Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl
Episode 25


__ADS_3

Hari ini benar-benar lebih ramai dari hari sebelumnya. Berkali-kali Reva menelan ludahnya sendiri yang terasa mulai kering karena terus berbicara. Antusiasme pengunjung memang tidak terelakkan, tidak hanya bertanya tentang rumah-rumah yang di tawarkan, mereka juga meminta berfoto seperti biasanya.


Reva dan Raka bergantian meladeni permintaan pengunjung meski benar-benar menguras tenaga mereka.


“Yah, mudah-mudahan anak kita mirip mas atau mbak nya ya ayah… cantik dan ganteng.” Tutur seorang wanita hamil yang tengah mengelus perutnya seraya menatap Reva dan Raka bergantian.


Entah sudah berapa banyak foto yang ia ambil bersama Raka dan Reva yang tidak bisa keduanya tolak.


“Ya harus mirip kita juga dong Bu, nanti orang-orang bingung kalo bayi kita mirip mas sama mbak nya…” sahut sang suami seraya mengangguk sopan pada Raka dan Reva.


Wanita itu mendelik kesal, karena harapannya tidak diamini sang suami.  Reva dan Raka saling berpandangan, mencari cara mengakhiri drama tersebut.


“Yang jelas, semoga adik bayinya sehat selalu ya Bu, pak… Dan saat lahir ia sudah berada di rumah baru.” Tutur Reva yang ikut mengelus perut wanita tersebut dengan lembut.


“Ammiinn… makasih mba…” sahut wanita tersebut dengan sumeringah. “Tuh yah, kita ambil salah satu rumahnya yaa… supaya anak kita ngerasain tinggal di rumah bagus. Boleh kan yah?” bujuk wanita tersebut seraya mengalungkan tangannya di lengan kanan sang suami.


“Iyaaa, tapi kita kredit aja yaa…” tukas sang suami perlahan.


“Asyiikkk, makasih ayah…” wanita tersebut memeluk suaminya tanpa ragu.


Reva ikut tersenyum kecil, bukan karena satu rumah yang ia tawarkan akan terjual tapi tersenyum karena melihat interaksi pasangan tersebut yang terlihat sangat manis.


Raka yang sejak tadi memandangi Reva, tampak tersenyum kecil melihat ekspresi senang Reva. Laki-laki itu mulai menghampiri Raka dan menanyakan semua tata cara kepemilikan rumah dan Raka dengan telaten menjelaskannya sambil sesekali melirik Reva yang asyik berbincang dengan wanita hamil tersebut.


“Yeaayyy! Ada 8 orang yang mau beli unit kita ya. Aduuhh syukurlaahhh…” seru Reva yang kegirangan melihat rekap pengunjung yang di catat Raka di laptopnya. Ia menatap layar laptop dengan senyum lebarnya karena usahanya tidak sia-sia.


“Ini karena lo pinter banget menarik hati konsumen.” Sahut Raka dengan bangga.


“Ini berkat lo juga yang sabar ngeladenin semua pertanyaan calon konsumen.” Timpal Reva dengan tatapan hangatnya pada Raka.


Raka merasa, jantungnya akan berhenti berdetak jika Reva terus menatapnya seperti itu. Ia segera mengalihkan pandangannya ke layar laptop dengan sudut mata yang masih melirik Reva yang berdiri di sampingnya.


“Lo juga udah bisa senyum sama konsumen, kereeennn…” lanjut Reva yang mengacungkan 2 jempolnya pada di hadapan Raka. Raka ikut tersenyum melihat tingkat Reva.


Sejenak, tatapan keduanya saling bertemu. Raka menatap lekat manik hitam yang setiap malam selalu membuatnya resah karena merindukannya. Namun dalam waktu yang sama pun, tatapan itu berhasil membuat hatinya merasa damai, teduh dan bisa tersenyum.


Reva sendiri, merasa beberapa ingatan di kepalanya membuat ia merasa pening. Beberapa kejadian yang ia coba lupakan, berputar membentuk kolase yang mengganggu pikirannya. Rasanya, untuk pertama kali sugestinya pada diri sendiri, gagal.


Reva memalingkan wajahnya agar tidak lagi bertemu pandang dengan Raka. Ia tidak ingin semua hal yang semalam ia coba simpan di alam bawah sadarnya, satu per satu muncul di pikirannya. Reva menggelengkan kepalanya berulang kali.


“Re…”


Sebuah suara menyadarkan Reva dari lamunannya. Suara yang sangat ia kenal dengan baik.


“Kak mela…” tutur Reva saat melihat sosok mela yang berdiri di hadapannya.


“Pantesan kok di sini rame, ternyata ada lo…”


Mela menghampiri Reva dan memeluknya dengan erat.


Reva tersenyum tipis dan mengeratkan pelukannya pada Mela. Setelah cukup meluapkan rasa rindunya, perlahan Reva melepaskan pelukan wanita tangguh yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

__ADS_1


“Kak, kemaren gue lewat stan lo, tapi lo gag ada…”


“Iya, beberapa hari gue emang gag masuk, soalnya Rio sakit.” Terang Mela yang berusaha tersenyum, walau kelu.


“Rio sakit apa?” Reva terlihat cemas mendengar kabar Rio sakit.


“Dia demam. Cuma sekarang udah baikan ko ya walaupun belum masuk sekolah lagi.” Tutur Mela yang tidak ingin membuat Reva khawatir.


Pandangannya beralih pada sosok laki-laki yang tengah serius menatap layar persegi di hadapannya. Pantulan cahaya laptop yang menerpa wajah Raka, membuat Mela mengingat wajah tampan yang beberapa hari lalu sering ia lihat.


“Dia siapa?”


Mela menujuk Raka dengan tatapan mata bulatnya. Reva berbalik dan melihat sosok yang di maksud Mela.


“Oh, itu Raka. Temen magang gue.” Tutur Reva dengan santai.


Mela yakin benar, wajah yang di lihatnya adalah wajah yang kerap ia lihat beberapa hari lalu.


“Raka!” seru Reva dengan suara cukup keras, membuat perhatian Raka tertuju padanya. Reva mengajak Mela mendekat ke arah Raka. “Kenalin, ini temen gue, kak mela.” Lanjut Reva.


“Hay, gue Mela.” Mela mengulurkan tangannya


“Raka.” Sahut Raka yang dengan singkat menjabat tangan Mela. Sangat dingin sepert biasanya.


Mela berusaha tersenyum namun tatapan Raka kembali tertuju pada laptopnya.


“Dia emang gunung es, lo gag usah kesinggung kak.” Bisik Reva yang menatap Raka dengan kesal.


“Re, kayaknya lo gag akan sempet keluar makan siang deh. Gue bawa bekal lumayan banyak, lo mau?” tutur Mela yang melihat Raka dengan sigap menghampiri pengunjung yang datang.


“Iya, beberapa hari ini makan gue gag teratur. Lumayan sibuk juga.” Keluh Reva dengan ekspresi manjanya.


“Ya udah, ikut gue bentar, ngambil makanan buat lo sama temen lo.”


Mela menarik tangan Reva dan Reva segera mengikuti langkah kaki Mela.


****


Mela masih fokus dengan pikirannya tentang Raka. Ia teringat saat melihat Raka beberapa kali diam di tempat parkir saat Mela akan pulang dan berganti shift dengan Reva. Dari kejauhan Raka terus memperhatikan Reva sejak Reva datang dan memulai pekerjaannya. Dan dari sikap Raka terhadapnya, Mela yakin dengan kesimpulan yang ada di otaknya.


“Re, lo udah lama kenal sama si Raka itu?” tanya Mela seraya menyerahkan kotak berisi makanan pada Reva.


“Emm lumayan lama sih. Tapi enggak juga kayaknya.” Reva kebingungan saat mengingat berapa lama ia mengenal Raka.


“Lo masih kebiasaan ngelupain orang-orang di sekitar lo ya Re?” terka Mela dengan tatapan seriusnya. Reva hanya terdiam. “Gue liat, dia orang baik-baik, jadi lo gag usah berusaha lupain kebersamaan lo sama dia.” Lanjut Mela dengan penuh keyakinan.


“Justru karena dia baik, maka gue harus lupain semua kebersamaan gue sama dia kak. Gue gag mau masuk ke lubang yang udah gue gali sendiri.” Batin Reva yang hanya bisa terdiam tanpa berani menatap mata Mela.


“Makasih makananya kak, gue balik kerja dulu.” Sahut Reva tanpa berani menimpali ucapan Mela sebelumnya.


“Iyaa,, lo lanjutin kerjaan lo. Tapi gue harap, lo gag lupain ucapan gue barusan.” Timpal Mela seraya tersenyum dengan hangat.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Reva. Tapi dari sorot matanya, Mela tahu, Reva sedang berusaha pura-pura tidak mendengar ucapannya.


Reva segera pergi dan kembali ke tempat Raka yang tengah sibuk dengan 2 pengunjungnya.


Reva menaruh makanan yang di berikan Mela. Sejenak pandangannya tertuju pada wajah serius Raka yang tengah menjelaskan dengan sangat runtut dan detail. Reva menyentuh dada kirinya sendiri, entah mengapa rongga dadanya terasa hangat.


“Astaga Reva, cukup! Fokus!”


Reva berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Ia menarik nafas dalam-dalam dengan mata terpejam dan menghembuskannya  perlahan seraya membuka matanya. Setelah tersenyum ia kembali membantu Raka menjelaskan pada pengunjung.


Jam yang melingkar di tangan kiri Reva menunjukkan sudah pukul 13.27. Reva mengusap perutnya yang terasa keroncongan. Sementara Raka masih sibuk dengan laptopnya.


Setelah menyesaikan pembicaraan dengan pengunjung terakhirnya, Reva segera mengambil kotak makan yang diberikan Mela. Ia duduk di salah satu kursi tempat ia dan Raka biasanya beristirahat atau sekedar untuk minum.


“Raka, makan dulu…” panggil Reva yang sudah tidak sabar melahap nasi dan temannya yang terpampang di depan mata.


“Bentar, nanggung.” Sahut Raka tanpa menoleh sedikitpun.


Reva berdecik sebal. Satu hal yang Reva benci dari Raka, adalah saat Raka terlalu fokus pada pekerjaannya dan melupakan sekelilingnya bahkan lupa waktu.


“Kenapa harus ada yang gue benci dari dia? Terus apa yang gue suka dari dia?” batin Reva yang memandangi bahu bidang Raka yang membelakanginya.


Pikiran Reva kembali berkelana, hingga tanpa ia sadari Raka sudah duduk di hadapannya dan memanggil namanya berulang kali.


“Re…. Gimana, udah boleh makan belum?”


Raka mengetuk-ngetuk meja dengan lumayan keras membuat Reva tersadar dari lamunannya.


“Hah? Iya, gimana?”


Reva gelapan sendiri saat Raka tiba-tiba mengambil makananya dan memasukkannya ke mulut.


“Haiisshh! Udah baca do’a dulu belum?”


Reva menepuk tangan Raka yang akan mengambil makanan untuk kedua kalinya.


“Udah hampir khatam 1 juz malah, lo aja yang dari tadi ngelamun gag jelas.” Sahut Raka dengan seringai jenakanya.


“Issh! Nyebelin.” Decik Reva yang merebut sendok dari tangan Raka dan mengambil makanannya lalu melahapnya dengan penuh kebahagiaan. “Heemmm… nasi memang yang terbaik…” gumamnya dengan mulut penuh makanan.


Raka tersenyum gemas melihat ekspresi Reva yang begitu menikmati makanannya.


“Kayaknya lo gag bisa ya kalo gag ada nasi?” goda Raka yang asyik menatap Reva melahap makananya. Tiba-tiba perutnya terasa kenyang begitu saja melihat Reva yang begitu bahagia dengan makanan di tangannya.


“Iya lah, buat gue, nasi adalah yang terbaik. Pake garem aja enak. Coba roti atau kentang, mesti harus ada lauknya. Mana enak pake garem doang.” Celoteh Reva yang terkekeh sendiri membuat Raka ikut tertawa.


Setelah habis beberapa suapan, Reva baru sadar kalau Raka sedari tadi hanya memandanginya dengan jakun yang naik turun, menelan ludahnya sendiri menyaksikan Reva makan dengan lahap.


“Aaaa…..” ujar Reva seraya menyodorkan  sesendok makanan ke mulut Raka. Mereka begitu menikmati makan siangnya kali ini, sampai lupa kalau mereka menggunakan sendok yang sama dan tempat minum yang sama.


****

__ADS_1


__ADS_2