamu mau sarapan apa sayang? Mau nasi goreng?” tawar Nida yang menyodorkan makanan ke dekat Reva.


“Emm.. nggak mih. Aku mau makan siomay aja. Enak kayaknya kalo makan siomay terus bumbu kacangnya di kasih perasan jeruk nipis gitu.” Reva membayangkan makanan itu sudah ada dihadapannya.


“Oh ya udah, nanti mamah minta bi inah bikinin ya sayang. Tapi takutnya lama, kamu makan nasi goreng dulu yaa.” Tawar Nida.


“Nggak usah bikin mih, nanti rere nungguin abang penjualnya depan rumah.” Sahutnya santai.


“Hah?” tanya ketiganya bersamaan.


Tapi Reva hanya mengedikkan bahunya acuh.


“Masalah lo sama raka bikin lo tambah eror ya de?” Alea menempatkan punggung tangannya di dahi Reva tapi Reva acuh saja.


“Leaa… kok ngomongnya gitu sih…” Nida mencoba memperingatkan.


“Sorryy….” Lirih Alea, tapi sepertinya ucapan Alea tidak di anggap penting oleh Reva, ia masih asyik dengan apelnya.


“Aku bakal nyelesein masalah aku sama mas raka secepatnya. Jadi mamih, papih sama kak lea gag usah khawatir. Aku hanya perlu memastikan satu hal aja.” Ungkapnya tanpa tendensi apapun dan begitu santai. Sangat jauh berbeda dengan Reva kemarin yang masih mengurung diri dan sesekali terdengar terisak di kamarnya.


Alea hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setiap harinya Reva seolah-olah menjadi sosok yang berbeda. Kadang ia sangat murung, sangat rajin dan kali ini sangat santai. Bahkan ia berlalu pergi meninggalkan orang-orang yang sedang kebingungan hanya untuk menunggu abang siomay yang lewat depan rumah.


“Re.. tolong jangan gila sekarang.” Batin Alea.


****


Handphone Alea berbunyi nyaring, membuatnya harus menjeda pekerjaannya. Alea melihat jam di dindingnya, sudah pasti yang menelponnya saat ini adalah sang ipar yang sedang menunggu laporan hariannya tentang sang adik.


“Gimana reva?” Sudah menjadi hal biasa, pertanyaan itulah yang akan pertama kali meluncur dari mulut Raka.

__ADS_1


“Baik-baik aja tuh. Pagi ini dia malah biasa aja, kayak gag ada masalah. Beda banget sama kemaren.” Terang Alea santai.


“Syukurlah… Gue kepikiran dia terus. Lo udah ngobrol lagi belum sama reva?”


“Belum.. Tapi ngomong-ngomong tumben semalem lo gag ada ke rumah? Padahal gue pengen liat drama lo diusir lagi sama reva.” Cetus Alea sambil terkekeh.


“Hahaha iyaa, soalnya semalem dia bales chat gue.” Timpal Raka yang terdengar sangat senang.


“Wah, beneran lo? Lo gag lagi halu kan?” Alea sampai berdiri karena kaget mendengar timpalan Raka.


“Ya nggak lah… Ya walopun dia balesnya singkat, paling nggak kan dia udah mau ngerespon gue.” Ungkap Raka.


Kalau mengingat kejadian semalam, hati raka memang kembali berbunga-bunga. Setelah berhari-hari Reva mengacuhkannya, akhirnya tadi malam Reva membalas pesannya. Tentu saja membuat perasaan Raka sedikit lega.


“Ya syukurlah, cepet-cepet deh lo baikan. Capek gue berasa jadi comblangnya abege ginih. Lagian ya, gue gag mau lo lama-lama biarin masalah kayak gini. Bisa tambah runyam urusan.”


“Iya gue tau lea. Siang ini gue rencananya mau ngajak dia makan siang. Dia gag lagi banyak kerjaan kan?”


“Dia gag masuk hari ini, tadi pagi izin sama bokap. Tadi pagi juga pas gue berangkat, dia malah anteng nungguin tukang siomay lewat depan rumah. Emang agak aneh bini lo hari ini.” Terang Alea yang membuat Raka mengernyitkan dahinya.


“Lo tau gag dia pergi kemana siang ini?”


“Katanya sih mau ketemu orang. Gag tau juga gue.”


“Ketemu orang? Jangan-jangan…”


“Theo!”


“Theo!”


“Ah gila, jangan sampe si theo malah dapet celah gara-gara masalah lo sama reva.” Alea mulai panik.


“Lea, lo kok malah nakut-nakutin gue sih!” perasaan Raka mulai gusar.


“Ya udah, tar gue coba ikutin dia deh. Lo tunggu kabar gue selanjutnya.” Dalam beberapa saat Alea segera memutus telponnya.


Setelah beberapa kali membicarakan masalah Raka dan Reva bersama Fery, mereka menarik kesimpulan adanya keterkaitan Theo dalam kesalahpahaman Raka dan Reva. Tentu saja, siapa lagi yang paling di untungkan dari masalah yang dihadapi Raka dan Reva saat ini.


Untuk alasan inilah Alea mempercepat pekerjaannya. Ia menelpon orang rumah dan mencari tahu keberadaan Reva karena handphonenya yang tidak aktif.


“Astaga re, lo bikin gue jantungan aja.” Batin Alea.


*****


Di sebuah café kali ini Reva berada. Ia tengah duduk sendirian dengan segelas minuman ringan yang menemaninya menunggu seseorang. Reva melihat jam yang melingkar di tangannya, beberapa menit lagi, ia yakin orang yang di tunggunya akan segera tiba.


Benar saja, seseorang yang di kenalnya tampak berjalan dengan elegan ke arah Reva.


“Wah… Nyonya raka rupanya sudah datang lebih dulu, maaf sudah menunggu.” Ujar Laras seraya membuka kacamata hitam yang menutupi mata bulatnya. Ia duduk di hadapan Reva dengan kaki kanan yang menyilang  di atas kaki kirinya..

__ADS_1


“Tidak masalah, pesan lah minum lebih dulu, karena saya punya banyak sekali pertanyaan.” Sahut Reva dengan sunggingan senyum di bibirnya. Ia menatap Laras laman, seperti seekor singa betina yang siap menerkam mangsanya.


Laras mengerlingkan matanya malas. Ia mengibaskan rambutnya dan balik menatap Reva dengan angkuh.


“Saya tidak terbiasa menerima sesuatu dari musuh saya. Kalau anda ada pertanyaan, silakan. Saya tidak keberatan untuk menjawabnya.” Sahut Laras seraya menyilangkan tangannya di depan dada.


Reva kembali tersenyum sebelum memulai kalimatnya. “Okey, saya hanya ingin bertanya, bagaimana rasanya berhasil tidur dengan suami orang lain?” tanya Reva sedikit berbisik namun terdengar penuh penekanan.


“Hahahaha…” Laras tertawa lebar mendengar pertanyaan Reva. Baginya, ini seperti sebuah kesempatan untuk lebih menjatuhkan Reva. “Tentu saja lebih menyenangkan di banding hanya menggoda pacar orang lain, hey **** girl.” Sahut Laras dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.


Reva terdiam sejenak, ia berusaha mencerna kalimat Laras. Sedikit banyak ia bisa menarik benang merah alasan dari Laras menganggu hubungannya dengan Raka.


“Oh ya… Sayang sekali, saya berhubungan dengan banyak lelaki tapi tidak pernah meninggalkan jejak apapun. Apalagi tidur dengan laki-laki tersebut, terlebih itu suami orang lain. Tidakkah anda tau, kalau suami saya tidak akan bertanggung jawab apapun pada anda nona cantik.”  Serangan mental pertama di lancarkan oleh Reva.


Laras terkekeh mendengar ujaran Reva. “Tidak masalah, yang jelas kamu harus ingat, suami kamu pernah mendesah bersama saya.” Timpal Laras yang membuat Reva merasa mual seketika.


“Wah, anda sepertinya sangat bangga ya menjadi persinggahan sementara? Tidakkah anda takut kalau suami anda kelak tau bahwa anda wanita yang hanya bisa menggoda suami orang lain untuk tidur bersamanya? Uuhh… kalau dia tau, apa pendapatnya yaa? Cantik iya, kaya banget tapi… mu-ra-han!” Reva memelankan suaranya di akhir kalimat tapi justru itulah yang membuat harga diri Laras seolah tertampar.


“Jaga mulut kamu reva! Saya punya harga diri! Saya tidak pernah memberikan tubuh saya pada laki-laki manapun termasuk suami kamu!” Laras berdiri seraya menunjuk wajah Reva.


Namun Reva hanya terkekeh. Binggo, jebakannya berhasil. Laras terlihat semakin marah, terlebih saat ia sadar kalau ucapannya tadi semacam deklarasi pada Reva.


“Wah.. Kalo gitu kasian sekali anda, sudah merendahkan harga diri tapi tidak mendapatkan apa-apa dari suami saya. Ckckckck… kasian…” tukas Reva kemudian. Ia segera berdiri untuk bergegas pergi, rasanya ia sudah menemukan jawabannya selama ini. Ya, Laras menipunya.


“Where are you going, *****?” teriak Laras seraya menarik rambut Reva.


Reva segera menghentikan langkahnya, terlihat senyum tipis di wajahnya, ia meraih tangan Laras dan dalam beberapa saat, mungkin ia akan membanting tubuh langsing tersebut.


“Reva!” Teriak Alea yang datang di waktu yang tepat. Ia segera memegangi tangan Reva dan berusaha melepaskan cengkramannya yang kuat hingga Laras meringis kesakitan.


“Shit!” dengus Laras saat merasakan nyeri yang luar biasa di pergelangan tangannya yang memerah. Namun melihat Alea yang juga ada di hadapannya, rasanya rasa sakitnya akan segera terbalas.


“Wow, rupanya perempuan di masa lalu dan masa sekarang sedang reuni ya?” ejek Laras yang masih menahan sakit di pergelangan tangannya.


“Apa maksud lo hah?” Alea mendorong tubuh Laras, hingga mundur beberapa langkah. Saat itu juga, semua pandangan pengunjung cafe tertuju pada ketiga wanita tersebut.


“Oohhh… kasian banget lo alea… Lo gag tau ya, kalo perempuan ini adalah perempuan yang diidamkan fery? Dan perempuan ini juga yang bikin fery pergi dari hidup gue!” teriak Laras yang akhirnya mulai membuka satu per satu tabir kebenciannya.


Alea menatap Laras tidak percaya. Dan Reva hanya bisa terpaku, ia tidak pernah menyangka kalau perempuan yang saat itu membuat Fery merasa direndahkan adalah Laras yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh kebencian.


“Lo tau, dia ngerusak hubungan gue sama fery. Mungkin lo juga cuma jadi pelampiasan buat fery karena sebenernya yang dia suka adalah ade yang lo lindungin ini. Lo ***** alea. Buka mata lo lebar-lebar!” seru Laras dengan seringai sarkasnya.


Walau diliputi perasaan yang tidak menentu, Alea melangkahkan kakinya untuk menghadapi Laras.


“Urusan gue sama reva atau pun fery, bukan urusan lo. Tapi urusan lo sama reva, akan jadi urusan gue!” gertak Alea dengan penuh kemarahan. Tatapannya seolah menguliti tubuh Laras tanpa sisa sedikitpun. “Lo sebaiknya menjauh dari hidup reva atau pun hidup fery. Atau lo bakal nyesel , *****!” lanjut Alea seraya mendorong tubuh Laras hingga terhuyung.


Alea meraih tangan Reva dan membawanya pergi.


“Reva!!! Lo yang bakal nyesel! Suatu hari lo sendiri yang bakal ninggalin raka, gue bersumpah!” Teriak Laras. Tapi sepertinya itu diabaikan begitu saja oleh Reva dan Alea. Alea malah melenggang seraya mengacungkan jari tengahnya pada Laras.

__ADS_1


“Aarrrrggghhhh!!!!” teriak Laras yang mengacak minuman di atas meja dan menendang meja serta kursi hingga berantakan. Wajahnya di penuhi kebencian, kebencian yang tidak akan pernah ada habisnya.


*****


__ADS_2