
Beberapa Revisi akhir sudah diberikan oleh dosen pembimbingnya. Sebentar lagi Reva dan Raka akan mengikuti sidang. Tanpa terasa, waktu 4 tahun lebih yang ia habiskan untuk mendapatkan gelar, akan segera berakhir begitu saja.
Dalam perjalanan menuju kost-an nya, Reva masih memandangi sampul tesis milik Raka yang ada di tangannya. Sebuah judul tesis tertulis jelas dan penebalan dan ukuran huruf yang cukup besar. Di bagian bawah tertulis Raka A. Putra.
“Kenapa?” suara Raka memecah keheningan yang sejak tadi melingkupi keduanya.
Ia melihat senyuman tipis yang sejak tadi tergambar di wajah sang kekasih.
“Reva Anasya, Raka A. Putra, semuanya RA. Kayak brand clothing artis terkenal.” Celoteh Reva sambil terkekeh.
“Kamu tau banget yaaa, brand artis terkenal gitu.” Ledek Raka yang masih fokus mengendalikan laju kendaraannya.
“Hahahha iyaa.. mereka di mana-mana ada. Di baligo, medsos, iklan , semuanya deh. Gimana aku gag hafal.” Sahut Reva yang kembali tersenyum lebar. “O iya, Raka A putra, A nya itu apa mas?”
Ingatan Reva tentang pembicaraan Riana mulai mendominasi pikirannya. “Kenali sebanyak yang lo bisa.” Kalimat itu terus menerus berdengung di telinga Reva.
“A?” Raka mengulang pertanyaan Reva. Ia tampak gusar dan mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Reva hanya mengangguk, menunggu jawaban Raka. “Sini aku bisikin..” goda Raka kemudian. Reva menurut saja dengan mencondongkan tubuhnya pada Raka. Ia benar-benar di buat penasaran hingga hilang kendalinya untuk menjaga jarak.
“A-Aku milikmu…” bisik Raka dengan lembut.
“Iihhhh.. mas raka… ngeselin ah!”
Spontan Reva memukul lengan Raka, membuat Raka tergelak melihat ekspresi menggemaskan yang diperlihatkan Reva. Mata melotot diikuti bibir yang mengerucut gemas, membuat Raka ingin mengigitnya. Reva yang terlihat dewasa dan tegas, ternyata bisa sangat menggemaskan bagi Raka.
“Hahahaha… Cie ngambek…” ledek Raka tanpa peduli kekesalan Reva yang berhasil ia kerjai.
“Tau ah, sebel!” sunggut Reva.
Ia memalingkan wajahnya dari Raka, lalu menyilangkan tangannya dan memandangi jajaran toko yang berbaris rapi di luar jendela mobil.
“Jangan marah laahh…” Raka mengusap gemas pucuk kepala Reva. “Mau es krim?” ia berusaha membujuk gadisnya.
“Gag usah! Aku diet.” Tegasnya yang sebenarnya juga ingin makan makanan dingin yang bisa menyegarkan mulut dan pikirannya setelah tadi mendapat banyak pembelajaran dari dosen pembimbingnya yang membuat otak Reva berfikir keras.
Nah kan, begitulah, kadang hati dan mulut tidak sekompak itu.
****
Hingga tiba di kost-an Reva, ia sudah tidak terlihat kesal. Begitulah Reva, cepat marah dan cepat baik lagi. Pikirannya sangat mudah terdestraksi begitupun kemarahannya. Ia sangat mudah melupakan sesuatu yang menurutnya tidak menyenangkan.
Teringat Marini yang dulu menterapinya, entah sudah berapa lama Reva tidak kembali lagi ke rumahnya. Sejak bercerita panjang lebar dengan wanita paruh baya tersebut, perasaan Reva terasa lebih baik. Ia jarang bermimpi buruk meski kadang beberapa ingatan masih muncul seperti puzzle yang tidak jelas diingatannya. Tapi membiarkan semuanya tanpa menolaknya, membuat Reva tidak terlalu merasakan sakit di kepalanya.
“Mas, kamu mau revisi duluan?” tawar Reva yang sudah membawakan segelas kopi hitam sesuai permintaan Raka.
Di taruhnya di hadapan Raka yang tampak sibuk dengan benda pipih di tangannya.
“Makasih re… Kamu duluan aja, aku masih ada kerjaan dari pak rudy.” Sahutnya yang sejenak menoleh Reva dengan senyuman tipis dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
__ADS_1
“Kita magang cuma bentar lagi mas, nanti kalo kita udahan pak rudy minta bantuan siapa buat ngerjain kerjaannya?” selidik Reva seraya menyalakan laptop kesayangannya di samping Raka.
Raka menghentikan ketikan di jarinya. Ia menatap Reva yang tengah memperhatikannya dengan seksama.
“Kamu tuh anak magang rasa wakil direktur. Kata dimas kamu juga banyak di puji pak rudy.” Tutur Reva dengan ekspresi yang sulit di tebak.
Antara rasa penasaran, cemas dan kagum bercampur jadi satu.
“Emang Dimas bilang apa aja?”
Raka mulai terusik dengan kalimat terkhir Reva. Ia khawatir Dimas akan mengatakan yang tidak-tidak.
“Ada deh!” sahut Reva yang ingin membalas Raka yang tadi mengerjainya.
“Emmm balas dendam yaaa kamu….” Ujar Raka sambil menarik tangan Reva lumayan kencang membuatnya terjatuh di atas dada Raka.
Tatapan keduanya saling bertemu. Telaga bening itu terasa sejuk saat bertemu dengan netra hitam milik Raka. Ada getaran halus yang kembali menggetarkan pengisi rongga dada keduanya. Raka melingkarkan tangannya di pinggang Reva sementara wajahnya semakin mendekat dengan tatapan lekat.
Perlahan, Reva memejamkan matanya saat bibir Raka menekan lembut bibir Reva yang mengatup sempurna. Kecupan kecil yang membuat bulu kuduk Reva meremang dilakukan berulang oleh Raka. Hangat dan lembut, itu yang Reva rasakan saat ini..
Raka meraih tengkuk Reva dan semakin menikmati kecupannya, hingaa terasa Raka mengigit lembut bibir Reva yang membuat mulutnya terbuka. Raka dengan leluasa mengeksplore mulut Reva dengan cepat. Lidah yang terjalin satu sama lain memberikan sensasi yang tak bisa di jelaskan. Ia bisa merasakan bedaran kencang di dada Raka yang iapun rasakan.
Raka melepaskan pagutannya. Ia menatap Reva sejenak dengan nafas masih memburu.
“Love you re…” bisiknya serak. Sebuah senyuman terlihat jelas di bibirnya. Ia menempelkan keningnya di kening Reva dan memejamkan matanya perlahan.
Reva hanya tersenyum. Ia berusaha tersadar dari kondisinya saat ini meski terasa sulit.
****
Raka yang sudah selesai dengan pekerjaannya, membuka-buka tesisnya dan melihat Revisi akhir yang diberikan dosen pembimbing.
Ia mulai mencoret-coret tumbukan kertas tebal di atas pangkuannya. Matanya terasa mulai perih memandangi tulisan yang sangat sulit di baca. Ia menambil cangkir kopi yang hampir tandas lalu menyesapnya hingga habis hanya bersisa ampasnya.
Rasa bosan benar-benar sudah menghinggapi Raka. Ia menoleh gadis di sampingnya yang masih fokus dengan pekerjaannya. Ia tersenyum sendiri saat melihat wajah itu begitu polos tanpa sapuan make up sedikitpun. Rambutnya terikat ekor kuda dengan sebagian anak rambut menutupi rahangnya yang terlihat seksi saat dilihat dari samping.
Tangan Raka mulai iseng, mencoret-coret kembali pensil di atas halaman kosong kertasnya. Sesekali ia menoleh Reva lalu kembali fokus pada coretannya.
“Mas, kalo ini bagusnya di bikin tabel apa charts ya?” tanya Reva tanpa menolehkan wajahnya.
“Apapun bagus.” Sahut Raka yang masih asyik menggoreskan pensilnya.
Mendengar jawaban Raka, Reva segera menoleh. Laki-laki itu tengah tertunduk dengan kepala miring ke kiri dan ke kanan.
“Kamu ngapain sih?”
Reva mengintip pekerjaan yang dilakukan Raka. Matanya membulat saat melihat siluete dirinya yang belum selesai 100%.
“Hah? Bukan apa-apa kok.” Raka membalik kertasnya agar tidak terlihat oleh Reva.
__ADS_1
“Mas, liat dong…” rajuk Reva dengan manjanya.
“Bukan apa-apa re…”
Raka masih menolak memperlihatkan karya coretannya. Tapi ekspresi wajah Reva berubah seketika, ia merengut dan terlihat kesal dengan tangan terlipat di depan dada. Apalah daya Raka kalau bukan mengalah.
“Ya udah, ini…”
Raka mengambil salah satu lembar dan memberikannya pada Reva.
“Waahh ini aku mas?” Reva tercekat tidak percaya.
Ternyata Raka yang sejak tadi terdiam, ia sedang melukis Reva dari samping. Suatu kegiatan yang sudah sangat lama ia tinggalkan, tepatnya setelah Lana pergi, tidak ada lagi keinginanya untuk melukis.
“Apa aku secantik ini?”
Reva merapikan rambutnya dengan malu-malu. Ia menatap Raka yang hanya tertunduk dengan jari yang memainkan pensilnya. Tanpa ia sadar, tangannya tergerak sendiri untuk melukis Reva dan seketika bayangan Lana kembali muncul.
“Kak Raka, buku gambarnya buat Lana yaa… Lana suka sama lukisan-lukisan kak raka…” ujar gadis bermata bulat yang menatapnya dengan penuh binar.
“Boleh, jangan sampai hilang yaaa…”sahut Raka, setuju.
Lana melihat satu per satu hasil lukisan Raka. Sangat indah dan terlihat nyata.
“Kak raka lukis Lana juga dong.. ya kak yaa…” rengek Lana sambil menarik-narik tangan Raka.
Lana selalu jadi kelemahannya. Ia tidak bisa menolak setiap keinginan gadis cantik ini. Iapun mengangguk.
Hanya butuh waktu beberapa menit hingga Raka menyelesaikan lukisannya. Lagi-lagi Lana di buat takjub dengan karya indah dari Raka.
“Lukisannya bagus… Aku suka.” Suara Lana dan Reva terngiang bersamaan di telinga Raka.
Raka terpaku sejenak. Ia berusaha keluar dari imajinasinya. Ia menggelengkan kepalanya yang penuh dengan kenangan bersama Lana.
Reva bisa melihat perubahan raut wajah Raka.
“Kamu kenapa mas?”
Reva menatap lekat wajah laki-laki yang sedang mengucek matanya. Ia hanya menggeleng lalu tersenyum. “Aku gag pa-pa…” lirih Raka sambil mengusap pucuk kepala Reva.
Sejenak Reva memandangi Raka penuh tanya tapi laki-laki itu hanya tersenyum. “Aku gag tau kalo mas raka suka ngelukis.”
Reva memandangi dan mengusap karya Raka dengan penuh kekaguman.
“Kalau ada yang kamu gag tau tentang aku, tanya lah… Aku senang kalau kamu mulai peduli hal kecil tentang aku.” Tukas Raka tanpa melepaskan senyumannya.
Reva menyadari benar ucapan Riana siang tadi. Terkadang, ia tidak bisa hanya menerka tapi perlu bertanya untuk menunjukkan rasa pedulinya pada orang yang ia sayang.
****
__ADS_1
Duuhh udah mau 60 episode aja nih... jangan lupa like dan komennnya yaaa